DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL.................................................................................................i
KATA
PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR
ISI...........................................................................................................iii
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar
Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan
Masalah........................................................................................2
C. Tujuan
Penulisan..........................................................................................2
D. Manfaat
Penulisan.......................................................................................2
BAB
II TINJAUAN TEORI...................................................................................3
A. Konsep
Medis…………………………………………………………
B. Konsep
Keperawatan Secara Umum………………………………………
BAB
III TINJAUAN KASUS..............................................................................15
A. Pengkajian………………………………………………………………
B. Diagnosa
Prioritas………………………………………………………
C. Intervensi……………………………………………………………
D. Implementasi
dan Evaluasi………………………………………
BAB
IV PENUTUP……………………………………………………………
A. Kesimpulan……………………………………………………………..
B. Saran………………………………………………………………………
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Abdomen adalah sebuah rongga besar
yang dililingkupi oleh otot-otot perut pada bagian ventral dan lateral, serta
adanya kolumna spinalis di sebelah dorsal. Bagian atas abdomen berbatasan
dengan tulang iga atau costae. Cavitas abdomninalis berbatasan dengan cavitas
thorax atau rongga dada melalui otot diafragma dan sebelah bawah dengan cavitas
pelvis atau rongga panggul. Antara cavitas abdominalis dan cavitas pelvis
dibatasi dengan membran serosa yang dikenal dengan sebagai peritoneum
parietalis. Membran ini juha membungkus organ yang ada di abdomen dan menjadi
peritoneum visceralis.
Pada vertebrata, di dalam abdomen
terdapat berbagai sistem organ, seperti sebagian besar organ sistem pencernaan,
sistem perkemihan. Berikut adalah organ yang dapat ditemukan di abdomen:
komponen dari saluran cerna: lambung (gaster), usus halus, usus besar (kolon),
caecum, umbai cacing atau appendix; Organ pelengkap dai saluran cerna seperti:
hati (hepar), kantung empedu, dan pankreas; Organ saluran kemih seperti:
ginjal, ureter, dan kantung kemih (vesica urinaria); Organ lain seperti limpa
(lien).
Istilah trauma abdomen atau gawat
abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan dirongga abdomen yang
biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagian keluhan utama. Keadaan ini
memerlukan penanggulangan segera yang sering beru tindakan beda, misalnya pada
obstruksi, perforasi atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan
cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut
oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Evaluasi awal sangat
bermanfaat tetapi terkadang cukup sulit karena adanya jejas yang tidak jelas
pada area lain yang terkait. Jejas pada abdomen dapat disebabkan oleh trauma
tumpul atau trauma tajam. Pada trauma tumpul dengan velisitas rendah (misalnya
akibat tinju) biasanya menimbulkan kerusakan satu organ.
Sedangkan trauma tumpul velositas
tinggi sering menimbulkan kerusakan organ multipel. Aktivitas dalam kehidupan
sehari-hari memungkin seseorang untuk terkena injury yang bisa saja merusak
keutuhan integritas kulit, selama ini kita mungkin hanya mengenal luka robek
atau luka sayatan saja namun ternyata di luar itu masih banyak lagi luka/trauma
yang dapat terjadi pada daerah abdomen. Insiden trauma abdomen meningkat dari
tahun ke tahun. Mortalitas biasanya lebih tinggi pada trauma tumpul abdomen
dari pada trauma tusuk. Walaupun tehnik diagnostik baru sudah banyak dipakai,
misalnya Computed Tomografi, namun trauma tumpul abdomen masih merupakan
tantangan bagi ahli klinik. Diagnosa dini diperlukan untuk pengelolaan secara
optimal. Trauma abdomen akan ditemukan pada 25 % penderita multi-trauma, gejala
dan tanda yang ditimbulkannya kadang-kadang lambat sehingga memerlukan tingkat
kewaspadaan yang tinggi untuk dapat menetapkan diagnosis.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai beikut.
1.
Bagaimana konsep medis dari kegawatdaruratan trauma
abdomen ?
2.
Bagaiamana Kasus dari kegawatdaruratan trauma abdomen?
3.
Bagaimana asuhan keperawatan trauma abdomen ?
C. Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Agar mahasiswa mendapatkan pengetahuan mengenai trauma abdomen dan dapat
mengetahui bahwa bagaimana asuhan keperawatan gawat darurat pada klien dengan trauma abdomen menggunakan
pendekatan proses keperawatan.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan trauma abdomen
b.
Mampu menentukan masalah keperawatan pada
klien dengan trauma abdomen
c.
Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada
klien dengan trauma abdomen
d.
Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada
klien dengan trauma abdomen
e.
Mampu melaksanakan evaluasi pada klien dengan
trauma
abdomen
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1.
Pembaca khususnya mahasiswa bisa mengetahui bagaiamana
konsep medis yang meliputi definisi sampai penatalaksanaan dari trauma abdomen
2.
Pembaca bisa mengetahui kasus dari kegawatdaruratan trauma
abdomen
3.
Pembaca bisa mengetahui asuhan keperawatan pada trauma
abdomen mulai dari pengkajian , diagnose keperawatan. Perencanaan ,
implementasi maupun evaluasi
BAB II
TINJAUAN
TEORI
A.
Konsep
Medis Trauma Abdomen
1.
Definisi
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen,
dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak
disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma abdomen adalah terjadinya atau kerusakan
pada organ abdomen yang dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi
gangguan metabolisme, kelainan imonologi dan gangguan faal berbagai organ.
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan
terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan
oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus & Workman, 2006).
2.
Etiologi
Kecelakaan atau trauma yang terjadi pada
abdomen, umumnya banyak diakibatkan oleh trauma tumpul. Pada kecelakaan
kendaraan bermotor, kecepatan, deselerasi yang tidak terkontrol merupakan
kekuatan yang menyebabkan trauma ketika tubuh klien terpukul setir mobil atau
benda tumpul lainnya. Trauma akibat benda tajam umumnya disebabkan oleh luka
tembak yang menyebabkan kerusakan yang besar di dalam abdomen. Selain luka
tembak, trauma abdomen dapat juga diakibatkan oleh luka tusuk, akan tetapi luka
tusuk sedikit menyebabkan trauma pada organ internal di abdomen.
Trauma pada abdomen disebabkan oleh 2 kekuatan
yang merusak, yaitu :
a. Paksaan
/benda tumpul
Merupakan trauma abdomen tanpa penetrasi ke
dalam rongga peritoneum. Luka tumpul pada abdomen bisa disebabkan oleh jatuh,
kekerasan fisik atau pukulan, kecelakaan kendaraan bermotor, cedera akibat
berolahraga, benturan, ledakan, deselarasi, kompresi atau sabuk pengaman. Lebih
dari 50% disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.
b. Trauma
tembus
Merupakan trauma abdomen dengan penetrasi ke
dalam rongga peritoneum. Disebabkan oleh: luka tembak yang menyebabkan kerusakan yang besar
di dalam abdomen. Selain luka tembak, trauma abdomen dapat juga diakibatkan
oleh luka tusuk, akan tetapi luka tusuk sedikit menyebabkan trauma pada organ
internal diabdomen.
3.
Manifestasi
Klinis
a. Trauma
tembus abdomen (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium):
1) Hilangnya
seluruh atau sebagian fungsi organ
2) Respon
stres simpatis
3) Perdarahan
dan pembekuan darah
4) Kontaminasi
bakteri
5) Kematian
sel
Jika abdomen mengalami luka tusuk, usus yang
menempati sebagian besar rongga abdomen akan sangat rentan untuk mengalami
trauma penetrasi. Secara umum organ-organ padat berespon terhadap trauma dengan
perdarahan. Sedangkan organ berongga bila pecah mengeluarkan isinya dalam hal
ini bila usus pecah akan mengeluarkan isinya ke dalam rongga peritoneal
sehingga akan mengakibatkan peradangan atau infeksi.
b. Trauma
tumpul abdomen (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium)
ditandai dengan:
1) Kehilangan
darah.
2) Memar/jejas
pada dinding perut.
3) Kerusakan
organ-organ.
4) Nyeri
tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut.
5) Iritasi
cairan usus (FKUI, 1995).
