KATA PENGANTAR
Pertama-tama penyusun panjatkan puji
dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya jualah penyusun
dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Harga Diri Rendah”
guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa 2.
Penyusun sangat menyadari, bahwa
dalam makalah ini masih banyak kekurangan maupun masalah, untuk itu kepada para
pembaca harap memaklumi mengingat penyusunlah yang masih banyak kekurangan.
Dalam kesempatan ini pula penyusun mengharapkan kesediaan pembaca untuk
memberikan saran yang bersifat membangun yang dapat menyempurnakan makalah ini
dan dapat bermanfaat dimasa yang akan datang.
Ucapan terima kasih kami hanturkan
kepada dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa 2 dan teman-teman yang telah
nerkontribusi dalam pembuatan makalah ini, semoga atas kebaikannya dapat diberi
Rahmat oleh Allah SWT, Amin.
Akhir kata semoga makalah ini dapat
memberi wawasan, khususnya bagi para penyusun dan umumnya bagi para pembaca.
Kendari,
19 Oktober 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 1
A. Latar
Belakang........................................................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah.................................................................................................... 1
C. Tujuan
Makalah....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................. 3
KONSEP MEDIS.............................................................................................................. 3
A. Definisi.................................................................................................................... 3
B. Etiologi.................................................................................................................... 3
C. Manifestasi
Klinis.................................................................................................... 5
D. Komplikasi............................................................................................................... 5
ASUHAN KEPERAWATAN ......................................................................................... 6
A. Pengkajian............................................................................................................... 6
B. Diagnosa
Keperawatan............................................................................................ 8
C. Rencana
Tindakan Keperawatan............................................................................. 11
D. Implementasi........................................................................................................... 15
E. Evaluasi................................................................................................................... 16
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 17
A. Kesimpulan.............................................................................................................. 17
B. Saran........................................................................................................................ 17
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut WHO sehat adalah keadaan keseimbangan yang
sempurna baik fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan
kelemahan. Menurut UU Kesehatan RI No. 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa, sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis .
sakit adalah ketidak seimbangan fungsi normal tubuh manusia, termasuk sejumlah
sistem biologis dan kondisi penyesuaian. Kesehatan jiwa adalah satu kondisi
sehat emosional psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan
interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri
yang positif, dan kestabilan emosional (Videbeck, 2008). Gangguan jiwa
didefinisikan sebagai suatu sindrom atau perilaku yang penting secara klinis
yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distres (misalnya
gejala nyeri) atau disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang
penting) (Videbeck, 2008).
Di zaman modern ini, globalisasi terjadi di berbagai
bidang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat. Selain berbagai
kemudahan, pada zaman modern ini juga memberikan banyak stresor bagi
masayarakat. Stresor dapat memengaruhi keadaan jiwa seseorang salah satunya
harga diri rendah. Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak
berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif
terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang percaya diri,
merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat,
1998).
Harga diri seseorang sangat dipengaruhi oleh individu
itu sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan beberapa pengalaman
individu. Seseorang yang memiliki koping yang baik, maka ia akan mampu
mempertahankan atau meningkatkan harga dirinya.
B. Rumusan Masalah
Adapun
rumusan makalh dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
definisi tentang harga diri rendah ?
2. Apa
saja etiologi dari harga diri rendah ?
3. Apa
saja manifestasi klinis dari harga diri rendah ?
4. Apa
komplikasi dari harga diri rendah ?
5. Bagaimana
pengkjian tentang harga diri rendah ?
6. Apa
saja diagnosa keperawatan tentang harga diri rendah ?
7. Bagaimana
rencana tindakan keperawatan tentang harga diri rendah ?
8. Bagaimana
implementasi pada harga diri rendah ?
9. Bagaimana
evaluasi pada harga diri rendah ?
C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah berdasarkan rumusan masalah
antara lain sebagai berikut :
1. Mengetahui
definisi tentang harga diri rendah
2. Mengetahui
etiologi dari harga diri rendah
3. Mengetahui
manifestasi klinis dari harga diri rendah
4. Mengetahui
komplikasi dari harga diri rendah
5. Mengetahui
pengkajian tentang harga diri rendah
6. Mengetahui
diagnosa keperawatan tentang harga diri rendah
7. Mengetahui
rencana tindakan keperawatan tentang harga diri rendah
8. Mengetahui
implementasi pada harga diri rendah
9. Mengetahui
evaluasi pada harga diri rendah
BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP MEDIS
A. Definisi
Harga
diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri
yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan (Townsend, 1998). Harga
diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart & Sudeen,
1998). Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri
dan kemampuan diri (Keliat, 2006).
