TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH






KATA PENGANTAR
            Pertama-tama penyusun panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Harga Diri Rendah” guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa 2.
            Penyusun sangat menyadari, bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan maupun masalah, untuk itu kepada para pembaca harap memaklumi mengingat penyusunlah yang masih banyak kekurangan. Dalam kesempatan ini pula penyusun mengharapkan kesediaan pembaca untuk memberikan saran yang bersifat membangun yang dapat menyempurnakan makalah ini dan dapat bermanfaat dimasa yang akan datang.
            Ucapan terima kasih kami hanturkan kepada dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa 2 dan teman-teman yang telah nerkontribusi dalam pembuatan makalah ini, semoga atas kebaikannya dapat diberi Rahmat oleh Allah SWT, Amin.
            Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi wawasan, khususnya bagi para penyusun dan umumnya bagi para pembaca.




Kendari, 19 Oktober 2019

Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 1
A.    Latar Belakang........................................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................................... 1
C.     Tujuan Makalah....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................. 3
KONSEP MEDIS.............................................................................................................. 3
A.    Definisi.................................................................................................................... 3
B.     Etiologi.................................................................................................................... 3
C.     Manifestasi Klinis.................................................................................................... 5
D.    Komplikasi............................................................................................................... 5
ASUHAN KEPERAWATAN ......................................................................................... 6
A.    Pengkajian............................................................................................................... 6
B.     Diagnosa Keperawatan............................................................................................ 8
C.     Rencana Tindakan Keperawatan............................................................................. 11
D.    Implementasi........................................................................................................... 15
E.     Evaluasi................................................................................................................... 16
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 17
A.    Kesimpulan.............................................................................................................. 17
B.     Saran........................................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut WHO sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Menurut UU Kesehatan RI No. 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan  sejahtera tubuh, jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis . sakit adalah ketidak seimbangan fungsi normal tubuh manusia, termasuk sejumlah sistem biologis dan kondisi penyesuaian. Kesehatan jiwa adalah satu kondisi sehat emosional psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional (Videbeck, 2008). Gangguan jiwa didefinisikan sebagai suatu sindrom atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distres (misalnya gejala nyeri) atau disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting) (Videbeck, 2008).
Di zaman modern ini, globalisasi terjadi di berbagai bidang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat. Selain berbagai kemudahan, pada zaman modern ini juga memberikan banyak stresor bagi masayarakat. Stresor dapat memengaruhi keadaan jiwa seseorang salah satunya harga diri rendah. Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang percaya diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998).
Harga diri seseorang sangat dipengaruhi oleh individu itu sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan beberapa pengalaman individu. Seseorang yang memiliki koping yang baik, maka ia akan mampu mempertahankan atau meningkatkan harga dirinya.
                                     

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan makalh dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana definisi tentang harga diri rendah ?
2.      Apa saja etiologi dari harga diri rendah ?
3.      Apa saja manifestasi klinis dari harga diri rendah ?
4.      Apa komplikasi dari harga diri rendah ?
5.      Bagaimana pengkjian tentang harga diri rendah ?
6.      Apa saja diagnosa keperawatan tentang harga diri rendah ?
7.      Bagaimana rencana tindakan keperawatan tentang harga diri rendah ?
8.      Bagaimana implementasi pada harga diri  rendah ?
9.      Bagaimana evaluasi pada harga diri rendah ?

C.    Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah berdasarkan rumusan masalah antara lain sebagai berikut :
1.      Mengetahui definisi tentang harga diri rendah
2.      Mengetahui etiologi dari harga diri rendah
3.      Mengetahui manifestasi klinis dari harga diri rendah
4.      Mengetahui komplikasi dari harga diri rendah
5.      Mengetahui pengkajian tentang harga diri rendah
6.      Mengetahui diagnosa keperawatan tentang harga diri rendah
7.      Mengetahui rencana tindakan keperawatan tentang harga diri rendah
8.      Mengetahui implementasi pada harga diri  rendah
9.      Mengetahui evaluasi pada harga diri rendah









BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP MEDIS
A.    Definisi
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan (Townsend, 1998). Harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart & Sudeen, 1998). Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri (Keliat, 2006).
Harga diri rendah adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Harga diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia (Stuart & Gail, 2006). Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. (Gail. W. Stuart, 2007)
Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Depkes RI, 2000).

