KATA PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunianyalah kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami.
kami
selaku penyusun sadar bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh sebab itu, penulis selalu mengharapkan kritik dan saran dari Anda demi
perbaikan selanjutnya.
Terlepas
dari semua kekurangan penulisan makalah ini, baik dalam susunan dan
penulisannya yang salah, kami mohon maaf dan berharap semoga penulisan makalah
ini bermanfaat khususnya kepada kami selaku penulis dan umumnya kepada pembaca.
Akhir
kata, semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita
semua yang mencintai pendidikan. Amin Ya Robbal Alamin.
Kendari,
19 Desember 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................
i
DAFTAR ISI ..........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
......................................................................................
1
A.
Latar
Belakang............................................................................................
1
B.
Rumusan
Masalah......................................................................................
2
C.
Tujuan..........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................
A. Pengertian
Metaparadigma, Filosofi keperawatan Model Konseptual,
Grand
Teori, Teori
dan Middle Range Teory............................................. 3
B. Hubungan
Filosofi dengan paradigma, konsep, model dan teori keperawatan.................................................................................................
4
C. Manusia.......................................................................................................
4
D. Sehat
dan Kesehatan..................................................................................
5
E. Masyarakat
dan Lingkungan......................................................................
6
F.
Keperawatan.....................
......................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN
.....................................................................................12
A. Florence
Nightingale
.................................................................................12
B. Jean
Watson
.............................................................................................
14
C.
Banner
......................................................................................................
14
D. Katie
Erikson
............................................................................................
16
BAB
IV PENUTUP
.............................................................................................17
A. Kesimpulan
...............................................................................................17
B. Saran
..........................................................................................................17
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Perubahan
pola pikir, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berdampak pada
tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih
berkualitas termasuk pelayanan keperawatan. Teori praktik keperawatan
didasarkan pada pengetahuan keperawatan. Perkembangan pengetahuan memiliki
bukti dalam menghubungkan antara tingkat abstraksi dengan jenis teori
keperawatan (Fawcett, 2005). Teori keperawatan menyediakan sebuah perspektif
tentang cara mendefinisikan perawatan, menggambarkan siapa yang diberikan
perawatan, kapan perawatan akan di butuhkan, serta mengidentifikasi batas dan
tujuan kegiatan terapeutik dalam perawatan.Falsafah keperawatan merupakan
keyakinan terhadap nilai nilai keperawatan yang menjadi pedoman dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada indnividu, keluarga, kelompok, masyarakat.
Keyakinan terhadap nilai keperawatan harus menjadi pedoman bagi setiap perawat.
Falsafah keperawatan menjadi pedoman dalam menjalankan profesinya. Falsafah
keperawatan memiliki keyakinan tentang manusia yang holistik. Kebutuhan klien
yang holistik dan unik menuntut kemampuan perawat yang tepat dalam menganalisis
kebutuhan klien. Untuk melakukan hal ini, maka perawat harus memiliki
pengetahuan yang dalam tentang aspek manusia yang meliputi aspek biologis,
sosial, spiritual, psikologis dan kultural secara keseluruhan . sehingga dalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien tidak hanya fokus pada aspek biologis
saja. Perkembangan teori keperawatan di awali pada tahun 1950 an, saat perawat
mulai menyadari bahwa ilmu pengetahuan keperawatan perlu disusun dalam suatu
kerangka kerja yang sistematis, meskipun setiap teori umumnya merujuk pada
suatu fenomena yang spesifik, tetapi dapat digunakan pada lingkup yang lebih
luas. Berdasarkan pada lingkup teori nya, teori keperawatan dibedakan menjadi 4
yaitu philosophical teori, grand theory, middle range theory dan practice
theory. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan dan menganalisa filosofi
keperawatan.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan filososfi keperawatan?
2. Jelaskan
teori-teori filosofi keperawatan?
C. Tujuan
1.
Memahami filososfi keperawatan
2.
Memahami teori-teori filosofi
keperawatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Metaparadigma, Filosofi keperawatan Model Konseptual,
Grand
Teori, Teori
dan Middle Range Teory
1. Metaparadigma
Metaparadigma merupakan kumpulan abstrak yang masih
umum dalam konsep inti ilmu keperawatan ( manusia, lingkungan, kesehatan, dan
keperawatan). Konsep ini terbagi dalam setiap model konseptual berdasarkan
filosofi dari model tersebut.