Menurut Scheets (2002), secara umum
seseorang dengan trauma abdomen menunjukkan manifestasi sebagai berikut :
1) Laserasi,
memar,ekimosis
2) Hipotensi
3) Tidak
adanya bising usus
4) Hemoperitoneum
5) Mual dan
muntah
6) Adanya
tanda “Bruit” (bunyi abnormal pada auskultasi pembuluh darah, biasanya pd
arteri karotis),
7) Nyeri
8) Pendarahan
9) Penurunan
kesadaran
10) Sesak
11) Tanda
Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limfa.Tanda
ini ada saat pasien dalam posisi recumbent.
12) Tanda
Cullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan peritoneal
13) Tanda
Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi tubuh (pinggang) pada perdarahan
retroperitoneal.
14) Tanda
coopernail adalah ekimosis pada perineum,skrotum atau labia pada fraktur pelvis
15) Tanda
balance adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran kiri atas ketika
dilakukan perkusi pada hematoma limfe
4.
Klasifikasi
Berdasarkan mekanisme trauma,
dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Trauma
tumpul (blunt injury)
Suatu pukulan langsung, misalkan terbentur stir
ataupun bagian pintu mobil yang melesak ke dalam karena tabrakan, bisa
menyebabkan trauma kompresi ataupun crush injury terhadap organ
viscera. Hal ini dapat merusak organ padat maupun organ berongga, dan bisa
mengakibatkan ruptur, terutama organ-organ yang distensi (misalnya uterus ibu
hamil), dan mengakibatkan perdarahan maupun peritornitis.
Trauma tarikan (shearing injury)
terhadap organ viscera sebenarnya adalah crush injury yang
terjadi bila suatu alat pengaman (misalnya seat belt jenis lap
belt ataupun komponen pengaman bahu) tidak digunakan dengan benar.
Pasien yang cedera pada suatu tabrakan motor bisa mengalami trauma
decelerasi dimana terjadi pergerakan yang tidak sama antara suatu
bagian yang terfiksir dan bagian yang bergerak, seperti rupture lien ataupun
ruptur hepar (organ yang bergerak) dibagian ligamentnya (organ yang terfiksir).
Pemakaian air-bag tidak
mencegah orang mengalami trauma abdomen. Pada pasien-pasien yang mengalami
laparotomi karena trauma tumpul, organ yang paling sering kena adalah lien
(40-55%), hepar (35-45%), dan usus (5-10%). Sebagai tambahan, 15% nya mengalami
hematoma retroperitoneal.
b. Trauma
tajam (penetration injury)
Luka tusuk ataupun luka tembak (kecepatan
rendah) akan mengakibatkan kerusakan jaringan karena laserasi ataupun
terpotong. Luka tembak dengan kecepatan tinggi akan menyebabkan transfer energi
kinetik yang lebih besar terhadap organ viscera, dengan adanya efek tambahan
berupa temporary cavitation, dan bisa pecah menjadi fragmen
yang mengakibatkan kerusakan lainnya. Luka tusuk tersering mengenai hepar
(40%), usus halus (30%), diafragma (20%), dan colon (15%). Luka tembak
menyebabkan kerusakan yang lebih besar, yang ditentukan oleh jauhnya perjalanan
peluru, dan berapa besar energy kinetiknya maupun kemungkinan pantulan peluru
oleh organ tulang, maupun efek pecahan tulangnya. Luka tembak paling sering
mengenai usus halus (50%), colon (40%), hepar (30%) dan pembuluh darah
abdominal (25%).
Trauma pada abdomen dibagi lagi menjadi 2 yaitu
trauma pada dinding abdomen dan trauma pada isi abdomen.
a. Trauma
pada dinding abdomen
Trauma dinding abdomen dibagi
menjadi kontusio dan laserasi.
1) Kontusio
dinding abdomen disebabkan trauma non-penetrasi.
Kontusio dinding abdomen
tidak terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi eksimosis atau
penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darah dapat menyerupai tumor.
