BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah
infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran
pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri.
ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit
ISPA ini paling banyak di temukan pada anak-anak dan paling sering menjadi
satu-satunya alasan untuk datang ke rumah sakit atau puskesmas untuk menjalani
perawatan inap maupun rawat jalan (Cahya, 2016).
World Health Organization (WHO)
dalam Siska (2017), memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000
kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Pada tahun
2010, jumlah kematian pada balita Indonesia sebanyak 151.000 kejadian, dimana
14% dari kejadian tersebut disebabkan oleh pneumonia (Siska, 2017).
Hasil survey yang dilakukan oleh WHO pada tahun
2013, diperkirakan kasus ISPA pada anak dengan usia dibawah 5 tahun menunjukkan
angka tertinggi pada wilayah Asia Tenggara sebanyak 168.74 juta kasus,
sedangkan diurutan kedua wilayah pasifik barat dengan jumlah kasus baru 133.05
juta. Hal ini sangat menghawatirkan mengingat bayi pada masa kini adalah
sebagai penerus bangsa, sebagai pemimpin, ilmuwan, cendekiawan dimasa yang akan
datang. Selain itu, Indonesia termasuk dalam 15 besar Negara dengan estimasi
tertinggi kasus ISPA.
Berdasarkan prevalensi ISPA tahun 2016 di Indonesia
telah mencapai 25% dengan rentang kejadian yaitu sekitar 17,5 % - 41,4 % dengan
16 provinsi diantaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Selain itu
ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit.
Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2016 menempatkan ISPA/ISPA
sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 32,10%
dari seluruh kematian balita) (Kemenkes RI, 2016)
Hasil Riskesdas (2013) infeksi saluran pernapasan
akut disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas
disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan,
pilek, batuk kering atau berdahak. Namun data prevalence ISPA di Sulawesi
Tenggara mencapai (22,2%). Period prevalence ISPA Indonesia menurut
Riskesdas 2013, (25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2007 (25,5%) (Riskesdas,
2013).
Data dari Dinas kesehatan Sulawesi tenggara tahun
2015 di dapatkan bahwa ISPA menempati urutan pertama dari sepuluh besar
penyakit di Sulawesi Tenggara dengan jumlah kasus yang ditemukan sebannyak
55.521 kasus (Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2015)
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan pada
tahun 2014 menunjukkan data prevalensi kejadian ISPA di Kabupaten Konawe
Selatan sebesar (7.140 kasus). Kemudian pada tahun 2015 meningkat menjadi
(8.266 kasus), sedangkan pada tahun 2016 terus meningkat menjadi (8.322 kasus)
(Dinkes Kabupaten Konawe Selatan, 2018).
Berdasarkan data ISPA yang diperoleh di Puskesmas
Basala pada tahun 2016 dengan jumlah 543 pasien, tahun 2017 dengan jumlah 599
pasien sedangkan pada tahun 2018 periode bulan Januari sampai bulan Mei dengan
jumlah sebanyak 134 pasien. Berdasarkan data yang diperoleh dari buku register
Puskesmas Basala diperoleh data yang menunjukkan bahwa penyakit ISPA setiap
tahunnya masuk dalam 10 besar penyakit yang sering muncul wilayah kerja
puskesmas basala. Pada tahun 2017 penyakit ISPA menempati peringkat pertama
dari 10 besar penyakit yang sering muncul di Puskesmas Basala (Profil Puskesmas
Basala, 2018)
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak Balita,
karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Penyakit ISPA dapat
ditularkan melalui air ludah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman
yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Infeksi saluran
pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada
semua golongan umur, tetapi ISPA yang berlanjut menjadi Pneumonia sering
terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi
dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene (Siska, 2017).
ISPA merupakan salah satu penyebab kematian anak di
Negara sedang berkembang. ISPA ini menyebabkan 4 dari 15 juta kematian pada
anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya. Setiap anak balita
diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan proporsi kematian
yang disebabkan ISPA mencakup 20-30%. (Indah, 2015)
Indonesia sebagai daerah tropis berpotensi menjadi
daerah endemic dari beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi
ancaman bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong
terjadinya peningkatan kasus maupun kematian penderita akibat ISPA, misalnya
pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh asap karena kebakaran hutan, gas
buangan yang berasal dari sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah
karena asap dapur, asap rokok, perubahan iklim global antara lain perubahan
suhu udara, kelembaban, dan curah hujan merupakan ancaman kesehatan terutama
pada penyakit ISPA (Endah, 2009).