B.     Etiologi
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif, kurangnya sistem pendukung, kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan balik yang negatif, disfungsi sistem keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal (Townsend, 2005).
Menurut Yosep, 2009 penyebab terjadi harga diri rendah adalah :
1.      Pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberikan pujian atas keberhasilannya.
2.      Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima.
3.      Menjelang dewasa awal sering gagal disekolah, pekerjaan, atau pergaulan
4.      Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya.
Penyebab terjadinya harga diri rendah antara lain :
1.      Faktor predisposisi (Stuart & Sudden, 1998)
a.       Penolakan orang tua
b.      Harapan orang tua yang tidak realistis
c.       Kegagalan yang berulang kali
d.      Kurang mempunyai tanggung jawab personal
e.       Ketergantungan pada orang lain
f.       Ideal diri tidak realistis
2.      Faktor presipitasi (Stuart & Sudeen, 1998)
a.       Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar individu (eksternal or internal sources)
b.      Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustasi. Ada 3 jenis transisi peran :
1)      Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk penyesuaian diri.
2)      Transisi peran  situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya angota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3)      Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.
c.       Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.




C.    Manifestasi Klinis
Menurut Keliat (1999) tanda dan gejala yang dapat muncul pada pasien harga diri rendah adalah :
1.      Perasaan malu terhadap diri sendiri, individu mempunyai perasaan kurang percaya diri.
2.      Rasa bersalah terhadap diri sendiri, individu yang selalu gagal dalam meraih sesuatu.
3.      Merendahkan martabat diri sendiri, menganggap dirinya berada dibawah orang lain.
4.      Gangguan berhubungan sosial seperti menarik diri, lebih suka menyendiri dan tidak ingin bertemu orang lain.
5.      Rasa percaya diri kurang, merasa tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki.
6.      Sukar mengambil keputusan, cenderung bingung dan ragu-ragu dalam memilih sesuatu.
7.      Menciderai diri sendiri sebagai akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram sehingga memungkinkan untuk mengakhiri kehidupan.
8.      Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan.
9.      Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri.
10.  Ketegangan peran yang dirasakan.
11.  Pandangan hidup pesimis.
12.  Keluhan fisik.
13.  Penolakan terhadap kemampuan personal.
14.  Destruktif terhadap diri sendiri.
15.  Menarik diri secara sosial.
16.  Penyalahgunaan zat.
17.  Menarik diri dari realitas.
18.  Khawatir.

D.    Komplikasi
Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial. Isolasi sosial merupakan gangguan kepribadian yang tidak flexible pada tingkah laku yang maladaptif, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.

            ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH
  1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan melalui data biologis , psikologis, social dan spiritual. (Keliat, Budi Ana, 1998 : 3 )
Adapun isi dari pengkajian tersebut adalah :
1.      Identitas klien
Melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang : nama mahasiswa, nama panggilan, nama klien, nama panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan. Tanyakan dan catat usia klien dan No RM, tanggal pengkajian dan sumber data yang didapat.
2.      Alasan masuk rumah sakit
Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang, atau dirawat di rumah sakit, apakah sudah tahu penyakit sebelumnya, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah ini.
3.      Faktor predisposisi
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana hasil pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga, dan tindakan criminal. Menanyakan kepada klien dan keluarga apakah ada yang mengalami gangguan jiwa, menanyakan kepada klien tentang pengalaman yang tidak menyenangkan.
4.      Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
5.      Psikososial
a.       Genogram
Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh
b.      Gambaran diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan bagian yang disukai.
c.       Identitas diri
Status dan posisi klien sebelum klien dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai laki-laki atau perempuan, keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis kelaminnya dan posisinya.
d.      Fungsi peran
Tugas atau peran klien dalam keluarga / pekerjaan / kelompok masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, perubahan yang terjadi saat klien sakit dan dirawat, bagaimana perasaan klien akibat perubahan tersebut.
e.       Ideal diri
Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien terhadap lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya, bagaimana jika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.
f.       Harga diri
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi, dampak pada klien dalam berhubungan dengan orang lain, harapan, identitas diri tidak sesuai harapan, fungsi peran tidak sesuai harapan, ideal diri tidak sesuai harapan, penilaian klien terhadap pandangan / penghargaan orang lain.
g.      Hubungan sosial
Tanyakan orang yang paling berarti dalam hidup klien, tanyakan upaya yang biasa dilakukan bila ada masalah, tanyakan kelompok apa saja yang diikuti dalam masyarakat, keterlibatan atau peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat, hambatan dalam berhubungan dengan orang lain, minat dalam berinteraksi dengan orang lain.
h.      Spiritual
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah / menjalankan keyakinan, kepuasan dalam menjalankan keyakinan.