2) Laserasi, jika
terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga abdomen harus di
eksplorasi (Sjamsuhidayat, 1997). Atau terjadi karena trauma penetrasi.
b. Trauma
pada isi abdomen
Sedangkan trauma abdomen pada isi abdomen,
menurut Suddarth & Brunner (2002) terdiri dari:
1) Perforasi
organ viseral intraperitoneum
Cedera pada isi abdomen mungkin di sertai oleh bukti
adanya cedera pada dinding abdomen.
2) Luka
tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen
Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan
diagnostik ahli bedah.
3) Cedera
thorak abdomen
Setiap luka pada thoraks yang mungkin menembus
sayap kiri diafragma, atau sayap kanan dan hati harus dieksplorasi
(Sjamsuhidayat, 1998).
5.
Patofisiologi
Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada
tubuh manusia (akibat kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga
dan terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari
interaksi antara faktor-faktor fisik dari kekuatan tersebut dengan
jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan dengan kemampuan
obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat benturan karena
terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan menimbulkan
disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan yang
menghentikan tubuh juga penting.
Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan
viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk
kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan
untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan
benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut. Beratnya trauma yang terjadi
tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan
jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah
posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan.
Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra
abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme :
a) Meningkatnya
tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar
seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat
mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
b) Terjepitnya
organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau
struktur tulang dinding thoraks.
c) Terjadi
gaya akselerasi-deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek pada
organ dan pedikel vaskuler
6.
Komplikasi
a)
Trombosis Vena
b)
Emboli Pulmonar
c)
Stress ulserasi
dan perdarahan
d) Pneumonia
e)
Tekanan ulserasi
f)
Atelektasis
g)
Sepsis
7.
Pemeriksaan
diagnostik
a. Trauma Tumpul
1) Diagnostik
Peritoneal Lavage
DPL adalah prosedur invasive yang bisa cepat
dikerjakan yang bermakna merubah rencana untuk pasien berikutnya ,dan dianggap
98 % sensitive untuk perdarahan intraretroperitoneal. Harus dilaksanakan
oleh team bedah untuk pasien dengan
trauma tumpul multiple dengan hemodinamik yang abnormal, terutama bila dijumpai
:
a) Perubahan sensorium-trauma capitis,
intoksikasi alcohol, kecanduan obat-obatan.
b) Perubahan sensasi trauma spinal
c) Cedera organ berdekatan-iga bawah, pelvis, vertebra
lumbalis
d) Pemeriksaan diagnostik tidak jelas
e) Diperkirakan aka nada kehilangan kontak dengan
pasien dalam waktu yang agak lama, pembiusan untuk cedera extraabdominal,
pemeriksaan X-Ray yang lama misalnya Angiografi
f) Adanya lap-belt sign (kontusio dinding perut) dengan kecurigaan trauma usus
DPL juga diindikasikan pada pasien dengan
hemodinamik normal nilai dijumpai hal seperti di atas dan disini tidak
memiliiki fasilitas USG ataupun CT Scan. Salah satu kontraindikasi untuk DPL
adalah adanya indikasi yang jelas untuk laparatomi. Kontraindikasi relative
antara lain adanya operasi abdomen sebelumnya, morbid obesity, shirrosis yang
lanjut, dan adanya koagulopati sebelumnya. Bisa dipakai tekhnik terbuka atau
tertutup (Seldinger ) di infraumbilikal
oleh dokter yang terlatih. Pada pasien dengan fraktur pelvis atau ibu hamil,
lebih baik dilakukan supraumbilikal untuk mencegah kita mengenai hematoma
pelvisnya ataupun membahayakan uterus yang membesar.
Adanya aspirasi darah segar, isi
gastrointestinal, serat sayuran ataupun empedu yang keluar, melalui tube DPL
pada pasien dengan henodinamik yang abnormal menunjukkan indikasi kuat untuk
laparatomi. Bila tidak ada darah segar (>10 cc) ataupun cairan feses
,dilakukan lavase dengan 1000cc Ringer Laktat (pada anak-anak 10cc/kg). Sesudah cairan tercampur dengan
cara menekan maupun melakukan rogg-oll,
cairan ditampung kembali dan diperiksa di laboratorium untuk melihat isi
gastrointestinal ,serat maupun empedu.
