TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

MAKALAH PERADANGAN PADA SISTEM DIGESTIVE : ATRESIA ANI ATAU IMPERFORATA ANUS



BAB 1
PENDAHULUAN

A.     Latar belakang
Atresia ani atau anus imperporata adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang luar (Wong,2004). Sebagian besar prognosis atresia ani biasanya baik bila tidak didukung perawatan yang tepat dan juga tergantung kelalaian letak anatomi saat lahir. Atresia ani bila tidak segera ditangani maka dapat terjadi komplikasi seperti obstruksi intestinal, kontipasi dan inkontinensia feses.
Kehidupan masyrakat perkotaan erat kaitannya dengan kepadatan penduduk,dan polusi udara. Sulitnya mencari pekerjaan untuk yang berpendidikan rendah. Tinggal di pemukiman padat dan kumuh dengan polusi udara dan pola konsumsi nutrisi yang mungkin kurang baik. Rendahnya tinggat pendidikan dan tingkat ekonomi sangat memungkinkan terbatasnya keluarga dengan ibu hamil terpapar dengan informasi kesehatan tentang nutrisi kehamilan. Nutrisi yang dikomsumsi ibu selama kehamilan dipercaya dapat mempengaruhi perkembangan janin. Polusi udara dari asap rokok/nikotin dikaitkan dengan retardasi pertumbuhan janin dan peningkatan mortalitas dan morbiditas bayi dan perinetal (Bobak ,2005). Atresia ani merupakan salah satu kelainan kongenital yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Atresia ani terjadi pada 1 dari setiap 4000-5000 kelainan hidup. Secara umum atresia ani lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Fistula rektouretra merupakan kelainan yang paling banyak ditemui pada laki-laki, diikuti oleh fistula perineal. Sedangkan pada bayi perempuan jenis atresia ani yang paling banyak ditemukan adalah atresia ani diikuti fistula rektovestibular dan fistula perineal (Oldham K,2005).
Angka kejadian kasus atresia ani di RSUP fatmawati selama kurun waktu 3 bulan dari Januari sampai Maret 2013 ada sekitar 14 kasus dari 1000 klien yang dirawat di gedung Teratai lantai III Utara. Dari 14 kasus atresia ani tersebut sekitar 7 kasus dirawat untuk tutup kolostomi.
Atresia ani letak tinggi memerlukan penatalaksanaan operasi bertahap yaitu pembuatan kolostomi, pembuatan saluran anus/ PSARP (posterior sagital anorectoplasty), dan yang terakhir tutup kolostomi. Perawatan pada pasien tutup kolostomi memerlukan perhatian yang serius terutama pada penatalaksanaan cairan intravena dan perawatan luka. Nyeri, puasa lama ,dan hari perawatan yang lama menimbulkan trauma pada anak. Perawat memegang peranan penting dala mengurangi efek hospitalisasi pada anak, terutama nyeri.
Dunia anak adalah dunia bermain, khususnya bagi anak yang berusia 1-3 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut harus dijaga kelangsungan nya dengan upaya stimulasi yang dapat di lakukan, selalipun anak dalam perawatan di rumah sakit sebagai media bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, relaksasi, dan distraksi perasaan yang tidak nyaman (Supartini, 2004). Terapi musik dapat di jadikan alternatif dalam meminimalkan nyeri dan ketidaknyamanan pada anak yang mengalami hospitalisasi sebagai bagian dari program bermain pada anak.
Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen musik oleh seorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional, dan spiritual. Terapi musik disebut juga sebagai terapi pelengkap Penggunaan terapi musik bisa diterapkan kepada setiap anak dalam berbagai kondisi. Terapi musik bisa dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan anak yang menjalani serangkaian tindakan.prosedur keperawatan selama di rawat di rumah sakit.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut :
1.      Bagaimana menganalisis jurnal mengenai  penyakit atresia ani pada anak?
2.      Bagaimana konsep medis mengenai penyakit atresia ani pada anak ?
3.      Bagaimana asuhan keperawatan pada penyakit atresia ani pada anak ?