  1. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan masalah keperawatan pasien yang mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stressor yang menunjang. (Stuart & Sundeen, 1998 : 41)
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi. (Marilyn E. Doenges, 1999 : 8 )
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan adalah suatu cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi mencakup respon adaptif maupun maladaptif serta stresor yang menunjang.
Diagnosa keperawatan yang mungkin untuk masalah gangguan konsep diri : harga diri rendah adalah :
1.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah
a.       Definisi
Suatu kondisi dimana individu yang sebelumnya memiliki harga diri positif mengalami perasan negatif mengenai dirinya dalam berespon.
b.      Batasan karakteristik
1)      Mayor
a)      Kekambuhan episodik dari penghargaan diri negatif dalam berespon terhadap kejadian kehidupan pada seorang individu dengan evaluasi diri positif sebelumnya.
b)      Pengungkapan perasaan negatif, mengenai diri ( ketidak berdayaan, kegunaan )
2)      Minor
a)      Pengungkapan diri yang negatif
b)      Ekpresi malu
c)      Evaluasi diri sebagai tidak mampu menangani situasi-situasi / kejadian
d)     Kesukaran mengambil keputusan Gelisah
e)      Pengabaian diri



2.      Isolasi diri : menarik diri
a.       Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan seorang individu yang mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya (Keliat, 2011).
b.      Batasan karakteristik
1)      Mayor
Kejadian yang berulang atau berkala dari penilaian diri yang negatif dalam berespon terhadap peristiwa yang pernah dilihat secara positif menyatakan perasaan negatif tentang dirinya (putus asa, tidak berguna).
2)      Minor
a)      Pernyataan negatif atas dirinya
b)      Mengekspresikan rasa malu, bersalah.
c)      Penilaian diri tidak mampu mengatasi peristiwa / situasi
d)     Kesulitan membuat keputusan
e)      Mengabaikan diri (tidak peduli pada diri sendiri)
f)       Mengisolasi diri

3.      Gangguan citra tubuh
a.       Definisi
Keadaan dimana individu mengalami atau beresiko untuk menglami gangguan dalam cara penerapan citra diri seseorang.
b.      Batasan karakteristik
1)      Mayor
Respon negatif verbal atau nonverbal terhadap  perubahan aktual atau dalam struktur dan / atau fungsi (misal malu, keadaan yang memalukan, bersalah, reaksi mendadak)
2)      Minor
a)      Tidak terlihat pada bagian tubuh
b)      Tidak menyentuh bgian tubuh
c)      Bersembunyi atau memanjakan bagian tubuhsecara berlebihan
d)     Perubahan dalam keterlibatan sosial
e)      Perasaan terhadap bagian tubuh, perasaan ketidak berdayaan, keputusasaan, tidak ada kekuatan, kerentanan
f)       Larut dalam perubahan atau kehilangan
g)      Penolakan untuk membuktikan perubahan aktual
h)      Depersonalisasi bagian tubuh atau kehilangan
i)        Tingkah laku merusak diri (misal mutilasi, usahah bunuh diri, makan berlebihan, kurang makan)
(  Carpenito. L.J, 2001:348)



