Harga
diri rendah adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang
lain. Harga diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil
pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan
dengan realitas dunia (Stuart & Gail, 2006). Harga diri rendah adalah
penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis
seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. (Gail. W. Stuart, 2007)
Harga
diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk
kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya,
pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Depkes RI, 2000).
B.
Etiologi
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya
koping individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif,
kurangnya sistem pendukung, kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan
balik yang negatif, disfungsi sistem keluarga serta terfiksasi pada tahap
perkembangan awal (Townsend, 2005).
Menurut Yosep, 2009 penyebab terjadi harga diri
rendah adalah :
1. Pada
masa kecil sering disalahkan, jarang diberikan pujian atas keberhasilannya.
2. Saat
individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi
kesempatan dan tidak diterima.
3. Menjelang
dewasa awal sering gagal disekolah, pekerjaan, atau pergaulan
4. Harga
diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih
dari kemampuannya.
Penyebab
terjadinya harga diri rendah antara lain :
1. Faktor
predisposisi (Stuart & Sudden, 1998)
a. Penolakan
orang tua
b. Harapan
orang tua yang tidak realistis
c. Kegagalan
yang berulang kali
d. Kurang
mempunyai tanggung jawab personal
e. Ketergantungan
pada orang lain
f. Ideal
diri tidak realistis
2. Faktor
presipitasi (Stuart & Sudeen, 1998)
a. Faktor
presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar
individu (eksternal or internal sources)
b. Ketegangan
peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu
mengalami frustasi. Ada 3 jenis transisi peran :
1) Transisi
peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan.
Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau
keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk penyesuaian diri.
2) Transisi
peran situasi terjadi dengan bertambah
atau berkurangnya angota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3) Transisi
peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan
sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan
ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis
dan keperawatan.
c. Trauma
seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang
mengancam kehidupan.
C.
Manifestasi
Klinis
Menurut Keliat (1999) tanda dan gejala yang dapat
muncul pada pasien harga diri rendah adalah :
1. Perasaan
malu terhadap diri sendiri, individu mempunyai perasaan kurang percaya diri.
2. Rasa
bersalah terhadap diri sendiri, individu yang selalu gagal dalam meraih
sesuatu.
3. Merendahkan
martabat diri sendiri, menganggap dirinya berada dibawah orang lain.
4. Gangguan
berhubungan sosial seperti menarik diri, lebih suka menyendiri dan tidak ingin
bertemu orang lain.
5. Rasa
percaya diri kurang, merasa tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki.
6. Sukar
mengambil keputusan, cenderung bingung dan ragu-ragu dalam memilih sesuatu.
7. Menciderai
diri sendiri sebagai akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram
sehingga memungkinkan untuk mengakhiri kehidupan.
8. Mudah
tersinggung atau marah yang berlebihan.
9. Perasaan
negatif mengenai tubuhnya sendiri.
10. Ketegangan
peran yang dirasakan.
11. Pandangan
hidup pesimis.
12. Keluhan
fisik.
13. Penolakan
terhadap kemampuan personal.
14. Destruktif
terhadap diri sendiri.
15. Menarik
diri secara sosial.
16. Penyalahgunaan
zat.
17. Menarik
diri dari realitas.
18. Khawatir.
D.
Komplikasi
Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi
sosial. Isolasi sosial merupakan gangguan kepribadian yang tidak flexible pada
tingkah laku yang maladaptif, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
sosial.
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH
- Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data dan perumusan
kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan melalui data biologis ,
psikologis, social dan spiritual. (Keliat, Budi Ana, 1998 : 3 )
Adapun
isi dari pengkajian tersebut adalah :
1. Identitas klien
Melakukan
perkenalan dan kontrak dengan klien tentang : nama mahasiswa, nama panggilan,
nama klien, nama panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang
akan dibicarakan. Tanyakan dan catat usia klien dan No RM, tanggal pengkajian
dan sumber data yang didapat.
2. Alasan masuk rumah sakit
Apa
yang menyebabkan klien atau keluarga datang, atau dirawat di rumah sakit,
apakah sudah tahu penyakit sebelumnya, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah ini.
3. Faktor predisposisi
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana
hasil pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga, dan tindakan criminal. Menanyakan kepada klien dan keluarga apakah
ada yang mengalami gangguan jiwa, menanyakan kepada klien tentang pengalaman
yang tidak menyenangkan.
4. Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan
tanyakan apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
5. Psikososial
a. Genogram
Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh
b. Gambaran diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang
disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan bagian yang
disukai.
c. Identitas diri
Status dan posisi klien sebelum klien dirawat, kepuasan klien
terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai laki-laki atau perempuan,
keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis kelaminnya dan posisinya.
d. Fungsi peran
Tugas atau peran klien dalam keluarga / pekerjaan / kelompok
masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, perubahan
yang terjadi saat klien sakit dan dirawat, bagaimana perasaan klien akibat
perubahan tersebut.
e. Ideal diri
Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas,
peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien terhadap
lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya, bagaimana jika kenyataan tidak
sesuai dengan harapannya.
f. Harga diri
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi, dampak
pada klien dalam berhubungan dengan orang lain, harapan, identitas diri tidak
sesuai harapan, fungsi peran tidak sesuai harapan, ideal diri tidak sesuai
harapan, penilaian klien terhadap pandangan / penghargaan orang lain.
g. Hubungan sosial
Tanyakan orang yang paling berarti dalam hidup klien, tanyakan
upaya yang biasa dilakukan bila ada masalah, tanyakan kelompok apa saja yang
diikuti dalam masyarakat, keterlibatan atau peran serta dalam kegiatan kelompok
/ masyarakat, hambatan dalam berhubungan dengan orang lain, minat dalam
berinteraksi dengan orang lain.
h. Spiritual
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah / menjalankan keyakinan,
kepuasan dalam menjalankan keyakinan.
- Diagnosa keperawatan
Diagnosa
keperawatan adalah suatu pernyataan masalah keperawatan pasien yang mencakup
baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stressor yang menunjang.
(Stuart & Sundeen, 1998 : 41)
Diagnosa
keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan
spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi.
(Marilyn E. Doenges, 1999 : 8 )
Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan adalah suatu
cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien
serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi mencakup respon adaptif
maupun maladaptif serta stresor yang menunjang.
Diagnosa
keperawatan yang mungkin untuk masalah gangguan konsep diri : harga diri rendah
adalah :
1. Gangguan konsep diri :
harga diri rendah
a. Definisi
Suatu kondisi dimana
individu yang sebelumnya memiliki harga diri positif mengalami perasan negatif
mengenai dirinya dalam berespon.
b. Batasan karakteristik
1) Mayor
a) Kekambuhan episodik dari
penghargaan diri negatif dalam berespon terhadap kejadian kehidupan pada
seorang individu dengan evaluasi diri positif sebelumnya.
b) Pengungkapan perasaan
negatif, mengenai diri ( ketidak berdayaan, kegunaan )
2) Minor
a) Pengungkapan diri yang
negatif
b) Ekpresi malu
c) Evaluasi diri sebagai
tidak mampu menangani situasi-situasi / kejadian
d) Kesukaran mengambil
keputusan Gelisah
e) Pengabaian diri
2. Isolasi diri : menarik diri
a. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan
seorang individu yang mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya (Keliat, 2011).
b. Batasan karakteristik
1) Mayor
Kejadian yang berulang
atau berkala dari penilaian diri yang negatif dalam berespon terhadap peristiwa
yang pernah dilihat secara positif menyatakan perasaan negatif tentang dirinya
(putus asa, tidak berguna).
2) Minor
a) Pernyataan negatif atas
dirinya
b) Mengekspresikan rasa
malu, bersalah.
c) Penilaian diri tidak
mampu mengatasi peristiwa / situasi
d) Kesulitan membuat
keputusan
e) Mengabaikan diri (tidak
peduli pada diri sendiri)
f) Mengisolasi diri
3. Gangguan citra tubuh
a. Definisi
Keadaan dimana individu
mengalami atau beresiko untuk menglami gangguan dalam cara penerapan citra diri
seseorang.
b. Batasan karakteristik
1) Mayor
Respon negatif verbal
atau nonverbal terhadap perubahan aktual
atau dalam struktur dan / atau fungsi (misal malu, keadaan yang memalukan,
bersalah, reaksi mendadak)
2) Minor
a) Tidak terlihat pada
bagian tubuh
b) Tidak menyentuh bgian
tubuh
c) Bersembunyi atau
memanjakan bagian tubuhsecara berlebihan
d) Perubahan dalam
keterlibatan sosial
e) Perasaan terhadap bagian
tubuh, perasaan ketidak berdayaan, keputusasaan, tidak ada kekuatan, kerentanan
f) Larut dalam perubahan
atau kehilangan
g) Penolakan untuk
membuktikan perubahan aktual
h) Depersonalisasi bagian
tubuh atau kehilangan
i)
Tingkah laku merusak diri (misal mutilasi, usahah bunuh diri,
makan berlebihan, kurang makan)
( Carpenito. L.J, 2001:348)
- Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan
perencanaan asuhan keperawatan oleh perawat dan klien. Petunjuk dalam
implementasi :
1.
Intervensi dilakukan sesuai dengan rencana.
2.
Keterampilam interpersonal, intelektual, tekhnikal dilakukan
dengan cermat dan efisien dalam situasi yang tepat.
3.
Dokumentasi intrvensi dan respon klien.
