BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Atresia
ani atau anus imperporata adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai
lubang luar (Wong,2004). Sebagian besar prognosis atresia ani biasanya baik
bila tidak didukung perawatan yang tepat dan juga tergantung kelalaian letak
anatomi saat lahir. Atresia ani bila tidak segera ditangani maka dapat terjadi
komplikasi seperti obstruksi intestinal, kontipasi dan inkontinensia feses.
Kehidupan
masyrakat perkotaan erat kaitannya dengan kepadatan penduduk,dan polusi udara.
Sulitnya mencari pekerjaan untuk yang berpendidikan rendah. Tinggal di
pemukiman padat dan kumuh dengan polusi udara dan pola konsumsi nutrisi yang
mungkin kurang baik. Rendahnya tinggat pendidikan dan tingkat ekonomi sangat
memungkinkan terbatasnya keluarga dengan ibu hamil terpapar dengan informasi
kesehatan tentang nutrisi kehamilan. Nutrisi yang dikomsumsi ibu selama kehamilan
dipercaya dapat mempengaruhi perkembangan janin. Polusi udara dari asap
rokok/nikotin dikaitkan dengan retardasi pertumbuhan janin dan peningkatan
mortalitas dan morbiditas bayi dan perinetal (Bobak ,2005). Atresia ani
merupakan salah satu kelainan kongenital yang dapat dipengaruhi oleh faktor
genetik dan faktor lingkungan.
Atresia
ani terjadi pada 1 dari setiap 4000-5000 kelainan hidup. Secara umum atresia
ani lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Fistula
rektouretra merupakan kelainan yang paling banyak ditemui pada laki-laki,
diikuti oleh fistula perineal. Sedangkan pada bayi perempuan jenis atresia ani
yang paling banyak ditemukan adalah atresia ani diikuti fistula rektovestibular
dan fistula perineal (Oldham K,2005).
Angka
kejadian kasus atresia ani di RSUP fatmawati selama kurun waktu 3 bulan dari
Januari sampai Maret 2013 ada sekitar 14 kasus dari 1000 klien yang dirawat di
gedung Teratai lantai III Utara. Dari 14 kasus atresia ani tersebut sekitar 7
kasus dirawat untuk tutup kolostomi.
Atresia
ani letak tinggi memerlukan penatalaksanaan operasi bertahap yaitu pembuatan
kolostomi, pembuatan saluran anus/ PSARP (posterior sagital anorectoplasty),
dan yang terakhir tutup kolostomi. Perawatan pada pasien tutup kolostomi
memerlukan perhatian yang serius terutama pada penatalaksanaan cairan intravena
dan perawatan luka. Nyeri, puasa lama ,dan hari perawatan yang lama menimbulkan
trauma pada anak. Perawat memegang peranan penting dala mengurangi efek
hospitalisasi pada anak, terutama nyeri.
Dunia
anak adalah dunia bermain, khususnya bagi anak yang berusia 1-3 tahun.
Pertumbuhan dan perkembangan tersebut harus dijaga kelangsungan nya dengan
upaya stimulasi yang dapat di lakukan, selalipun anak dalam perawatan di rumah
sakit sebagai media bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, relaksasi, dan
distraksi perasaan yang tidak nyaman (Supartini, 2004). Terapi musik dapat di
jadikan alternatif dalam meminimalkan nyeri dan ketidaknyamanan pada anak yang
mengalami hospitalisasi sebagai bagian dari program bermain pada anak.
Terapi
musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen musik oleh seorang terapis
untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental, fisik,
emosional, dan spiritual. Terapi musik disebut juga sebagai terapi pelengkap
Penggunaan terapi musik bisa diterapkan kepada setiap anak dalam berbagai
kondisi. Terapi musik bisa dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan anak yang
menjalani serangkaian tindakan.prosedur keperawatan selama di rawat di rumah
sakit.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari
makalah ini sebagai berikut :
1.
