A. KONSEP
IMUNISASI
Imunisasi adalah
suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit
tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.Vaksin adalah
antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan,
masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang
telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada
seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit
infeksi tertentu.
Pada hakikatnya
kekebalan tubuh dapat dimiliki secara pasif maupun aktif.Keduanya dapat
diperoleh secara alami maupun buatan.Kekebalan pasif yang didapatkan secara
alami adalah kekebalan yang didapatkantransplasental, yaitu antibodi diberikan
ibu kandungnya secara pasif melalui plasenta kepada janin yang dikandungnya.Semua
bayi yang dilahirkan telah memiliki sedikit atau banyak antibodi dari ibu
kandungnya.Kekebalan pasif buatan adalah pemberian antibodi yang sudah
disiapkan dan dimasukkan ke dalam tubuh anak.Kekebalan aktif dapat diperoleh
secara alami maupun buatan. Secara alami kekebalan aktif didapatkan apabila
anak terjangkit suatu penyakit, yang berarti masuknya antigen yang akanmerangsang
tubuh anak membentuk antibodi sendiri secara aktif dan menjadi kebal karenanya.
Tujuan imunisasi
adalah menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat Penyakit yang Dapat
Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi.Pada saat ini, penyakit-penyakit tersebut adalah difteri, tetanus,
batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio dan tuberkulosis.
Manfaat
imunisasi antara lain :
1.
Untuk
anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat
atau kematian.
2.
Untuk
keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan
menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
3.
Untuk
negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal
untuk melanjutkan pembangunan negara.
Jenis-jenis imunisasiyaitu
:
Imunisasi telah
dipersiapkan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan.
Imunisasi ada 2 macam, yaitu:
1. Imunisai
aktif
Merupakan
pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahakan (vaksin) agar nantinya
sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap
antigen ini, sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan
meresponnya.Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio dan campak.
2. Imunisasi
pasif
Merupakan suatu
proses meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat imunoglobulin,
yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari
plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui plasenta) atau
binatang (bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk
dalam tubuh yang terinfeksi. Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS
(Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain
adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima
berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama masa
kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.
Berikut ini
beberapa jenis imunisasi yang termasuk ke dalam imunisasi dasar yaitu sebagai
berikut :
1. Imunisasi
Bacillus Celmette-Guerin (BCG)
a.
Fungsi
Imunisasi BCG
berfungsi untuk mencegah penularan Tuberkulosis (TBC) tuberkulosis disebabkan
oleh sekelompok bakteria bernama Mycobacterium tuberculosis complex.Pada
manusia, TBC terutama menyerang sistem pernafasan (TB paru), meskipun organ
tubuh lainnya juga dapat terserang (penyebaran atau ekstraparu
TBC).Mycobacterium tuberculosis biasanya ditularkan melalui batuk
seseorang.Seseorang biasanya terinfeksi jika mereka menderita sakit paru-paru
dan terdapat bakteria didahaknya.Kondisi lingkungan yang gelap dan lembab juga
mendukung terjadinya penularan.Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak
dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung bakteri
tuberkulosis.Bakteri ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti
paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi,
ginjal, hati, atau selaput selaput otak (yang terberat).Infeksi primer terjadi
saat seseorang terjangkit bakteri TB untuk pertama kalinya.Bakteri ini sangat
kecil ukurannya sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus,
dan terus berkembang.
Komplikasi pada
penderitaan TBC, sering terjadi pada penderita stadium lanjut. Berikut,
beberapa komplikasi yang bisa dialami :
1)
Hemomtasis
berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian
karena syok hipofolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2)
Lobus
yang tidak berfungsi akibat retraksi bronchial.
3)
Bronkiektasis
(pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat) pada
proses pemulihan atau retraksi pada paru.
4)
Pneumotorak
spontan (adanya udara di dalam rongga pleura): kolaps spontan karena kerusakan
jaringan paru.
5)
Penyebaran
infeksi ke organ lainnya seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya.
6)
Insufiensi
kardio pulmoner.
Imunisasi BCG
tidak mencegah infeksi TB tetapi mengurangi risiko TB berat seperti meningitis
TB atau TB miliar. Faktor-faktor yang mempangaruhi efektifitas BCG terhadap TB
adalah perbedaan vaksin BCG, lingkungan, faktor genetik, status gizi dan faktor
lain seperti paparan sinar ultraviolet terhadap vaksin.
b.
Cara
pemberian dan dosis
Vaksin BCG
merupakan bakteri tuberculosis bacillus yang telah dilemahkan.Cara pemberiannya
melalui suntikan.Sebelum disuntikan, vaksin BCG harus dilarutkan terlebih
dahulu. Dosis 0,05 cc untuk bayi dan 0,1 cc untuk anak dan orang dewasa.
Imunisasi BCG dilakukan pada bayi usia 0-2 bulan, akan tetapi biasanya
diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan. Dapat diberikan pada anak dan orang
dewasa jika sudah melalui tes tuberkulin dengan hasil negatif.
Imunisasi BCG
disuntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas.Disuntikan ke dalam
lapisan kulit dengan penyerapan pelan-pelan.Dalam memberikan suntikan
intrakutan, agar dapat dilakukan dengan tepat, harus menggunakan jarum pendek
yang sangat halus (10 mm, ukuran 26).Kerjasama antara ibu dengan petugas
imunisasi sangat diharapkan, agar pemberian vaksin berjalan dengan tepat.
c.
Kontra
indikasi
Imunisasi BCG
tidak boleh diberikan pada kondisi:
1)
Seorang
anak menderita penyakit kulit yang berat atau menahun, seperti eksim,
furunkulosis, dan sebagainya.
2)
Imunisasi
tidak boleh diberikan pada orang atau anak yang sedang menderita TBC
d.
Efek
samping
Setelah
diberikan imunisasi BCG, reaksi yang timbul tidak seperti pada imunisasi dengan
vaksin lain. Imunisasi BCG tidak menyebabkan demam. Setelah 1-2 minggu
diberikan imunisasi, akan timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntikan yang
berubah menjadi pastula, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu
pengobatan khusus, karena luka ini akan sembuh dengen sendirinya secara spontan.
Kadang terjadi pembesaran kelenjar regional diketiak atau leher.Pembesaran
kelenjar ini terasa padat, namun tidak menimbulkan demam.
2. Imunisasi
DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus)
a.
Fungsi
Imunisasi DPT
bertujuan untuk mencegah 3 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis,
tetanus.Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium
diphtheria.Difteri bersifat ganas, mudah menular dan menyerang terutama saluran
napas bagian atas.Penularannya bisa karena kontak langsung dengan penderita melalui
bersin atau batuk atau kontak tidak langsung karena adanya makanan yang
terkontaminasi bakteri difteri. Penderita akan mengalami beberapa gejala
seperti demam lebih kurang 380 C, mual, muntah, sakit waktu menelan dan
terdapat pseudomembran putih keabu-abuan di faring, laring dan tonsil, tidak
mudah lepas dan mudah berdarah, leher membengkak seperti lehersapi disebabkan
karena pembengkakan kelenjar leher dan sesak napas disertai bunyi (stridor).
Pada pemeriksaan apusan tenggorok atau hidung terdapat kuman difteri. Pada
proses infeksi selanjutnya, bakteri difteri akan menyebarkan racun kedalam
tubuh, sehingga penderita dapat menglami tekanan darah rendah, sehingga efek
jangka panjangnya akan terjadi kardiomiopati dan miopati perifer. Cutaneus dari
bakteri difteri menimbulkan infeksi sekunder pada kulit penderita.
Difteri disebabkan oleh bakteri yang ditemukan di mulut,
tenggorokan dan hidung.Difteri menyebabkan selaput tumbuh disekitar bagian
dalam tenggorokan.Selaput tersebut dapat menyebabkan kesusahan menelan,
bernapas, dan bahkan bisa mengakibatkan mati lemas.Bakteri menghasilkan racun
yang dapat menyebar keseluruh tubuh dan menyebabkan berbagai komplikasi berat
seperti kelumpuhan dan gagal jantung. Sekitar 10 persen penderita difteri akan
meninggal akibat penyakit ini. Difteri dapat ditularkan melalui batuk dan
bersin orang yang terkena penyakit ini.
Pertusis, merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh
kuman Bordetella Perussis. Kuman ini mengeluarkan toksin yang menyebabkan
ambang rangsang batuk menjadi rendah sehingga bila terjadi sedikit saja
rangsangan akan terjadi batuk yang hebat dan lama, batuk terjadi beruntun dan
pada akhir batuk menarik napas panjang terdengar suara “hup” (whoop) yang khas,
biasanya disertai muntah. Batuk bisa mencapai 1-3 bulan, oleh karena itu
pertusis disebut juga “batuk seratus hari”.Penularan penyakit ini dapat melalui
droplet penderita.Pada stadium permulaan yang disebut stadium kataralis yang
berlangsung 1-2 minggu, gejala belum jelas.Penderita menunjukkan gejala demam,
pilek, batuk yang makin lama makin keras.Pada stadium selanjutnya disebut
stadium paroksismal, baru timbul gejala khas berupa batuk lama atau hebat,
didahului dengan menarik napas panjang disertai bunyi “whoops”.Stadium
paroksismal ini berlangsung 4-8 minggu. Pada bayi batuk tidak khas, “whoops”
tidak ada tetapi sering disertai penghentian napas sehingga bayi menjadi biru.
Akibat batuk yang berat dapat terjadi perdarahan selaput lendir mata
(conjunctiva) atau pembengkakan disekitar mata (oedema periorbital).Pada
pemeriksaan laboratorium asupan lendir tenggorokan dapat ditemukan kuman pertusis
(Bordetella pertussis).
Batuk rejan adalah penyakit yang menyerang saluran udara dan
pernapasan dan sangat mudah menular.Penyakit ini menyebabkan serangan batuk parah
yang berkepanjangan. Diantara serangan batuk ini, anak akan megap-megap untuk
bernapas. Serangan batuk seringkali diikuti oleh muntah-muntah dan serangan
batuk dapat berlangsung sampai berbulan-bulan.Dampak batuk rejan paling berat
bagi bayi berusia 12 bulan ke bawah dan seringkali memerlukan rawat inap
dirumah sakit.Batuk rejan dapat mengakibatkan komplikasi seperti pendarahan,
kejang-kejang, radang paru-paru, koma, pembengkakan otak, kerusakan otak
permanen, dan kerusakan paru-paru jangka panjang. Sekitar satu diantara 200
anak di bawah usia enam bulan yang terkena batuk rejan akan meninggal. Batuk
rejan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin orang yang berkena penyakit
ini.
Tetanus
merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman Clostridium tetani.Kuman
ini bersifat anaerob, sehingga dapat hidup pada lingkungan yang tidak terdapat
zat asam (oksigen).Tetanus dapat menyerang bayi, anak-anak bahkan orang dewasa.
Pada bayi penularan disebabkan karena pemotongan tali puat tanpa alat yang
steril atau dengan cara tradisional dimana alat pemotong dibubuhi ramuan
tradisional yang terkontaminasi spora kuman tetanus. Pada anak-anak atau orang
dewasa bisa terinfeksi karena luka yang kotor atau luka terkontaminasi spora
kuman tetanus, kuman ini paling banyak terdapat pada usus kuda berbentuk spora
yang tersebar luas di tanah.
Penderita akan
mengalami kejang-kejang baik pada tubuh maupun otot mulut sehingga mulut tidak
bisa dibuka, pada bayi air susu ibu tidak bisa masuk, selanjutnya penderita
mengalami kesulitan menelan dan kekakuan pada leher dan tubuh. Kejang terjadi
karena spora kuman Clostridium tetani berada pada lingkungan anaerob, kuman akan
aktif dan mengeluarkan toksin yang akan menghancurkan sel darah merah, toksin
yang merusak sel darah putih dari suatu toksin yang akan terikat pada syaraf
menyebabkan penurunan ambang rangsang sehingga terjadi kejang otot dan
kejang-kejang, biasanya terjadi pada hari ke 3 atau ke 4 dan berlangsung 7-10
hari. Tetanus dengan gejala riwayat luka, demam, kejang rangsang, risus
sardonicus (muka setan), kadang-kadang disertai perut papan dan opistotonus
(badan lengkung) pada umur diatas 1 bulan.