C.     Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui cara menganalisis jurnal mengenai penyakit atresia ani pada anak
2.      Untuk mengetahui konsep medis mengenai penyakit atresia ani pada anak
3.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada penyakit atresia ani pada anak






BAB III
PEMBAHASAN
A.     Pengertian
Atresia ani disebut juga anorektal anomali atau imperforata anus. Merupakan kelainan kongenital dimana terjadi perkembangan abnormal pada anorektal di saluran  gastrointestinal. Atresia ani atau anus imperporata adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai  lubang ke luar (Wong,2004). Atresia ani / Atresia rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara kongenital (Dorland, 1998). Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rektum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002). Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).

B.     Etiologi 
Penyebab kelainan ini belum diketahui secara pasti. Dalam beberapa kasus, atresia ani kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan (seperti peggunaan obat-obatan dan konsumsi alkohol selama masa kehamilan) namun hal ini masih belum jelas (Bobak, 2005).
Kelainan genetik atau bawaan (autosomal) anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada minggu kelima sampai ketujuh pada usia kehamilan, terjadi gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital, biasanya karena gangguan perkembangan septum urogenital.

C.     Patofisiologi 
Pada usia gestasi minggu ke-5, kloaka berkembang menjadi saluran urinari, genital dan rektum. Usia gestasi minggu ke-6, septum urorektal membagi kloaka menjadi sinus urogenital anterior dan intestinal posterior. Usia gestasi minggu ke-7, terjadi pemisahan segmen rektal dan urinari secara sempurna. Pada usia gestasi minggu ke-9, bagian urogenital sudah mempunyai lubang eksterna dan bagian anus tertutup oleh membrane. Atresia ani muncul ketika terdapat gangguan pada proses tersebut. 
Selama pergerakan usus, mekonium melewati usus besar ke rektum dan kemudian menuju anus. Persarafan di anal kanal membantu sensasi keinginan untuk buang air besar (BAB) dan juga menstimulasi aktivitas otot. Otot tersebut membantu mengontrol pengeluaran feses saat buang air. Pada bayi dengan malformasi anorektal (atresia ani) terjadi beberapa kondisi abnormal sebagai berikut: lubang anus sempit atau salah letak di depan tempat semestinya, terdapat membrane pada saat pembukaan anal, rectum tidak terhubung dengan anus, rectum terhubung dengan saluran kemih atau sistem reproduksi melalui fistula, dan tidak terdapat pembukaan anus.

D.       Klasifikasi
1.      Kelainan Rendah (Low Anomaly/Kelainan Translevator), ciricirinya adalah rektum turun sampai ke otot puborektal, spingter ani eksternal dan internal berkembang sempurna dengan fungsi yang normal, rektum menembus muskulus levator ani sehingga jarak kulit dan rektum paling jauh 2 cm. Tipe dari kelainan rendah antara lain adalah anal stenosis, imperforata membrane anal, dan fistula ( untuk laki-laki fistula ke perineum, skrotum atau permukaan penis, dan untuk perempuan anterior ektopik anus
atau anocutaneus fistula merupakan fistula ke perineal, vestibular atau vaginal).
2.      Kelainan Intermediet/Menengah (Intermediate Anomaly), ciricirinya adalah ujung rektum mencapai tingkat muskulus Levator ani tetapi tidak menembusnya, rektum turun melewati otot puborektal sampai 1 cm atau tepat di otot puborektal, ada lesung anal dan sfingter eksternal. Tipe kelainan intermediet antara lain, untuk laki-laki bisa rektobulbar/rektouretral fistula yaitu fistula kecil dari kantong rektal ke bulbar), dan anal agenesis tanpa fistula. Sedangkan untuk perempuan bisa rektovagional fistula, analgenesis tanpa fistula, dan rektovestibular fistula.
3.      Kelainan Tinggi (High Anomaly/Kelainan Supralevator). Kelainan tinggi mempunyai beberapa tipe antara lain: laki-laki ada anorektal agenesis, rektouretral  fistula yaitu rektum buntu tidak ada hubungan dengan saluran urinary, fistula ke prostatic uretra. Rektum berakhir diatas muskulus puborektal dan muskulus levator ani, tidak ada sfingter internal. Perempuan ada anorektal agenesis dengan fistula vaginal tinggi, yaitu fistula antara rectum dan vagina posterior. Pada laki dan perempuan biasanya rectal atresia.