Bagaimana
menganalisis jurnal mengenai penyakit
atresia ani pada anak?
2.
Bagaimana
konsep medis mengenai penyakit atresia ani pada anak ?
3.
Bagaimana
asuhan keperawatan pada penyakit atresia ani pada anak ?
C.
Tujuan
Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini
adalah sebagai berikut :
1.
Untuk
mengetahui cara menganalisis jurnal mengenai penyakit atresia ani pada anak
2.
Untuk
mengetahui konsep medis mengenai penyakit atresia ani pada anak
3.
Untuk
mengetahui asuhan keperawatan pada penyakit atresia ani pada anak
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Atresia
ani disebut juga anorektal anomali atau imperforata anus. Merupakan kelainan
kongenital dimana terjadi perkembangan abnormal pada anorektal di saluran gastrointestinal. Atresia ani atau anus
imperporata adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang ke luar (Wong,2004). Atresia ani /
Atresia rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara kongenital
(Dorland, 1998). Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai
anus imperforate meliputi anus, rektum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002).
Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau
saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).
B.
Etiologi
Penyebab
kelainan ini belum diketahui secara pasti. Dalam beberapa kasus, atresia ani
kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan (seperti
peggunaan obat-obatan dan konsumsi alkohol selama masa kehamilan) namun hal ini
masih belum jelas (Bobak, 2005).
Kelainan
genetik atau bawaan (autosomal) anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi
dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada minggu kelima sampai
ketujuh pada usia kehamilan, terjadi gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum
dan sinus urogenital, biasanya karena gangguan perkembangan septum urogenital.
C.
Patofisiologi
Pada usia
gestasi minggu ke-5, kloaka berkembang menjadi saluran urinari, genital dan
rektum. Usia gestasi minggu ke-6, septum urorektal membagi kloaka menjadi sinus
urogenital anterior dan intestinal posterior. Usia gestasi minggu ke-7, terjadi
pemisahan segmen rektal dan urinari secara sempurna. Pada usia gestasi minggu
ke-9, bagian urogenital sudah mempunyai lubang eksterna dan bagian anus
tertutup oleh membrane. Atresia ani muncul ketika terdapat gangguan pada proses
tersebut.
Selama
pergerakan usus, mekonium melewati usus besar ke rektum dan kemudian menuju
anus. Persarafan di anal kanal membantu sensasi keinginan untuk buang air besar
(BAB) dan juga menstimulasi aktivitas otot. Otot tersebut membantu mengontrol
pengeluaran feses saat buang air. Pada bayi dengan malformasi anorektal
(atresia ani) terjadi beberapa kondisi abnormal sebagai berikut: lubang anus
sempit atau salah letak di depan tempat semestinya, terdapat membrane pada saat
pembukaan anal, rectum tidak terhubung dengan anus, rectum terhubung dengan
saluran kemih atau sistem reproduksi melalui fistula, dan tidak terdapat
pembukaan anus.
D.
Klasifikasi
1.
Kelainan
Rendah (Low Anomaly/Kelainan Translevator), ciricirinya adalah rektum turun
sampai ke otot puborektal, spingter ani eksternal dan internal berkembang
sempurna dengan fungsi yang normal, rektum menembus muskulus levator ani
sehingga jarak kulit dan rektum paling jauh 2 cm. Tipe dari kelainan rendah
antara lain adalah anal stenosis, imperforata membrane anal, dan fistula (
untuk laki-laki fistula ke perineum, skrotum atau permukaan penis, dan untuk
perempuan anterior ektopik anus
atau
anocutaneus fistula merupakan fistula ke perineal, vestibular atau vaginal).
2.