(American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 : 149-150)Test
(+) pada trauma tumpul bila 10 ml atau
lebih darah makroskopis (gross) pada aspirasi awal, eritrosit > 100.000 mm3,
leukosit > 500/mm3 atau pengecatan gram (+) untuk bakteri,
bakteri atau serat.
Sedangkan bila DPL (+) pada trauma tajam bila
10 ml atau lebih darah makroskopis (gross) pada aspirasi awal,sel darah merah
5000/mm3 atau lebih. (Scheets,
2002 : 279-280)
a) FAST
(Focused Assesment Sonography in Trauma)
Individu yang terlatih dengan baik dapat
menggunakan USG untuk mendeteksi adanya hemoperitoneum. Dengan adanya peralatan
khusus di tangan mereka yang berpengalaman, ultrasound memliki sensifitas,
specifitas dan ketajaman untuk meneteksi adanya cairan intraabdominal yang
sebanding dengan DPL dan CT abdomen Ultrasound memberikan cara yang tepat,
noninvansive, akurat dan murah untuk mendeteksi hemoperitorium, dan dapat
diulang kapanpun.
Ultrasound dapat digunakan sebagai alat
diagnostik bedside dikamar resusitasi, yang secara bersamaan dengan pelaksanaan
beberapa prosedur diagnostik maupun terapeutik lainnya. Indikasi pemakaiannya
sama dengan indikasi DPL. (American
College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 : 150)
b) Computed
Tomography (CT)
Digunakan untuk memperoleh
keterangan mengenai organ yang mengalami kerusakan dan tingkat kerusakannya,
dan juga bisa untuk mendiagnosa trauma ret
roperineal maupun pelvis yang sulit di diagnosa dengan pemeriksaan
fisik, FAST, maupun DPL. (American
College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 : 151)
b.
Trauma
Tajam
1.
Cedera thorax bagian bawah
Untuk pasien yang
asimptomatik dengan kecurigaan pada diafragma dan struktur abdomen bagian atas
diperlukan pemeriksaan fisik maupun thorax foto berulang, thoracoskopi, laparoskopi maupun pemeriksaan CT scan.
2.
Eksplorasi local luka dan
pemeriksaan serial dibandingkan dengan DPL pada luka tusuk abdomen depan. Untuk
pasien yang relatif asimtomatik (kecuali rasa nyeri akibat tusukan), opsi
pemeriksaan diagnostik yang tidak invasive adalah pemeriksaan diagnostik serial
dalam 24 jam, DPL maupun laroskopi diagnostik.
3. Pemeriksaan
fisik diagnostik serial dibandingkan dengan double atau triple contrast pada
cedera flank maupun punggung
Untuk
pasien yang asimptomatik ada opsi diagnostik antara lain pemeriksaan fisik
serial, CT dengan double atau triple contrast, maupun DPL. Dengan pemeriksaan
diagnostic serial untuk pasien yang mula-mula asimptomatik kemudian menjadi
simtomatik, kita peroleh ketajaman terutama dalam mendeteksi cedera
retroperinel maupun intraperineal untuk luka dibelakang linea axillaries
anterior. (American College of Surgeon
Committee of Trauma, 2004 : 151)
c.
Pemeriksaan
Radiologi
1. Pemeriksaan
X-Ray untuk screening trauma tumpul
Rontgen
untuk screening adalah Ro-foto cervical lateral, Thorax AP dan pelvis AP
dilakukan pada pasien trauma tumpul dengan multitrauma. Rontgen foto abdomen
tiga posisi (telentang, setengah tegak dan lateral decubitus) berguna untuk
melihat adanya udara bebas dibawah diafragma ataupun udara di luar lumen
diretroperitoneum, yang kalau ada pada keduanya menjadi petunjuk untuk
dilakukan laparatomi. Hilangnya bayangan psoas menunjukkan kemungkinan cedera
retroperitoneal
2. Pemerikasaan
X-Ray untuk screening trauma tajam
Pasien
luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak memerlukan pemeriksaan X-Ray
pada pasien luka tusuk diatas umbilicus atau dicurigai dengan cedera
thoracoabdominal dengan hemodinamik yang abnormal, rontgen foto thorax tegak
bermanfaat untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumothorax, ataupun
untuk dokumentasi adanya udara bebas intraperitoneal. Pada pasien yang
hemodinamiknya normal, pemasangan klip pada luka masuk maupun keluar dari suatu
luka tembak dapat memperlihatkan jalannya peluru maupun adanya udara
retroperitoneal pada rontgen foto abdomen tidur.
