KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, atas rahmat Allah SWT kita ucapkan puji sukur kepada
Allah SWT yangtelah memperkenankan kami
menyusun makalah ini. Shalawat serta salam kita curahkankepada junjungan
kami Baginda tercinta Rasululah SAW.
Melalui makalah ini kami ingin menjelaskan tentang Tendinitis kami
akan membahas bagaimana konsep
keperawatannya dari penyakit tersebut.
Terima kasih kepada semua pihak yang
membantu, hingga selesainya makalah ini.Seperti pepatah
mengatakan bahwa,Tak ada gading yang tak retak! Demikian pula denganmakalah ini tentu masih mempunyai banyak
kekurangan dan kesalahan, karena itu kepada para pembaca khususnya
dosen mata kuliah dimohon kritik dan saran yang bersi”atmembangun demi
bertambahnya wawasan kami di bidang ini.
Kendari,
18 oktober 2019
DAFTAR ISI
KATA PENGGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
A.
Latar belaang masalah.................................................................................... 1
B.
Identifikasi masalah....................................................................................... 1
C.
Rumusan masalah........................................................................................... 1
D.
Tujuan penulisan............................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 3
A. Pengertian Tendinitis.................................................................................... 3
B. Penyebab
Tendinitis ..................................................................................... 3
C. Jenis tendinitis............................................................................................... 4
D. Gejalan tendinitis.......................................................................................... 5
E. Diagnose tendinitis....................................................................................... 5
F. Pengobatan tendinitis.................................................................................... 5
G. Komplikasi tendinitis.................................................................................... 6
H. Pencegahan tendinitis................................................................................... 6
BAB
III PENUTUP ................................................................................................ 8
A.
Kesimpulan.................................................................................................... 8
B.
Saran.............................................................................................................. 10
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Aktivitas
sehari-hari yang dilakukan oleh tulang, sendi dan otot jika dilakukan secara
berlebihan dapat mengakibatkan luka atau cederang yang membuat aktivitas
terganggu bahkan dapat mengakibatkan kelumpuhan.
Salah satu
cedera yang terjadi di tendon otot adalah tendinitis. Tendonitis atau
tendinitis adalah peradangan atau iritasi pada tendon otot. Tendonitis biasanya
terjadi pada ibu jari, siku, bahu, pinggul, lutut, dan pergelangan tangan,
tetapi dapat terjadi di mana saja terdapat tendon. Seperti tendinitis pada
tendon otot supraspinatus yang akan dibahan dalam makalah ini.
Tendiniti
supraspinatus adalah peradangan atau iritasi pada tendon otot suprasinatus.
Gejalanya berupa rasa nyeri pada daerah bahu atas, pada daerah otot
supraspinatus. Thermoterapi yang dapat dilakukan untuk kasus ini, Diberi
kompres hangat untuk mengurangi spasme otot supraspinatus. Sebelum dilakukan
message atau terapi latihan dapat kita berikan sinar inframerah. Massage pada
tendon supraspinatus. Terapi elektris. Terapi latihan.
B.
Identifikasi
Masalah
Dalam ilmu fisioterapi sangan penting
untuk mengetahui, mempelajari, dan memahami tendinitis pada otot supraspinatus,
anatomi otot supraspinatus dan aplikasi thermoterapi pada kasus ini. Untuk itu
penulis ingin membuat paper tentang tendinitis supraspinatus muscle untuk
memudahkan pembaca mengenal dan memahami tentang tendinitis dan penanganannya.
C.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud tendinitis dan tendinitis
suptaspinatus?
2.
Bagaimana anatomi otot supraspinatus?
3.
Bagaimana patologi tendinitis supraspinatus?
4.
Bagaimana teknik pemeriksaan pada kasus tendinitis
supraspinatus?
5.
Bagaimana aplikasi thermoterapi pada tendinitis
supraspinatus?
D.
Tujuan
Penulisan
1. Mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami pengertian tendinitis dan tendinitis
suptaspinatus.
2. Mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami anatomi otot supraspinatus.
3. Mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami patologi tendinitis supraspinatus.
4. Mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami teknik pemeriksaan pada kasus tendinitis
supraspinatus.
5. Mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami aplikasi thermoterapi pada tendinitis
supraspinatus.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tendinitis
Tendinitis
adalah kondisi peradangan atau iritasi pada tendon. Tendon adalah jaringan yang
menghubungkan otot ke tulang, yang membantu dalam pergerakan. Saat tendon
meradang, akan terasa nyeri saat otot digerakkan, sehingga mengganggu gerakan
otot. Tendinitis bisa terjadi pada tendon di bagian tubuh manapun, meski
umumnya paling sering terjadi di bahu, siku, lutut, pergelangan kaki dan tumit.