Kelainan
Intermediet/Menengah (Intermediate Anomaly), ciricirinya adalah ujung rektum
mencapai tingkat muskulus Levator ani tetapi tidak menembusnya, rektum turun
melewati otot puborektal sampai 1 cm atau tepat di otot puborektal, ada lesung
anal dan sfingter eksternal. Tipe kelainan intermediet antara lain, untuk
laki-laki bisa rektobulbar/rektouretral fistula yaitu fistula kecil dari
kantong rektal ke bulbar), dan anal agenesis tanpa fistula. Sedangkan untuk
perempuan bisa rektovagional fistula, analgenesis tanpa fistula, dan
rektovestibular fistula.
3.
Kelainan
Tinggi (High Anomaly/Kelainan Supralevator). Kelainan tinggi mempunyai beberapa
tipe antara lain: laki-laki ada anorektal agenesis, rektouretral fistula yaitu rektum buntu tidak ada hubungan
dengan saluran urinary, fistula ke prostatic uretra. Rektum berakhir diatas
muskulus puborektal dan muskulus levator ani, tidak ada sfingter internal.
Perempuan ada anorektal agenesis dengan fistula vaginal tinggi, yaitu fistula
antara rectum dan vagina posterior. Pada laki dan perempuan biasanya rectal
atresia.
E.
Manifestasi
Klinik
Manifestasi
klinik pada klien dengan atresia ani antara lain mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah
kelahiran atau keluar melalui saluran urin, vagina atau fistula. Pada bayi baru
lahir tidak dapat dilakukan pengukuran sehu secara fekal. Distensi abdomen
dapat terjadi bertahap dalam 8-24 jam pertama. Pemeriksaan fisik ditemukan
adanya tanda-tanda obstruksi usus dan adanya konstipasi. Muntah pada bayi umur
24048 jam atau bila bayi diberi makan juga perlu diperhatikan. Pembukaan anal
terbatas atau adanya misplaced pembukaan anal. Lebih dari 50% klien dengan
atresia ani mempunyai kelainan congenital lain.
F.
Penetapan
diagnosis
Penetapan
diagnosis untuk atresia ani dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan
diagnostik. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan penampilan fisik anus, dan
pembukaan anus. Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk menetapkan
diagnosis atresia ani antara lain urinalisis, abdominal X-Ray, pyelogram
intravena, USG abdomen, CT-Scan, MRI, kolonogram distal, aspirasi jarum, dan
radiografi invertogram
G.
Komplikasi
Komplikasi
jangka pendek yang dapat terjadi pada klien atresia ani adalah asidosis
hiperkloremi, infeksi saluran kemih yang berkepanjangan, dan kerusakan uretra.
Komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi antara lain eversi mukosa anal,
stenosis, infaksi dan kostipasi, masalah toilet training, prolaps mukosa
anorectal, dan fistula kambuhan. Komplikasi lainnya antara lain obstruksi
intestinal dan inkontinensia bowel.
BAB
IV
ASUHAN
KEPERAWATAN ATRESIA ANI
I. IDENTITAS
DATA
Nama : An. S
Tempat/tgl lahir : Brebes, 18 Januari
2012
Usia :
1 tahun 4 bulan
Nama Ayah/Ibu : Tn. T / Ny. S
Pekerjaan Ayah : wiraswasta
Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga
Alamat : Jln. H. Japat Sukmajaya RT 06/01,
Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Agama : Islam
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan Ayah : SMA
Pendidikan Ibu : SMP
II. KELUHAN
UTAMA :
Klien masuk ruang perawatan untuk
rencana operasi tutup kolostomi hari
kamis tanggal 13 Juni 2013. Riwayat kehamilan dan kelahiran:
1.
Prenatal
Klien
merupakan anak pertama keluarga bpk. T. selama kehamilan ibu S kurang lebih 5
kali memeriksakan kandungannya ke bidan puskesmas. Ibu klien periksa kehamilan
tidak rutin, dan tidak minum vitamin selama kehamilan secara rutin seperti asam
folat dan tablet Fe. Variasi makanan ibu selama hamil terbatas , ibu koien
mengatakan jarang mengkonsumsi sayuran dan susu, lebih sering makan ayam goreng
yang dibeli di penjual ayam goreng deket rumah keluarga klien. Selama kehamilan
ibu S tidak mengalami ngidam , tapi ibu S
suka minum kopi minimal 1 gelas sehari, dan bapak T seorang perokok
yang suka merokok di dalam rumah dekat
ibu S yang sedang hamil.