2. Filosofi
keperawatan
Alligood( 2005) menyatakan bahwa filosofi
keperawatan merupakan makna umum dari keperawatan dan juga menjelaskan fenomena
keperawatan melalui penalaran dan logika.
3. Model
konseptual (disebut juga paradigma atau kerangka kerja)
Adalah framework atau kerangka yang strukturnya
dapat dikembangkan menjadi sebuah teori.
4. Grand
Teori
Adalah abtrak generalisasi yang merepresentasikan
eksplorasi sistematik tentang hubungan suatu fenomena
5. Teori
Teori adalah sesuatu yang spesifik, mampu mengenalin
dan menjelaskan fenomena tetapi tidak sespesifik middle range teory
6. Middle
range teory
Dapat didefinisikan sebagai serangkaian ide atau
gagasan yang saling berhubungan dan berfokus pada suatu dimensi terbatas yaitu
pada realitas keperawatan ( Smith& Lihar, 2008). Teori ini dapat
dikembangkan pada tatanan praktek dan riset untuk menyediakan pedoman dalam
praktik dan riset/ penelitian yang berbasis pada disiplin ilmu keperawatan.
B. Hubungan
Filosofi dengan paradigma, konsep, model dan teori keperawatan
Paradigma
merupakan pola atau skema yang mencoba mengorganisasikan atau menerangkan suatu
proses. Paradigma juga disebut sebagai tahap kedua perkembangan ilmu
pengetahuan (Kuhn, 1962) dimana pada tahap ini pencarian jalan keluar
permasalahan yang rasional dilakukan berdasarkan asumsi metodologis dan
metafisik untuk memahami bagaimana bagian-bagian dari alam semesta melakukan
kegiatan dan bagaimana cara mempelajari hal tersebut. Paradigma memiliki arti
pengetahuan umum dimana didalamnya terdapat proses ilmiah umum yang secara
historis mencerminkan berbagai keberhasilan dalam suatu disiplin. Para ilmuwan
ini berpendapat bahwa paradigma menyajikan kesepakatan bersama antar ilmuwan
dalam suatu disiplin tentang konsep atau beberapa konsep yang akanmendasari
perkembangan ilmu pengetahuan dalam disiplin tersebut. Paradigma ini terdiri
dari empat komponen yaitu anusia, sehat dan kesehatan, masyarakat dan
lingkungan, serta komponen keperawatan.
C. Manusia
Keperawatan
meyakini dan menekankan dalam setiap kegiatan pelayanan keperawatannya bahwa
manusia merupakan individu yang layak diperlakukan secara terhormat, dihargai
keunikannya berdasarkan individualitas, dalam berbagai situasi, kondisi, dan
sistem yang dapat mengancam kehormatan dan sifat kemanusiaannya. Perspektif
keperawatan menjelaskan bahwa manusia merupakan pribadi-pribadi dan bukan
obyek. Konseptualitas keperawatan tentang manusia dapat dibuktikan melalui
model-model keperawatan tentang kemanusiaan, penghargaan terhadap manusia, dan
perasaan sebagai manusia, yang telah berlaku sejak lama. Meskipun demikian,
mengkonseptualisasikan manusia sebagai suatu sumber energi atau beberapa set
sistem perilaku, atau memperlakukan pikiran dan perasaan manusia sebagai
lingkungan internal dapat menimbulkan keraguan keperawatan untuk menerangkan
tentang manusia secara jelas.
D. Sehat
dan Kesehatan
Definisi
sehat & kesehatan telah berubah dari kondisi seseorang yang bebas penyakit
menjadi kondisi yang mampu mempertahankan individu untuk berfungsi secara
konsisten, stabil dan seimbang dalam menjalani kehidupan sehari-hari melalui
interaksi positif dengan lingkungan. Kesehatan dipandang juga sebagai sebuah
kisaran antara sehat dan sakit dimana individu memiliki suatu nilai yang
berharga tentang kesehatan dan bukan semata-mata suatu fenomena empiris tentang
kondisi seseorang. Komponen paradigma tentang sehat & kesehatan dapat
berkembang menjadi suatu pemahaman tentang “terciptanya suatu kondisi fisik dan
psikologis seseorang yang bebas dari tanda dan keluhan akibat terjadinya
masalah kesehatan, dimana orang tersebut dapat tetap memperlihatkan kinerja
aktif, dinamis, dan efektif serta kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap
setiap tantangan dan ancaman yang datang baik dari dalam dirinya sendiri maupun
lingkungannya, dan berkemampuan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan
fisik, psikologis, sosial dan spiritualnya secara seimbang melalui upaya
aktualisasi diri yang positif.
