KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulilahirrabilalamin.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi rahmat kepada kami sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang teori Swanson sebagai mana
judul dari makalah kami. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi kami
sebagai penyusun berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya dengan
baik.
Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun
makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan
kritiknya. Terima kasih.
Kendari, Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
1 PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
2.
Rumusan
Masalah
3.
Tujuan
Makalah
BAB
2 PEMBAHASAN
1.
Teori
Caring Swanson
2.
Struktur
Caring Swanson
3.
Dimensi
Caring menurut Swanson
4.
Asumsi
Teori Caring terhadap Konsep Disiplin Ilmu Keperawatan
5.
Perilaku
Caring dalam Praktik Keperawatan
BAB
3 PENUTUP
1.
Kesimpulan
2.
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pengetahuan tentang
proses pengembangan empiris teori/model konseptual merupakan dasar untuk
memahami disiplin ilmu keperawatan, sehingga perawat menyadari kebutuhan akan
teori-teori keperawatan untuk membimbing penelitian dan praktek profesional
keperawatan/ pelayanan keperawatan dimana
kualitas pelayanan keperawatan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan
kesehatan. Peningkatan mutu pelayanan keperawatan akan berjalan dengan baik
jika didukung dengan adanya
pengembangan model teori keperawatan karena teori keperawatan sangat penting bagi pengembangan
profesionalisme keperawatan. Salah satu teori keperawatan yang memberikan
pengaruh di dalam pelayanan keperawatan adalah A Theory of Caring yang diperkenalkan oleh Kristen Swanson.
Lingkungan kesehatan
seperti rumah sakit, perawat
akan berhadapan dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya.Oleh karena itu, perawat
harus terus meningkatkan profesionalismenya,yaitu meningkatkan perilaku caring. Caring
bukan semata-mata perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna
dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan sebagai tindakan
yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil
meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999).
Caring adalah sentral praktik keperawatan karena
caring merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, yang mana tolak ukurnya
pada saat perawat bekerja memberikan pelayanan keperawatan untuk lebih
meningkatkan kepeduliannya kepada klien baik individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat.
2. Rumusan Masalah
Untuk memperjelas permasalahan yang akan dibahas,
penulis merumusakan beberapa permasalahan sebagai berikut.
1.
Apa itu caring Swanson ?
2.
Bagaimana struktur caring Swanson ?
3.
Bagaimana dimensi caring menurut Swanson ?
4.
Apa saja asumsi teori caring Swanson terhadap konsep
sentral disiplin ilmu keperawatan ?
5.
Bagaimana perilaku caring Swanson dalam praktik
keperawatan ?
3. Tujuan Makalah
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
menjelaskan :
1.
Untuk mengetahui apa itu teori caring Swanson
2.
Agar Mengetahui struktur caring Swanson
3.
Mengetahui dimensi caring menurut Swanson
4.
Mengetahui asumsi teori caring Swanson terhadap konsep
sentral disiplin ilmu keperawatan
5.
Untuk mengetahui perilaku caring dalam praktik
keperawatan
BAB 3
PEMBAHASAN
1.
Teori
Caring Swanson
Asal
teori Swanson dapat ditemukan dalam wawancaranya yang dilakukannya pada wanita
yang mengalami keguguran, orangtua yang memiliki anak di unit perawatan
intensif, dan ibu yang secara sosial berisiko dan telah melalui system untuk
menerima berbagai macam bentuk perawatan kesehatan (Potter et al. 2005).