2.
Intranatal
Klien
lahir spontan di rumah bidan dengan usia kehamilan 40 minggu.
3.
Postnatal
BB
lahir 2,75 kg dan panjang badan 50 cm. Klien aktif dan langsung menangis ketika
lahir. Setelah lahir ketika dilakukan pemeriksaan rectal toucher/ colok dubur
diketahui klien tidak memiliki lubang anus. 12 jam kemudian klien BAB melalui
lubang kecil dibawah vagina klien.
III. RIWAYAT
MASA LAMPAU
1.
Penyakit
waktu kecil
Sejak
lahir klien sudah diketahui tidak memiliki lubang anus, BAB lewat lubang
dibawah vagina , BAB lancar 2 hari sekali, kemudian saat klien usia 6
bulan saat Anak mulai makan bubur dan
biscuit bayi klien jadi jarang BAB kurang lebih 1 minggu sekali. Saat klien
usia 9 bulan yaitu ketika klien makan lebih padat, klien kadi lebih jarang BAB
kurang lebih 20 hari sekali. Maka keluarga mulai khawatir dan membawa klien ke
RSUP Fatmawati untuk periksa.
2.
Pernah
dirawat di RS
Pernah
dirawat di RS yaitu pada tanggal 3 Desember 2012 untuk operasi kolostomi dan
tanggal 2 April 2013 untuk operasi PSARP. Kedua operasi tersebut dilaksanakn di
RSUP Fatmawati gedung teratai lantai 3 utara.
3.
Obat-obatan
yang digunakan
Amoxan
sirup dan paracetamol sirup
4.
Tindakan
(operasi)
Pembuatan kolostomi tanggal 3 Desember
2012 dan Operasi PSARP tanggal 2 April
2013.
5.
Alergi
Tidak
ada
6.
Kecelakaan
Tidak
pernah
7.
Imunisasi
Imunisasi
lengkap
.
IV. RIWAYAT
SOSIAL
1.
Yang
mengasuh
Yang
mengasuh klien ibu kandung klien.
2.
Hubungan
dengan anggota keluarga
Keluarga
bapak T tinggal di daerah Depok untuk merantau, sementara keluarga yang lain
baik dari pihak bapak T maupun dari pihak ibu S tinggal di daerah Brebes. Klien
merupakan anak pertama keluarga bapak T, dan karena penyakit Yang diderita
klien keluarga bapak T belum berniat
menambah anggota keluarga baru sampai tuntas penyakit klien diobati.
3.
Hubungan
dengan teman sebaya
Sesuai
dengan usianya anak S hanya bermain dngan ibu kandungnya saja, ada beberapa
tetangga bapak T yang memiliki anak seusia anak S dan kadang bermain bersama di
teras rumah kontrakan bapak T.
4.
Pembawaan
secara umum
Secara
umum anak S termasuk anak yang tenang dan tidak mudah menangis ketika ketemu
orang asing. Anak S tampak sangat tenang ketika didekat ibunya, apalagi anak S
masih minum ASI.
5.
Lingkungan
rumah
Keluarga
bapak T tinggal mengontrak di daerah
Sukmajaya Depok, rumah kontrakan bapak T merupakan rumah petakan yang berukuran 4 x 10 meter dan terdiri dari ruang yaitu bagian depan merupakan ruang TV
sekaligus ruang tamu, bagian tengah yaitu ruang tidur dan ruang belakang dapur
dan kamar mandi.
V.
KEBUTUHAN DASAR
1.