E. Masyarakat
dan Lingkungan
Masyarakat
dan lingkungan merupakan komponen dalam paradigma keperawatan dimana setiap
individu berinteraksi. Masyarakat dan lingkungan juga dianggap sebagai sumber
terjadinya keadaan sakit (tidak sehat) dan merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap kesehatan atau kondisi sakit seseorang. Orem (Marriner-Tomey, 1994)
mengidentifikasi bahwa hubungan antara individu dan lingkungannya serta
kemampuan individu untuk mempertahankan kesehatan dirinya dapat dipenagruhi
oleh lingkungan dimana individu itu berada. Individu selalu berada pada
lingkungan fisik, psikologis, dan sosial. Fokus perhatian terhadap interaksi
manusia dan lingkungannya dalam teori keperawatan dapat dikategorikan menjadi
dua bagian yaitu teori keperawatan yang berfokus parsial dan teori keperawatan
yang berfokus total. Pada fokus parsial, perawat berperan sebagai pengganti, dimana
peran perawat diperlukan pada saat klien tidak mampu melakukan kegiatannya.
Teori ini beranggapan bahwa perawat bertanggung jawab terhadap kesehatan dan
kebutuhan harian klien sampai mereka dapat pulih kembali dan mampu bertanggung
jawab terhadap kelangsungan hidup selanjutnya (Marriner-Tomey, 1994).
Aplikasi teori ini dapat dilihat dalam
teori Orem, Henderson, dan Orlando, dimana ketiga ahli teori ini sepakat bahwa
peran perawat merupakan peran pengganti ketika klien tidak mampu, tidak mau
atau tidak tahu merawat diri dalam menjalankan fungsi interaksinya yang
seimbang dengan lingkungan, yang dapat disebabkan oleh faktor perkembangan,
faktor ketidak mampuan, faktor keterbatasan lingkungan, faktor respons
berlawanan terhadap interaksi lingkungan dan faktor ketidakmampuan
berkomunikasi. Teori yang berfokus total dikemukakan melalui dukungan beberapa
ahli teori keperawatan yaitu Nightingale, Levine, Rogers, Roy, Neuman, dan
Johnson (Marriner-Tomey, 1994) yang memandang bahwa lingkungan merupakan
kondisi eksternal sebagai sumber ventilasi, kehangatan, kebisingan, dan
pencahayaan dimana perawat dapat mengatur dan memanipulasinya dalam rangka
membantu klien memulihkan diri. Dengan demikian, kegiatan keperawatan meliputi
antara lain menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya penyembuhan dan
pemulihan kesehatan seorang klien. Teori ini juga menekankan bahwa keperawatan
seyogyanya berperan aktif dalam memfasilitasi interaksi antara individu dan
lingkungannya melalui upayamenciptakan lingkungan fisik yang kondusif agar
kondisi kesehatan dapat tercapai. Selain itu, berperan aktif melalui hubungan
interaksi klien dan lingkungan yang tidak terpisahkan dan amat ekstensif
(komplementer, helisi, dan resonansi). Juga, melalui upaya mempertahankan dan
meningkatkan kemampuan proses adaptasi klien terhadap berbagai stimulus.
Disamping itu, melalui kemampuan meningkatkan sistem terbuka klien secara
intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal, dan memfasilitasi sistem
perilaku yang positif rnelalui peningkatan fungsi – fungsi interrelasi dan
interdependensi subsistem yang terdapat dalam setiap individu.
F. Keperawatan
Menurut
Henderson, keperawatan merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada individu
baik sehat maupun sakit, yang dibutuhkan sampai pulih kembali atau menjelang
ajal, dimana individu tidak mampu melaksanakan kegiatan kehidupannya akibat
ketidak mampuan, ketidak mauan, dan ketidak-tahuan (Marriner-Tomey, 1994).