3. Pemeriksaan
dengan kontras yang khusus
a) Urethrografi
Sebagaimana
yang telah disebutkan sebelumnya, harus dilakukan urethrografi sebelum
pemasangan kateter urine bila kita curigai adanya ruptur urethra. Pemeriksaan
urethrografi digunakan dengan memakai kateter no.# 8-F dengan balon dipompa
1,5-2cc di fossa naviculare. Dimasukkan 15-20 cc kontras yang diencerkan.
Dilakukan pengambilan foto dengan projeksi oblik
dengan
sedikit tarikan pada pelvis.
b) Sistografi
Rupture
buli-buli intra- ataupun ekstraperitoneal terbaik ditentukan dengan pemeriksaan
sistografi ataupun CT-Scan sistografi. Dipasang kateter urethra dan kemudian
dipasang 300 cc kontras yang larut dalam air pada kolf setinggi 40 cm diatas
pasien dan dibiarkan kontras mengalir ke dalam bulu-bulu atau sampai (1) aliran
terhenti (2) pasien secara spontan mengedan, atau (3) pasien merasa sakit.
Diambil foto rontgen AP, oblik dan foto post-voiding. Cara lain adalah dengan
pemeriksaan CT Scan (CT cystogram) yang terutama bermanfaat untuk mendapatkan
informasi tambahan tentang ginjal maupun tulang pelvisnya. (American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 : 148)
c) CT
Scan/IVP
Bilamana
ada fasilitas CT Scan, maka semua pasien dengan hematuria dan hemodinamik
stabil yang dicurigai mengalami sistem urinaria bisa diperiksa dengan CT Scan
dengan kontras dan bisa ditentukan derajat cedera ginjalnya. Bilamana tidak ada
fasilitas CT Scan, alternatifnya adalah pemeriksaan Ivp.Disini dipakai dosis
200mg J/kg bb kontras ginjal. Dilakukan injeksi bolus 100 cc larutan Jodine 60%
(standard 1,5 cc/kg, kalau dipakai 30% 3,0 cc/kg) dengan 2 buah spuit 50 cc
yang disuntikkan dalam 30-60 detik. 20 menit sesudah injeksi bila akan
memperoleh visualisasi calyx pada X-Ray. Bilamana satu sisi non-visualisasi,
kemungkinan adalah agenesis ginjal, thrombosis maupun tertarik putusnya
a.renalis, ataupun parenchyma yang mengalami kerusakan massif. Nonvisualisasi
keduanya memerlukan pemeriksaan lanjutan dengan CT Scan + kontras, ataupun
arteriografi renal atau eksplorasi ginjal; yang mana yang diambil tergantung
fasilitas yang dimiliki.
d) Gastrointestinal
Cedera
pada struktur gastrointestinal yang letaknya retroperitoneal (duodenum, colon
ascendens, colon descendens) tidak akan menyebabkan peritonitis dan bisa tidak
terdeteksi dengan DPL. Bilamana ada kecurigaan, pemeriksaan dengan CT Scan
dengan kontras ataupun pemeriksaan RO-foto untuk upper GI Track ataupun GI
tract bagian bawah dengan kontras harus dilakukan.(American College of Surgeon Committee of Trauma,2004:149).
d.
Pemeriksaan
Laboratorium
1) Pemeriksaan
darah lengkap untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri
2) Penurunan
hematokrit/hemoglobin
3) Peningkatan
Enzim hati: Alkaline fosfat,SGPT,SGOT,
4) Koagulasi
: PT,PTT
5) MRI
6) Angiografi
untuk kemungkinan kerusakan vena hepatik
7) CT Scan
8) Radiograf
dada mengindikasikan peningkatan
diafragma, kemungkinan pneumothorax atau fraktur tulang rusuk VIII-X.
