A.
Pengertian Teknik Konfrontasi (pertentangan)
Konfrontasi adalah keterampilan atau
teknik yang digunakan oleh konselor yang menantang konseli karena adanya
ketidaksesuaian yang terlihat dalam pernyataan dan tingkah laku konseli,
terjadi inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan, ide awal dengan ide
berikutnya. Konfrontasi ini sifatnya membantu klien, bukan dimaksudkan
untuk menyerang klien tetapi hanya dibatasi pada komentar-komentar khusus
terhadap perilaku klien yang tidak konsisten. Faktor penting dalam konfrontasi
adalah ketepatan waktu penyampaian dan sifatnya yang non-judgemental, sehingga
klien mampu menginterpretasikan komentar yang disampaikan itu untuk “melihat
kembali dirinya”.
Ketidaksesuaian
itu terjadi:
1. Antara dua pernyataan
Klien mengatakan dia sangat
memperhatikan pacarnya tapi dalam pernyataan lain dia malas menghubungi.
2.
Antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan
Klien mengatakan bahwa dia sangat minat
mengambil tes pegawai, tapi dia tidak datang ke tempat tes tersebut.
3. Antara pernyataan
dengan tingkah laku non verbal
Klien mengatakan bahwa dia sangat
senang bertemu pacarnya tapi sewaktu bercerita raut wajahnya sedih.
4. Antara dua tingkah
laku non verbal
Kaki gemetar sedangkan bibir tersenyum.
B.
Tujuan Teknik Konfrontasi
Teknik
konfrontasi mempunyai beberapa tujuan antara lain:
1. Mendorong klien
mengadakan penelitian diri secara jujur.
2. Membantu konseli
menjadi lebih baik menyadari kesenjangan atau
ketidakselarasan di dalam pemikiran, perasaan dan perilaku.
3. Membuat konseli agar
memiliki cara pandang yang baru yang mengarah pada tingkah laku baru.
C.
Manfaat teknik konfrontasi
1.
Menghindari adanya kesenjangan antara perasaan, pikiran, dan
perilaku klien
2.
Membawa klien memusatkan perhatian pada bagian atau
aspek-aspek perilaku
3.
Membuat klien menjadi orang yang dapat bertindak lebih
efektif
D.
Jenis-jenis teknik konfrontasi
1.
Konfrontasi verbal dan tingkah laku non verbal
2.
Ksonfrontasi pasan-pesan verbal dengan tahap-tahap atau
langkah-langkah tindakan.
3.
Konfrontasi diantara dua pesan verbal (dinyatakan secara
tidak konsisten)
4.
Konfrontasi dua non verbal (ditampakkannya tingkah laku
tidak konsisten)
5.
Konfrontasi dua pribadi atau orang (konselor-konseling,
konseli-orang tuanya, konseli saudaranya dan sebagainya).
6.
Konfrontasi pesan verbal dan konteks atau situasi.
E.
Yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Teknik Konfrontasi
Dalam
konfrontasi harus memperhatikan beberapa hal agar proses konseling tetap
berjalan dengan efektif, meliputi:
1. Adanya kesenjangan
yang diungkapkan konseli.
2. Konselor telah
memahami masalah konseli secara mendalam.
3. Telah terbina
keakraban antara konselor dan konseli secara mendalam.
4. Bertujuan meredakan
ketegangan yang ada dalam batin konseli.
5. Mendorong konseli
mengadakan penelitian secara jujur.
6. Meningkatkan potensi
konseli.
7. Membawa konseli pada
kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
8. Membawa konseli pada
kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
9. Disampaikan dengan
bahasa yang lugas; ringkas, tepat, jelas, dan mudah dipahami konseli.
10. Tidak menyalahkan
atau menilai, disertai perilaku attending, disampaikan pada waktu yang tepat.
F.
Contoh Penggunaan Teknik Konfrontasi yang Baik
Dibawah ini ada
beberapa contoh penggunaan konfrontasi yang baik:
1. Kontradiksi antara isi pernyataan dengan cara ia
menyampaikannya
Contoh 1:
Konselor: “Apa
kabarnya hari ini?”
Klien: “Oh (nada
datar) dalam keadaan baik-baik saja pak…” (suara rendah, posisi tubuh agak
gelisah).
Konselor: “Anda
katakan anda baik-baik saja, tetapi anda kelihatan seperti ada sesuatu yang
kurang beres”
Contoh 2:
Klien: “Saya kemarin
menjadi juara kelas pak, dan saya sangat senang karena orang tua memberi saya
hadiah”.
Konselor: “Soni, anda
tadi mengatakan anda senang sekali mendapatkan hadiah itu, tapi muka anda
pucat. Apakah ini menandakan kalau anda kurang senang atas pemberian hadiah
tersebut?”
Contoh 3:
Klien: “Saya baru
saja putus dengan pacar saya pak. Saya berusaha rela dia meninggalkan saya”.p
Konselor:
“Santi, di tengah-tengah perkataan tadi bahwa anda rela
ditinggal pacar, anda juga berlinang air mata. Apakah ini berarti anda
kurang rela melepaskan pacar anda?”
2. Inkonsistensi antara dua hal yang merupakan
isi ucapan klien.
Contoh:
Klien: “Bagi saya membicarakan setiap masalah kepada sahabat
bukan merupakan hal yang penting pak.”
Konselor:
“Anda katakan bahwa nyatanya hal itu tidak penting bagi anda, tetapi pada
pertemuan yang lalu anda mengatakannya penting”.
3. Inkonsistensi
antara apa yang ia inginkan dan apa yang nyatanya sedang ia lakukan
Contoh:
Klien: “Pak tolong
langsung beritahu saya apa yang harus saya lakukan tidak usah terlalu
bertele-tele.”
Konselor: “Anda katakan bahwa bertele-tele adalah suatu
problem bagi anda. Anda ingin langsung ke pokok bahasan. Tetapi saya tidak
dapat menolong untuk memberitahukan anda jika anda terus menerus bertele-tele
dalam sesi ini disini dari tadi.
G.
Kelebihan dan Kelemahan Teknik Konfrontasi
1.
Kelebihan
a. Penerapan teknik
sangat mudah sekali di aplikasikan dalam konseling.
b. Konselor dapat
mengetahui perasaan konseli yang sebenarnya.
c. Konselor dapat mengukur
keberhasilan konseling.
d. Konselor dapat
mengetahui kejujuran konseli.
e. Konseli dapat
menyadari perasaan konseli yang sebenarnya.
f. Konseli dapat
melakukan tindakan yang sesuai dengan kemampuan konseli setelah konselor
melakukan teknik konfrontasi.
2. Kelemahan
a.
Konselor sering terjebak dengan emosinya saat melakukan
pertanyaan konfrontasi karena mekanisme pertahanan diri konseli yang kuat
sehingga menyakitkan hati konseli. Seperti kata-kata atau penekanan suara yang
membuat konseli merasa segan untuk bercerita kembali dari masalahnya.
Komentar
Posting Komentar