Asuhan keperawatan adalah pelayanan yang diberikan kepada klien (individu atau
kelompok) yang sedang mengalami stress kesehatan - stress penyakit dimana
situasi kehidupan yang seimbang menjadi terganggu dan menghasilkan tekanan
(biologis, psikologis, dan sosial) serta ketidak-nyamanan. Keperawatan dapat
dipandang sebagi suatu proses kegiatan dan juga sebagai suatu keluaran
kegiatan, tergantung dari cara memandang dan perspektif pandangan. Sebagai
proses serangkaian kegiatan, maka keperawatan perlu mengorganisasikan,
mengatur, mengkoordinasikan serta mengarahkan berbagai sumber (termasuk klien
didalamnya) untuk digunakan seefektif dan efisien mungkin dalam rangka memenuhi
kebutuhan klien. Selain itu, untuk mengatasi masalah-masalah aktual dan
potensial klien melalui suatu bentuk pelayanan keperawatan yang menekankan pada
pengadaan fasilitasi interaksi klien dan lingkungannya. Keperawatan sering
diartikan pula sebagai serangkaian kegiatan atau fungsi untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Akan tetapi, banyak pihak yang merasa belum jelas,
apakah fungsi-fungsi, proses dan tujuan keperawatan ini, apakah keperawatan
hanya memberikan perawatan, ataukah sejenis penyembuhan, apa indikasi
keperawatan, apakah keperawatan berfokus pada orang atau lingkungan atau
interaksi antara orang dan lingkungan? Untuk menjawab hal – hal ini telah
banyak diperkenalkan model-model keperawatan. Dan banyak tujuan keperawatan
terkait dengan upaya mempertahankan keseimbangan, upaya adaptasi, merancang
pola kehidupan kembali dimana kesemuanya dilakukan dalam rangka pulihnya
situasi sehat dan kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN
Teori
filosofikal menurut beberapa tokoh keperawatan diantaranya sebagai berikut :
A. Florence
Nightingale
Teori
Nightingale mengutamakan fokus pada lingkungan dalam penerapannya. Walaupun
secara pernyataan tidak pernah menyebutkan lingkungan, ia menggambarkan
lingkungan dengan mendefinisikan tentang ventilasi, kehangatan, cahaya /
penerangan, makanan, kebersihan dan suara. Nightingale tidak secara khusus
membedakan lingkungan pasien dengan aspek fisik, psikologis dan sosial, tetapi
dari tulisan-tulisan yang ada, ia memberi penekanan pada lingkungan fisik.
Lingkungan sehat dilihat dalam situasi rumah sakit, rumah tinggal dan kondisi
fisik pemukiman. Lima komponen penting lingkungan yang sehat menurut
Nightingale meliputi udara bersih, air bersih, pembuangan air yang efisien,
kebersihan ruangan dan pencahayaan. Nightingale menekankan pada pemberian
ventilasi yang baik bagi proses penyembuhan pasien. Perawat diingatkan untuk
"mempertahankan pemberian udara pada pasien sebersih udara eksternal, tanpa
membuatnya kedinginan" (Nightingale, 1969 ). Pencahayaan diidentifikasi
sebagai pemberian cahaya matahari secara langsung yang merupakan kebutuhan
penting bagi pasien. Ia mengatakan "cahaya memiliki pengaruh yang cukup
nyata dan dapat dirasakan pada tubuh manusia" (Nightingale, 1969 ). Untuk
memperoleh keuntungan dari sinar matahari, perawat diminta untuk memindahkan
dan memposisikan pasien agar terkena cahaya matahari. Dalam pemberian ventilasi
yang baik, perawat perlu mengkaji suhu tubuh pasien dengan cara mempalpasi
ekstremitas, agar jangan sampai pasien kedinginan atau kepanasan. Perawat
disarankan untuk memanipulasi lingkungan secara berkelanjutan untuk
mempertahankan ventilasi dan kehangatan pada pasien dengan pemberian pemanas,
membuka jendela dan pemberian posisi yang tepat pada pasien. Kebersihan
ditujukan kepada pasien, perawat dan lingkungan fisik. Lingkungan yang kotor
(pada lantai, karpet, dinding dan bed linen) adalah sumber infeksi. Walaupun
ruangan memiliki ventilasi yang baik, materi organik dapat membuat lingkungan
menjadi kotor. Oleh karena itu, dibutuhkan pembuang ekskresi dan kotoran tubuh
yang baik untuk mencegah kontaminasi terhadap lingkungan. Selain itu, pasien
perlu dimandikan secara teratur setiap hari. Perawat juga harus mandi setiap hari,
mengenakan pakaian yang bersih dan sering mencuci tangan. Konsep ini bukan
hanya ditujukan pada perawatan individual pasien, tetapi ditujukan juga bagi
perbaikan status kesehatan di pemukiman kumuh yang padat dimana pembuangan
kotoran tidak adekuat dan akses mendapatkan air bersih terbatas (Nightingale,
1969). Kebutuhan akan lingkungan yang tenang juga perlu dikaji dan diintervesi
oleh perawat. Suara berisik yang dihasilkan oleh aktifitas fisik di ruangan
perlu dihindari karena dapat mengganggu pasien. Selain itu, perawat juga perlu
memperhatikan nutrisi / makanan pasien. Perawat perlu mengkaji pemasukan
makanan, jadwal makan dan pengaruhnya terhadap pasien. Nightingale percaya
bahwa pasien dengan penyakit kronis membutuhkan nutrisi yang lebih banyak dan
perawat yang pintar adalah perawat yang berhasil memenuhi kebutuhan nutrisi
pasien. Selanjutnya, komponen lainnya yang didefinisikan oleh teori Nightingale
adalah petty management (Nightingale, 1969), dimana perawat memiliki kendali
terhadap lingkungan secara fisik dan administratif. Perawat perlu mengontrol
lingkungan untuk melindungi pasien dari ancaman fisik dan psikologis.