E.      Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik pada klien dengan atresia ani antara lain mekonium tidak   keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran atau keluar melalui saluran urin, vagina atau fistula. Pada bayi baru lahir tidak dapat dilakukan pengukuran sehu secara fekal. Distensi abdomen dapat terjadi bertahap dalam 8-24 jam pertama. Pemeriksaan fisik ditemukan adanya tanda-tanda obstruksi usus dan adanya konstipasi. Muntah pada bayi umur 24048 jam atau bila bayi diberi makan juga perlu diperhatikan. Pembukaan anal terbatas atau adanya misplaced pembukaan anal. Lebih dari 50% klien dengan atresia ani mempunyai kelainan congenital lain.


F.      Penetapan diagnosis
Penetapan diagnosis untuk atresia ani dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan diagnostik. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan penampilan fisik anus, dan pembukaan anus. Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis atresia ani antara lain urinalisis, abdominal X-Ray, pyelogram intravena, USG abdomen, CT-Scan, MRI, kolonogram distal, aspirasi jarum,  dan  radiografi invertogram

G.     Komplikasi
Komplikasi jangka pendek yang dapat terjadi pada klien atresia ani adalah asidosis hiperkloremi, infeksi saluran kemih yang berkepanjangan, dan kerusakan uretra. Komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi antara lain eversi mukosa anal, stenosis, infaksi dan kostipasi, masalah toilet training, prolaps mukosa anorectal, dan fistula kambuhan. Komplikasi lainnya antara lain obstruksi intestinal dan inkontinensia bowel.















BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ANI
     I.   IDENTITAS DATA
Nama                           : An. S
Tempat/tgl lahir                        : Brebes, 18 Januari 2012
 Usia                            : 1 tahun 4 bulan
Nama Ayah/Ibu           : Tn. T / Ny. S
Pekerjaan Ayah           : wiraswasta
Pekerjaan Ibu                : Ibu rumah tangga 
Alamat                                     : Jln. H. Japat Sukmajaya RT 06/01, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Agama                         : Islam
Suku Bangsa                : Sunda
Pendidikan Ayah         : SMA
Pendidikan Ibu                        : SMP

  II.   KELUHAN UTAMA :
Klien masuk ruang perawatan untuk rencana operasi  tutup kolostomi hari kamis tanggal 13 Juni 2013. Riwayat kehamilan dan kelahiran:
1.      Prenatal
Klien merupakan anak pertama keluarga bpk. T. selama kehamilan ibu S kurang lebih 5 kali memeriksakan kandungannya ke bidan puskesmas. Ibu klien periksa kehamilan tidak rutin, dan tidak minum vitamin selama kehamilan secara rutin seperti asam folat dan tablet Fe. Variasi makanan ibu selama hamil terbatas , ibu koien mengatakan jarang mengkonsumsi sayuran dan susu, lebih sering makan ayam goreng yang dibeli di penjual ayam goreng deket rumah keluarga klien. Selama kehamilan ibu S tidak mengalami ngidam , tapi ibu S  suka minum kopi minimal 1 gelas sehari, dan bapak T seorang perokok yang  suka merokok di dalam rumah dekat ibu S yang sedang hamil.
2.      Intranatal
Klien lahir spontan  di rumah bidan  dengan usia kehamilan 40 minggu. 
3.      Postnatal
BB lahir 2,75 kg dan panjang badan 50 cm. Klien aktif dan langsung menangis ketika lahir. Setelah lahir ketika dilakukan pemeriksaan rectal toucher/ colok dubur diketahui klien tidak memiliki lubang anus. 12 jam kemudian klien BAB melalui lubang kecil dibawah vagina klien.