Tendinitis atau tendonitis
adalah gangguan berupa peradangan atau iritasi pada tendon, yaitu suatu
kumpulan jaringan ikat berserat yang merekatkan otot dengan tulang. Pada
sebagian besar kasusnya, tendinitis lebih sering terjadi pada area tumit,
lutut, siku, dan bahu. Seseorang yang terserang tendinitis akan mengalami rasa
nyeri dan sakit pada persendian.
Tendinitis sendiri memiliki
nama yang berbeda-beda pada setiap area. Misalnya, patellar tendinitis pada
area tempurung lutut (tendon patellar). Cedera ini umumnya sering dialami oleh
atlet voli dan basket. Selain patellar, ada pula istilah lain seperti tennis
elbow, swimmer’s shoulder, atau golfer’s elbow.
B.
Penyebab
Tendinitis
Meski tendinitis
bisa disebabkan oleh cedera mendadak, kondisi ini lebih umum terjadi karena
gerakan yang terjadi berulang. Sebagian orang mengalami tendinitis akibat
pekerjaan atau hobi yang melibatkan gerakan berulang dan memberi tekanan pada
tendon.
Usia yang
semakin menua bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami tendinitis, karena
kelenturan tendon semakin berkurang. Tendinitis juga berisiko terjadi akibat
aktivitas yang melibatkan gerakan berulang-ulang atau olahraga tanpa melakukan
peregangan sebelumnya.
Sebagian besar kasus tendinitis terjadi karena adanya beban pada
tendon. Beban ini berasal dari gerakan yang dilakukan secara berulang
kali. Teknik gerakan yang dilakukan saat sedang berolahraga, bekerja,
atau melakukan hobi kesukaan dapat menimbulkan stres dan cedera pada tendon, terutama
jika teknik yang dilakukan tidak sepenuhnya benar.
Dengan kata lain, tendinitis umumnya bermula dari teknik yang keliru
dalam melakukan gerakan. Hal inilah yang akan membenani tendon. Selain kondisi
tersebut, tendinitis juga bisa diebabkan cedera yang terjadi secara tiba-toba
atau kecelakaan.
Jenis pekerjaan atau kegiatan yang memerlukan kegiatan fisik atau
dilakukannya gerakan berulang, dalam posisi yang tidak biasa atau dengan tenaga
besar, dapat memicu tendinitis. Kegiatan yang melibatkan getaran serta
menjangkau area yang tinggi secara terus-menerus juga menjadi faktor risiko
lain yang perlu diwaspadai. Misalnya, seperti pada olahraga basket, lari,
tening, atau renang.
Selain sejumlah hal di atas, penderita obesitas, diabetes, dan rheumatoid
arthritis juga berisiko mengalami tendinitis. Faktor lain yang
bisa menyebabkan tendinitis adalah penggunaan antibiotik, seperti levofloxacin
dan ciprofloxacin, serta
kebiasaan merokok.
C.
Jenis Tendinitis
Tendinitis terbagi dalam beberapa kondisi menurut letak tendon yang
terdampak, antara lain:
·
Lateral epicondylitis, yaitu tendinitis pada tendon di
siku bagian luar. Penyebabnya adalah aktivitas yang melibatkan putaran pada
pergelangan tangan, seperti pada atlet tenis dan bulutangkis.
·
Medial epicondylitis, yaitu tendinitis pada tendon di siku bagian dalam. Umumnya terjadi
karena gerakan siku seperti yang dilakukan atlet golf dan bisbol.
·
Achilles tendinitis, yaitu tendinitis pada tendon Achilles (tendon di belakang
pergelangan kaki) yang umumnya terjadi akibat aktivitas lari dan lompat.
·
Rotator cuff tendinitis, yaitu tendinitis yang umumnya terjadi pada olahraga yang melibatkan
gerakan mengangkat lengan, seperti perenang, sehingga menimbulkan peradangan
pada tendon rotator cuff (otot yang mengendalikan putaran bahu).
·
De Quervain tendinitis, yaitu tendinitis pada pergelangan tangan, tepatnya di pangkal ibu
jari yang umumnya terjadi karena gerakan menggenggam atau mencubit. Kadang
terjadi pada wanita dalam masa kehamilan tanpa diketahui sebabnya.
·
Knee tendinitis, yaitu tendinitis yang terjadi pada tendon patellar yang
terletak di bawah lutut atau pada tendon quadriceps yang berada di
atas lutut. Umumnya terjadi pada atlet basket atau pelari jarak jauh.