Tetanus
disebabkan oleh bakteri yang berada di tanah, debu dan kotoran hewan.Bakteri
ini dapat dimasuki tubuh melalui luka sekecil tusukan jarum. Tetanus tidak
dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Tetanus adalah penyakit yang
menyerang sistem syaraf dan seringkali menyebabkan kematian.Tetanus menyebabkan
kekejangan otot yang mula-mula terasa pada otot leher dan rahang.Tetanus dapat
mengakibatkan kesusahan bernafas, kejang-kejang yang terasa sakit, dan detak
jantung yang tidak normal.Karena imunisasi yang efektif, penyakit tetanus kini
jarang ditemukan di Australia, namun penyakit ini masih terjadi pada orang
dewasa yang belum diimunisasi terhadap penyakit ini atau belum pernah disuntik
ulang (disuntik vaksin dosis booster).
b.
Cara
pemberian dan dosis
Cara pemberian
imunisasi DPT adalah melalui injeksi intramuskular. Suntikan diberika pada paha
tengah luar atau subkutan dalam dengan dosis 0,5 cc.Cara memberiakan vaksin
ini, sebagai berikut:
1)
Letakkan
bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan seluruh kaki telanjang
2)
Orang
tua sebaiknya memegang kaki bayi
3)
Pegang
paha dengan ibu jari dan jari telunjuk
4)
Masukkan
jarum dengan sudut 90 derajat
5)
Tekan
seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga masuk ke dalam otot.
Untuk mengurangi rasa sakit, suntikkan secara pelan-pelan.
Pemberian vaksin
DPT dilakukan tiga kali mulai bayi umur 2 bulan sampai 11 bulan dengan interval
4 minggu.Imunisasi ini diberikan 3 kali karena pemberian pertama antibodi dalam
tubuh masih sangat rendah, pemberian kedua mulai meningkat dan pemberian ketiga
diperoleh cukupan antibodi. Daya proteksi vaksin difteri cukup baik yiatu
sebesar 80-90%, daya proteksi vaksin tetanus 90-95% akan tetapi daya proteksi
vaksin pertusis masih rendah yaitu 50-60%, oleh karena itu, anak-anak masih
berkemungkinan untuk terinfeksi batuk seratus hari atau pertusis, tetapi lebih
ringan.
c.
Efek
samping
Pemberian
imunisasi DPT memberikan efek samping ringan dan berat, efek ringan seperti
terjadi pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan dan demam, sedangkan
efek berat bayi menangis hebat kerana kesakitan selama kurang lebih empat jam,
kesadaran menurun, terjadi kejang, ensefalopati, dan syok.
3. Imunisasi
campak
a.
Fungsi
Imunisai campak
ditujukan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak.Campak,
measles atau rubelal adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus
campak.Penyakit ini sangat infeksius, menular sejak awal masa prodromal sampai
lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam.Infeksi disebarkan lewat udara
(airborne).
Virus campak
ditularkan lewat infeksi droplet melalui udara, menempel dan berkembang biak
pada epitel nasifaring. Tiga hari setelah infasi, replikasi dan kolonisasi
berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi vitemia yang pertama.Virus
menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua
setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses peradangan
merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat
udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan
penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3C =
coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala
panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal
infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam
makulopapuler warna kemerahan. Virus juga dapat berbiak pada susunan syaraf
pusat dan menimbulkan gejala klinik ensefalitis.Setelah masa konvalesen
menurun, hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi semakin gelap,
berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disababkan karena
pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit.
b.
Gejala
klinis
1)
Panas
meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-5, pada saat ruam keluar
2)
Coryza
yang terjadi sukar dibedakan dengan common cold yang berat. Membaik dengan
cepat pada saat panas menurun.
3)
Conjunctivitis
ditandai dengan mata merah pada conjunctiva disertai dengan keradangan disertai
dengan keluhan fotofobia.
4)
Cough
merupakan akibat keradangan pada epitel saluran nafas, mencapai puncak pada
saat erupsi dan menghilang setelah beberapa minggu.
5)
Munculnya
bercak koplik (koplik’s spot) umumnya pada sekitar 2 hari sebelum munculnya
ruam (hari ke 3-4) dan cepat menghilang setelah beberapa jam atau hari.
Koplik’s spot adalah sekumpulan noktah putih pada daerah epitel bukal yang
merah, merupakan tanda klinik yang patognomonik untuk campak.
6)
Ruam
makulopapular semula berwarna kemerahan. Ruam ini muncul pertama pada daerah
batas rambut dan dahi, serta belakang telinga, menyebar ke arah perifer sampai
pada kaki. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada menjadi
confluent. Ruam ini membedakan dengan rubella yang ruamnya diskreta dan tidak
mengalami desquamasi. Telapak tangan dan kaki tidak mengalami desquamasi.
Diagnosis
ditetapkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
serologik atau virologik yang positif yaitu bila terdapat demam tinggi terus
menerus 38,50 o C atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah
dan silau bila kena cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare. Pada hari ke
4-5 demam, timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi
dari semula.Pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam.Saat ruam timbul,
batuk dan diare bertambah parah sehingga anak mengalami sesak napas atau
dehidrasi. Gejala klinik terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari
tiga stadium:
1)
Stadium
prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang diikuti dengan
batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis.
Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut
bercak koplik.
2)
Stadium
erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam mukulo-papular yang bertahan selama 5-6
hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut kebelakang telinga, kemudian
menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstremitas.
3)
Stadium
penyembuhan (konvalesens), setelah tiga hari ruam berangsur-angsur menghilang
sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan
menghilang setelah 1-2 minggu.
4)
Sangat
penting untuk menentukan status gizi penderita, untuk mewaspadai timbulnya
komplikasi. Gizi buruk merupakan risiko komplikasi berat.
c.
Cara
pemberian dan dosis
Pemberian vaksin
campak hanya diberikan satu kali, dapat dilakukan pada umur 9-11 bulan, dengan
dosis 0,5 CC. Sebelum disuntikan, vaksin campak terlebih dahulu dilarutkan
dengan pelarut steril yang telah tersedia yang derisi 5 ml cairan pelarut.
Kemudian suntikan diberikan pada lengan kiri atas secara subkutan. Cara
pemberian:
1)
Atur
bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dengan seluruh lengan telanjang.
2)
Orang
tua sebaiknya memegang kaki bayi, dan gunakan jari-jari tangan untuk menekan ke
atas lengan bayi.
3)
Cepat
tekan jarum ke dalam kulit yang menonjol ke atas dengan sudut 45 derajat.
4)
Usahakan
kestabilan posisi jarum.
d.
Efek
samping
Hingga 15 %
pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat
terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.
e.
Kontraindikasi
Pemberian
imunisasi tidak boleh dilakukan pada orang yang mengalami immunodefisiensi atau
individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukimia, dan
limfoma.
4. Imunisasi
polio
a.
Fungsi
Merupakan
imunisasi yang bertujuan mencegah penyakit poliomyelitis. Pemberian vaksin
polio dapat dikombinasikan dengan vaksin DPT. Terdapat 2 macam vaksin polio:
1)
Inactivated
Polio Vaccine (IPV = Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan
dan diberikan melalui suntikan.
2)
Oral
Polio Vaccine (OPV = Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah
dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen
(Trivalen Oral Polio Vaccine; TOPV) efektif melawan semua bentuk polio,
sedangkan bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan satu jenis polio.
Poliomielitis
adalah penyakit pada susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga
virus yang berhubungan, yaitu virus polio tipe 1, 2, atau 3.Struktur virus ini
sangat sederhana, hanya terdiri dari RNA genom dalam sebuah caspid tanpa
pembungkus. Ada 3 macam serotipe pada virus ini, tipe 1 (PV1), tipe 2 (PV2),
dan tipe 3 (PV3), ketiganya sama-sama bisa menginfeksi tubuh dengan gejala yang
sama. Penyakit ini ditularkan orang ke orang melalui fekal-oral-route. Ketika
virus masuk kedalam tubuh, partikel virus akan dikeluarkan dalam feses selama
beberapa minggu. Gaya hidup dengan sanitasi yang kurang akan meningkatkan
kemungkinan terserang poliomyelitis. Kebanyakan poliomyelitis tidak menunjukan
gejala apapun.Infeksi semakin parah jika virus masuk dalam sistem aliran darah.
Kurang dari 1% virus masuk dalam sistem syaraf pusat, akan tetapi virus lebih
menyerang dan menghancurkan sistem syaraf motorik, hal ini menimbulkan
kelemahan otot dan kelumpuhan (lumpuh layu akut = acute flaccid paralysis/
AFP). Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi
pada minggu pertama sakit.Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan
terinfeksi dan tidak segera ditangani.
Polio dapat
menyebabkan gejala yang ringan atau penyakit yang sangat parah.Penyakit ini
dapat menyerang sistem pencernaan dan sistem syaraf.Polio menyebabkan demam,
muntah-muntah, dan kakuatan otot dan dapat menyerang syaraf-syaraf,
mengakibatkan kelumpuhan permanen. Penyakit ini dapat melumpuhkan otot pernapasan
dan otot yang mendukung proses penelanan, menyebabkan kematian. Diantara dua
sampai lima persen penderita polio akan meninggal akibat penyakit ini dan
sekitar 50% pasien yang masih bertahan hidup menderita kelumpuhan seumur hidup.
Polio dapat ditularkan jika tinja penderita mencemari makanan, air atau tangan.
Faktor-faktor
yang dapat meningkatkan terserang poliomyelitis antara lain dikarenakan
malnutrisi, tonsilektomi, kurangnya sanitasi lingkungan, karena suntikan dan
juga virus bisa ditularkan melalui plasenta ibu, sedangkan antibodi yang
diberikan pasif melalui plasenta tidak dapat melidungi bayi secara adekuat.
b.
Cara
pemberian dan dosis
Imunisasi dasar
polio diberiakn 4 kali (polio I, II, III dan IV) dengan interval tidak kurang
dari 4 minggu.Imunisasi ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV,
kemudian pada saatmasuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12
tahun).Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan
sebanyak 2 tetes (0,1 ml) langsung kemulut anak atau dengan atau dengan
menggunakan sendok yang berisi air gula. Setiap membuka vial baru harus
menggunakan penetes (dropper) yang baru. Cara pemakaian:
1)
Orang
tua memegang bayi dengan lengan kepala di sangga dan dimiringkan ke belakang.
2)
Mulut
bayi dibuka hati-hati menggunakan ibu jari atau dengan menekan pipi bayi dengan
jari-jari.
3)
Teteskan
dengan 2 tetes vaksin dari alat tetes ke dalam lidah. Jangan biarkan alat tetes
menyentuh bayi.
c.
Efek
samping
Pada umunya
tidak terdapat efek samping.Efek samping berupa paralisis yang disebabkan oleh
vaksin jarang terjadi.
d.
Kontra
indikasi
Pemberian
imunisasi polio tidak boleh dilakukan pada orang yang menderita defisiensi
imunitas.Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada
anak yang sedang sakit.Namun, jika ada keraguan, misalnya sedang menderita
diare, maka dosis ulang dapat diberikan setelah sembuh.
5. Imunisasi
hepatitis B
a.
Fungsi
Imunisasi
hepatitis B, ditujukan untuk memberi tubuh berkenalan terhadap penyakit
hepatitis B, disebakan oleh virus yang telah mempengaruhi organ liver (hati).
Virus ini akan tinggal selamanya dalam tubuh. Bayi-bayi yang terjangkit virus
hepatitis berisiko terkena kanker hati atau kerusakan pada hati. Virus
hepatitis B ditemukan didalam cairan tubuh orang yang terjangkit termasuk
darah, ludah dan air mani.
b.