9) Scan
limfa
10) Ultrasonogram
11) Peningkatan serum atau amylase urine
12) Peningkatan glucose serum
13) Peningkatan lipase serum
14) DPL (+) untuk amylase
15) Penigkatan WBC
16) Peningkatan amylase serum
17) Elektrolit serum
18) AGD
(ENA,2000:49-55)
8.
Penatalaksanaan
gawat darurat
a.
Pre
Hospital
Pengkajian
yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam nyawa, harus mengkaji
dengan cepat apa yang terjadi di lokasi kejadian. Paramedik mungkin harus
melihat apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka trauma benda lainnya, maka
harus segera ditangani, penilaian awal dilakukan prosedur ABC jika ada
indikasi. Jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan
napas.
1.
Airway
Dengan
kontrol tulang belakang. Membuka jalan napas menggunakan
teknik ‘head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu,
periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas.
Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.
2.
Breathing
Dengan
ventilasi yang adekuat. Memeriksa pernapasan dengan menggunakan cara
‘lihat-dengar-rasakan’ tidak lebih dari 10 detik untuk memastikan apakah ada
napas atau tidak. Selanjutnya lakukan pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan,
ritme dan adekuat tidaknya pernapasan).
3.
Circulation
Dengan
kontrol perdarahan hebat. Jika pernapasan korban tersengal-sengal dan tidak
adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda
sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan
bantuan napas dalam RJP adalah 30 : 2 (30 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan
napas).
Penanganan
awal trauma non- penetrasi (trauma tumpul)
1.
Stop makanan dan minuman
2.
Imobilisasi
3.
Kirim kerumah sakit.
Penetrasi
(trauma tajam)
1.
Bila
terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya) tidak boleh
dicabut kecuali dengan adanya tim medis.
2.
Penanganannya
bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan kain kassa pada daerah
antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah luka.
3.
Bila ada
usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan
dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam
tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban steril.
4.
Imobilisasi pasien.
5.
Tidak
dianjurkan memberi makan dan minum.
6.
Apabila
ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.
7.
Kirim ke
rumah sakit.
b.
Hospital
1.
Trauma
penetrasi
Bila ada
dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli bedah yang
berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk menentukan dalamnya
luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka masuk
dan luka keluar yang berdekatan.
a.
Skrinning
pemeriksaan rontgen
b.
Foto
rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau
pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intraperitonium. Serta rontgen
abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan jalan peluru atau adanya udara
retroperitoneum.
c.
IVP atau
Urogram Excretory dan CT Scanning
Ini di
lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada.
d.
Uretrografi
Di lakukan
untuk mengetauhi adanya rupture uretra.
e.
Sistografi
Ini
digunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung kencing, contohnya
pada :
-
fraktur
pelvis
-
trauma
non-penetrasi
2.
Penanganan
pada trauma benda tumpul:
a.
Pengambilan
contoh darah dan urine
Darah di ambil dari
salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan laboratorium rutin, dan juga untuk
pemeriksaan laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap, potasium,
glukosa, amilase.
b.
Pemeriksaan
rontgen
Pemeriksaan rongten
servikal lateral, toraks anteroposterior dan pelvis adalah pemeriksaan yang
harus di lakukan pada penderita dengan multi trauma, mungkin berguna untuk
mengetahui udara ekstraluminal di retroperitoneum atau udara bebas di bawah
diafragma, yang keduanya memerlukan laparotomi segera.
c.
Study
kontras urologi dan gastrointestinal
Dilakukan pada cedera
yang meliputi daerah duodenum, kolon ascendens atau decendens dan dubur (Hudak
& Gallo, 2001).
B.
Konsep
Asuhan Keperawatan
1.