Makanan
yang disukai/tidak disukai : Makanan yang disukai ASI dan yang
tidak disukai ot tidak
tahu karena makanan yang diberikan pada anak S juga baru bubur
saja, selain ASI
dan susu formula.
Selera : Baik
Alat
makan yang dipakai : Sendok dan mangkok plastik
Pola
makan/jam : Lebih dari 3 kali/hari,
jamnya tidak tentu.
2.
Pola
tidur :
Tidur siang 2 jam dan tidur malam 8 jam
Kebiasaan sebelum tidur :
Dibacakan cerita dan didekatkan boneka kesayangan.
Tidur
siang : Biasanya mulai jam 11 sampai jam 13 siang.
3.
Mandi :
Dimandikan oleh ibu 2 kali/hari, gosok gigi kadang –kadang dan keramas 2 hari
sekali.
4.
Aktivitas
bermain :
Anak S biasa bermain dengan ibunya.
5.
Eliminasi :
BAB lebih dari 3 kali/hari per
kolostomi, BAK kurang lebih 5 kali/hari.
VI. KEADAAN
KESEHATAN SAAT INI
1.
Diagnosa
Medis
Atresia
ani dengan kolostomi post operasi PSARP
2.
Tindakan
operasi
Rencana
operasi tutup kolostomi tanggal 13 Juni 2013
3.
Status
nutrisi
BB/TB ; 9kg/105 cm
4.
Status
cairan
Ketika
pengkajian tanggal 11 Juni 2013 klien baru masuk RS untuk persiapan operasi tutup kolostomi.
Klien masih minum ASI dan susu formula. Mulai tanggal 12 Juni 2013 klien diet
teh manis saja sekitar 4 gelas belimbing /hari. Selesai operasi tutup kolostomi klien terpasang infus kaen 1B
700 cc+ kcl 10 meq/24 jam.
5.
Obat-obatan
Tanggal
13 Juni 2013 post operasi tutup kolostomi, therapinya adalah: Cefotaxime 2 x
250 mg, Farmadol 3 x 70 mg. Tanggal
14 juni 2013 dapat therapy tambahan yaitu : Ranitidine 2 x 20 mg
6.
Aktivitas
Selama
dirawat klien bermain di tempat tidur, orang tua klien membantu merubah posisi tidur klien, dan kadang-kadang
klien di gendong berjalan-jalan keliling ruang perawatan.
7.
Tindakan
Keperawatan
Perawatan
pre operasi : pendidikan kesehatan pada orang tua klien tentang persiapan
operasi yang harus dilakukan, monitor intake output dan tanda-tanda dehidrasi
terkait dilaksanakannya washing out (WO).
Perawatan
postoperasi : penanganan nyeri post operasi baik mandiri maupun kolaborasi,
monitor intake dan output, monitor tanda-tanda vital dan tanda – tanda infeksi
pada luka operasi, monitor tanda- tanda phlebitis pada area pemasangan infus,
dan perawatan luka operasi.
VII. PEMERIKSAAN
FISIK
Keadaan umum : Baik
TB/BB(Persentil) : 105 cm/9 kg
Lingkar kepala : -
Mata : Penglihatan jelas, konjungtiva
tidak anemis, sclera tidak ikterik
Hidung : Penciuman
baik, tidak secret, lubang hidung kanan
dan kiri kecil.
Mulut : Mukosa lembab, tidak ada
sariawan, karies, gigi geraham berlubang kiri dan kanan
Telinga : Tidak ada gangguan pendengaran,
tidak ada serumen, telinga bersih.
Tengkuk : Tidak ada kaku kuduk
Dada : Pergerakan dada simetris,
tidak ada keluhan nyeri dada
Jantung : Bunyi jantung normal S1 dan S2,
tidak ada gallop, tidak ada murmur.
Paru-paru : Bunyi napas vesikuler, ronkhi dan
wheezing tidak ada.
Perut : supel, tidak ada nyeri
tekan, tidak ada perlukaaan, setelah operasi tanggal 13 Juni 2013 tampak luka
operasi di kuadran kanan bawah.