Penularan
Virus hepatitis
B biasanya disebarkan melalui kontak dengan cairan tubuh (darah, air liur, air
mani) penderita penyakit ini, atau dari ibu ke anak pada saat melahirkan.
Kebanyakan anak kecil yang terkena virus hepatitis B akan menjadi ”pembawa
virus”. Ini berarti mereka dapat memberikan penyakit tersebut pada orang lain
walaupun mereka tidak menunjukan gejala apapun. Jika anak terkena hepetitis B
dan menjadi ”pembawa virus”, mereka akan memiliki risiko yang lebih tinggi
untuk terkena penyakit hati dan kanker nantinya dalam hidup.
Ibu yang
terjangkit Hepatitis B dapat menularkan virus pada bayinya. Hepatitis B dapat
menular melalui kontak antara darah dengan darah, sebagai contoh apabila luka
pada tubuh kita telah terkontaminasi cairan yang dikeluarkan oleh penderita
hepatitis B, seperti jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, tranfusi
darah dan gigitan manusia, hal ini termasuk hubungan seksual. Penyakit ini bisa
menjadi kronis dan menimbulkan Cirrhosis hepatitis, kenker hati dan menimbulkan
kematian.
Secara umum
orang yang dapat atau berisiko tertular hapatitis B, dapat diidentifikasi dari
perilakunya.Individu yang dimaksud, termasuk dalam beberapa kriteria, seperti
para pengguna narkoba suntik, pasangan seks orang yang terinfeksi hepatitis,
bayi yang dilahirkan dari ibu yang terifeksi hepatitis, orang yang suka
berganti-ganti pasangan seks.Laki-laki homoseksual, atau laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki juga berisiko tertular penyakit ini, jika
seorang petugas kesehatan tidak menggunakan standar perlindungan diri dengan
tepat.Petugas kesehatan yang sedang merawat pasien dalam kondisi terinfeksi
hepatitis, harus menggunakan standar perlindungan diri, seperti sarung tangan,
dan jangan pernah menyentuh cairan tubuh dari pasien secara langsung.
c.
Gejala
Gejala mirip
flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan
muntah serta demam, urine menjadi kuning dan sakit perut.
d.
Cara
pemberian dan dosis
Imunisasi
diberikan tiga kali pada umur 0-11 bulan melalui injeksi
intramuskular.Kandungan vaksin adalah HbsAg dalam bentuk cair. Terdapat vaksin
Prefill Injection Device (B-PID) yang diberikan sesaat setelah lahir, dapat
diberikan pada usia 0-7 hari. Vaksin B-PID disuntikan dengan 1 buah HB
PID.Vaksin ini, menggunakan Profilled Injection Device (PID), merupakan jenis
alat suntik yang hanya diberikan pada bayi. Vaksin juga diberikan pada anak
usia 12 tahun yang dimasa kecilnya belum diberi vaksin hepatitis B. Selain itu
orang –orang yang berada dalam rentan risiko hepatitis B sebaiknya juga diberi
vaksin ini.
Cara pemakaian:
1)
Buka
kantong alumunium atau plastik dan keluarkan alat plastik PID
2)
Pegang
alat suntik PID pada leher dan tutup jarum dengan memegang keduanya diantara
jari telunjuk dan jempol, dan dengan gerakan cepat dorong tutup jarum ke arah
leher. Teruskan mendorong sampai tidak ada jarak antara tutup jarum dan leher.
3)
Buka
tutup jarum, tetap pegang alat suntik pada bagian leher dan tusukan jarum pada
anterolateral paha secara intremuskular, tidak perlu dilakukan aspirasi.
4)
Pijat
reservior dengan kuat untuk menyuntik, setelah reservior kempis cabut alat
suntik.
e.
Efek
samping
Reaksi lokal
seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan disekitar tempat
penyuntikan.Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2
hari.
f.
Kontra
indikasi
Hipersensitif
terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin ini
tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang
6. KIPI
(Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)
a.
Definisi
KIPI
Kejadian ikutan
paska imunisasi adalah sebagai reaksi simpangan yang dikenal sebagai kejadian
ikutan paska imunisasi (KIPI) atau events following immunization (AEFI) adalah
kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa efek vaksin
ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, atau
kesalahan program, koinsidensi, reaksi suntikan, atau hubungan kausal yang
tidak dapat ditentukan.
Pada keadaan
tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (artritis kronik
paska vaksinasi rubela), atau bahkan sampai 6 bulan (infeksi virus campak
vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi paska vaksinasi campak, dan polio
paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non
imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi paska vaksinasi polio)
Pada umumnya
reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse
events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin.
Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping
(side-effect), interaksi obat, intoleransi, reaksi idiosinkrasi, dan reaksi
alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan satu dengan yang lainnya.
Efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi
karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan
sesorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi
dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gendong, influenza, dan
demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur
lain yang terkandung dalam vaksin.
Kejadian yang
bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan teknik
pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpangan vaksin, kesalahan
prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang
timbul secara kebetulan.Persepsi awam dan juga kalangan petugas kesehatan,
menganggap semua kalainan dan kejadian yang dihubungkan dengan imunisasi
sebagai reaksi alergi terhadp vaksin.Akan tetapi telaah laporan KIPI oleh
Vaccine Safety Comittee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa
sebagian besar KIPI terjadi secara kebetulan saja (koinsidensi).Kejadian yang
memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik
pelaksanaan (programmatic erros).
b.
Klasifikasi
KIPI
Komnas
Pengkajian dan Penanggulangan KIPI (Komnas PP KIPI) mengelompokkan etiologi
KIPI dalam 2 klasifikasi yaitu :
1)
Klasifikasi
lapangan menurut WHO Western Pacific (1999) untuk petugas kesehatan
dilapangan.Sesuai dengan manfaatnya dilapangan maka Komnas PP KIPI memakai
kriteria WHO Western Pacific untuk memilah KIPI dalam lima kelompok penyebab,
yaitu:
a)
Kesalahan
program/ teknik pelaksanaan (programmatic errors)
Sebagian besar
kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi
yang meliputi kesalahan program penyimpanan, penggelolaan, dan tata
laksanapemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai
tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:
·
Dosis
antigen (terlalu banyak)
·
Lokasi
dan cara menyuntik
·
Sterilisasi
semprit dan jarum suntik
·
Jarum
bekas pakai
·
Tindakan
aseptik dan antiseptic
·
Kontaminasi
vaksin dan peralatan suntik
·
Penyimpanan
vaksin
·
Pemakaian
sisa vaksin
·
Jenis
dan jumlah pelarut vaksin
·
Tidak
memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk pemakaian, indikasi kontra dan
lain-lain)
Kecurigaan
terhadap kesalahan tata laksana parlu diperhatikan apabila terdapat
kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.Mencegah program error
(VSQ 1996)
·
Alat
suntik steril untuk setiap suntikan
·
Pelarut
vaksin yang sudah disediakan oleh produsen vaksin
·
Vaksin
yang sudah dilarutkan segera dibuang setelah 6 jam
·
Lemari
pendingin tidak boleh ada obat lain selain vaksin
·
Pelatihan
vaksinasi dan supervisi yang baik
·
Program
error dilacak, agar tidak terulang kesalahan yang sama
b)
Reaksi
suntikan
Semua gejala
klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak
langsung dan harus dicatat sebagai reaksi KIPI.Reaksi suntikan langsung
misalnya nyeri sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan
reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai
sinkop.Reaksi ini tidak berhubungan dengan kandungan yang terdapat pada vaksin,
sering terjadi pada vaksinasi masal.
·
Syncope/
fainting
-
Seringkali
pada anak > 5 tahun
-
Terjadi
beberapa menit post imunisasi
-
Tidak
perlu penanganan khusus
-
Hindari
stres saat anak menunggu
-
Hindari
trauma akibat jatuh/ posisi sebaiknya duduk
·
Hiperventilasi
akibat ketakutan
-
Beberapa
anak kecil terjadi muntah, breath holding spell, pingsan
-
Kadang
menjerit, lari bahkan reaksi seperti kejang (pasien tersebut perlu diperiksa)
·
Beberapa
anak takut jarum, gemetar, dan histeris
·
Penting
penjelasan dan penanganan
·
Pencegahan
reaksi KIPI Reaksi suntikan dengan:
-
Teknik
penyuntikan yang benar
-
Suasana
tempat penyuntikan yang tenang
-
Atasi
rasa takut yang muncul pada anak yang lebih besar
-
Induksi
vaksin (reaksi vaksin)
Gejala KIPI yang
disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena
merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan.Walaupun
demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaktik
sistemik dengan risiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi
dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen
sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atau berbagai
tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi dengan
obat ataupun vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanaggapi
dengan baik oleh pelaksana imunisasi.
·
Reaksi
lokal
-
Rasa
nyeri ditempat suntikan
-
Bengkak
kemerahan di tempat suntikan sekitar 10%
-
Bengkak
pada suntikan DPT dan tetanus sekitar 50%
-
BCG
scar terjadi minimal setelah 2 minggu kemudian ulserasi dan sembuh setelah
beberapa bulan
·
Reaksi
sistemik
-
Demam
pada sekitar 10%, kecuali DPT hampir 50%, juga reaksi lain seperti iritabel,
malaise, gejala sistemik.
-
MMR
dan campak, reaksi sistemik disebabkan infeksi virus vaksin. Terjadi demam dan
atau ruam dan konjungtivitis pada 5%-15% dan lebih ringan dibandingkan infeksi
campak tetapi berat pada kasus imunodefisiensi.
-
Pada
mumps terjadi reaksi vaksin pambengkakan kelenjar parotis, rubela terjadi rasa
nyeri sendi 15% dan pembengkakan limfe.
-
OPV
kurang dari 1% diare, pusing dan nyeri otot.
·
Reaksi
vaksin berat
-
Kejang
-
Trombositopenia
-
Hypotemic
hyperesponsive episode/ HHE
-
Persistent
inconsolable csreaning bersifat self-imiting dan tidak merupakan masalah jangka
panjang
-
Anafilaksis,
potential menjadi fatal tetapi dapat disembuhkan tanpa dampak jangka panjang
-
Ensefalopati
akibat imunisasi campak atau DPT
·
Faktor
kebetulan (koinsiden)
Kejadian yang
timbul ini terjadi secara kebetulan saja setelah imunisasi. Indikator faktor
kebetulan ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada
kelompok populasi setempat dengan katakteristik serupa tetapi tidak mendapat
imunisasi.
·
Penyebab
tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum
dapat dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan
ke dalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya dengan
kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.
World Healt
Organization pada tahun 1991 melalui expanded programme on imunisation (EPI)
telah menganjurkan agar pelaporan KIPI dibuat oleh setiap negara. Untuk negara
berkembang yang paling penting adalah bagaimana mengontrol vaksin dan
mengurangi programmatic errors, termasuk cara menggunakan alat suntik dengan
baik, alat yang sekali pakai atau alat suntik reusable, dan cara penyuntikan
yang benar sehingga transmisi patogen melalui darah dapat dihindarkan.
Ditekankan pula
bahwa untuk memperkecil terjadinya KIPI harus selalu diupayakan peningkatan
ketelitian pemberian imunisasi selama program imunisasi dilaksanakan.
2)
Klasifikasi
kausalitas manurur IOM 1991 dan 1994 untuk telaah Komnas PP KIPI.
Vaccine Safety
Committee 1994 membuat klasifikasi KIPI yang sedikit berbeda dengan laporan
Committee Institute of Medicine (1991) dan menjadi dasar klasifikasi saat ini,
yaitu:
a)
Tidak
terdapat bukti hubungan kausal (unrelated)
b)
Buktu
tidak cukup untuk memerima atau menolak hubungan kausal (unlikely)
c)
Bikti
memperkuat penolakan hubungan kausal (possible)
d)
Bukti
memperkuat penerimaan hubungan kausal (probable)
e)
Bukti
memastikan hubungan kausal (very like/ certain)
f)
Gejala
klinis KIPI
Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun
lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf
pusat, serta reaksi lainnya.Pada umumnya makin cepat terjadi KIPI makin berat
gejalanya.