C.    Rencana Tindakan Keperawatan
No DX
Diagnosa keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Kriteria evaluasi
Intervensi
1.
Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan (b.d) harga diri rendah
TUM :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
TUK 1 :
Klien dapat membina hubungan saling percaya
Setelah ... kali pertemuan / lebih hubungan saling percaya dapat dibina :
a.      Ekspresi wajah yang bersahabat
b.      Hubungan terapeutik dapat terealisasi dengan menunjukan rasa senang
c.      Ada kontak mata
d.     klien mau berjabat tangan
e.      Klien mau menjawab salam
f.       Klien mau mengungkapkan perasaannya.
g.      Klien mau bercerita mengenai masalah yang dihadapinya.
a.       Beri salam atau panggil nama sebutkan nama perawat sambil berjabat tangan
b.      Jelaskan maksud hubungan interaksi
c.       Jelaskan kontrak yang harus dibuat
d.      Beri rasa aman dan sikap empati
e.       Lakukan  kontak singkat tapi sering







TUK 2 :
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Setelah ... kali pertemuan, klien dapat mengidentifikasikan aspek positif klien, keluarga dan kemampuan yang dimiliki klien
a.       Diskusikan kemampuan dan aspek positif  yang dimiliki klien
b.      Hindari memberi penilaian negatif, utamakan memberi pujian yang realistis


TUK 3 :
Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Setelah ... kali pertemuan, klien menilai kemampuan yang digunakan minimal 3 kemampuan / kegiatan.
a.       Diskusikan dengan klien kemampuan yang digunakan
b.      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan.


TUK 4 :
Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Setelah ... kali pertemuan, klien membuat rencana kegiatan
a.       Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
b.      Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi
c.       Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan


TUK 5 :
Klien dapat melaku-kan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya
Setelah 1 kali pertemuan, klien melakukan sesuai kondisi sakit dan kemampuanya
a.       Beri kesempatan untuk melakukan kegiatan sesuai rencana
b.      Beri pujian atas keberhasilan klien melakukan tindakan
c.       Diskusikan kemampuan pelaksanaan kegiatan di rumah


TUK 6
Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Setelah dua kali interaksi klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga

a.       Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tantang cara merawat lien dengan harga diri rendah
b.      Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rumah
2.
Kurang motivasi perawatan diri b.d defisit perawtan diri
TUM :
Klien dapat mearawat dirinya sendiri
TUK 1 :
Klien dapat membina hubungan saling percaya
Setelah ... kali interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat :
a.       Ekspresi wajah bersahabat
b.      Ada kontak mata
c.       Mau menyebutkan nama
d.      Mau menjawab salam
e.       Mau duduk berdampingan dengan perawat
f.       Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
a.       Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b.      Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan
c.       Tanyakan nama lengkap dan namapanggilan yang disukai klien
d.      Buat kontrak yang jelas
e.       Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi
f.       Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya
g.      Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
h.      Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
i.        Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien


TUK 2 :
Klien mengetahui pentingnya perawatan diri

Dalam tiga kali pertemuan klien dapat menyebutkan:
a.       Penyebab tidak merawat diri
b.      Manfaat menjaga pearawatan diri
c.       Tanda-tanda bersih dan rapih
d.      Gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan
Diskusikan dengan klien:
a.   Penyebab klien tidak merawat diri
b.  Manfaat menjaga pearawatan diri untuk keadaan fisik, mental, dan sosial
c.   Tanda-tanda perawatan diri yang baik
d.  Penyait atau gangguan keseahatan yang dialami oleh klien jika perawatan diri tidak adekuat