(Keliat, Budi Anna. 1998
: 15)
Dalam pelaksanaan implementasi,
penulis menggunakan langkah-langkah komunikasi terapeutik yang terdiri dari :
1. Fase Pra Interaksi
Pra interaksi dimulai sebelum kontak
pertama dengan klien, perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya
sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien
dapat dipertanggung jawabkan.
2. Fase Perkenalan
Pada fase ini dimulai dengan
pertemuan dengan klien, hal-hal yang perlu dikaji adalah alasan klien meminta
pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya rasa percaya antara perawat
dengan klien.
3. Fase Orientasi
a) Memberi salam terapeutik
b) Mengevaluasi dan
memvalidasi data subjektif dan objektif yang mendukung diagnosa keperawatan.
c) Membuat kontrak untuk
sebuah topik disertai waktu dan tempat dan serta mengingatkan kontrak
sebelumnya.
4. Fase Kerja
Fase kerja merupakan inti hubungan
perawat dengan klien yang terkait dengan pelaksanaan perencanaan yang sudah
ditentukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Pada fase ini perawat
mengeksplorasi stressor yang tepat mendorong perkembangan kesadaran diri dengan
menghubungkan persepsi, fikiran, perasaan dan perbuatan klien.
5. Fase Terminasi
Fase terminasi merupakan fase yang
amat sulit dan penting dari hubungan intim terapeutik yang sudah terbina dan
berada dalam tingkat optimal. Fase terminasi terbagi menjadi :
a) Terminasi sementara
Adalah terminasi akhir dari tiap
pertemuan antara perawat dengan klien.
b) Terminasi akhir
ü Mengevaluasi respon
klien setelah tindakan keperawatan.
ü Merencanakan tindak
lanjut.
ü Mengeksplorasi perasaan
klien.
- Evaluasi
Evaluasi
adalah tindakan untuk mengidentifikasi sejauh mana tujuan dari perencanaan
tercapai dan evaluasi itu sendiri dilakukan terus menerus melalui hubungan yang
erat.
Evaluasi dibagi menjadi dua macam
yaitu :
1. Evaluasi formatif yaitu
evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menilai hasil tindakan yang telah
dilakukan.
2. Evaluasi sumatif yaitu
evaluasi akhir yang ditujukan untuk menilai keberhasilan tujuan yang dilakukan.
Evaluasi dapat dilakukan
dengan menggunakan pendekatan SOAP,
sebagai pola pikir :
S : Respon
subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O : Respon
objektif klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan.
A: Analisa
ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan masalah tetap atau
muncul masalah baru atau data yang kontradiktif dengan masalah yang ada.
P : Perencanaan
atau tindak lanjut berdasarkakn hasil analisa pada respon klien.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga,
tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif
terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan
diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri
(Keliat, 1998).
Dalam melakukan perawatan jiwa sangat penting sekali
membina hubungan saling percaya dan juga membutuhkan kolaborasi yang baik
dengan tenaga medis (dokter dan perawat), keluarga dan juga lingkungan (tenaga
dan masyarakat) terapeutik, agar semua maksud dan tujuan klien dirawat maupun
perawat yang merawat tercapai.
B. Saran
Dalam
upaya meningkatkan pelayanan keperawatan, pengetahuan dan pemahaman tentang
asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kebutuhan dasar harga diri rendah,
penulis menekankan pentingnya mengatasi atau mengurangi masalah harga diri
rendah yang bisa terjadi pada klien dapat terpenuhi dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Carpenito,
L.J. 2001. Diagnosa Keperawatan; Buku
Saku. Edisi 6. Alih Bahasa : Monica, Ester. Jakarta: EGC
Departemen
Kesehatan RI. 2000, Keperawatan Jiwa
Teori dan Tindakan Keperawatan.Jakarta: Depkes RI
Keliat, B. A. 998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Jakarta: EGC
Keliat, B. A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi
1. Jakarta: EGC
Keliat,
Budi Anna, Wiyono, Akemat Pawiro dan Susanti, Herni. 2011. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa CMHN (Intermediate Course). Jakarta:
EGC
Keliat, B. A. 2006. Proses Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Edisi 2. Jakarta: EGC
Stuart,
Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa.
Jakarta: EGC
Stuart, GW & Sudeen, SJ. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart, Sudeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa.
Edisi 3. Alih Bahasa Akhir Yani S. Jakarta: EGC
Towsend, B.A. 2005. Keperawatan dengan Gangguan Harga Diri. Trans
Info Medika
Towsend,
Mary C. 1998. Buku Saku Diagnosa
Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: EGC
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku
Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Yosep,
I. 2009. Keperawatan Jiwa. Bandung:
Refika Aditama
Komentar
Posting Komentar