Baku keamanan
suatu vaksin dituntut lebih tinggi daripada obat.Hal ini disebabkan oleh karena
pada umumnya produksi farmasi diperuntukkan orang sakit sedangkan vaksin untuk
orang sehat terutama bayi.Karena itu toleransi terhadap efek semping vaksin
harus lebihkecil daripada obat-obatan untuk orang sakit.Mengingat tidak ada
satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka apabila seorang anak telah
mendapat imunisasi perlu diobservasi beberapa saat, sehingga dipastikan bahwa
tidak terjadi KIPI (reaksi cepat).Berapa lama observasi sebenarnya sulit
ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus
dilakukan observasi selama 15 manit.
c.
Angka
kejadian KIPI
KIPI yang paling
serius pada anak adalah reaksi anafilaktoid.Angka kejadian reaksi anafilaktoid
pada DPT diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis, tetapi yang benar-benar reaksi
anafilaktik hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis.Anak yang lebih besar dan
orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat.Episode
hipotonik-hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum dapat terjadi
4-24 jam setelah imunisasi. Kasus KIPI polio berat dapat terjadi 1 per 2,4 juta
dosis vaksin (CDC Vaccine Information Statement 2000), sedangkan kasus KIPI
hepatitis B pada anak dapat berupa demam ringan sampai sedang terjadi 1/14
dosis vaksin, dan pada dewasa 1/100 dosis (CDC Vaccine Information Statement
2000). Kasus KIPI campak berupa demam terjadi pada 1/6 dosis, ruam kulit ringan
1/20 dosis, kejang yang disebabkan demam 1/3000 dosis, dan reaksi alergi serius
1/1.000.000 dosis.
d.
Imunisasi
pada kelompok berisiko
Untuk mengurangi
risiko timbulnya KIPI maka harus diperhatikan apakah resipien termasuk dalam
kelompok risiko.Yang dimaksud dengan kelompok risiko adalah:
1)
Anak
yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu.
2)
Bayi
berat lahir rendah. Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama
dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan
yaitu :
·
Titer
imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah daripada bayi cukup
bulan.
·
Apabila
berat badan bayi yang sangat kecil (>1000 gram) imunisasi ditunda dan
diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan, kecuali
untuk imunisasi hepatitis B pada bayi dengan ibu yang HbsAg positif.
·
Apabila
bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio yang diberikan
adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak menyebabkan penyebaran
virus polio melalui tinja.
e.
Pasien
imunokompromais
Pada pasien
imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau sebagai akibat
pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka panjang), jenis
vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien imunikompromais, untuk
polio dapat diberikan IPV bila vaksin tersedia.Imunisasi tetap diberikan
padapengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam waktu pendek.
Imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan kortikosteroid sistemik
dosis 2 mg/ kg berat badan/ hari atau prednison 20 mg/ hari selama 14 hari.
Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan pengobatan kortikosteroid dihentikan
atau 3 bulan setelah pemberian kemoterapi selesai.
Jadwal
Imunisasi
B. TEORI
MODEL KEPERAWATAN PADA ANAK
Keperawatan
merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat.Sebagai salah
satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek
keperawatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang
dapat dipertanggung jawabkan.Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body
of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan
kepada masyarakat langsung.
Perawat dalam
mempraktikan keperawatannya harus memperhatikan beberapa aspek yang dimiliki
oleh klien, sebagaimana yang disebutkan dari beberapa teori model Keperawatan
khususnya pada anak. Untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif,
perlu diperhatikan aspek-aspek yang akan dinilai dan dimasukkan ke dalam
rencana perawatan. Oleh karena itu pentingnya perawat engetahui berbagai macar
teori model keperawatan.Hal ini ditujukan agar perawat anak lebih memahami
teori model dalam praktek keperawatan sehingga perawat mampu melakukan
pelayanan kesehatan pada anak baik sehat maupun sakit.
1. Konsep
Teori
Kolcaba “Comfort Theory”
Kolcaba
mengembangkan teori keperawatannya pada tahun 1990-an. Teori yang kembangkan dirancang
untuk aplikasi dalam praktek keperawatan.Teori yang dibuat oleh Kolcaba adalah
teori kenyamanan.Menurut teori kenyamanan pasien ada dalam tiga bentuk yaitu
bantuan, kemudahan dan transendensi.Kenyamanan dapat tejadi dalam empat konteks
yaitu fisik, psikospritual, lingkungan dan sosial budaya.Comfort (kenyamanan)
merupakan kondisi menjadi kuat setelah terpenuhinya kebutuhan manusia terhadap
relief, ease, dan transedence pada berbagai konteks pengalaman (fisik,
psikospritual, sosiokultural, lingkungan).
4
konsep comfort dalam metaparadigma yaitu :
a. Keperawatan
Dalam model ini, keperawatan digambarkan sebagai proses menilai
kebutuhan kenyamanan pasien, mengembangkan dan menerapkan sesuai rencana asuhan keperawatan , dan mengevaluasi
kenyamanan pasien setelah rencana perawatan telah dilakukan.Keperawatan
meliputi pengkajian disengaja kebutuhan kenyamanan, desain tindakan kenyamanan
untuk mengatasi kebutuhan tersebut, dan penilaian ulang tingkat kenyamanan
setelah implementasi.Penilaian bisa objektif, seperti pengamatan penyembuhan
luka, atau subjektif, seperti meminta pasien jika dia nyaman.
b. Pasien
Pasien yang dimaksud adalah individu,
keluarga atau komunitas yang membutuhkan asuhan
c.
Lingkungan
Pengaruh external berupa ruangan fisik,
kebijakan yang dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kenyamanan klien
d.
Kesehatan
Kesehatan dilihat dari berfungsinya
pasien/keluarga/komunitas secara optimal setelah difasilitasi melalui pemenuhan
kenyamanan.
Teori
Comfort dari Kolcaba ini menekankan pada beberapa konsep utama, antara lain :
a.
Health
Care Needs
Kolcaba
mendefinisikan kebutuhan pelayanan kesehatan sebagai suatu kebutuhan akan kenyamanan, yang dihasilkan dari situasi
pelayanan kesehatan yang stressful, yang tidak dapat dipenuhi oleh penerima
support system tradisional. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik,
psikospiritual, sosial dan lingkungan, yang kesemuanya membutuhkan monitoring, laporan
verbal maupun non verbal, serta kebutuhan yang berhubungan dengan parameter
patofisiologis, membutuhkan edukasi dan dukungan serta kebutuhan akan konseling
financial dan intervensi.
b.
Comfort
Comfort
merupakan sebuah konsep yang mempunyai hubungan yang kuat dalam keperawatan.
Comfort diartikan sebagai suatu keadaan yang dialami oleh penerima yang dapat
didefinisikan sebagai suatu pengalaman yang immediate yang menjadi sebuah
kekuatan melalui kebutuhan akan keringanan (relief), ketenangan (ease),
and (transcedence) yang dapat terpenuhi dalam empat kontex pengalaman yang
meliputi aspek fisik, psikospiritual, sosial dan lingkungan.
Beberapa
tipe Comfort didefinisikan sebagai
berikut:
1)
Relief,
suatu keadaan dimana seorang penerima (recipient) memiliki pemenuhan kebutuhan
yang spesifik
2)
Ease,
suatu keadaan yang tenang dan kesenangan
3)
Transedence,
suatu keadaan dimana seorang individu mencapai diatas masalahnya.
Kolcaba kemudian
menderivasi konteks diatas menjadi beberapa hal berikut :
1)
Fisik,
berkenaan dengan sensasi tubuh.
2)
Psikospiritual,
berkenaan dengan kesadaran internal diri, yang meliputi harga diri, konsep
diri, sexualitas, makna kehidupan hingga hubungan terhadap kebutuhan lebih
tinggi.
3)
Lingkungan,
berkenaan dengan lingkungan, kondisi, pengaruh dari luar.
4)
Sosial,
berkenaan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan hubungan social
c.
Comfort
Measures
Tindakan
kenyamanan diartikan sebagai suatu intervensi keperawatan yang didesain untuk
memenuhi kebutuhan kenyamanan yang spesifik dibutuhkan oleh penerima jasa,
seperti fisiologis, sosial, financial, psikologis, spiritual, lingkungan, dan
intervensi fisik.
d.
Enhanced
Comfort
Sebuah
outcome yang langsung diharapkan pada pelayanan keperawatan, mengacu pada teori
comfort ini.
e.
Intervening
variables
Didefinisikan
sebagai kekuatan yang berinteraksi sehingga mempengaruhi persepsi klien dari
comfort secara keseluruhan. Variabel ini meliputi pengalaman masa lalu, usia,
sikap, status emosional, support system, prognosis, finansial, dan keseluruhan
elemen dalam pengalaman klien.
f.
Health
Seeking Behavior (HSBs)
Merupakan
sebuah kategori yang luas dari outcome berikutnya yang berhubungan dengan
pencarian kesehatan yang didefinisikan oleh klien saat konsultasi dengan
perawat. HSBs ini dapat berasal dari eksternal (aktivitas yang terkait dengan
kesehatan), internal (penyembuhan, fungsi imun,dll.) atau kedamaian menjelang
ajal.
g.
Institusional
integrity
Didefinisikan
sebagai nilai nilai, stabilitas finansial, dan keseluruhan dari organisasi
pelayanan kesehatan pada area lokal, regional, dan nasional.Pada sistem rumah
sakit, definisi institusi diartikan sebagai pelayanan kesehatan umum, agensi
home care, dll.
2. Konsep
Model Adaptasi Roy
Fokus utama
Model Adaptasi Roy adalah konsep adaptasi manusia.Manusiamempunyai kemampuan
untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan baik eksternal maupun
internal. Dimana Individu akan mendapatkan stimulus dari lingkungan dan
kemudian berespon terhadap stimulus dan beradaptasi (Alligood & Tomey,
2006).Respon individu terhadap stimulus yang didapatkan berupa respon adaptif
dan respon maladaptif (inefektif).Jika respon terhadap stimulus tidak efektif
maka individu menjadi sakit.Respon adaptif individu mengacu pada peningkatan
integritas manusia dan membantu individu dalam pencapaian adaptasi dengan tetap
hidup, tumbuh, berproduksi dan terjadi transformasi antara individu dengan lingkungan.Respon
inefektif jika terdapat kegagalan dalam mencapai tujuan adaptasi atau adanya
ancaman terhadap pencapaian tujuan.
Tingkat proses
adaptasi individu terbagi tiga yaitu proses integritas, proses kompensasi dan
proses kompromi. Proses integritas yaitu tingkat dimana individu dapat mempertahankan
struktur dan fungsi proses kehidupan dengan bekerja untuk memenuhi
kebutuhannya. Tingkat adaptasi proses kompensasi merupakan tingkat mekanisme koping
(kognator dan regulator) yang diaktifkan karena adanya ancaman pada individu.
Sementara tingkat adaptasi kompromi merupakan tingkat yang dihasilkan dari
ketidakmampuan proses integritas dan
kompensasi, atau disebut sebagai adanya masalah adaptasi dalam individu. Adaptasi
terjadi ketika individu berespon positif terhadap perubahan lingkungan. Respon
adaptif akan meningkatkan integritas seseorang untuk menjadi sehat dan ini ditentukan
oleh adanya kombinasi stimulus fokal, kontekstual dan residual. Sementara
respon individu terhadap perubahan lingkungan ditentukan oleh proses koping
yang terjadi dalam individu.
Mekanisme
adaptif individu merupakan mekanisme yang membantu seseorang mempertahankan
mental, fisik, sosial, spiritual dan emosional.Koping yang terjadi pada
individu terdiri dari dua subsistem yaitu mekanisme regulator dan kognator yang
bertindak untuk mempertahankan adaptasi dalam empat mode adaptif yaitu mode
fisiologis, mode konsep diri, mode fungsi peran dan modeineterdependensi.