  1. Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan asuhan keperawatan oleh perawat dan klien. Petunjuk dalam implementasi :
1.      Intervensi dilakukan sesuai dengan rencana.
2.      Keterampilam interpersonal, intelektual, tekhnikal dilakukan dengan cermat dan efisien dalam situasi yang tepat.
3.      Dokumentasi intrvensi dan respon klien.
(Keliat, Budi Anna. 1998 : 15)
Dalam pelaksanaan implementasi, penulis menggunakan langkah-langkah komunikasi terapeutik yang terdiri dari :
1.      Fase Pra Interaksi
Pra interaksi dimulai sebelum kontak pertama dengan klien, perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggung jawabkan.
2.      Fase Perkenalan
Pada fase ini dimulai dengan pertemuan dengan klien, hal-hal yang perlu dikaji adalah alasan klien meminta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya rasa percaya antara perawat dengan klien.
3.      Fase Orientasi
a)      Memberi salam terapeutik
b)      Mengevaluasi dan memvalidasi data subjektif dan objektif yang mendukung diagnosa keperawatan.
c)      Membuat kontrak untuk sebuah topik disertai waktu dan tempat dan serta mengingatkan kontrak sebelumnya.
4.      Fase Kerja
Fase kerja merupakan inti hubungan perawat dengan klien yang terkait dengan pelaksanaan perencanaan yang sudah ditentukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Pada fase ini perawat mengeksplorasi stressor yang tepat mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, fikiran, perasaan dan perbuatan klien.



5.      Fase Terminasi
Fase terminasi merupakan fase yang amat sulit dan penting dari hubungan intim terapeutik yang sudah terbina dan berada dalam tingkat optimal. Fase terminasi terbagi menjadi :
a)      Terminasi sementara
Adalah terminasi akhir dari tiap pertemuan antara perawat dengan klien.
b)      Terminasi akhir
ü  Mengevaluasi respon klien setelah tindakan keperawatan.
ü  Merencanakan tindak lanjut.
ü  Mengeksplorasi perasaan klien.

  1. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan untuk mengidentifikasi sejauh mana tujuan dari perencanaan tercapai dan evaluasi itu sendiri dilakukan terus menerus melalui hubungan yang erat.
Evaluasi dibagi menjadi dua macam yaitu :
1.      Evaluasi formatif yaitu evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menilai hasil tindakan yang telah dilakukan.
2.      Evaluasi sumatif yaitu evaluasi akhir yang ditujukan untuk menilai keberhasilan tujuan yang dilakukan.

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP,  sebagai pola pikir :
S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O : Respon objektif klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan.
A: Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan masalah tetap atau muncul masalah baru atau data yang kontradiktif dengan masalah yang ada.
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkakn hasil analisa pada respon klien.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998).
Dalam melakukan perawatan jiwa sangat penting sekali membina hubungan saling percaya dan juga membutuhkan kolaborasi yang baik dengan tenaga medis (dokter dan perawat), keluarga dan juga lingkungan (tenaga dan masyarakat) terapeutik, agar semua maksud dan tujuan klien dirawat maupun perawat yang merawat tercapai.

B.     Saran
Dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan, pengetahuan dan pemahaman tentang asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kebutuhan dasar harga diri rendah, penulis menekankan pentingnya mengatasi atau mengurangi masalah harga diri rendah yang bisa terjadi pada klien dapat terpenuhi dengan baik.














DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2001. Diagnosa Keperawatan; Buku Saku. Edisi 6. Alih Bahasa : Monica, Ester. Jakarta: EGC
Departemen Kesehatan RI. 2000, Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan.Jakarta: Depkes RI
Keliat, B. A. 998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Keliat, B. A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC
Keliat, Budi Anna, Wiyono, Akemat Pawiro dan Susanti, Herni. 2011. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa CMHN (Intermediate Course). Jakarta: EGC
Keliat, B. A. 2006. Proses Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta: EGC
Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart, GW & Sudeen, SJ. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart, Sudeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Alih Bahasa Akhir Yani S. Jakarta: EGC
Towsend, B.A. 2005. Keperawatan dengan Gangguan Harga Diri. Trans Info Medika
Towsend, Mary C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: EGC
Videbeck, Sheila L.  2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Yosep, I. 2009. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)