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1. Bagaimana
konsep dasar medis dari infeksi saluran pernapasan akut ?
2. Bagaimana
asuhan keperawatan dari infeksi saluran pernapasan akut ?
C.
Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk
mengetahui konsep dasar medis dari infeksi saluran pernapasan akut
2. Untuk
mengetahui asuhan keperawatan dari infeksi saluran pernapasan akut
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Medis Infeksi Saluran
Pernapasan Akut
1.
Definisi
Infeksi sluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi
saluran pernapasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas
laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah
secara stimulant atau berurutan. (Nurrijal, 2009)
Istilah ISPA meliputi tiga unsur penting yaitu
infeksi, saluran pernapasan, dan akut. Dengan pengertian sebagai berikut:
infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan
berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernapasan adalah
organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti
sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian ISPA secara otomatis
mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah
(termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernapasan. Sesuai
dengan batasan ini maka jaringan paru-paru termasuk saluran pernapasan. Infeksi
akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Batas 14 hari diambil
untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat
digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
(Depkes, 2010).
2. Etiologi
Depkes (2004) menyatakan penyakit ispa dapat
disebabkan oleh berbagaipenyebab seperti bakteri, virus, mycoplasma, jamur dan
lain-lainnya. Ispa bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ispa
bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri, umumnya mempunyai manifestasi
klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya
Bakteri penyebab ispa antara lain adalah genus
streptococcus, stapilococus, pneumococus,haemophyllus, bordetella dan
corynobacterium. Virus penyebab ispa antara lain golongan paramykovirus (termasuk
didalamnya virus influenza, virus parainfluenza dan virus campak), adenovirus,
coronavirus, picornavirus, herpesvirus, dan lain-lain. Di Negara- negara
berkembang umumnya kuman penyebab ispa adalah streptococcus pneumonia dan
haemopylus influenza.
3. Manifestasi
Klinis
Ispa merupakan proses inflamasi yang terjadi pada
setiap bagian saluran pernapasan atas maupun bawah, yang meli[uti infiltrate
peradangan dan edema mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mucus
serta perubahan struktur fungsi siliare. (Muttaqim, 2008)
Depkes RI membagi tanda dan gejala ISPA menjadi tiga
yaitu :
a. Gejala
dari ispa ringan
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika
ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1) Batuk
2) Serak,
yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
3) Pilek,
yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung
4) Panas
atau demam, suhu badan lebih dari 37º C
b.
Gejala dari ispa sedang
Seorang
anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika ditemukan satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut:
1) Pernapasan
cepat ( fast breathing) sesuai umur yaitu: untuk kelompok umur kurang dari 2
bulan frekuensi napas 60 kali per menit atau lebih untuk umur 2-<12 bulan
dan 40 kali per menit atau lebih padaumur 12 bulan-<5 tahun.
2) Suhu
tubuh lebih dari 39C
3) Tenggorokan
berwarna merah
4) Timbul
bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
5) Telinga
sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
6) Pernapasan
berbunyi seperti mengorok (mendengkur)
c. Gejala
dari ispa berat
Seorang
anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ditemukan satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut:
1) Bibir
atau kulit membiru
2) Anak
tidak sadar atau kesadaran menurun
3) Pernapasan
berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
4) Sela
iga tertarik kedalam pada waktu bernapas
5) Nadi
cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
6) Tenggorokan
berwarna merah
4. Komplikasi
Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease,
yang sembuh sendiri 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lainnya.Komplikasi
yang dapat terjadi adalah sinusitis paranasal, penutupan tuba eusthacii dan
penyebaran infeksi.
a. Sinusitis
paranasal
Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar karena pada bayi
dan anak kecil sinus paranasal belum tumbuh. Gejala umum tampak lebih besar,
nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan nyeri tekan biasanya didaerah sinus
frontalis dan maksilaris. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan foto rontgen
dan transiluminasi pada anak besar.
Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise,
cepat lelah dan sukar berkonsentrasi (pada anak besar). Kadang-kadang disertai
sumbatan hidung, nyeri kepala hilang timbul, bersin yang terus menerus disertai
secret purulen dapat unilateral ataupun bilateral.Bila didapatkan pernafasan
mulut yang menetap dan rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang jelas
perlu yang dipikirkan terjadinya komplikasi sinusitis.Sinusitis paranasal ini
dapat diobati dengan memberikan antibiotik.
b.