Melalui wawancara
ini, Swanson mampu memahami ruang lingkup caring secara keseluruhan dan
pada saat yang sama menguraikan dimensi spesifik dari apa yang diperlukan
seorang perawat untuk merawat pasien. Salah satu hal paling penting yang
memberikan kontribusi pada teori keperawatan dalam hal ini, yaitu argumen bahwa
pasien seharusnya tidak hanya dilihat sebagai individu yang terpisah, melainkan
sebagai manusia seutuhnya, yang saat ia menulis "berada di tengah-tengah
dan yang menjadi keutuhan dibuat nyata dalam pikiran, perasaan dan perilaku
"(Swanson, 1993). Hal yang menarik tentang pengertian pasien ini adalah
bahwa Swanson selalu menempatkan peran perawat dalam proses becoming
tersebut. Jadi dalam aspek kesehatan becoming tersebut, perawat tidak
hanya menjadi dispenser pengobatan medis, tetapi juga merupakan mitra dalam
membantu pasien lebih dekat dengan tujuannya (well-being).
Teori
caring Swanson menyajikan permulaan yang baik untuk memahami kebiasaan dan
proses karakteristik pelayanan. Teori caring Swanson menjelaskan tentang proses
caring yang terdri dari bagaimana perawat mengerti kejadian yang berarti di
dalam hidup seseorang, hadir secara emosional, melakukan suatu hal kepada orang
lain sama seperti melakukan terhadap diri sendiri, memberi informasi dan
memudahkan jalan seseorang dalam menjalani transisi kehidupan serta menaruh
kepercayaan seseorang dalam menjalani hidupnya.
Swanson (1991) menjelaskan middle
range theory of caring. Caring didefinisikan sebagai ´a nurturing way of relating to a valued other toward whom one feels a
personal sense of commitment and responsibility`. Kata kunci dari definisi
tersebut adalah memberikan asuhan keperawatan yang bernilai kepada klien dengan
penuh rasa komitment dan tanggung jawab.
2. Struktur Caring Swanson
Asumsi dasar dari
teori ini ditemukan dalam gagasan caring yang dijelaskan Swanson.
Menurut Swanson, caring adalah proses multifaset yang terus ada dalam
dinamika hubungan pasien-perawat. Ada yang melihat proses ini sebagai hubungan
yang linear, namun juga harus dianggap sebagai hubungan siklik, dan proses yang
terjadi harus selalu diperbarui karena peran perawat untuk membantu klien
mencapai kesehatan dan kesejahteraan.
Secara umum, proses
yang terjadi sebagai berikut, pertama perawat membantu klien mempertahankan
keyakinannya, yang berarti bahwa perawat mendorong pasien dan membantu untuk
memperkuat harapan mereka mengatasi kesulitan saat ini. Hal ini sangat penting
terutama dalam kasus di mana pasien menghadapi penyakit yang mengancam nyawa
seperti kanker, atau peristiwa yang sangat traumatis seperti keguguran (Swanson
& Wojnar, 2004).
Sebagai pelengkap dan
langkah berikutnya dalam proses untuk mempertahankan keyakinan, adalah
"knowing". Dalam proses “knowing”, perawat berusaha untuk memahami
apa arti situasi yang terjadi saat ini bagi pasien, hal ini muncul dalam bentuk
latihan sebagai seorang perawat, yang menciptakan seseorang dengan rasa
tertentu bagaimana kondisi fisik dan psikologis dapat mempengaruhi seseorang
secara keseluruhan. Dengan mengetahui apa yang dialami pasien, perawat kemudian
dapat melanjutkan proses "do for", ada untuk memberikan tindakan
terapi dan intervensi bagi pasien. Proses “do for”, diikuti dengan proses
"enabling" yang memungkinkan pasien untuk mencapai kesehatan dan
kesejahteraannya.
3. Dimensi Caring Menurut Swanson
Menurut Swanson ada lima
dimensi yang mendasari konsep Caring
1.
Maintaining Belief
Yaitu menumbuhkan keyakinan
seseorang dalam melalui setiap peristiwa hidup dan masa-masa transisi dalam
hidupnya serta menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan, meyakini kemampuan
orang lain, menumbuhkan sikap optimis, membantu menemukan arti atau mengambil
hikmah dari setiap peristiwa, dan selalu ada untuk orang lain dalam situasi apa
pun. Tujuannya adalah untuk memungkinkan orang lain terbantu dalam batas-batas
kehidupannya sehingga mampu menemukan makna dan mempertahankan sikap yang penuh
harapan. Memelihara dan mempertahankan keyakinan nilai hidup seseorang adalah
dasar dari caring dalam praktek
keperawatan.