III.   RIWAYAT MASA LAMPAU
1.      Penyakit waktu kecil
Sejak lahir klien sudah diketahui tidak memiliki lubang anus, BAB lewat lubang dibawah vagina , BAB lancar 2 hari sekali, kemudian saat klien usia 6 bulan  saat Anak mulai makan bubur dan biscuit bayi klien jadi jarang BAB kurang lebih 1 minggu sekali. Saat klien usia 9 bulan yaitu ketika klien makan lebih padat, klien kadi lebih jarang BAB kurang lebih 20 hari sekali. Maka keluarga mulai khawatir dan membawa klien ke RSUP Fatmawati untuk periksa.
2.      Pernah dirawat di RS
Pernah dirawat di RS yaitu pada tanggal 3 Desember 2012 untuk operasi kolostomi dan tanggal 2 April 2013 untuk operasi PSARP. Kedua operasi tersebut dilaksanakn di RSUP Fatmawati gedung teratai lantai 3 utara.
3.      Obat-obatan yang digunakan
Amoxan sirup dan paracetamol sirup
4.      Tindakan (operasi)
 Pembuatan kolostomi tanggal 3 Desember 2012  dan Operasi PSARP tanggal 2 April 2013.
5.      Alergi 
Tidak ada
6.      Kecelakaan
Tidak pernah
7.      Imunisasi
Imunisasi lengkap
.
IV.   RIWAYAT SOSIAL
1.      Yang mengasuh
Yang mengasuh klien ibu kandung klien.
2.      Hubungan dengan anggota keluarga
Keluarga bapak T tinggal di daerah Depok untuk merantau, sementara keluarga yang lain baik dari pihak bapak T maupun dari pihak ibu S tinggal di daerah Brebes. Klien merupakan anak pertama keluarga bapak T, dan karena penyakit Yang diderita klien keluarga bapak T belum berniat  menambah anggota keluarga baru sampai tuntas penyakit klien diobati.
3.      Hubungan dengan teman sebaya
Sesuai dengan usianya anak S hanya bermain dngan ibu kandungnya saja, ada beberapa tetangga bapak T yang memiliki anak seusia anak S dan kadang bermain bersama di teras rumah kontrakan bapak T.
4.      Pembawaan secara umum
Secara umum anak S termasuk anak yang tenang dan tidak mudah menangis ketika ketemu orang asing. Anak S tampak sangat tenang ketika didekat ibunya, apalagi anak S masih minum ASI.
5.      Lingkungan rumah
Keluarga bapak T tinggal mengontrak  di daerah Sukmajaya Depok, rumah kontrakan bapak T merupakan rumah petakan  yang berukuran 4 x 10 meter dan terdiri dari  ruang yaitu bagian depan merupakan ruang TV sekaligus ruang tamu, bagian tengah yaitu ruang tidur dan ruang belakang dapur dan kamar mandi.

  V.   KEBUTUHAN DASAR
1.      Makanan yang disukai/tidak disukai             : Makanan yang disukai ASI dan yang           tidak                                                               disukai ot  tidak  tahu karena makanan yang                                                       diberikan pada anak S juga baru bubur saja,                                                                               selain ASI dan susu formula. 
Selera                                                  : Baik 
Alat makan yang dipakai                    : Sendok dan mangkok plastik
Pola makan/jam                                         : Lebih dari 3 kali/hari, jamnya tidak tentu.

2.      Pola tidur                                                  : Tidur siang 2 jam dan tidur malam 8 jam  Kebiasaan sebelum tidur                                  : Dibacakan cerita dan didekatkan boneka                 kesayangan.
Tidur siang                                                 :  Biasanya mulai jam 11 sampai jam 13 siang.
3.      Mandi                                                       : Dimandikan oleh ibu 2 kali/hari, gosok gigi kadang –kadang dan keramas 2 hari sekali.
4.      Aktivitas bermain                                     : Anak S biasa bermain dengan ibunya.
5.      Eliminasi                                                   : BAB  lebih dari 3 kali/hari per kolostomi, BAK kurang lebih 5 kali/hari.




