SKENARIO TEKNIK KOMUNIKASI PERAWAT
PADA PASIEN PENYAKIT KRONIK
Kondisi Pasien
Pasien
Nn. I umur 25 tahun masuk rumah sakit
(MRS) dengan peradangan hati (hepar). Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan
suhu badan 380 C, banyak keluar keringat, kadang-kadang mual dan muntah.
Palpasi teraba hepar membesar. Pasien mengatakan bahwa diagnosis dokter salah,
“Dokter salah mendiagnosa, tidak mungkin saya sakit yang demikian karena saya
selalu menjaga kesehatan”, Pasien menolak pengobatan dan tidak mau dirawat. Pasien
yakin bahwa dia sehat-sehat saja dan tidak perlu perawatan dan pengobatan.
Fase Orientasi :
Perawat : “Selamat pagi. Saya Perawarat
Febry. Apa benar saya dengan Nn.I?” (mendekat ke arah pasien dan mengulurkan
tangan untuk berjabatan tangan).
Pasien : (berjabatan tangan ) “selamat pagi”
Perawat : “Apa kabar mba? Bagaimana perasaan mba hari
ini? Mba sepertinya tampak lelah?”
Pasien : “Saya sehat-sehat saja, tidak perlu ada
yang dikhawatirkan terhadap diri saya”.
Perawat : (Tersenyum sambil memegang tangan pasien).
Perawat : “Mba, saya ingin
mendiskusikan masalah kesehatan mba supaya kondisi mba lebih baik dari
sekarang”.
Pasien : “Iya, tapi benarkan saya tidak sakit? Saya
selalu sehat”.
Perawat : (Tersenyum)...”Nanti kita
diskusikan. Waktunya 15 menit saja ya”.
Mba mau tempatnya yang nyaman di mana?
Pasien : Disini saja
Perawat : Baik mba, disini saja.
Fase Kerja :
Perawat : “Saya berharap sementara
ini, mba mau istirahat dulu untuk beberapa hari di rumah sakit. Batasi
aktivitas dan tidak boleh terlalu lelah”.
Pasien : “Saya kan tidak apa-apa...
kenapa harus istirahat? Saya tidak bisa hanya diam/duduk saja seperti ini. Saya
sudah biasa beraktivitas dan melakukan tugas-tugas soasial di masyarakat”.
Perawat : “Saya sangat memahami
aktivitas mba dan saya sangat bangga dengan kegiatan mba yang selalu semangat”.
Pasien :
(mendengarkan)
Perawat : “Mba juga harus memahami
bahwa setiap manusia mempunyai keterbatasan kemampuan dan kekuatan (menunggu
respons pasien)”.
Pasien : (mendengarkan)
Perawat : “Saya ingin tahu, apa alasan keluarga
membawa mba ke rumah sakit ini?”
Pasien : “Badan saya panas, mual, muntah dan perut
sering kembung. Tapi itu sudah biasa, tidak perlu ke rumah sakit sudah sembuh”.
Perawat : “Terus, apa yang membuat
keluarga khawatir sehingga mba diantar ke rumah sakit?”
Pasien : “Saya muntah-muntah dan badan saya lemas
kemudian pingsan sebentar”.
Perawat : “Menurut pendapat mba
kalau sampai pingsan, berarti tubuh mba masih kuat atau sudah menurun
kekuatannya?”
Pasien : “Iya,
berarti tubuh saya sudah tidak mampu ya, berarti saya harus istirahat?”
Perawat : “Menurut mba, perlu istirahat apa tidak?”
Pasien : “Berapa lama saya harus
istirahat? Kalau di rumah sakit ini jangan lamalama ya?”
Perawat : “Lama dan tidaknya
perawatan, tergantung dari mba sendiri”. “Kalau mba kooperatif selama
perawatan, mengikuti anjuran dan menjalani terapi sesuai program, semoga tidak
akan lama mba di rumah sakit”.
Pasien : “Baiklah saya bersedia
mengikuti anjuran perawat dan dokter, dan akan mengikuti proses terapi dengan
baik”.
Perawat : “Terima kasih, mba telah
mengambil keputusan terbaik untuk mba sendiri. Semoga cepat sembuh ya”.
Fase Terminasi:
Perawat : “Bagaimana perasaan mba
sekarang?” Sekarang mba sudah taukan kenapa mba harus menjalankan perawatan di
rumah sakit ?
Pasien : Perasaan saya sudah
sedikit lega dan saya sudah paham kenapa saya harus dirawat.
Perawat : “Saya berharap mba bisa kooperatif selama di
rawat. Mba harus istirahat dan tidak boleh banyak aktivitas, makan sesuai
dengan diet yang disediakan, dan minum obat secara teratur”.
Pasien : Baiklah
Perawat : Kalau begitu saya
permisi dulu mba. Semoga cepat sembuh ! (Seraya berjabatan tangan)
Pasien : Iya. (Seraya berjabatan
tangan).
Komentar
Posting Komentar