Mekanisme regulator dengan cara adaptasi fisiologis yaitu respon otomatis melalui
syaraf, kimia dan endokrin, serta stimuli yang berasal dari indra. Subsistem
kognator merespon dengan cara adaptasi konsep diri, fungsi peran dan
interdependensimelalui empat saluran kognitif-emosional yaitu, proses informasi
dan persepsi, proses belajar, penilaian dan emosi.
Proses
keperawatan model adaptasi Roy terdiri dari enam tahapan yang berlangsung
secara simultan, dinamis dan terus menerus yaitu pengkajian perilaku,
pengkajian stimulus, diagnosa keperawatan, tujuan keperawatan, intervensi dan
evaluasi.Masalah adaptasi terjadi ketika kebutuhan individu tidak terpenuhi
pada tiap model adaptasi. Proses keperawatan yang dihubungkan dengan sistem
adaptasi manusia adalah sebagai berikut :
a.
Pengkajian
Perilaku
Pengkajian
perilaku merupakan tahap awal dari proseskeperawatan yaitu mengumpulkan semua
data tentang perilakuindividu sebagai sistem adaptif pada empat mode adaptif
yaitu mode fisiologis, mode konsep diri, mode fungsi peran dan mode ineterdependensi.
Perilaku merupakan reaksi terhadap stimulus yang dapat diobservasi, diukur atau
dilaporkan secara subjektif.
b.
Pengkajian
Stimulus
Pengkajian pada
stimulus merupakan tahap ke dua yaitumengidentifikasi stimulus eksternal dan
internal yang mempengaruhi perilaku respon adaptif. Stimulus diklasifikasikan
sebagai stimulus fokal yaitu stimulus yang secara langsung dihadapi oleh individu
yang menyebabkan sakit dan ketidakseimbangan, stimulus kontekstual yaitu semua stimulus
yang terdapat pada individu dan lingkungan yang mempengaruhi individu yang
dapat memberikan efek positif maupun negatif seperti pengalaman masa lalu,
kondisikesehatan, umur, jenis kelamin, budaya, spiritualitas, tingkatfungsi
fisik, dinamika keluarga, status ekonomi, pengetahuan,nilai-nilai, dan sistem
pendukung. Sementara stimulus residual termasuk keyakinan, sikap yang dapat memberikan
dampak pada individu baik positif maupun negatif, Pengkajian perilaku dan stimulus
dilakukan pada masing-masing model adaptasi yaitu adaptasi fisiologis, konsep
diri, fungsi peran dan interdependensi.Selanjutnya memberikan label apakah
respon adaptif (A) atau inefektif (I).
1)
Mode
adaptasi fisiologis mencakup oksigenasi, nutrisi,eliminasi, aktivitas dan
istirahat, proteksi dan perlindungan,sensasi, cairan dan elektrolit, fungsi
neurologis dan endokrin.Indikator respon adaptif (adaptasi positif) seseorang
menurutRoy (2009) adalah :
·
Oksigenasi
: proses ventilasi stabil, pola pertukaran gasstabil, transport gas adekuat
·
Nutrisi;
proses pencernaan stabil, pola nutrisi adekuatsesuai kebutuhan tubuh,
terpenuhinya kebutuhan gizi danmetabolik selama terjadi perubahan proses
menelan.
·
Eliminasi
: proses eliminasi buang air besar efektif, polaeliminasi stabil, proses
pembentukan urun efektif, polaeliminasi urin stabil, stategi koping terhadap
perubahaneliminasi efektif.
·
Aktifitas
dan istirahat; proses mobilisasi utuh, proseskompensasi pergerakan terpenuhi
sesuai kebutuhanselama tidak melakukan aktivitas, pola aktifitas danistirahat
efektif, dan pola tidur efektif.
·
Perlindungan;
kulit utuh, respon penyembuhan lukaefektif, proses imunitas efektif, regulasi
suhu efektif.
·
Sense
; proses sensasi efektif, keutuhan menerimamasukan informasi efektif, pola
persepsi stabil, seperti:interpretasi dan apresiasi
·
Cairan,
elektrolit dan asam basa; keseimbangan cairanstabil, elektolit dalam cairan
tubuh stabil, status asambasa seimbang.
·
Fungsi
neurologi; efektifnya proses perhatian, persepsidan ingatan proses berpikir dan
perasaan utuh, efektifnyafungsi sistem syaraf.
·
Fungsi
endokrin; regulasi hormon efektif untuk prosesmetabolisme dan tubuh, regulasi
hormon efektif untukperkembangan reproduksi.
2)
Mode
adaptasi konsep diri mencakup aspek psikososial danspiritual yang berhubungan
dengan integritas psikologis.Pengkajian perilaku konsep diri dengan
mengobservasipenampilan seperti postur, ekspresi wajah serta melaluipernyataan
individu tentang dirinya dan ekspresi perasaanindividu. Sementara pengkajian
stimulus mencakupkemampuan kognitif, interaksi dengan keluarga,
perubahankemampuan fisik, reaksi orang lain termasuk budaya,
krisisperkembangan, persepsi, nilai dan strategi koping. Menurut Roy (2009)
mode konsep diri yang adaptif adalah : gambarandiri positif, keutuhan fisik dan
perkembangan fisik,kompensasi terhadap perubahan tubuh adekuat, kopingstrategi
terhadap kehilangan efektif, fungsi harga diri,keutuhan self ideal efektif.
3)
Mode
adaptasi fungsi peran mencakup peran, posisi,performa dan integritas sosial.
Pengkajian perilakumengidentifikasi peran primer, sekunder dan tersier
denganmelihat perilaku instrumental yang menggambarkan aktivitasperan, serta
melihat perilaku ekpresif yang menggambarkanperasaan dan sikap seseorang dalam
melakukan peran.Pengkajian stimulus mencakup norma sosial, emosi, persepsidiri,
persepsi sosial, dan proses informasi. Menurut Roy(2009) indikator fungsi peran
adaptif adalah : kejelasanperan, efektifitas proses transisi peran, perilaku peran
untuh,keutuhan peran primer,sekunder dan tersier, pola performaperan efektif
dan menujukan tanggungjawab peran.
4)
Mode
adaptasi interdependensi. Mode adaptasiinterdependensi individu berhubungan
dengan integritasperasaan aman dan memelihara hubungan. Mode berfokuspada
interaksi yang berhubungan dengan memberi danmenerima kasih sayang, rasa hormat
dan nilai-nilai jugaberfokus pada orang terdekat dan sistem
pendukung.Pengkajian perilaku difokuskan pada orang terdekat, system pendukung
dari keluarga dan teman-teman serta masyarakat.Pengkajian stimulus mencakup
harapan dan harga diri, cintadan kasih sayang. Menurut Roy (2009) indikator
fungsiinterdependensi adaptif adalah pola mandiri danketergantungan efektif,
strategi koping terhadap perpisahanefektif, hubungan dan komunikasi efektif.
c.
Diagnosis
Keperawatan
Tahap ke tiga
dari proses keperawatan adalah proses penilaiandan interpretasi data tentang
status adaptasi seseorang. Diagnosis keperawatan dirumuskan dengan
mengobservasi tingkah laku klien terhadap stimulus.
d.
Tujuan
Keperawatan
Tujuan
keperawatan merupakan tahap ke empat dari proseskeperawatan berupa pernyataan
yang jelas yang menggambarkan outcome perilaku dari proses keperawatan yang
merupakan penilaian capaian nursing outcome clasification (NOC). Tujuan
keperawatan menurut Roy, (2009) yaitu meningkatkan adaptasi dari keempat mode adaptasi.
Tingkat proses adaptasi individu terbagi tiga yaitu proses integritas, proses kompensasi
dan proses kompromi. Tingkatan adaptasi pertama adalah integrasi (integrated)
yang menggambarkan struktur dan fungsi proses kehidupan untuk memenuhi kebutuhan
secara keseluruhan. Adaptasi kempensasi (compensatory) merupakan tingkatan
adaptas kedua dimana kognator dan regulator diaktivasi oleh suatu penolakan
dari proses integrasi. Tingkatan ketiga adalah kompromi (compromised) merupakan
masalah adaptasi karena kedua proses integrasi dan kompensasi tidak adekuat
(Roy, 2009).
e.
Intervensi
Keperawatan
Intervensi
keperawatan merupakan langkah ke lima dari proseskeperawatan yang melibatkan
penentuan bagaimana cara yang baik membantu individu dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Fokus pendekatan intervensi keperawatan yaitu meningkatkan
adaptasi individu dengan merubah stimulus atau memperkuat proses adaptasi
melalui perawatan fisik, anticipatory guidance, pendidikan kesehatan dan
konseling
f.
Evaluasi
Evaluasi
keperawatan merupakan tahap terakhir dari proseskeperawatan yang melibatkan
penilaian efektifitas intervensikeperawatan. Intervensi efektif jika pasien
menunjukkanperilaku sesuai dengan tujuan yang diharapkan (Roy, 2009).Evaluasi
dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan terhadap kemajuan adaptasi
pasien dalam mencapai kriteria NOC yang telah ditetapkan.
3. Konsep
Madeleine Leininger (Transcultural
Nursing)
Transcultural nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya
pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit
didasarkanpada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini
digunakanuntuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau
keutuhanbudaya kepada manusia (Leininger, 2002). Model teori transcultural nursing ini
termasuk dalam perkembangan teori midle
theory range.
Pengembangan teori transcultural bertujuan
untuk menemukan cara bagaimana perawat mampu memberikan kepedulian terhadap
masyarakat yang mempunyai nilai dan cara hidup yang berbeda-beda antar satu
dengan yang lainnya. Teori ini didesain
untuk memandu perawat dalam menyediakan pelayanan keperawatan yang tidak hanya
berpusat pada interaksi perawat-klien tetapi juga berfokus pada kepedulian
keluarga, kelompok, masyarakat, dan budaya.
Menurut J.N Giger dan Davidhizar konsep dan
prinsip transcultural nursing dalam asuhan keperawatan ada beberapa, antara
lain:
a. Budaya
(cultur) adalah keseluruhan nilai, kepercayaan, norma, dan cara hidup yang
dipelajari, dibagi dan ditransmisikan dalam kelompok tertentu yang menuntun
mereka dalam berpikir, mengambil keputusan dan bertindak dalam pola tertentu. Budaya
melekat dalam: bahasa, agama, sosial, politik, pendidikan, ekonomi, teknologi,
lingkungan.
b. Nilai
budaya adalah keinginan atau tindakan individu yang lebih diutamakan dan dipertahankan pada suatu waktu tertentu untuk
melandasi semua tindakan dan keputusannya.
c. Cultur
care diversity (perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan) keragaman budaya
adalah suatu bentuk ideal dari asuhan keperawatan yang digunakan sebagai
landasan dalam memberikan asuhan keperawatan yang bervariasi yang berdasarkan
penghargaan budaya, kepercayaan, dan tindakan individu.
d. Cultural
care universality (Kesamaam dalam perawatan kultural) mengacu kepada kesamaan
pengertian atau pemahaman umum terhadap pola, nilai, cara hidup maupun symbol
dari berbagai budaya serta merefleksikan ke dalam pemberian bantuan, dukungan,
atau fasilitas yang memungkinkan untuk menolong orang lain.
e. Etnosentris
adalah persepsi yang dimiliki individu yang menganggap bahwa budayanya adalah
yang terbaik diantara budaya yang dimiliki orang lain.
f. Etnis
berkaitan dengan manusia dari ras atau kelompok budaya tertentu yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan tertentu.
g. Ras
adalah perbedaan manusia yang didasarkan pada pendiskriditan asal muasal
manusia.
h. Etnografi
adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian
etnografi memungkinkan perawat mengembangkan kesadaran yang tinggi pada
perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
i.
Care adalah fenomena yang
berhubungan dengan pemberian bimbingan, bantuan, serta dukungan terhadap
individu, keluarga, maupun kelompok dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan baik
aktual maupun potensial untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
j.