VI.   KEADAAN KESEHATAN SAAT INI
1.      Diagnosa Medis
Atresia ani dengan kolostomi post operasi PSARP
2.      Tindakan operasi
Rencana operasi tutup kolostomi tanggal 13 Juni 2013
3.      Status nutrisi
BB/TB  ; 9kg/105 cm
4.      Status cairan
Ketika pengkajian tanggal 11 Juni 2013 klien baru masuk  RS untuk persiapan operasi tutup kolostomi. Klien masih minum ASI dan susu formula. Mulai tanggal 12 Juni 2013 klien diet teh manis saja sekitar 4 gelas belimbing /hari. Selesai operasi  tutup kolostomi klien terpasang infus kaen 1B 700 cc+ kcl 10 meq/24 jam.
5.      Obat-obatan
Tanggal 13 Juni 2013 post operasi tutup kolostomi, therapinya adalah: Cefotaxime 2 x 250 mg, Farmadol 3 x 70 mg.      Tanggal 14 juni 2013 dapat therapy tambahan yaitu : Ranitidine 2 x 20 mg
6.      Aktivitas
Selama dirawat klien bermain di tempat tidur, orang tua klien membantu  merubah posisi tidur klien, dan kadang-kadang klien di gendong berjalan-jalan keliling ruang perawatan.
7.      Tindakan Keperawatan
Perawatan pre operasi : pendidikan kesehatan pada orang tua klien tentang persiapan operasi yang harus dilakukan, monitor intake output dan tanda-tanda dehidrasi terkait dilaksanakannya washing out (WO).
Perawatan postoperasi : penanganan nyeri post operasi baik mandiri maupun kolaborasi, monitor intake dan output, monitor tanda-tanda vital dan tanda – tanda infeksi pada luka operasi, monitor tanda- tanda phlebitis pada area pemasangan infus, dan perawatan luka operasi.

 VII.     PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum                        : Baik
TB/BB(Persentil)                      : 105 cm/9 kg
Lingkar kepala                         :  -
Mata                                          : Penglihatan jelas, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak      ikterik
Hidung                               : Penciuman baik, tidak secret, lubang hidung  kanan dan kiri kecil.
Mulut               : Mukosa lembab, tidak ada sariawan, karies, gigi geraham berlubang kiri dan kanan
Telinga           : Tidak ada gangguan pendengaran, tidak ada serumen, telinga bersih.
Tengkuk         : Tidak ada kaku kuduk
Dada               : Pergerakan dada simetris, tidak ada keluhan nyeri dada
Jantung           : Bunyi jantung normal S1 dan S2, tidak ada gallop, tidak ada murmur.
Paru-paru         : Bunyi napas vesikuler, ronkhi dan wheezing tidak ada.
Perut                  : supel, tidak ada nyeri tekan, tidak ada perlukaaan, setelah operasi tanggal 13 Juni 2013 tampak luka operasi di kuadran kanan bawah. 
Punggung        : Tidak ada kemerahan.
Genitalia :  Bersih, tidak lecet, setelah operasi tanggal 13 Juni 2013 terpasang katheter
Ekstremitas      : Tidak ada keluhan, tangan dan kaki bisa digerkan aktif.
Kulit                : Lembab,warna sawo matang, tampak bersih.
Tanda Vital      : S 36, , respirasi : 20x menit, nadi 100 x/menit.

   VIII.     PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN
1.      Kemandirian dan bergaul 
2.    Karena usianya baru 1 tahun 4 bulan, klien masih sangat tergantung pada kedua orang tuanya.
3.      Motorik Halus   
4.      Klien baru bisa bermain boneka kesayangannya.
5.      Kognitif dan bahasa  
6.      Klien baru bisa menyebutkan kata –kata pendek seperti ayah , ibu ,dan mamam.
7.      Motorik kasar
8.      Klien belum bisa berjalan, baru bisa merangkak, dan duduk.