Nightingale juga yakin bahwa perawat akan tetap bertanggung jawab terhadap
lingkungan walaupun ia tidak ada di ruangan, karena ia telah menyerahkan
tanggung jawab kepada orang lain yang bekerja disana saat ia tidak ada di
tempat, hal ini menunjukkan sebenarnya proses pendelegasian sudah ada pada
jaman Nightingale.
B. Jean
Watson
Watson
(1979) melakukan pendekatan yang unik dalam filosofi keperawatan untuk pertama
kalinya, yaitu dalam karyanya “Nursing: The Philosophy and Science of Caring”.
Dalam karyanya, yang dikenal sebagai ilmu manusia, ia telah menyatakan untuk
kembali ke nilai keperawatan sebelumnya, yang menekankan pada aspek kepedulian
(Watson, 1988). Dalam filsafat keilmuan menurut Watson, dia menetapkan posisi
keilmuan bagi manusia dalam hubungan antar manusia dari sudut pandang
keperawatan dan menentukan sepuluh faktor kreatif untuk memandu penerapannya dalam
praktek keperawatan. Caring antar personal adalah pendekatan yang diusulkan
untuk mencapai keterhubungan di mana perawat dan pasien berubah secara
bersama-sama. Penekanan pada harmoni dari kesatuan dalam tubuh, pikiran dan
jiwa, serta penyakit dipandang sebagai ketidakharmonisan, sehingga perawat dan
pasien harus berpartisipasi secara bersama-sama sampai tercapai keharmonisan
antara tubuh, pikiran dan jiwa. Teori Watson telah digunakan untuk mendukung
konseptualisasi praktek umum (Chambers, 1998) dan praktik keperawatan jiwa
(Tilley, 1995) dan yang terkini adalah untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan
rheumatoid arthritis (Nyman & Lutzen, 1999).
C. Banner
Benner
(1984) memberikan pandangan filosofis mengenai praktek keperawatan yang
berfokus pada bagaimana pengetahuan praktek diperoleh dan bagaimana
perkembangannya dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, karya Benner dapat
dipandang sebagai personal knowing (pembelajaran pribadi) menggunakan pola
Carper (1978). Penelitian interpretatif beliau mengarah pada gambaran kemajuan
perawat dari orang baru menjadi ahli keperawatan dan kesadaran pentingnya
caring dalam keperawatan. Karya Benner telah digunakan untuk menuntun pengujian
inovasi dan perubahan praktek keperawatan. Sebagai contoh, filosofi Benner
dipakai untuk menguji ancaman terhadap kelangsungan keperawatan pada individual
yang kritis (Walsh, 1997). Sementara itu Alcock (1996) menggunakan karya Benner
untuk mempelajari praktek keperawatan tingkat lanjut dari sudut pandang
administratif. Hal serupa dilakukan oleh Dunn (1997) yang menggunakan karya
Benner untuk menguji praktek keperawatan lanjut di literatur keperawatan.
Baru-baru ini, Benner, Hooper-Kyriakidis, dan Stannard (1999) mempublikasikan
buku dengan judul Clinical Wisdom and Intervention in Critical Care : A Thinking
in Action Approach.