D. Gejala Tendinitis
Seseorang yang
mengalami tendinitis akan merasakan gejala berupa rasa nyeri, terutama ketika
menggerakan bagian sendi yang terserang. Dapat pula timbul pembengkakan ringan
dan rasa nyeri bila ditekan. Warna kemerahan dan rasa panas juga dapat
menyertai. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini masih dapat ditangani sendiri.
Jika gejala ini
berlanjut dan diikuti kekakuan pada sendi dan tendon, atau mulai mengganggu
aktivitas hingga berhari-hari, kamu disarankan untuk segera berkonsultasi
kepada dokter.
E.
Diagnosis
Tindinitis
Tendinitis biasanya bisa diketahui lewat pemeriksaan fisik, namun
pada kasus tertentu dokter membutuhkan prosedur pencitraan, seperti USG, foto
Rontgen, atau MRI,
untuk melihat kemungkinan robekan dan penebalan tendon, atau dislokasi sendi.
F.
Pengobatan Tendinitis
Dokter akan
memberikan obat pereda rasa sakit, seperti paracetamol atau
ibuprofen, untuk dikonsumsi, dan menyuntikkan kortikosteroid ke area tendon
pasien untuk meredakan peradangan. Kortikosteroid tidak
disarankan untuk tendinitis yang sudah lebih dari 3 bulan karena berisiko
melemahkan tendon dan membuat tendon putus.
Pengobatan dengan
menyuntikkan plasma darah kaya trombosit (PRP) juga bisa menjadi pilihan.
Dokter akan mengambil sampel darah pasien, serta memisahkan trombosit dan
plasma darah dari komponen darah lainnya, kemudian disuntikkan kembali ke area
tendon. Namun, pilihan terapi ini masih terus diteliti untuk mendapatkan hasil
yang optimal.
Pasien juga akan
disarankan untuk melakukan fisioterapi yang bertujuan untuk memperkuat tendon
yang terkena. Jika fisioterapi tidak membantu, dokter akan menyarankan beberapa
prosedur, antara lain:
·
Dry needling. Dokter akan membuat lubang
kecil di tendon menggunakan jarum halus untuk merangsang faktor-faktor yang
dapat memperbaiki tendon.
·
Ultrasound. Sayatan kecil akan dibuat
untuk memasukkan alat gelombang suara ultrasonik untuk membuang jaringan parut.
·
Bedah. Tindakan bedah oleh dokter bedah akan dilakukan pada kondisi
tendinitis parah seperti terlepasnya tendon dari tulang.
Untuk membantu proses
penyembuhan, mengistirahatkan tendon yang meradang berguna untuk mengurangi
nyeri dan bengkak, juga untuk penyembuhan jaringan. Namun pasien tetap bisa
melakukan aktivitas yang tidak membebani tendon. Pasien juga bisa mengompres
area yang sakit dengan es selama 20 menit beberapa kali dalam sehari. Langkah
ini berguna untuk mengurangi nyeri, bengkak, dan ketegangan otot. Selain itu,
untuk mengurangi bengkak, dapat digunakan perban elastis dan meninggikan bagian
yang meradang tersebut. Tetap jalani aktivitas ringan agar sendi tidak kaku.
G.
Komplikasi
Tendinitis
Tendinitis bisa
meningkatkan risiko tendon putus sehingga perlu dilakukan tindakan bedah. Jika
iritasi pada tendon berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa bulan,
penderita bisa mengalami tendinosis, yaitu kondisi tendon yang mengalami
perubahan degeneratif dan diikuti terbentuknya pembuluh darah tidak normal.
H.
Pencegahan Tendinitis
Lakukan tindakan
pencegahan berikut untuk menghindari risiko tendinitis:
·
Hindari aktivitas yang memberi
tekanan berlebih pada tendon, terutama jika dilakukan secara terus menerus, dan
hentikan aktivitas jika muncul nyeri.
·
Beralih ke pilihan olahraga
yang lain, jika olahraga yang biasa dilakukan menimbulkan nyeri.
·
Ikuti saran instruktur olahraga
profesional agar gerakan yang dilakukan tidak menimbulkan masalah pada tendon.
·
Lakukan peregangan setelah
latihan untuk memaksimalkan gerakan sendi dan mengurangi cedera berulang pada
jaringan yang tegang.
·
Jika memungkinkan, atur kursi
dan meja di tempat kerja agar sesuai dengan posisi ergonomis, yaitu posisi
paling baik sehingga tidak mencederai otot, tendon, atau sendi.