XII. ANALISA DATA
No
Data Klien
                       Masalah Keperawatan
1.
Data Subyektif :
-          Orang tua klien mengatakan belum tahu prosedur perawatan sebagai persiapan operasi.
-          Orang tua klien mengatakan khawatir dengan keadaan anaknya kalau banyak tindakan perawatan yang harus di lakukan.

Data Obyektif :
-          Orang tua klien tampak cemas ketika masuk ruang perawatan.
-          Orang tua klien Tampak mondar-mandir antara ruang perawatan klien dan nurse station ketika belum ada penjelasan dari perawat yang berjaga.
Kecemasan pada orang tua klien berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur persiapan operasi
2.
Data Subyektif:
-          Orang tua klien mengatakan anaknya harus diet minum teh manis saja sampai hari operasi.
-          Orang tua klien mengatakan anaknya tidak suka minum teh manis.

Data Obyektif:
-          Klien di lakukan wishing out 2x/hari.
-          Bab klien sesudah dilakukan washing out cair kurang lebih 4kali/24 jam@100 cc.
-          Klien belum terpasang infus.
-          Turgor kulit baik, membrane mukosa lembab,ubun-ubun tidak cekung dan mata tidak cekung.
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebihan.
3.
Data Subyektif:
-          Orang tua klien mngatakan klien rewel dan banyak menangis.
Data Obyektif:
-          Ekspresi wajah klien tampak kesakitan.
-          Klien post operasi tutup kolostomi hari ke 1
-          Ada luka operasi di abdomen kanan bawah, tidak tampak perdarahan.
-          Klien belum diberikan analgetik. Nadi 110x/menit, pernapasan 24x/menit.
Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka operasi
4.
Data Subyektif:
-           
Data Obyektif:
-          Luka operasi di abdomen kanan bawah hari ke 3.
-          Nadi 110x/menit, suhu 37°C
-          Lekosit 6,1 ribu/ul
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi

    IX.          PRIORITAS MASALAH
Masalah Keperawatan :
a.    Pre operasi
1.      Kecemasan pada orang tua.
2.      Resiko kekurangan volume cairan.
b.     Post operasi
1.         Nyeri.
2.         Resiko infeksi.

Diagnosa Keperawatan :
1.       Kekurangan  pada orang tua.
2.       Resiko kekurangan volume cairan.
3.       Nyeri.
4.       Resiko infeksi.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN Atresia ani
 PADA An.S

No
Diagnosa Keperawatan
    Kriteria Evaluasi
    Intervensi
        rasioanal
1.
Kecemasan pada orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur persiapan operasi,ditandai dengan :
Data Subyektif:

Orang tua klien mengatakan belum tahu prosedur perawatan sebagai persiapan operasi.

Orang tua klien mengstsksn khawatir dengan keadaan anaknya kalau banyak tindakan perawatan yang harus dilakukan.

Data Obyektif:

Orang tua klien tampak cemas ketika masuk ruang perawatan.

Orang tua klien Tampak mondar-mandir antara ruang perawatan klien dan nurse station ketika belum ada penjelasan dari perawat yang berjaga.
Setelah dilakukan intervensi selama 1x24 jam kecemasan  orang tua berkurang/hilang, ditandai dengan :
Ekspresi wajah orang tua klien tampak lebih santai dan rileks.
Orang tua klien mau bekerja sama dengan perawat dalam melakukan prosedur persiapan operasi.
Kaji tingkat pemahaman orang tua tentang prosedur persiapan operasi yang harus dilakukan pada klien.

Gunakan sumber-sumber bahan pengajaran, audiovisual.

Jelaskan prosedur persiapan yang akan dilakukan pada klie,misalnya :
Pemasangan infus,washing out/WO, pengambilan darah, pemeriksaan radiologi, konsultasi anak, dan konsultasi anestesi, serta perubahan diet klien.