Caring adalah tindakan
langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu,
keluarga atau kelompok baik dalam keadaan actual maupun potensial untuk
meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
k. Cultural
Care berhubungan dengan kemampuan kognitif seseorang untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing, mendukung atau
memberi kesempatan terhadap individu, keluarga maupun kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan, dan
mencapai kematian dengan damai.
l.
Culturtal imposition
berhubungan dengan kecenderungan seseorang untuk memaksakan kepercayaan,
praktik dan nilai budaya terhadap orang lain karena percaya bahwa budaya yang
dimilikinya lebih baik daripada budaya orang lain.
Leininger mengartikan paradigma keperawatan
transkultural sebagai cara pandang, keyakinan, nilai, konsep-konsep dalam
terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya
terhadap empat konsep sentral keperawatan (Andrew and Boyle, 1995), yaitu :
manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan.
a. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok
yang memiliki sekumpulan nilai dan norma yang diyakini dan berguna untuk
menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia
berada.
b. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang
dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat dan
sakit.Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks
budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang
dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai
tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang
sehat-sakit yang adaptif.
c. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan
fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku
klien.Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien
dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu :
fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau
diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat
dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena
tidak pernah ada matahari sepanjang tahun.Lingkungan sosial adalah keseluruhan
struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau
kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas.Di dalam lingkungan sosial individu
harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan
tersebut.Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat
hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau
rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai
dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan
individu sesuai dengan budaya klien.
4.
Konsep
Self Care Defisit Dorotea A. Orem
Berbagai
model konseptual didunia keperawatan
yang telah dikembangkan oleh para ahli, salah satunya adalah teori Self
Care Defisit oleh Dorothea Orem. Fokus utama dari model konseptual ini
adalah kemampuan seseorang untuk merawat dirinya sendiri secara mandiri
sehingga tercapai kemampuan untuk mempertahankan kesehatan dan
kesejahteraannya. Teori ini juga merupakan suatu landasan bagi perawat dalam
memandirikan klien sesuai tingkat ketergantungannya bukan menempatkan klien
dalam posisi dependent, karena
menurut Orem, self care itu bukan
proses intuisi tetapi merupakan suatu prilaku yang dapat dipelajari.
Orem
mengembangkan Teori Keperawatan Self-Care
Deficit (teori umum) terdiri dari 3 teori yang saling berhubungan, yaitu:
a.
Theory Self-Care
b.
Theory Self-Care Deficit
c.
Theory of nursing systems.
Didalam
3 teori tersebut dimasukkan 6 konsep sentral dan satu konsep tambahan. Konsep
sentral tersebut adalah : konsep self-care,unsur
self-care, kebutuhan self-care yang terapeutik, self-care deficit, unsur keperawatan dan
system keperawatan, sebagaimana konsep tambahan dari faktor-faktor kondisi
dasar yang paling penting untuk memahami teori umum Orem.
a. Self Care
Self care adalah performance atau praktek
kegiatan dari individu untuk berinisiatif dan membentuk prilaku mereka dalam
memelihara kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya. Jika self care dibentuk dengan efektif maka hal tersebut akan membantu
membentuk integritas struktur dan fungsi manusia dan erat kaitannya dengan
perkembangan manusia.
Didalam mencapai perawatan mandiri
ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.Syarat perawatan itu sendiri diartikan
sebagai tujuan yang harus dicapai melalui berbagai usaha perawatan.
Syarat-syarat ini dikelompokkan menjadi :
1) Syarat umum perawatan sendiri (Universal
self care requisites)
Merupakan
hal umum bagi seluruh manusia meliputi pemenuhan kebutuhan udara, air, makanan,
kebersihan, aktifitas dan istirahat, menyendiri dan interaksi sosial,
pencegahan dari bahaya, dan pengenalan fungsi mahluk hidup. Delapan
syarat-syarat ini akan mempengaruhi perbuatan manusia yang akan membawa pada
kondisi internal dan eksternal yang dapat mempertahankan fungsi dan struktur
manusia, yang pada akhirnya akan mendukung
pertumbuhan manusia dan kedewasaannya. Jika hal ini tersedia secara
efektif, perawatan diri atau perawatan bergantung yang terorganisir seputar
syarat-syarat universal perawatan mandiri membantu perkembangan positif bagi
kesehatan dan kesejahteraan.
2) Syarat perkembangan perawatan
sendiri (Developmental self
carerequisites)
Adalah
bagaimana mempelajari proses-proses kehidupan, pendewasaan, dan pencegahan
terhadap kondisi-kondisi yang merusak kedewasaan atau dapat mengurangi
efek-efek tersebut. Masing-masing tahap perkembangan manusia mulai dari fetal
termasuk kelahiran, neonatal, infant, anak-anak dan remaja, dewasa, kehamilan
pada remaja maupun dewasa memiliki karakteristik kebutuhan perawatan diri yang
berbeda-beda. Kemampuan perawatan diri yang mandiri atau ketergantungan sesuai
tahapannya sangat mempengaruhi proses perkembangan yang pada akhirnya akan
mempengaruhi kondisi kesehatan dan kesejahteraan.
3) Syarat deviasi kesehatan perawatan
sendiri (Health deviation self
carerequisites)
Biasa
disebut juga dengan self-care needs.
Adalah bagaimana memenuhi kebutuhan manusia dengan menghubungkan faktor genetik
dan gangguan yang menetap, gangguan struktur dan fungsi manusia atau
ketidakmampuan, atau efek dari pengobatan dan tindakan. Orem (2007) menyebutkan
bahwa self-care needs memiliki tiga
kategori yaitu: (1) Universal, adalah
kebutuhan yang dimiliki oleh setiap individu, (2) Developmental, yaitu kebutuhan yang diakibatkan adanya maturasi
atau perkembangan dari suatu kondisi, dan (3) Health Deviation, yaitu kebutihan yang diakibatkan karena adanya
suatu penyakit, injury, kondisi sakit maupun perawatannya.
Penyakit
atau luka tidak hanya berpengaruh pada mekanisme-mekanisme struktur spesifik
secara fisiologis atau psikologis tetapi juga bersatu dengan fungsi
kemanusiaan. Bukti deviasi-deviasi kesehatan membawa tuntutan apa yang harus
dilakukan untuk memulihkan ke keadaan normal. Jika orang-orang dengan
deviasi-deviasi kesehatan menjadi kompeten dalam mengatur sistem perawatan
mandiri maka mereka harus dapat menerapkan pengetahuan medis yang relevan bagi
perawatan mereka sendiri.
Terkait
dengan upaya untuk mencapai kemandirian memenuhi syarat-syarat deviasi
kesehatan perawatan diri maka muncul totalitas upaya-upaya perawatan sendiri
yang ditampilkan untuk beberapa waktu agar menemukan cara dan metode-metode
yang valid dan berhubungan dengan perangkat operasi atau penanganan atau
dikenal dengan istilah terapi kebutuhan perawatan sendiri (therapeutic
self care demand).
b. Ketidakmampuan Perawatan Mandiri (Self Care Deficit)
Alligood
(2014) Self Care Deficit adalah suatu
kondisi manakala seseorang mengalami ketidakmampuan atau ketidakpedulian pada
dirinya sendiri. Ketidakmampuan klien ini memerlukan agen keperawatan yang
mempunyai kemampuan khusus untuk memberikan perawatan yang akan menggantikan
kerugian atau memberikan bantuan dalam mengatasi penurunan kesehatan
Terkait
hal tersebut dikenal adanya agen keperawatan yang mempunyai kemampuan khusus
yang memungkinkan mereka memberikan perawatan yang akan menggantikan kerugian
atau bantuan dalam mengatasi turunan kesehatan atau perawatan mandiri. Agen
keperawatan (Nursing agency) yaitu
karakteristik orang yang mampu memenuhi
status perawatan dalam kelompok-kelompok sosial. Sementara itu Orem
menyebutkan juga bahwa self care agency
adalah individu yang dapat memberikan bantuan dalam kegiatan perawatan diri.
Ada tambahan tiga istilah yang berhubungan dengan ”Self care agency”,yaitu ”agent”,
”self care agent”, ”dependent care agent”. ”Agent” adalah orang yang mengambil tindakan.”Self care agent” adalah penyedia perawatan mandiri.“Dependent care agent” adalah
penyelenggara perawatan (misalnya keluarga).
c.
Sistem-sistem Keperawatan (Nursing Systems)
Sistem-sistem
keperawatan dibentuk ketika para perawat menggunakan kemampuan-kemampuan mereka
untuk menetapkan, merancang, dan memberikan perawatan kepada pasien (sebagai
individu atau kelompok) Aksi-aksi ini atau sistem-sistem keperawatan ini
mengatur nilai kemampuan atau latihan kemampuan individu dihubungkan dengan self
care dan mempertemukan syarat-syarat perawatan sendiri bagi individu dengan
cara terapi yang tepat.
5. Konsep
Health Promotion Model Nola J. Pender
Model promosi
kesehatan adalah kemiripan yang dipakai untuk model kepercayaan kesehatan, yang
menjelaskan perilaku pencegahan penyakit.Tetapi model promosi kesehatan ini
berbeda dari model kepercayaan kesehatan seperti rasa takut atau ancaman
sebagai sumber motivasi dalam perilaku kesehatan.Model promosi kesehatan untuk
memperluas jangkauan yaitu perilaku untuk meningkatkan kesehatan dan berlaku
diseluruh rentang hidup.
Model promosi
kesehatan ini mengambarkan sifat multi dimensi orang karena mereka berinteraksi
dalam lingkungan mereka untuk mengejar kesehatan.Dimana titik akhir dari model
promosi kesehatan adalah hasil dari perilaku.Perilaku mempromosikan kesehatan
harus menghasilkan perbaikan kesehatan, kemampuan fungsional ditingkatkan,
kualitas hidup yang baik dalam semua tahap pembangunan.
Health promotion
model ini mengabungkan dua teori yaitu teori dari nilai pengharapan
(expetancy-value) dan teori pembelajaran sosial (social cognitif theory)
dipandang dari perspektif keperawatan manusia sebagai fungsi holistik.Teori
nilai harapan yaitu perilaku sehat bersifat rasional dan ekonomis. Dimana
sesorang akan mulai bertindak dan tetap mempertahankan perilakunya dengan cara
meningkatkan hasil yang ingin dicapai yang disebut hasil tindakan bernilai
positif dan pengambilan tindakan untuk menyempurnakan hasil yang diinginkan.
Sedangkan, teori kognitif sosial adalah model interaksi antara lingkungan,
manusia dan perilaku yang saling mempengaruhi.Teori kognitif sosial menekankan
bagaimana pengarahan diri (self direction), pengaturan diri (self regulation) dan
persepsi terhadap kemampuan diri (self efficacy).
Konsep Utama
model health promotion model adalah :
a.
Prior
Related Behavior
Karakteristik
yang sama atau perilaku yang sama sebelumnya baik langsung maupun tidak
langsung akan mempengaruhi perilaku untuk mempromosikan kesehatan
b.
Personal
Factors
Kategori seperti
biologi, psikologi dan sosial kultural sebagai faktor prediktif tentang perilaku tertentu yang dibentuk oleh sifat
dalam diri manusia itu sendiri.
c.
Personal
Biological Factors
Yang termasuk
faktor biologis adalah umur, jenis kelamin, berat badan, status puberitas,
status menopause, kapasitas aerobik, kekuatan, kelincahan dan keseimbangan.
d.
Personal
Psycological Factors
Yang termasuk
dalam faktor psikologis adalah self esteem, motivasi diri dan kompetensi
personal, status kesehatan dan pengeritian tentang kesehatan.
e.
Personal
Sociocultural Factors
Faktor sosial
kultural seperti suku-etnis, alkulturasi, pendidikan dan status sosial ekonomi.
f.
Perceived
Benefits of Action
Manfaat yang
dirasakan dari hasil positif dari tindakan merupakan hasil dari perilaku
kesehatan
g.