Primary survey
a) Airway:
Memastikan kepatenan jalan napas tanpa adanya sumbatan atau obstruksi,
b) Breathing: memastikan irama napas normal atau
cepat, pola napas teratur, tidak ada dyspnea, tidak ada napas cuping hidung,
dan suara napas vesikuler,
c) Circulation: nadi lemah/ tidak teraba, cepat
>100x/mt, tekanan darah dibawah
normal bila terjadi syok, pucat oleh karena perdarahan, sianosis,
kaji jumlah
perdarahan dan lokasi, capillary refill >2 detik apabila ada perdarahan. Penurunan
kesadaran.
d) Disability: kaji tingkat kesadaran sesuai GCS,
respon pupil anisokor apabila
adanya diskontinuitas saraf yang berdampak pada medulla spinalis.
e)
Exposure/Environment: fraktur terbuka di femur dekstra, luka laserasi
pada wajah dan tangan, memar pada abdomen, perut semakin menegang.
2.
Secondary survey
a. Fokus Asesment
Kepala: Wajah, kulit kepala dan tulang tengkorak,
mata, telinga, dan mulut. Temuan yang dianggap kritis:
Pupil tidak simetris,
midriasis tidak ada respon terhadap cahaya ?
Patah tulang tengkorak
(depresi/non depresi, terbuka/tertutup)?
Robekan/laserasi
pada kulit kepala?
Darah, muntahan atau
kotoran di dalam mulut?
Cairan
serebrospinal di telinga atau di hidung?
Battle sign
dan racoon eyes?
Leher: lihat bagian depan, trachea, vena jugularis,
otot-otot leher bagian belakang.. Temuan yang dianggap kritis: Distensi vena
jugularis, deviasi trakea atau tugging,
emfisema kulit
Dada: Lihat tampilan fisik, tulang rusuk, penggunaan
otot-otot asesoris, pergerakan dada,
suara paru. Temuan yang dianggap kritis: Luka terbuka, sucking chest wound, Flail chest dengan gerakan dada paradoksikal,
suara paru hilang atau melemah, gerakan dada sangat lemah dengan pola napas
yang tidak adekuat (disertai dengan penggunaaan otot-otot asesoris).
Abdomen:
Memar pada
abdomen dan tampak semakin tegang, lakukan auskultasi dan palpasi dan perkusi
pada abdomen. Temuan yang dianggap kritis ditekuannya penurunan bising usus,
nyeri tekan pada abdomen bunyi dullness.
Pelvis: Daerah pubik, Stabilitas pelvis, Krepitasi dan
nyeri tekan. Temuan yang dianggap kritis: Pelvis yang lunak, nyeri tekan dan
tidak stabil serta pembengkakan di daerah pubik
Extremitas: ditemukan
fraktur terbuka di femur dextra da luka laserasi pada tangan. Anggota gerak atas dan bawah, denyut nadi,
fungsi motorik, fungsi sensorik. Temuan
yang dianggap kritis: Nyeri, melemah atau menghilangnya denyut nadi, menurun atau
menghilangnya fungsi sensorik dan motorik.
Pemeriksaan
tanda-tanda vital yang meliputi suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah.
Pemeriksaan status kesadaran dengan penilaian GCS (Glasgow Coma Scale): terjadi penurunan kesadaran pada pasien.
b. AMPLE
Allergy : Tidak ada
data
Medication : Tidak ada
data
Past Medical History : Tidak
ada data
Last Meal : Tidak ada
data
Event :
Seorang laki-laki 34 tahun di bawa ke UGD 2 jam yang lalu karena kecelakaan,
pasien terseret mobil dan terlempar dari motornya.
Pemeriksaan fisik difokuskan
pada daerah abdomen:
Inspeksi: Fraktur terbuka di femur dekstra, luka laserasi pada wajah dan
tangan, memar pada abdomen, perut semakin menegang.
Auskultasi: Bising usus
Perkusi: Bunyi redup bila ada hemoperitoneum.
Palpasi: kekauan dan spasme pada perut karena akumulasi darah atau
cairan.
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1
|
S :
O : Fraktur terbuka di femur dekstra, memar pada
abdomen, perut semakin menegang, penurunan kesadaran, riwayat jatuh dan
terseret mobil.
|
Kerusakan atau robekan vaskuler akibat trauma
Perdarahan
|
PK perdarahan
|
|
2
|
S:
O: Fraktur terbuka, memar pada abdomen
|
Spasme otot, fraktur
Pelepasan mediator
nyeri
Interpretasi nyeri
|
Nyeri akut
|
ANALISA DATA
Komentar
Posting Komentar