Penutupan tuba eusthachii
Tuba eusthachii yang buntu memberi gejala tuli dan infeksi
dapat menembus langsung kedaerah telinga tengah dan menyebabkan otitis media
akut (OMA).Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat disertai suhu badan yang
tinggi (hiperpireksia) kadang menyebabkan kejang demam.
Anak sangat gelisah, terlihat nyeri bila kepala digoyangkan
atau memegang telinganya yang nyeri (pada bayi juga dapat diketahui dengan
menekan telinganya dan biasanya bayi akan menangis keras). Kadang-kadang hanya
ditemui gejala demam, gelisah, juga disertai muntah atau diare. Karena bayi
yang menderita batuk pilek sering menderita infeksi pada telinga tengah
sehingga menyebabkan terjadinya OMA dan sering menyebabkan kejang demam, maka
bayi perlu dikonsul kebagian THT. Biasanya bayi dilakukan parsentesis jika
setelah 48-72 jam diberikan antibiotika keadaan tidak membaik. Parasentesis
(penusukan selaput telinga) dimaksudkan mencegah membran timpani pecah sendiri
dan terjadi otitis media perforata (OMP).
c.
Penyebaran infeksi
Penjalaran infeksi sekunder dari nasofaring kearah bawah
seperti laryngitis, trakeitis, bronkiis dan bronkopneumonia.Selain itu
dapat pula terjadi komplikasi jauh, misalnya terjadi meningitis purulenta.
5.
Pathway
Peradangan pada saluran pernapasan
|
Merangsang pengeluaran zat-zat seperti mediator
kimia bradikinin, serotonin, histamine dan prostatglandin
|
Kurang pengetahuan
orang tua
|
Merangsang tubuh untuk melepas zat pirogen oleh
leukosit
|
Stressor bagi orang tua tentang penyakit
|
Hipotalamus kebagian termoregulator
|
Merangsang mekanisme
pertahanan tubuh terhadap adanya mikroorganisme
|
Perubahan progress keluarga
|
Ketidakefektifan
Pola
napas
|
Meningkatkan produksi
mucus oleh sel-sel basilica sepanjang saluran pernapasan
|
Suplai O2 kejaringan menurun
|
Ketidakefektifan bersihan jalan napas
|
B.
Asuhan Keperawatan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut
Kasus
Seorang ibu
membawa anaknya ke puskesmas yang bernama An.N berumur 2,5 tahun. Ibu
mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak 1 minggu yang lalu. Dari
hasil pemeriksaan tanda-tanda vital : N: 92x/menit, R: 26x/menit, S: 37,5°C. An. N nampak lemas, An.N terdengar
suara sesak, An.N nampak rewel, An.N nampak sesak napas
1. Pengkajian
I. Data
Umum
a. Identitas Klien
Nama : An. N
Umur : 2,5
Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Anak ke : Pertama
Agama : Islam
Alamat : Ds. Lipu Masagena Dusun IV
(Padaelo)
b.
Identitas
Ibu
Nama :
Ny. R
Umur :
27 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Ds. Lipu Masagena Dusun IV (Padaelo)
c.
Identitas
Ayah
Nama :
Tn. I
Umur :
30 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Tani
Agama : Islam
Alamat : Ds. Lipu Masagena Dusun IV (Padaelo)
II.
Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga
1.
Tahap Perkembangan Keluarga saat ini
Tahap
II : Keluarga kelahiran anak pertama /child-bearing family ( oldest child birth
to 2,5 years)
2.
Riwayat keluarga sebelumnya
Keluarga
dari pihak suami dan istri tidak memiliki riwayat peyakit keturunan
III.
Pemeriksaan Fisik
1. TTV
-
N :
92x/menit
-
RR :
26x/menit
-
S :
37,5ºC
2. Kepala
-
Bentuk :
Simetris
-
Rambut :
Hitam
-
Kulit kepala :
Bersih
3. Mata
-
Kongjungtiva :
Anemis
-
Fungsi :
Baik
4. Telinga
-
Bentuk :
Simetris
-
Keadaan :
Bersih
-
Fungsi :
Normal
5. Hidung
-
Bentuk :
Simetris
-
Keadaan :
Bersih
-
Fungsi :
Normal
6. Mulut
-
Gigi :
Belum Lengkap
-
Fungsi Menelan :
Baik
7. Leher
-
Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak ada
8. Dada
-
Bentuk :
Simetris
-
Suara paru : Normal
9. Abdomen
-
Bentuk :
Simetris
-
Nyeri Tekan :
Tidak ada
10. Ekstremitas
-
Oedema :
Tidak ada
11. Integumen
-
Turgor :
Elastis
-
Keadaan :
Normal
-
Kuku :
Bersih
2.Diagnosa
Keperawatan
a.
