TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

MAKALAH ISPA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit ISPA ini paling banyak di temukan pada anak-anak dan paling sering menjadi satu-satunya alasan untuk datang ke rumah sakit atau puskesmas untuk menjalani perawatan inap maupun rawat jalan (Cahya, 2016).
World Health Organization (WHO) dalam Siska (2017), memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Pada tahun 2010, jumlah kematian pada balita Indonesia sebanyak 151.000 kejadian, dimana 14% dari kejadian tersebut disebabkan oleh pneumonia (Siska, 2017).
Hasil survey yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2013, diperkirakan kasus ISPA pada anak dengan usia dibawah 5 tahun menunjukkan angka tertinggi pada wilayah Asia Tenggara sebanyak 168.74 juta kasus, sedangkan diurutan kedua wilayah pasifik barat dengan jumlah kasus baru 133.05 juta. Hal ini sangat menghawatirkan mengingat bayi pada masa kini adalah sebagai penerus bangsa, sebagai pemimpin, ilmuwan, cendekiawan dimasa yang akan datang. Selain itu, Indonesia termasuk dalam 15 besar Negara dengan estimasi tertinggi kasus ISPA.
Berdasarkan prevalensi ISPA tahun 2016 di Indonesia telah mencapai 25% dengan rentang kejadian yaitu sekitar 17,5 % - 41,4 % dengan 16 provinsi diantaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2016 menempatkan ISPA/ISPA sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 32,10% dari seluruh kematian balita) (Kemenkes RI, 2016)
Hasil Riskesdas (2013) infeksi saluran pernapasan akut disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau berdahak. Namun data prevalence ISPA di Sulawesi Tenggara mencapai (22,2%). Period prevalence ISPA Indonesia menurut Riskesdas 2013, (25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2007 (25,5%) (Riskesdas, 2013).
Data dari Dinas kesehatan Sulawesi tenggara tahun 2015 di dapatkan bahwa ISPA menempati urutan pertama dari sepuluh besar penyakit di Sulawesi Tenggara dengan jumlah kasus yang ditemukan sebannyak 55.521 kasus (Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2015)
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan pada tahun 2014 menunjukkan data prevalensi kejadian ISPA di Kabupaten Konawe Selatan sebesar (7.140 kasus). Kemudian pada tahun 2015 meningkat menjadi (8.266 kasus), sedangkan pada tahun 2016 terus meningkat menjadi (8.322 kasus) (Dinkes Kabupaten Konawe Selatan, 2018).
Berdasarkan data ISPA yang diperoleh di Puskesmas Basala pada tahun 2016 dengan jumlah 543 pasien, tahun 2017 dengan jumlah 599 pasien sedangkan pada tahun 2018 periode bulan Januari sampai bulan Mei dengan jumlah sebanyak 134 pasien. Berdasarkan data yang diperoleh dari buku register Puskesmas Basala diperoleh data yang menunjukkan bahwa penyakit ISPA setiap tahunnya masuk dalam 10 besar penyakit yang sering muncul wilayah kerja puskesmas basala. Pada tahun 2017 penyakit ISPA menempati peringkat pertama dari 10 besar penyakit yang sering muncul di Puskesmas Basala (Profil Puskesmas Basala, 2018)
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak Balita, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Penyakit ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan umur, tetapi ISPA yang berlanjut menjadi Pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene (Siska, 2017).
ISPA merupakan salah satu penyebab kematian anak di Negara sedang berkembang. ISPA ini menyebabkan 4 dari 15 juta kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya. Setiap anak balita diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan proporsi kematian yang disebabkan ISPA mencakup 20-30%. (Indah, 2015)
Indonesia sebagai daerah tropis berpotensi menjadi daerah endemic dari beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong terjadinya peningkatan kasus maupun kematian penderita akibat ISPA, misalnya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh asap karena kebakaran hutan, gas buangan yang berasal dari sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah karena asap dapur, asap rokok, perubahan iklim global antara lain perubahan suhu udara, kelembaban, dan curah hujan merupakan ancaman kesehatan terutama pada penyakit ISPA (Endah, 2009).

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.      Bagaimana konsep dasar medis dari infeksi saluran pernapasan akut ?
2.      Bagaimana asuhan keperawatan dari infeksi saluran pernapasan akut ?