Jelaskan kembali kepada orang tua setiap prosedur yang akan dilakukan.
Mengkaji tingkat pemahaman akan membuat pengajaran sesuai dengan kebutuhan orang tua klien.

Bahan yang dibuat secara khusus akan dapat memenuhi kebutuhan orang tua klien untuk belajar.

Meningkatkan pemahaman orang tua klien tentang prosedur yang akan di lsakukan sehingga di harapkan kecemasan orang tua dapat berkurang.

Meningkatnya pengetahuan orang tua klien membuat kecemasan orang tua klien berkursng dan dapat mendukung prosedur yang akan di lakukan pada klien .
2.
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebihan,ditandai dengan :
Data Subyektif:

Orang tua klien mengatakan anaknya harus diet minum teh manis saja sampai hari operasi.

Orang tua klien mengatakan anaknya tidak suka minum teh manis.

Data Obyektif:

Klien dilakukan washing out 2x/hari.

Bab klien sesudah dilakukan washing out cair kurang lebih 4kali/24jam @100cc.

Klien belum terpasang infus.

Turgor kulit baik, membrane mukosa lembab,ubun-ubun tidak cekung, dan mata tidak cekung.


Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 2x24 jam kekurangan volume cairan tidak terjadi,di tandai dengan :
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi:turgor kulit baik,mata tidak cekung, membrane mukosa lembab, tanda-tanda vital stabil,dan pengeluaran urine sesuai.
Mandiri:
Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran urine.

Pantau tanda-tanda vital.

Motivasi orang tua klien untuk memberikan minum yang maksimal sesuai kebutuhan klien.

Kolaborasi
Berikan cairan parenteral(bila perlu).

Pantau hasil laboratorium.
Dokumentasi ysng akurat akan membantu dalam mengidentifikasi kan pengeluaran cairan.
Kulit yang dingin/lembab, denyut nadi yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk penggantian cairan tambahan.

Intake oral yang cukup dapat mengganti output berlebihan.

Gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan .

Indikasi hidrasi/volume sirkulasi.
3.
Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka operasi, ditandai dengan :

Data Subyektif :

Orang tua klien mengatakan klien rewal dan menangis.

Data Obyektif :

Ekspresi wajah klien tampak kesakitan.

Klien post operasi tutup kolostomi hari ke 1.

Ada luka operasi di abdomen kanan bawah, tidak tampak perdarahan .

Klien belum diberikan analgetik.

Nadi 110x/menit, pernapasan 24x/menit.

Setelah dilakukan intervensi 3x24 jam intensitas nyeri klien berkurang,dengan kriteria intensitas nyeri berkurang dari 5 menjadi 3.
Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Mandiri:
Kaji intensitas nyeri klien.

Ukur tanda-tanda vital.

Kaji penyebab ketidaknyamanan lain selain prosedur operasi.


Lakukan perubahan posisi tidur klien yang nyaman buat klien.

Gunakan terapi musik untuk mengurangi nyeri klien.

Kolabaorasi pemberian analgetik  IV
 Menentukan rencana intervensi sesuai skala nyeri klien.

Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan dan ketidaknyamanan.

Ketidaknyamanan mungkin diperburuk dengan penekanan pada kateter, selang NGT,atau area penusukan infuse.

Mungkin mengurangi sakit dan meningkatkan sirkulasi.

Terapi musik dapat mendistraksi dan menurunkan nyeri klien

Analgetik IV akan dengan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan penghilangan yang lebih efektif dengan obat dosis kecil.
4.
Resiko infeksi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3x24 jam tidak terjadi infeksi pada luka operasi dengan kriteria :
Tanda-tanda vital dalam batas normal .

Tidak tampak tanda-tanda infeksi pada luka operasi.
Mandiri

Pantau tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu.

Observasi keadaan luka terhadap tanda-tanda infeksi

Pertahankan teknik aseptik dalam perawatan luka.

Lakukan perawatan luka sesuai indikasi.

Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Suhu malam hari memuncak yang kembali normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi.