Data
fokus
Ds :
-
Ibu
mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak satu
minggu yang lalu
Do :
-
An.
N nampak lemas
-
An.N
terdengar suara sesak
-
An.N
nampak rewel
-
An.N
nampak sesak napas
-
TTV
: N: 92x/menit
R: 26x/menit
S: 37,5°C
b.
Analisa
Data
Data
|
Masalah
|
Ds :
-
Ibu mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak satu minggu yang
lalu
Do :
-
An. N nampak lemas
-
An.N terdengar suara sesak
-
An.N nampak rewel
-
An.N nampak sesak napas
-
TTV : N: 92x/menit
R: 26x/menit
S: 37,5°C
|
Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
|
c.
Rumusan
Diagnosa Keperawatan
-
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
3.
Intervensi
Keperawatan
NO
|
Diagnosa Keperawatan
|
NOC
|
NIC
|
1.
|
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan obstruksi jalan napas
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan 1x24 jam maka diharapkan :
-
Menunjukkan jalan napas yang paten
|
1. Monitor status pernapasan dan
oksigenasi sebagaimana mestinya
2. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan fentilasi
3. Lakukan fisio terapi dada
sebagaimana mestinya
|
4.
Implementasi
Kerawatan
NO
|
Hari/tgl
|
Diagnosa Keperawatan
|
Implementasi Kerawatan
|
Evaluasi Kerawatan
|
1.
|
05 Juli 2018
|
Ketidaakefektifan jalan
nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
|
1. Memonitor status pernapasan dan oksigenasi
sebagaimana mestinya
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3.
Lakukan fisioterapi dada sebagaimana mestinya
|
S:
keluarga mengatakan masih bingung
O:
-
Pengetahuan
-Memaksimalkan
ventilasi
-
Fisioterapi dada
-
TTV
N:
92 x/m
R:
26 x/m
S:
37,5 C
A:
Masalah belum teratasi
P:lanjutkan intervensi
|
5.
Evaluasi
Keperawatan
NO
|
Diagnosa keperawatan
|
Hari/tgl
|
NOC
|
SOAP
|
1.
|
Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
|
Hari 1
05 Juli 2018
|
1. Pengajaran: proses penyakit
2. Fisioterapi dada
3. Memonitor TTV
|
S:
keluarga mengatkan belum mengerti
O:
-
Keluarga mampu menjawab 1 dari 5 pertanyaan tentang ISPA
-
Keluarga mampu menjawab 2 dari 5 pertanyaan
tentang
batuk efektif
-
Keluarga mampu menjawab 1 dari 4 pertanyaan tentang fisioterapi dada
-
TTV
N:
92 x/m
R:
26 x/m
S:
37,5 C
A:
masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi
|
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi akut
yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan
bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan
menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit ISPA ini
paling banyak di temukan pada anak-anak dan paling sering menjadi satu-satunya
alasan untuk datang ke rumah sakit atau puskesmas untuk menjalani perawatan
inap maupun rawat jalan (Cahya, 2016).
B. Saran
ISPA merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada
anak di negara berkembang. Oleh karena itu sebagai manusia yang ingin memiliki
tubuh sehat maka selayaknya kita menjaga kesehatan dan keseimbangan sistem
tersebut. Salah satunya dengan menjaga sanitasi lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Cahya Riska W. Sukarto, Dkk. 2016. Jurnal
Keperawatan Hubungan Peran Orang Tua Dalam Pencegahan ISPA Dengan Kekambuhan
ISPA Pada Balita Di Puskesmas Bilalang Kota Kotamobagu: Manado. Universitas
Sam Ratulangi
Endah Noer P. Daroham , Mutiatikum. 2009. Penyakit
ISPA Hasil Riskesdas Indonesia. Jakarta: Puslitbang Biomedis Dan Farmasi
Indah Sari Nurul. 2015. Hubungan Umur Dan Jenis
Kelamin Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita Di
Puskesmas Tembilahan Hulu. Akademi Kebidanan Husada Gemilang
Kemenkes RI. 2013. Sistem kesehatan. Jakarta:
Muttaqin,
A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta:
Salemba Medika
Nugraheny Esti Dkk. 2013. Peran Keluarga Terhadap
Penanggulangan Awal ISPA Bukan Pneumonia Pada Balita. Bantul: Akademi
Kebidanan Ummi Khasanah.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi
Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta:
Mediaction Publishing.
Komentar
Posting Komentar