C.    Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui konsep dasar medis dari infeksi saluran pernapasan akut
2.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari infeksi saluran pernapasan akut

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Medis Infeksi Saluran Pernapasan Akut
1.      Definisi
Infeksi sluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara stimulant atau berurutan. (Nurrijal, 2009)
Istilah ISPA meliputi tiga unsur penting yaitu infeksi, saluran pernapasan, dan akut. Dengan pengertian sebagai berikut: infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernapasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian ISPA secara otomatis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernapasan. Sesuai dengan batasan ini maka jaringan paru-paru termasuk saluran pernapasan. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. (Depkes, 2010).

2.      Etiologi
Depkes (2004) menyatakan penyakit ispa dapat disebabkan oleh berbagaipenyebab seperti bakteri, virus, mycoplasma, jamur dan lain-lainnya. Ispa bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ispa bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri, umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya
Bakteri penyebab ispa antara lain adalah genus streptococcus, stapilococus, pneumococus,haemophyllus, bordetella dan corynobacterium. Virus penyebab ispa antara lain golongan paramykovirus (termasuk didalamnya virus influenza, virus parainfluenza dan virus campak), adenovirus, coronavirus, picornavirus, herpesvirus, dan lain-lain. Di Negara- negara berkembang umumnya kuman penyebab ispa adalah streptococcus pneumonia dan haemopylus influenza.

3.      Manifestasi Klinis
Ispa merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernapasan atas maupun bawah, yang meli[uti infiltrate peradangan dan edema mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mucus serta perubahan struktur fungsi siliare. (Muttaqim, 2008)
Depkes RI membagi tanda dan gejala ISPA menjadi tiga yaitu :
a.       Gejala dari ispa ringan
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1)      Batuk
2)      Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
3)      Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung
4)      Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37º C
b.      Gejala dari ispa sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1)      Pernapasan cepat ( fast breathing) sesuai umur yaitu: untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi napas 60 kali per menit atau lebih untuk umur 2-<12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih padaumur 12 bulan-<5 tahun.
2)      Suhu tubuh lebih dari 39C
3)      Tenggorokan berwarna merah
4)      Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
5)      Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
6)      Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)
c.       Gejala dari ispa berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:  
1)      Bibir atau kulit membiru
2)      Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
3)      Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
4)      Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernapas
5)      Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
6)      Tenggorokan berwarna merah

4.      Komplikasi
Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease, yang sembuh sendiri 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lainnya.Komplikasi yang dapat terjadi adalah sinusitis paranasal, penutupan tuba eusthacii dan penyebaran infeksi.
a.       Sinusitis paranasal
Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar karena pada bayi dan anak kecil sinus paranasal belum tumbuh. Gejala umum tampak lebih besar, nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan nyeri tekan biasanya didaerah sinus frontalis dan maksilaris. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan foto rontgen dan transiluminasi pada anak besar.
Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise, cepat lelah dan sukar berkonsentrasi (pada anak besar). Kadang-kadang disertai sumbatan hidung, nyeri kepala hilang timbul, bersin yang terus menerus disertai secret purulen dapat unilateral ataupun bilateral.Bila didapatkan pernafasan mulut yang menetap dan rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang jelas perlu yang dipikirkan terjadinya komplikasi sinusitis.Sinusitis paranasal ini dapat diobati dengan memberikan antibiotik.
b.      Penutupan tuba eusthachii
Tuba eusthachii yang buntu memberi gejala tuli dan infeksi dapat menembus langsung kedaerah telinga tengah dan menyebabkan otitis media akut (OMA).Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat disertai suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) kadang menyebabkan kejang demam.
Anak sangat gelisah, terlihat nyeri bila kepala digoyangkan atau memegang telinganya yang nyeri (pada bayi juga dapat diketahui dengan menekan telinganya dan biasanya bayi akan menangis keras). Kadang-kadang hanya ditemui gejala demam, gelisah, juga disertai muntah atau diare. Karena bayi yang menderita batuk pilek sering menderita infeksi pada telinga tengah sehingga menyebabkan terjadinya OMA dan sering menyebabkan kejang demam, maka bayi perlu dikonsul kebagian THT. Biasanya bayi dilakukan parsentesis jika setelah 48-72 jam diberikan antibiotika keadaan tidak membaik. Parasentesis (penusukan selaput telinga) dimaksudkan mencegah membran timpani pecah sendiri dan terjadi otitis media perforata (OMP).

c.       Penyebaran infeksi
Penjalaran infeksi sekunder dari nasofaring kearah bawah seperti laryngitis, trakeitis, bronkiis dan bronkopneumonia.Selain itu dapat pula terjadi komplikasi jauh, misalnya terjadi meningitis purulenta.