Perceived
Barriers to Action
Hambatan
dianggap sebagai tindakan antisipasi atau adanya blok dalam melakukan suatu
perilaku tertentu. Hambatan yang kemungkinan terjadi ketidaksediaan, mahal.Rintangan
merupakan sikap yang langsung menghalangi kegiatan pengurangan komitmen rencana
kegiatan.
h.
Perceived
Self-Efficacy
Penilaian
kemampuan pribadi untuk mengatur dan melaksanakan perilaku promosi kesehatan
i.
Activity-Related
Affect.
Sikap yang berhubungan
dnegan aktivitas yaitu emosi yang timbul dari kegiatan tersebut, tindakan pada
diri sendiri, linkungan dimana kegiatan tersebut berlangsung,
j.
Interpersonal
Influences
Pengaruh
interpersonal didefiniskan sebagi perilaku, kepercayaan dan sikap orang lain.
Sumber utama dari pengaruh interpersonal adalah keluarga, kelompok, pemberi
pelayanan kesehatan. Pengaruh interpersonal terdiri dari norma, dukungan
sosial, dan model.
k.
Situational
Influences
Pengaruh
situasi dapat memfasilitasi dan mempengarui perilaku
seperti karakteristik demam, lingkungan yang cocok, aman dan tentram. Situasi
juga dapat mempengaruhi perilaku seperti mengubah lingkungan bebas dari asap
rokok.
l.
Commitment
to a plan of action
Komitmen
mengambarkan adanya kemauan untuk mengidentifikasi strategi rencana dan
implementasi dari perilaku kesehatan.
m.
Immediate
Competing Demans and Preferences
Kebutuhan
mendesak sehingga tindakan kemungkinan
dilakukan segera sebelum kejadian terjadi.
n.
Health-Promoting
Behavior
Perilaku promosi
kesehatan merupakan tindakan akhir atau hasil akhir dari suatu tindakan yang
ditujukan untuk pencapaian hasil kesehatan positif untuk klien. Contoh: memilih
makanan yang mengandung protein tiggi.
Model promosi
kesehatan didasarkan pada proporsi teoritia sebagai berikut :
a.
Perilaku
sebelum dan diwariskan dan diperoleh karakteristik mempengaruhi keyakinan,
mempengaruhi, dan diberlakukannya perilaku kesehatan-mempromosikan.
b.
Orang
berkomitmen agar terlibat dalam perilaku dimana mereka mengantisipati nilai dari manfaat
c.
Hambatan
yang dirasakan dapat menghambat komitmen untuk bertindak, mediator perilaku
serta perilaku yang sebenarnya.
d.
Dirasakan
kompetensi atau self-efficacy untuk melaksanakan perilaku tertentu meningkatkan
kemungkinan komitmen untuk bertindak dan kinerja aktual dari perilaku.
e.
Lebih
besar dirasakan hasil self-efficacy hambatan yang dirasakan lebih sedikit untuk
perilaku kesehatan tertentu.
f.
Berdampak
positif terhadap hasil perilaku secara lebih dirasakan self-efficacy, yang pada
gilirannya, menyebabkan peningkatan berdampak positif.
g.
Ketika
emosi positif atau mempengaruhi berhubungan dengan perilaku, kemungkinan
komitmen dan tindakan meningkat.
h.
Orang
lebih cenderung untuk berkomitmen dan terlibat dalam perilaku
kesehatan-mempromosikan ketika orang lain yang signifikan model perilaku,
mengharapkan perilaku terjadi, dan memberikan bantuan dan dukungan untuk
mengaktifkan perilaku.
i.
Keluarga,
teman sebaya, dan penyedia layanan kesehatan adalah sumber penting dari
pengaruh antar pribadi yang dapat meningkatkan atau menurunkan komitmen dan
keterlibatan dalam perilaku kesehatan-mempromosikan.
j.
Pengaruh
situasional dalam lingkungan eksternal dapat meningkatkan atau menurunkan
komitmen atau partisipasi dalam perilaku kesehatan-mempromosikan.
k.
Semakin
besar komitmen untuk rencana spesifik tindakan, perilaku
kesehatan-mempromosikan lebih mungkin harus dipertahankan dari waktu ke waktu.
l.
Komitmen
terhadap rencana aksi kurang cenderung menghasilkan perilaku yang diinginkan
saat berlaga tuntutan di mana orang-orang memiliki sedikit kontrol membutuhkan
perhatian segera.
m.
Komitmen
terhadap rencana aksi kurang cenderung menghasilkan perilaku yang diinginkan
ketika tindakan lain yang lebih menarik dan dengan demikian lebih disukai
daripada perilaku sasaran.
n.
Orang
dapat memodifikasi kognisi, mempengaruhi, dan lingkungan interpersonal dan
fisik untuk menciptakan insentif bagi tindakan kesehatan.
1.
Pengertian Komunikasi
Terapeutik pada Anak
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan secara
sadar,bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik pada anak adalahkomunikasi yang
dilakukan antara perawat dan klien (anak), yang direncanakan secara sadar ,
bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan anak.
Komunikasi
dengan anak berdasarkan usia tumbuh kembang, antara lain :
a.
Usia Bayi (0-1 tahun)
Komunikasi pada bayi yang umumnya dapat dilakukan adalah dengan melalui
gerakan-gerakan bayi, gerakan tersebut sebagai alat komunikasi yang efektif, di
samping itu komunikasi pada bayi dapat dilakukan secara non verbal.
Perkembangan komunikasi pada bayi dapat dimulai dengan kemampuan bayi untuk
melihat sesuatu yang menarik, ketika bayi digerakkan maka bayi akan berespons
untuk mengeluarkan suara-suara bayi. Perkembangan komunikasi pada bayi tersebut
dapat dimulai pada usia minggu ke delapan dimana bayi sudah mampu untuk melihat
objek atau cahaya, kemudian pada minggu kedua belas sudah mulai melakukan
tersenyum. Pada usia ke enam belas bayi sudah mulai menolehkan kepala pada
suara yang asing bagi dirinya. Pada pertengahan tahun pertama bayi sudah mulai
mengucapkan kata-kata awal seperti ba-ba, da-da, dan lain-lain. Pada bulan ke
sepuluh bayi sudah bereaksi terhadap panggilan terhadap namanya, mampu melihat
beberapa gambar yang terdapat dalam buku. Pada akhir tahun pertama bayi sudah
mampu mengucapkan kata-kata yang spesifik antara dua atau tiga kata.
Selain melakukan komunikasi seperti di atas terdapat cara komunikasi yang
efektif pada bayi yakni dengan cara menggunakan komunikasi non verbal dengan
tehnik sentuhan seperti mengusap, menggendong, memangku, dan lain-lain.
b.
Usia Todler dan Pra Sekolah (1-2,5 tahun, 2,5-5
tahun)
Perkembangan komunikasi pada usia ini dapat ditunjukkan dengan perkembangan
bahasa anak dengan kemampuan anak sudah mampu memahami kurang lebih sepuluh
kata, pada tahun ke dua sudah mampu 200-300 kata dan masih terdengan kata-kata
ulangan.
Pada anak usia ini khususnya usia 3 tahun anak sudah mampu menguasai
sembilan ratus kata dan banyak kata-kata yang digunakan seperti mengapa, apa,
kapan dan sebagainya. Komunikasi pada usia tersebut sifatnya sangat egosentris,
rasa ingin tahunya sangat tinggi, inisiatifnya tinggi, kemampuan bahasanya
mulai meningkat, mudah merasa kecewa dan rasa bersalah karena tuntutan tinggi,
setiap komunikasi harus berpusat pada dirinya, takut terhadap ketidaktahuan dan
perlu diingat bahwa pada usia ini anak masih belum fasih dalam berbicara
(Behrman, 1996).
Pada usia ini cara berkomunikasi yang dapat dilakukan adalah dengan memberi
tahu apa yang terjadi pada dirinya, memberi kesempatan pada mereka untuk
menyentuh alat pemeriksaan yang akan digunakan, menggunakan nada suara, bicara
lambat, jika tidak dijawab harus diulang lebih jelas dengan pengarahan yang
sederhana, hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata-kata “jawab
dong”, mengalihkan aktivitas saat komunikasi, memberikan mainan saat komunikasi
dengan maksud anak mudah diajak komunikasi dimana kita dalam berkomunikasi
dengan anak sebaiknya mengatur jarak, adanya kesadaran diri dimana kita harus
menghindari konfrontasi langsung, duduk yang terlalu dekat dan berhadapan.
Secara non verbal kita selalu memberi dorongan penerimaan dan persetujuan jika
diperlukan, jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak, bersalaman dengan
anak merupakan cara untuk menghilangkan perasaan cemas, menggambar, menulis
atau bercerita dalam menggali perasaan dan fikiran anak si saat melakukan
komunikasi.
c.
Usia Sekolah (5-11 tahun)
Perkembangan komunikasi pada anak usia ini dapat dimulai dengan kemampuan
anak mencetak, menggambar, membuat huruf atau tulisan yang besar dan apa yang
dilaksanakan oleh anak mencerminkan pikiran anak dan kemampuan anak membaca
disini sudah muncul, pada usia ke delapan anak sudah mampu membaca dan sudah
mulai berfikir tentang kehidupan.
Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia sekolah ini adalah tetap masih
memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak yaitu menggunakan kata-kata
sederhana yang spesifik, menjelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada
anak atau sesuatu yang tidak diketahui, pada usia ini keingintahuan pada aspek
fungsional dan prosedural dari objek tertentu sangat tinggi. Maka jelaskan
arti, fungsi dan prosedurnya, maksud dan tujuan dari sesuatu yang ditanyakn
secara jelas dan jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak
tidak mampu berkomunikasi secara efektif.
d.
Usia Remaja (11-18
tahun)
Perkembangan komunikasi pada usia remaja ini ditunjukkan dengan kemampuan
berdiskusi atau berdebat dan sudah mulai berpikir secara konseptual, sudah
mulai menunjukkan perasaan malu, pada anak usia sering kali merenung kehidupan
tentang masa depan yang direfleksikan dalam komunikasi. Pada usia ini pola
pikir sudah mulai menunjukkan ke arah yang lebih positif, terjadi
konseptualisasi mengingat masa ini adalah masa peralihan anak menjadi dewasa.
Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia ini adalah berdiskusi atau curah
pendapat pada teman sebaya, hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan
rasa malu dan jaga kerahasiaan dalam komunikasi mengingat awal terwujudnya
kepercayaan anak dan merupakan masa transisi dalam bersikap dewasa.
2.
Tujuan Komunikasi
Terapeutik pada Anak
Adapun tujuan yang diharapkan dalam
melakukan komunikasi terapeutik pada anak adalah :
a.
Membantu anak untuk
memperjelas dan mengurangi bebanperasaan dan pikiran serta dapat mengambil
tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien percaya pada hal- hal yang
diperlukan.
b.
Mengurangi keraguan ,
membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan
kekuatan egonya.
c.
Mempengaruhi orang lain ,
lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
3.
Prinsip Dasar
Komunikasi Terapeutik pada Anak
Prinsip-prinsip
komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers, seperti :
a.
Perawat harus mengenal
dirinya sendiri yang berarti menghayati,memahami dirinya sendiri serta nilai
yang dianut.
b.
Komunikasi harus ditandai
dengan sikap saling menerima percaya,dan menghargai.
c.
Perawat harus memahami
dan menghayati nilai yang dianut oleh klien
d.
Perawat harus menyadari
pentingnya kebutuhan klien baik fisik maupun mental.
e.
Perawat harus menciptakan suasana
yang memungkinkan klien bebas berkembang tanpa rasa takut.
f.
Perawat harus menciptakan
suasana yang memungkinkan klien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik
sikap,tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah
- masalah yang dihadapi.
g.
Perawat harus mampu
menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi
perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan ,maupun frustasi.
h.
Mampu menentukan batas
waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
i.
Memahami betul arti
empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan
yang terapeutik.
j.
Kejujuran dan komunikasi
terbuka merupakan dasar hubungan komunikasi terapeutik.
k.