Subdimensi:
a.
Believing in
Perawat menanggapi apa yang klien rasakan dan percaya bahwa perasaan – perasaan tersebut bisa
terjadi dan wajar terjadi pada siapapun yang sedang dalam masa transisi.
b. Offering a hope-filled attitude
Menunjukkan perilaku bahwa perawat
sepenuhnya peduli/care terhadap masalah yang dialami dengan sikap tubuh, kontak
mata dan intonasi bicara perawat.
c. Maintaining realistic optimism
Menjaga dan menunjukan optimisme
perawat dan harapan terhadap apa yang menimpa klien secara realistis dan
berusaha mempengaruhi agar klien mempunyai optimisme dan harapan yang sama.
d. Helping to find meaning
Membantu klien menemukan makna akan
masalah yang terjadi sehingga klien perlahan - lahan menerima bahwa setiap orang dapat
mengalami apa yang dialami klien.
e.
Going the distance (menjaga jarak)
Semakin jauh menjalin/menyelami hubungan dengan tetap
menjaga hubungan sebagai perawat-klien yang tujuan akhir dalam tahap ini adalah
kepercayaan klien sepenuhnya terhadap perawat dan responsibility serta caring
secara total oleh perawat kepada klien.
2. Knowing
Knowing adalah berjuang untuk
memahami peristiwa yang memiliki makna dalam kehidupan klien. Mempertahankan
kepercayaan adalah dasar dari caring keperawatan,
knowing adalah memahami pengalaman
hidup klien dengan mengesampingkan asumsi perawat mengetahui kebutuhan klien,
menggali/menyelami informasi klien secara detail, sensitive terhadap petunjuk
verbal dan non verbal, fokus kepada satu tujuan keperawatan, serta melibatkan
orang yang memberi asuhan dan orang yang diberi asuhan dan menyamakan persepsi
antara perawat dan klien. Knowing adalah
penghubung dari keyakinan keperawatan terhadap realita kehidupan.
Subdimensi:
a. Avoiding assumptions
Menghindari
asumsi-asumsi
b. Assessing
thoroughly
Melakukan
pengkajian menyeluruh meliputi bio psiko sosial spitual dan kultural
c. Seeking clues
Perawat menggali informasi - informasi secara mendalam
d. Centering on
the one cared for
Perawat
berfokus pada klien dalam melakukan asuhan keperawatan
e. Engaging the self of both
Melibatkan
diri sebagai perawat secara utuh dan bekerja sama dengan klien dalam melakukan
asuhan keperawatan yang efektif
3. Being With
Being with maksudnya tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga komunikasi, berbagi perasaan tanpa beban dan secara emosional bersama – sama klien dengan maksud menawarkan kepada klien
dukungan,
kenyamanan, pemantauan dan
mengurangi intensitas perasaan yang tidak diinginkan.
Subdimensi:
a. Non-burdening
Perawat bekerjasama dengan klien
tanpa memaksa kehendak kepada klien dalam melakukan tindakan keperawatan
b. Convering availability
Menunjukan kesediaan perawat dalam
membantu klien dan memfasilitasi klien untuk mencapai tahap
kesejahteraan / well being.
c. Enduring
with
Bersama-sama berkomitmen dengan
klien berusaha dalam meningkatkan kesehatan klien
d. Sharing
feelings
Berbagi pengalaman bersama klien
yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesehatan klien.
Dengan “Being with” perawat dapat menunjukkan dengan cara kontak mata,
bahasa tubuh, nada suara, mendengarkan serta memiliki sikap positif dan
bersemangat yang dilakukan perawat, akan membentuk sesuatu suasana keterbukaan
dan saling mengerti.