5.     
Invasi kuman
Pathway
Peradangan pada saluran pernapasan

Perubahan status

Inflamasi

Merangsang pengeluaran zat-zat seperti mediator kimia bradikinin, serotonin, histamine dan prostatglandin

Kuman melepas endotoksin

Kurang pengetahuan orang tua

Nocisepter

Merangsang tubuh untuk melepas zat pirogen oleh leukosit

Stressor bagi orang tua tentang penyakit

Spina cord

Hipotalamus kebagian termoregulator

Koping tidak efektif

Thalamus

Korteks serebri

Nyeri

Suhu tubuh meningkat

Hipertermi

Cemas

Merangsang mekanisme pertahanan tubuh terhadap adanya mikroorganisme

Hospitalisasi

Perubahan progress keluarga

System imun menurun

Ketidakefektifan
Pola napas
Meningkatkan produksi mucus oleh sel-sel basilica sepanjang saluran pernapasan

Resiko infeksi

Penumpukan sekresi

Suplai O2 kejaringan menurun

Penurunan metabolism sel

intoleransiaktivitas

mucus pada jalan napas

Obstruksi jalan napas

Ketidakefektifan bersihan jalan napas

 





























B.     Asuhan Keperawatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Kasus
Seorang ibu membawa anaknya ke puskesmas yang bernama An.N berumur 2,5 tahun. Ibu mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak 1 minggu yang lalu. Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital : N: 92x/menit, R: 26x/menit,  S: 37,5°C. An. N nampak lemas, An.N terdengar suara sesak, An.N nampak rewel, An.N nampak sesak napas

1.      Pengkajian
I.     Data Umum
a.       Identitas Klien
Nama              : An. N
Umur              : 2,5 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Anak ke          : Pertama
Agama            : Islam
Alamat           : Ds. Lipu Masagena Dusun IV (Padaelo)
b.      Identitas Ibu
Nama              : Ny. R
Umur              : 27 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan        : Ibu Rumah Tangga
Agama            : Islam
Alamat           : Ds. Lipu Masagena Dusun IV (Padaelo)
c.       Identitas Ayah
Nama              : Tn. I
Umur              : 30 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan        : Tani
Agama            : Islam
Alamat           : Ds. Lipu Masagena Dusun IV (Padaelo)
II.  Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga
1.      Tahap Perkembangan Keluarga saat ini
Tahap II : Keluarga kelahiran anak pertama /child-bearing family ( oldest child birth to 2,5 years)
2.      Riwayat keluarga sebelumnya
Keluarga dari pihak suami dan istri tidak memiliki riwayat peyakit keturunan
III.         Pemeriksaan Fisik
1.      TTV
-          N              : 92x/menit
-          RR            : 26x/menit
-          S               : 37,5ºC
2.      Kepala
-          Bentuk                 : Simetris
-          Rambut                : Hitam
-          Kulit kepala          : Bersih
3.      Mata
-          Kongjungtiva       : Anemis
-          Fungsi                  : Baik
4.      Telinga
-          Bentuk     : Simetris
-          Keadaan   : Bersih
-          Fungsi      : Normal
5.      Hidung
-          Bentuk     : Simetris
-          Keadaan   : Bersih
-          Fungsi      : Normal
6.      Mulut
-          Gigi                      : Belum Lengkap
-          Fungsi Menelan    : Baik