Mampu berperan sebagai
role model.
l.
Disarankan untuk
mengekspresikan perasaan bila di anggap mengganggu.
m.
Altruisme, mendapatkan
kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
n.
Berpegang pada etika.
o.
Bertanggung jawab
dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang
dilakukan dan tanggungjawab terhadap orang lain.
4.
Tahapan dalam Komunikasi dengan Anak
Dalam
melakukan komunikasi pada anak terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan
sebelum mengadakan komunikasi secara langsung, tahapan ini sangat meliputi
tahap awal ( pra interaksi ), tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan
tahap terakhir yaitu tahap terminasi.
a.
Tahap Prainteraksi
Pada tahap pra interaksi ini
yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan data tentang klien dengan
mempelajari status atau bertanya kepada orang tua tentang masalah atau latar
belakang yang ada, mengeksplorasi perasaan, proses ini akan mengurangi
kekurangan dalam saat komunikasi dengan cara mengeksplorasikan perasaan apa
yang ada pada dirinya, membuat rencana pertemuan dengan klien, proses ini
ditunjukkan dengan kapan komunikasi akan dilakukan, dimana dan rencana apa yang
dikomunikasikan serta target dan sasaran yang ada.
b.
Tahap Perkenalan atau Orientasi
Tahap ini yang dapat kita
lakukan adalah memberikan salam dan senyum pada klien, melakukan validasi
(kognitif, psikomotorik, afektif), mencari kebenaran data yang ada dengan
wawancara, mengobservasi atau pemeriksaan ang lain, memperkenalkan nama kita
denga tujuan agar selalu ada yang memperhatikan terhadap kebutuhannnya,
menanyakan nama panggilan kesukaan klien karena akan mempermudah dalam
berkomunikasi dan lebih dekat, menjelaskan tanggung jawab perawat dan klien,
menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, menjelaskan tujuan, menjelaskan waktu
yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dan menjelaskan kerahasiaan.
c.
Tahap Kerja
Pada tahap ini kegiatan yang
dapat kia lakukan adalah memberi kesempatan pada klien untuk bertanya, karena
akan memberitahu tentang hal-hal yang kurangdimengerti dalam komunikasi,
menanyakan keluhan utama, memulai kegiatan dengan cara yang baik dan melakukan
kegiatan sesuai dengan rencana.
d.
Tahap Terminasi
Pada tahap terminasi dalam
komunikasi ini kegiatan yang dapat kita lakukan adalah menyimpulkan hasil
wawancara meliputi evaluasi proses dan hasil, memberikan re-inforcement
positif, merencanakan tindak lanjut dengan klien, melakukan kontrak (waktu,
tempat, dan topik) dan mengakhiri wawancara dengan cara yang baik.
5.
Teknik – Teknik
Komunikasi Terapeutik pada Anak
Anak merupakan
individu yang unik, dalam melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien anak
dibutuhkan teknik khusus agar hubungan yang dijalankan dapat berlangsung dengan
baik sesuai dengan tumbuh kembang anak.
a.
Teknik Verbal
1)
Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara
berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh anak dalam menumbuhkan kepercayaan
diri anak, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi dengan melibatkan
orang tua secara langsung yang sedang berada di samping anak. Selain itu dapat
digunakan cara dengan memberikan komentar tentang mainan, baju yang sedang
dipakainya serta hal lainnya, dengan catatan tidak langsung pada pokok
pembicaraan.
2)
Bercerita
Melalui cara
ini pesan yang akan disampaikan kepada anak dapat mudah diterima, mengingat
anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang disampaikan hendaknya
sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang dapat diekspresikan melalui
tulisan maupun gambar.
3)
Memfasilitasi
Memfasilitasi
anak adalah bagian cara berkomunikasi, melalui ini ekspresi anak atau respon
anak terhadap pesan dapat diterima. Dalam memfasilitasi kita harus mampu
mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan, tetapi anak harus diberikan
respons terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan dengan penuh
perhatian dan jangan merefleksikan ungkapan negatif yang menunjukkan kesan yang
jelek pada anak.
4)
Biblioterapi
Melalui
pemberian buku atau majalah dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan,
dengan menceritakan isi buku atau majalah yang sesuai dengan pesan yang akan
disampaikan kepada anak.
5)
Meminta untuk menyebutkan keinginan
Ungkapan ini
penting dalam berkomunikasi dengan anak, dengan meminta anak untuk menyebutkan
keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang dirasakan anak dan keinginan
tersebut dapat menunjukkan perasaan dan pikiran anak pada saat itu.
6)
Pilihan pro dan kontra
Penggunaan
teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukan atau mengetahui perasaan
dan pikiran anak, dengan mengajukan pasa situasi yang menunjukkan pilihan yang
positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
7)
Penggunaan skala
Penggunaan
skala atau peringkat ini digunakan dalam mengungkapkan perasaan sakit pada anak
seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan lain-lain, dengan
menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.
b.
Teknik Non Verbal
Teknik
komunikasi non verbal dapat digunakan pada anak- anak seperti :
1)
Menulis
Menulis adalah
suatu alternatif pendekatan komunikasi bagi anak, remaja muda dan pra remaja.
Untuk memulai suatu percakapan perawat dapat memeriksa/ menyelidiki tentang
tulisan dan mungkin juga meminta untuk membaca beberapa bagian. Dengan menulis
anak-anak lebih riil dan nyata.
2)
Menggambar
Menggambar adalah salah
satu bentuk komunikasi yang berharga melalui pengamatan gambar. Dasar asumsi
dalam menginterpretasi gambar adalah bahwa anak- anak mengungkapakan tentang
dirinya. Untuk mengevaluasi sebuah gambar utamakan/fokuskan pada unsur-unsur
sebagai berikut :
a)
Ukuran dari bentuk badan
individu, ini mengekspresikan orang penting.
b)
Urutan bentuk gambar,
mengekspresikan prioritas kepentingan
c)
Posisi anak terhadap
anggota keluarga lainnya, mengekspresikan perasaan anak terhadap status dalam
keluaraga atau ikatan keluarga.
d)
Bagian adanya hapusan,
bayangan atau gambar silang, mengekspresikan ambivalen/ pertentangan,
keprihatinan atau kecemasan pada hal- hal tertentu.
3)
Gerakan gambar keluarga
Menggambarkan
suatu kelompok, berpengaruh pada perasaan anak-anak dan respon emosi, dia akan
menggambarkan pikirannya tentang dirinya dan anggota keluarga yang lainnya.
Gambar kelompok yang paling berharga bagi anak adalah gambar keluarga.
4)
Sosiogram
Menggambar tak
perlu dibatasi bagi anak- anak, dan jenis gambar yang berguna bagi anak- anak
seusia 5 tahun adalah sosiogram (gambar ruang kehidupan) atau lingkungan
keluarga. Menggambar suatu lingkaran adalah untuk melambangkan orang-orang yang
hampir mirip dalam kehidupan anak, dan gambar bundaran- bundaran didekat
lingkaran menunjukkan keakraban/ kedekatan.
5)
Menggambar bersama dalam keluarga
Salah satu
teknik yang berguna dan dapat diterapkan pada anak- anak adalah menggambar bersama
dalam keluarga. Menggambar bersama dalam keluarga merupakan satu alat yang
berguna untuk mengungkapkan dinamika dan hubungan keluarga.
6)
Bermain
Bermain
merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk berhubungan dengan anak.
Dengan bermain dapat dikumpulkan petunjuk mengenai tumbuh kembang fisik,
intelektual dan sosial. Terapeutik play sering digunakan untuk mengurangi
trauma akibat sakit atau masuk rumah sakit atau untuk mempersiapkan anak
sebelum dilakukan prosedur medis/ perawatan.
6.
Tekhnik Komunikasi dengan Orang Tua Anak
Komunikasi
dengan orang tua adalah salah satu hal yang penting dalam perawatan anak,
mengingat pemberian asuhan keperawatan pada anak selalu melibatkan peran orang
tua yang memiliki peranan penting dalam mempertahankan komunikasi dengan anak.
Untuk
mendapatkan informasi tentang anak sering kita mengobservasi secara langsung
atau berkomunikasi dengan orang tua. Ada beberapa hal yang harus kita
perhatikan dalam komunikasi dengan orang tua diantaranya:
a.
Anjurkan Orang Tua untuk Berbicara
Kita dalam melakukan
komunikasi dengan orang tua, jangan hanya peran kita sebagai pemberi informasi
saja akan tetapi bagaimana kita merspons atau mengajak agar orang tua yang kita
ajak komunikasi mampu untuk memberikan suatu pesan atau informasi yang
dimiliki, kemampuan inilah yang seharusnya kita kembangkan sehingga komunikasi
agar berjalan terus dan efektif serta tujuan yang kita inginkan dalam
komunikasi dapat tercapai.
b.
Arahkan ke Fokus
Dalam melakukan komunikasi
dengan orang tua anak arahkan pokok pembicaraan kita ke fokus sambil memberi
kesempatan pada orang tua untuk mengekspresikan perasaannya secara bebas
sehingga tujuan komunikasi dapat mencapai sasaran. Mengarahkan ke fokus itu
salah satu bagian dalam mencapai komunikasi yang efektif.
c.
Mendengarkan
Mendengarkan
adalah kunci untuk mencapai komunikasi yang efektif, kemampuan mendengarkan
dapat ditunjukkan dengan ekspresi yang sungguh-sungguh saat berkomunikasi
dengan tujuan untuk mengerti klien. Selain itu dengan mendengarkan kita akan
mendapatkan seluruh informasi yang didapatkan sehingga tidak ada yang hilang
atau tertinggal informasi yang akan disampaikan.
d.
Diam
Diam adalah cara yang dapat
digunakan dalam komunikasi dengan diam sebentar dapat memberikan kesempatan
kepada seseorang yang kita ajak komunikasi untuk memberikan kebebasan dalam
mengekspresikan perasaannya dan memberikan kesempatan berpikir terhadap sesuatu
yang hendak disampaikan.
e.
Empati
Cara ini dilakukan dengan
mencoba merasakan apa yang dirasakn oleh orang tua anak, dengan demikian orang
tua anak akan merasa aman dan diperhatikan. Cara komunikasi ini juga sangat
terkait dengan sikap saat komunikasi.
f.
Meyakinkan Kembali
Meyakinkan kembali merupakan
cara yang dapat diberikan agar proses dan hasil komunikasi dapat diterima pada
klien hal ini adalah orang tua. Pada dasarnya semua orang tua ingin menjadi
orang tua terbaik, tetapi pada saat anak sakit dapat terjadi kecemasan tentang
peran dan fungsinya, maka yakinkan kembali akan peran dan fungsinya sebagai orang
tua.
g.
Merumuskan Kembali
Dalam mencapai tujuan
pemecahan masalah kita dan orang tua anak harus sepakat terhadap masalah yang
muncul kadang-kadang pada rang tua, dengan merumuskan kembali beberapa
permasalahan dan cara pemecahan bersama akan memberikan dampak dalam mengurangi
kecemasan atau kekhawatiran.
h.
Memberi Petunjuk Kemungkinan Apa yang
Terjadi
Melalui komunikasi beberapa
petunjuk tentang kemungkinan masalah apa yang terjadi dapat diinformasikan
terlebih dahulu untuk mengantisipasi tentang kemungkinan hal yang terjadi
sehingga orang tua tahu dan siap bila masalah itu muncul.
i.
Menghindari Hambatan dalam Komunikasi
Menghindari hambatan dalam
komunikasi seperti melakukan komunikasi secara asertif dengan orang tua
merupakan salah satu cara efektif dalam komunikasi, karena hambatan selama
komunikasi akan memberiakn dampak tidak berjalannya suatu proses komunikasi
seperti terlalu banyak memberi saran, cepat mengambil keputusan, megubah pokok
pembicaraan, membatasi pertanyaan atau terlalu banyak memberikan pertanyaan
tertutup dan menyela pembicaraan sebelum pembicaraan selesai.
Komentar
Posting Komentar