4. Doing For
Doing for berarti bersama – sama melakukan sesuatu
tindakan yang bisa dilakukan, mengantisipasi kebutuhan yang diperlukan,
kenyamanan, menjaga privasi dan martabat klien.
Subdimensi:
a. Comforting ( memberikan kenyamanan)
Dalam melakukan tindakan keperawatan
dilakukan dengan memberikan kenyamanan
pada klien dan menjaga privasi klien.
b. Performing competently (
menunjukkan ketrampilan)
Tidak hanya berkomunikasi dan
memberikan kenyaman dalam tindakannya, perawat juga menunjukkan kompetensi atau skill
sebagai perawat professional
c. Preserving dignity (menjaga
martabat klien)
Menjaga martabat klien sebagai individu atau memanusiakan manusia.
d. Anticipating ( mengatisipasi )
Perawat dalam melakukan tindakan selalu meminta persetujuan klien
dan keluarga
e. Protecting (melindungi)
Melindungi hak-hak pasien dalam memberikan
asuhan keperawatan dan tindakan medis
5. Enablings
Enabling adalah memampukan atau memberdayakan klien,
memfasilitasi klien untuk melewati masa
transisi dalam hidupnya dan melewati setiap peristiwa dalam hidupnya
yang belum pernah dialami dengan memberi informasi, menjelaskan, mendukung
dengan focus masalah yang relevan, berfikir melalui masalah dan menghasilkan
alternative pemecahan masalah sehingga meningkatkan penyembuhan klien atau
klien mampu melakukan tindakan yang tidak biasa dia lakukan dengan cara
memberikan dukungan, memvalidasi perasaan dan memberikan umpan balik / feedback.
Subdimensi:
a. Validating (memvalidasi)
Memvalidasi semua tindakan yang telah dilakukan
b. Informing( memberikan informasi)
Memberikan informasi yang berkaitan dengan peningkatan kesehatan klien
dalam rangka memberdayakan klien dan keluarga klien.
c. Supporting (mendukung)
Memberikan dukungan kepada klien dalam mencapai kesejahteraan
/ well being
sesuai kapasitas sebagai perawat
d. Feedback (memberikan umpan balik)
Memberikan umpan balik terhadap apa yang dilakukan oleh klien dalam
usahanya mencapai kesembuhan / well being
e. Helping patients to focus generate
alternatives (membantu pasien untuk focus dan membuat alternative)
Menolong
pasien untuk selalu fokus dan terlibat dalam program peningkatan kesehatannya
baik tindakan keperawatan maupun tindakan medis. (Potter
& Perry, 2009)
4.
Asumsi Teori Caring Swanson Terhadap
Konsep Sentral Disiplin Ilmu Keperawatan
1. Manusia
Asumsi Swanson
tentang caring sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Watson (1985) bahwa
manusia merupakan makhluk yang unik dan utuh yang memiliki pemikiran, perasaan
dan tingkah laku. Pengalaman hidup dari setiap orang dipengaruhi oleh warisan
genetik, anugerah spiritual, dan
kebebasan memilihnya.
2. Kesehatan
Perawat tidak hanya
berfokus bagaimana klien sembuh dari penyakitnya tetapi perawat membantu klien
untuk dapat mencapai, memelihara, atau mendapatkan kembali tingkat kesehatan
atau kesejahteraan hidupnya yang optimal. Pada saat perawat berfokus pada
kesehatan sebagai suatu kesejahteraan hidup, perawatan yang diberikan haruslah
meliputi manusia sebagai manusia yang utuh yaitu menjadi seseorang, bertumbuh,
merefleksikan diri dan selalu berusaha untuk dapat berhubungan dengan sesamanya
(Swanson, 1993).
Untuk dapat
mengalami kesejahteraan adalah dengan hidup sebagai subjektif, memiliki arti,
berpengalaman sebagai manusia seutuhnya. Utuh melibatkan adanya pengertian
integrasi dan menjadi seseorang berarti semua aspek menjadi seseorang bebas
untuk diekspresikan. Aspek yang di maksud adalah : spiritualitas, pemikiran,
perasaan, inteligen, kreativitas, hubungan, feminine, maskulin dan seksualitas
(Swanson, 1993).