7.      Leher
-          Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak ada
8.      Dada
-          Bentuk     : Simetris
-          Suara paru : Normal
9.      Abdomen
-          Bentuk                 : Simetris
-          Nyeri Tekan         : Tidak ada
10.  Ekstremitas
-          Oedema    : Tidak ada
11.  Integumen
-          Turgor      : Elastis
-          Keadaan   : Normal
-          Kuku        : Bersih
2.Diagnosa Keperawatan
a.       Data fokus
Ds :
-          Ibu mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak satu
minggu yang lalu
Do :
-          An. N nampak lemas
-          An.N terdengar suara sesak
-          An.N nampak rewel
-          An.N nampak sesak napas
-          TTV : N: 92x/menit
      R: 26x/menit
      S: 37,5°C




b.      Analisa Data
Data
                   Masalah
Ds :
-          Ibu mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak satu minggu yang lalu
Do :
-          An. N nampak lemas
-          An.N terdengar suara sesak
-          An.N nampak rewel
-          An.N nampak sesak napas
-          TTV : N: 92x/menit
      R: 26x/menit
      S: 37,5°C


Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas




c.       Rumusan Diagnosa Keperawatan
-          Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas

3.      Intervensi Keperawatan
NO
Diagnosa Keperawatan

NOC

NIC
1.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam maka diharapkan :
- Menunjukkan jalan napas yang paten


1.      Monitor status pernapasan dan oksigenasi sebagaimana mestinya
2.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan fentilasi
3.      Lakukan fisio terapi dada sebagaimana mestinya

4.      Implementasi Kerawatan
NO
Hari/tgl
Diagnosa Keperawatan
Implementasi Kerawatan
Evaluasi Kerawatan
1.
05 Juli 2018
Ketidaakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
1. Memonitor status pernapasan dan oksigenasi sebagaimana mestinya
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

3. Lakukan fisioterapi dada sebagaimana mestinya

S: keluarga mengatakan masih bingung
O:
- Pengetahuan
-Memaksimalkan ventilasi
- Fisioterapi dada
- TTV

N: 92 x/m
R: 26 x/m
S: 37,5 C
A: Masalah belum teratasi
P:lanjutkan intervensi






5.      Evaluasi Keperawatan
NO
Diagnosa keperawatan
Hari/tgl
NOC
SOAP
1.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
Hari 1
05 Juli 2018
1. Pengajaran: proses penyakit
2. Fisioterapi dada
3. Memonitor TTV

S: keluarga mengatkan belum mengerti
O:
- Keluarga mampu menjawab 1 dari 5 pertanyaan tentang ISPA
- Keluarga mampu menjawab 2 dari 5 pertanyaan
tentang batuk efektif
- Keluarga mampu menjawab 1 dari 4 pertanyaan tentang fisioterapi dada
- TTV

N: 92 x/m
R: 26 x/m
S: 37,5 C
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi











BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit ISPA ini paling banyak di temukan pada anak-anak dan paling sering menjadi satu-satunya alasan untuk datang ke rumah sakit atau puskesmas untuk menjalani perawatan inap maupun rawat jalan (Cahya, 2016).

B.     Saran
ISPA merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada anak di negara berkembang. Oleh karena itu sebagai manusia yang ingin memiliki tubuh sehat maka selayaknya kita menjaga kesehatan dan keseimbangan sistem tersebut. Salah satunya dengan menjaga sanitasi lingkungan.














DAFTAR PUSTAKA

Cahya Riska W. Sukarto, Dkk. 2016. Jurnal Keperawatan Hubungan Peran Orang Tua Dalam Pencegahan ISPA Dengan Kekambuhan ISPA Pada Balita Di Puskesmas Bilalang Kota Kotamobagu: Manado. Universitas Sam Ratulangi
Endah Noer P. Daroham , Mutiatikum. 2009. Penyakit ISPA Hasil Riskesdas Indonesia. Jakarta: Puslitbang Biomedis Dan Farmasi
Indah Sari Nurul. 2015. Hubungan Umur Dan Jenis Kelamin Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita Di Puskesmas Tembilahan Hulu. Akademi Kebidanan Husada Gemilang
Kemenkes RI. 2013. Sistem kesehatan. Jakarta:
Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
Nugraheny Esti Dkk. 2013. Peran Keluarga Terhadap Penanggulangan Awal ISPA Bukan Pneumonia Pada Balita. Bantul: Akademi Kebidanan Ummi Khasanah.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction Publishing.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)