D. Katie
Erikson
Konsep
dasar teori :
1.
Caritas
Mengandung makna cinta dan kemurahan hati,merupakan
motif dasar dari ilmu caring, artinya bahwa keyakinan, harapan dan cinta
dicapai dengan perantaraan caring melalui tindakan pemeliharaan, pelaksanaan
dan pembelajaran
2.
Caring Communion
Mengandung konteks pengertian dari caring dan
menjadi struktur yang menentukan realitas caring, yang terdiri dari intensitas
dan vitalitas yaitu kehangatan, keakraban, ketenangan, ketanggapan, kejujuran
dan toleransi. Caring communion adalah apa yang menyatukan dan mengikat
individu/manusia tersebut sehingga membuat caring itu berarti.
3.
Tindakan caring
Merupakan suatu seni/cara menjadikan sesuatu yang
kurang special menjadi sangat special.
4.
Etika Caritative Caring
Etika caring menitik beratkan pada hubungan dasar
antara pasien dan perawat dimana saat perawat menemui pasien memenuhi
batasan-batasan etika yang jelas. Sikap yang ditampakkan dilakukan melalui
pendekatan pendekatan yaitu tanpa ada prasangka dan tetap melihat manusia
sebagai makhluk yang bermartabat.
5.
Martabat
Dalam berinteraksi dengan pasien perlu diperhatikan
martabatpasien.Ada dua jenis martabat, yaitu martabat yang mutlak dan martabat
yang relatif. Martabat yang relative dipengaruhi/ dapat diperoleh dari budaya.
6.
Menerima panggilan/undangan/invitasi
Perawat dating mengunjungi pasien dan memberikan
tindakan perawatan atas permintaan atau undangan dari pasien/keluarga sendiri.
7.
Penderitaan
a. Penderitaan
ada yang dihubungkan dengan kondisi sakit, perawatan, dan kehidupan.
b. Penderitaan
yang dihubungkan dengan kondisi sakit dimana pasien mengalami penderitaan
karena kondisi sakitnya tersebut.
c. Penderitaan
yang dihubungkan dengan perawatan, dimana kadang pasien mengalami penderitaan
akibat pada saat diberi tindakan perawatan, kurang dipertimbangkan masalah
martabat pasien, kurangnya keramahan petugas, adanya kesalahan tindakan, dan
terapi latihan yang menyiksa.
8.
Penderitaan manusia
Keadaan yang digambarkan oleh pasien saat dia
mengalami sakit dimana pada saat itu ia memikul penderitaan.
9.
Rekonsiliasi
Merupakan suatu bentuk drama dari penderitaan dimana
seseorang yang menderita ingin memastikan penderitaan yang dialaminya dan
diberi kesempatan untuk mencapai rekonsoliasi/kedamaian.
10. Budaya
caring
Merupakan konsep dimana Erikson menggunakan
lingkungan berdasar pada elemen budaya sebagai tradisi, ritual dan nilai-nilai
dasar. Budaya yang berbeda memiliki dasar perubahan nilai etos. Bila suatu
communion muncul berdasarkan etos, budaya menjadi lebih menarik. Budaya caring
menunjukkan sikap tanggap terhadap manusia, martabat dan kesuciannya dalam
membentuk tujuan communion.
BABIV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filosofi
keperawatan merupakan makna umum dari keperawatan dan juga menjelaskan fenomena
keperawatan melalui penalaran dan logika.
Teori
yang termasuk dalam teori filosofi adalah teori dari florence nigtingale, jean
watson, patricia banner, dan katie eriksen.
Teori
yang mereka kemukakan termasuk filosofi teori karena masih bersifat umum dan
perlu pengembangan lebih lanjut untuk diterapkan pada praktek keperawatan.
B.
Saran
Teori keperawatan merupakan dasar dalam dunia
keperawatan oleh karena itu diharapkan agara para perawat dalam melaksanankan
dan memahami keperawatan harus berdasrkan teori-teori yang ada serta diakui
kebenarannya agar dalam melaksanakan tugasnya dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
“filosofi keperawatan”.19/12/17.22.12 https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/35019559/FILOSOFI_KEPERAWATAN.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A&Expires=1513702756&Signature=6IC1BNXjmCfkzy8aLrHmjHSVidI%3D&response-content-disposition=attachment%3B%20filename%3DFILOSOFI_KEPERAWATAN.pdf
Komentar
Posting Komentar