3. Lingkungan
Lingkungan
didefiniskan sebagai sesuatu yang situasional. Di dalam keperawatan sendiri, lingkungan adalah suatu konteks yang
mempengaruhi atau yang terpengaruh oleh klien. Pengaruh itu sendiri ada
beberapa termasuk budaya, politik, ekonomi, sosial, biofisik, psikologi dan spiritual. Pada saat kita mencari tahu
tentang pengaruh lingkungan terhadap seseorang, ada baiknya untuk
mempertimbangkan tuntutan, kendala dan sumber – sumber yang membawa kepada
situasi tersebut dan lingkungan di sekitarnya (Klausner, 1971).
4.
Perawat
Swanson (1991,1993)
mendefinisikan keperawatan atau pemberian pelayanan keperawatan untuk mencapai
kesejahteraan individu. Swanson meyatakan bahwa ilmu keperawatan dibentuk dari
ilmu pengetahuan keperawatan ilmu pengetahuan lain seperti etika, kepribadian,
estetika yang dijadikan nilai-nilai dan harapan individu dan social secara
manusiawi dan berdasarkan pengalaman.
5. Perilaku
Caring dalam Praktik Keperawatan
Pandangan Swanson (1993) tentang keperawatan adalah siapa yang kita layani, bagaimana kita memberikan pelayanan dan kenapa kita
terus untuk melayani merupakan keharusan
bagi perawat untuk dapat mengintegrasikan ilmu pengetahuan, diri sendiri, fokus
pada kemanusian dan caring. Yang kemudian disempurnakan dengan adanya transaksi antara keperawatan,
setiap perawat dan klien bahwa perawat adalah profesi yang memiliki komitmen caring, pemeliharan akan martabat
manusia dan meningkatkan kesehatan.
Swanson (1991) mempelajari tentang klien dan profesi
pemberi layanan dalam usahanya untuk membuat teori tentang caring dalam praktik keperawatan yang bermanfaat dalam memberikan
petunjuk bagaimana membangun strategi caring
yang berguna dan efektif. Teori caring
Swanson ini juga menyajikan permulaan yang baik untuk memahami kebiasaan
dan proses karakteristik pelayanan yang berisi lima kategori atau proses.
Caring secara umum dapat diartikan sebagai
suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada,
perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi. Caring adalah
sentral untuk praktik keperawatan karena caring merupakan suatu cara
pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk lebih meningkatkan
kepeduliannya kepada klien. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian
inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan (Nanda Sartika, 2010).
Tindakan caring bertujuan untuk memberikan
asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan
keselamatan klien. Kemudian caring juga menekankan harga diri individu,
artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu
menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien sehingga
bisa memberikan pelayanan kesehatan yang tepat. Penilaian terhadap seorang
perawat dapat terlihat dari perilaku Caring yang dimiliki perawat. Teori
Caring Swanson menyajikan permulaan yang baik untuk memahami kebiasaan
dan proses karakteristik pelayanan. Teori Caring Swanson (1991)
menjelaskan tentang proses Caring yang terdiri dari bagaimana perawat
mengerti kejadian yang berarti di dalam hidup seseorang, hadir secara
emosional, melakukan suatu hal kepada orang lain sama seperti melakukan
terhadap diri sendiri, memberi informasi dan memudahkan jalan seseorang dalam
menjalani transisi kehidupan serta menaruh kepercayaan seseorang dalam
menjalani hidup. (Potter & Perry, 2009 : 112).
BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah
dibahas pada tinjauan teori, Middle Range teori adalah suatu
pengembangan teori pada tingkat yang lebih kongkret daripada Grand
Teori,karena pada Grand teori lebih berfokus pada fenomena pusat dari disiplin
ilmu seperti individu sebagai sistem adaptif, defisit perawatan diri,kesatuan
manusia, atau menjadi manusia. Grand Teori yang kerangkanya terdiri dari
konsep-konsep dan pernyataan relasional yang menjelaskan fenomena
abstrak.Sedangkan Midle Range Theory diorganisasi dalam lingkup
terbatas, memiliki sejumlah varibel terbatas, dapat diuji secara langsung.
Teori Middle-Range memiliki hubungan yang lebih kuat dengan penelitian dan
praktik. Hubungan antara penelitian dan praktik menurut Merton (1968),
menunjukkan bahwa Teori Mid-Range amat penting dalam disiplin praktik.
Pengembangan Middle Range Theory
bisa bersumber dari Grand Teori,atau dapat pula bersumber dari hasil penelitian
klinis langsung, hal ini dapat kita lihat dari pernyataan beberapa ahli.
Mungkin ada hubungan yang eksplisit antara beberapa grand teori dan middle
range teori. Sebagai contoh, (middle range teori) Reed (1991) transendensi-diri
dan (1988) teori Barrett kekuasaan secara langsung terkait dengan Ilmu Rogers
dari Kesatuan Manusia. Teori Midle range lainnya mungkin tidak memiliki
hubungan langsung dengan grand teori. Dalam hal ini,asumsi-asumsi filosofis
yang mendasari middle range teori dapat berada pada tingkat paradigma,
bukan dari Grand Teori. Namun demikian, hubungan ini penting untuk menetapkan
validitas sebagai teori.
Jika
kita bandingkan dengan filosofi teori dan Grand teori,middle range teori dapat
digunakan langsung dalam tatanan praktik, karena memiliki variable yang
spesifik misalnya kita ambil contoh dari Teori Trajectory Illness dari Wiener
dan Dodd, teori ini lahir dari bentuk studi kualitatif yang dilakukan pada
khusus penderita kanker,kemudian juga teori Cheryl T.Beck yang mengkhususkan
teori pada tatanan praktik yang diaplikasikan pada Post Partum Depresion.
Midle
range teori adalah bagian dari struktur disiplin ilmu keperawatan.Teori ini
menjelaskan fenomena spesifik yang terkait dengan praktek keperawatan. Kajian
analisis teori transendensi-diri menjelaskan bagaimana penuaan atau mendorong
kerentanan manusia melampaui batas-batas untuk diri intrapribadi fokus pada
makna kehidupan, interpersonal pada koneksi dengan orang lain dan lingkungan,
temporal untuk mengintegrasikan masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan
transpersonally untuk terhubung dengan dimensi di luar fisik realitas.
Transendensi-diri ini terkait dengan kesejahteraan atau penyembuhan, salah satu
dari diidentifi kasi fokus dari disiplin keperawatan. Teori ini telah diuji
dalam penelitian dan digunakan untuk memandu praktik keperawatan. Dengan
ekspansi Middle Range Teori memperkaya disiplin ilmu keperawatan.
Dari beberapa ciri yang dimiliki
Middle Range Teori ada beberapa aspek yang menjadi catatan penting yaitu
posisi Middle Range Teori berada pada lingkaran tengah, semi konsep semi
praktis. Dapat dilakukan ditarik keatas mendekati tatanan konsep dapat
pula ditarik kebawah lebih mendekati praktik klinik, tergantungan penggunaan konsep-konsep
dan aplikasinya. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa cirri yang diungkapkan
oleh beberapa ahli yang menyatakan Middle Range Teori dipengaruhi oleh
penggunaannya yang mampu diaplikasikan dalam berbagai situasi, masih memiliki
suatu unsur abstrak ,namun lebih mudah diaplikasikan ke dalam praktik
dibandingkan dengan Grand Teori.
2. Saran
Dari makalah yang kami buat, kami sebagai penulis
menyarankan untuk lebih banyak membaca dan memahami masalah middle range dan
bisa lebih banyak mengetahui masalah genetic(pewarisan sifat) pada manusia.
Komentar
Posting Komentar