·
Memperkuat otot yang biasa
digunakan saat aktivitas bisa menghindari cedera tendon dan sendi tempat otot
tersebut menempel.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tendinitis adalah
kondisi peradangan atau iritasi pada tendon. Tendon adalah jaringan yang
menghubungkan otot ke tulang, yang membantu dalam pergerakan. Saat tendon
meradang, akan terasa nyeri saat otot digerakkan, sehingga mengganggu gerakan
otot. Tendinitis bisa terjadi pada tendon di bagian tubuh manapun, meski
umumnya paling sering terjadi di bahu, siku, lutut, pergelangan kaki dan tumit.
Meski tendinitis
bisa disebabkan oleh cedera mendadak, kondisi ini lebih umum terjadi karena
gerakan yang terjadi berulang. Sebagian orang mengalami tendinitis akibat
pekerjaan atau hobi yang melibatkan gerakan berulang dan memberi tekanan pada
tendon.
Tendinitis
terbagi dalam beberapa kondisi menurut letak tendon yang terdampak, antara
lain:
·
Lateral
epicondylitis
·
Medial
epicondylitis
·
Achilles tendinitis
·
Rotator cuff
tendinitis
·
De Quervain
tendinitis
·
Knee tendinitis
Seseorang yang mengalami tendinitis akan merasakan gejala
berupa rasa nyeri, terutama ketika menggerakan bagian sendi yang terserang.
Dapat pula timbul pembengkakan ringan dan rasa nyeri bila ditekan. Warna
kemerahan dan rasa panas juga dapat menyertai. Pada kebanyakan kasus, kondisi
ini masih dapat ditangani sendiri.
Tendinitis biasanya
bisa diketahui lewat pemeriksaan fisik, namun pada kasus tertentu dokter
membutuhkan prosedur pencitraan, seperti USG, foto Rontgen, atau MRI,
untuk melihat kemungkinan robekan dan penebalan tendon, atau dislokasi sendi.
Pasien juga akan
disarankan untuk melakukan fisioterapi yang bertujuan untuk memperkuat tendon
yang terkena. Jika fisioterapi tidak membantu, dokter akan menyarankan beberapa
prosedur, antara lain:
·
Dry needling. Dokter akan membuat lubang
kecil di tendon menggunakan jarum halus untuk merangsang faktor-faktor yang
dapat memperbaiki tendon.
·
Ultrasound. Sayatan kecil akan dibuat
untuk memasukkan alat gelombang suara ultrasonik untuk membuang jaringan parut.
·
Bedah. Tindakan bedah oleh dokter bedah akan dilakukan pada kondisi
tendinitis parah seperti terlepasnya tendon dari tulang.
Tendinitis bisa
meningkatkan risiko tendon putus sehingga perlu dilakukan tindakan bedah. Jika
iritasi pada tendon berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa bulan,
penderita bisa mengalami tendinosis, yaitu kondisi tendon yang mengalami
perubahan degeneratif dan diikuti terbentuknya pembuluh darah tidak normal.
Lakukan tindakan
pencegahan berikut untuk menghindari risiko tendinitis:
·
Hindari aktivitas yang memberi
tekanan berlebih pada tendon, terutama jika dilakukan secara terus menerus, dan
hentikan aktivitas jika muncul nyeri.
·
Beralih ke pilihan olahraga
yang lain, jika olahraga yang biasa dilakukan menimbulkan nyeri.
·
Ikuti saran instruktur olahraga
profesional agar gerakan yang dilakukan tidak menimbulkan masalah pada tendon.
·
Lakukan peregangan setelah
latihan untuk memaksimalkan gerakan sendi dan mengurangi cedera berulang pada
jaringan yang tegang.
·
Jika memungkinkan, atur kursi
dan meja di tempat kerja agar sesuai dengan posisi ergonomis, yaitu posisi
paling baik sehingga tidak mencederai otot, tendon, atau sendi.
·
Memperkuat otot yang biasa
digunakan saat aktivitas bisa menghindari cedera tendon dan sendi tempat otot
tersebut menempel.
B.
Saran
Saran dari
makalah ini merupakan panduan berupa masukan bagi pembaca berikutnya. Dari
proses pembuatan makalah ini mungkin masih ada kesalahan sehingga penulis
membutuhkan kritik serta saran dari para pembaca guna untuk memberikan
informasi yang baik untuk penyakit TENDINITIS.
DAFTAR PUSTAKA
MayoClinic
Astriyana, Sevy. 2014. Power Point Materi Otot Shoulder. Cilacap.
Mens, J.M.A and deWolf, A.N; Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh;Cetakan
kedua,
Houten, 1994
Husdaya, Prastya ; Rematologi; Politeknik Kesehatan Surakarta
Jurusan Fisoterapi,
Surakarta, 2002
Komentar
Posting Komentar