Perkembangan infeksi memperlambat pemulihan luka.

Melindungi klien dari kontaminasi silang selama panggantian balutan luka.

Menjaga luka tetap bersih dan tidak terkontaminasi infeksi dari luar.

Diberikan secara profilaktis untuk mencegah infeksi.





















BAB V
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Atresia ani merupakan kelainan congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar. Atresia ani kemungkinan disebabkan oleh fakotr genetik dan faktor lingkungan walaupun belum pasti. Prinsip penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Prinsip asuhan keperawatan baik pre maupun postoperasi tutup kolostomi adalah mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan.
Masalah keperawatan pada anak S dengan atresia ani adalah kecemasan, kekurangan volume cairan untuk masa preoperasi, dan untuk postoperasi adalah nyeri akut, dan resiko infeksi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah observasi tanda-tanda vital, observasi tanda-tanda infeksi, observasi tanda-tanda dehidrasi, menghitung intake dan output, penggunaan terapi musik, kolaborasi pemberian antibiotik dan analgetik, kolaborasi pemberian cairan intravena, dan perawatan luka. 
Evaluasi yang dilakukan dengan menerapkan asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan pada anak dengan menggunakan terapi musik, dapat memberikan dukungan pada anak untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyaman yang dialami selama menjalani perawatan di rumah sakit. Penggunaan terapi musik 3 hari pelaksanaan intervensi  pada anak membuat anak tampak lebih tenang, dan kooperatif selama menjalani perawatan.

B.     Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan pembaca. Selanjutanya kami pembuat makalah mengaharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.







DAFTAR PUSTAKA

Ariestia, D.B. (2010). Psikologi musik:terapi kesehatan. Jakarta: Golden Terayon press.
Cealy, B. L., & Sowden, L.A.( 2002). Buku saku keperawatan pediatrik. Edisi ke3. Jakarta : EGC.
Bobak, I.M., Lowdermik, D.L., & Jensen, M.D. (2005). Buku ajar keperawatan maternitas. Edisi 4. Jakarta: EGC Doenges, M. E., Moorhouse, M.F., & Geissler, A.C.( 2000). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC
Dorland. (1998). Kamus  saku kedokteran Dorlana. Alih bahasa: Dyah Nuswantari Ed. 25. Jakarta: EGC.
Hoekenberry, M., Winkelstein, M.L., Schwartz, P,,Wilson,D, Wong,D.L. (2003). Wong’s Nursing Care of Infants and Children. Philadelphia: Mosby, Inc.

Hockenberry,M., Winkelstein,M.L., Wilson,D.,  Wong, D.L.(2009). Essentials of pediatric nursing. 8th edition. Missouri: Mosby Elsevier.

(http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/anal+atresia,+atresia+ani) diambil pada tanggal 24 Juni 2013.

Broadwell, J.D., & Saunders, R.B. (1993). Child health nursing: a comprehensive approach to the care of children and their families. Philadelphia: J. B. Lippincott.

Marks, M. E. (1998). Broadribb’s introductory pediatric nursing. 5th Edition. Philadelphia: Lippincott-Raven Publisher.

www. Cincinnatichildrens.org. Diakses pada tanggal 24 Juni 2013  pkl. 19.00 WIB.

Mucci, K., & Mucci, R. (2002). The healing sound of music: Manfaat music untuk kesehatan dan kebahagian anda. Jakarta: Gramedia psutaka utama.

Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Fundamental of nursing: concept, process, and practice. (6th ed). St.Louis: Mosby-year book, Inc.

Purwati,N.H.(2010) Pengaruh terapi musik terhadap tingkat nyeri anak usia prasekolah yang dilakukan pemasangan infuse di rumah sakit Islam Jakarta. Tesis open. Depok: FIK UI.
Speer, M.K. ( 2008).  Rencana asuhan keperawatan pediatric dengan clinical pathways. Alih bahasa: Ake dan Komalasari. Edisi 3. Jakarta:EGC.
Wong, Donna L. (2003). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Sri Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)