Punggung : Tidak ada kemerahan.
Genitalia : Bersih, tidak lecet, setelah operasi tanggal
13 Juni 2013 terpasang katheter
Ekstremitas : Tidak ada keluhan, tangan dan kaki bisa
digerkan aktif.
Kulit : Lembab,warna sawo matang,
tampak bersih.
Tanda Vital : S 36, , respirasi : 20x menit, nadi 100
x/menit.
VIII.
PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN
1.
Kemandirian
dan bergaul
2.
Karena
usianya baru 1 tahun 4 bulan, klien masih sangat tergantung pada kedua orang
tuanya.
3.
Motorik
Halus
4.
Klien
baru bisa bermain boneka kesayangannya.
5.
Kognitif
dan bahasa
6.
Klien
baru bisa menyebutkan kata –kata pendek seperti ayah , ibu ,dan mamam.
7.
Motorik
kasar
8.
Klien
belum bisa berjalan, baru bisa merangkak, dan duduk.
XII. ANALISA
DATA
No
|
Data
Klien
|
Masalah Keperawatan
|
1.
|
Data
Subyektif :
-
Orang
tua klien mengatakan belum tahu prosedur perawatan sebagai persiapan operasi.
-
Orang
tua klien mengatakan khawatir dengan keadaan anaknya kalau banyak tindakan
perawatan yang harus di lakukan.
Data
Obyektif :
-
Orang
tua klien tampak cemas ketika masuk ruang perawatan.
-
Orang
tua klien Tampak mondar-mandir antara ruang perawatan klien dan nurse station
ketika belum ada penjelasan dari perawat yang berjaga.
|
Kecemasan pada orang tua klien
berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur persiapan operasi
|
2.
|
Data
Subyektif:
-
Orang
tua klien mengatakan anaknya harus diet minum teh manis saja sampai hari
operasi.
-
Orang
tua klien mengatakan anaknya tidak suka minum teh manis.
Data
Obyektif:
-
Klien
di lakukan wishing out 2x/hari.
-
Bab
klien sesudah dilakukan washing out cair kurang lebih 4kali/24 jam@100 cc.
-
Klien
belum terpasang infus.
-
Turgor
kulit baik, membrane mukosa lembab,ubun-ubun tidak cekung dan mata tidak
cekung.
|
Resiko kekurangan volume cairan
berhubungan dengan output berlebihan.
|
3.
|
Data
Subyektif:
-
Orang
tua klien mngatakan klien rewel dan banyak menangis.
Data
Obyektif:
-
Ekspresi
wajah klien tampak kesakitan.
-
Klien
post operasi tutup kolostomi hari ke 1
-
Ada
luka operasi di abdomen kanan bawah, tidak tampak perdarahan.
-
Klien
belum diberikan analgetik. Nadi 110x/menit, pernapasan 24x/menit.
|
Nyeri akut berhubungan dengan
adanya luka operasi
|
4.
|
Data
Subyektif:
-
Data
Obyektif:
-
Luka
operasi di abdomen kanan bawah hari ke 3.
-
Nadi
110x/menit, suhu 37°C
-
Lekosit
6,1 ribu/ul
|
Resiko infeksi berhubungan
dengan adanya luka operasi
|
IX.
PRIORITAS MASALAH
Masalah
Keperawatan :
a.
Pre
operasi
1. Kecemasan pada orang tua.
2. Resiko kekurangan volume cairan.
b. Post operasi
1.
Nyeri.
2.
Resiko infeksi.
Diagnosa
Keperawatan :
1. Kekurangan pada orang tua.
2. Resiko
kekurangan volume cairan.
3. Nyeri.
4. Resiko
infeksi.
RENCANA
TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN
DENGAN Atresia ani
PADA An.S
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Kriteria Evaluasi
|
Intervensi
|
rasioanal
|
1.
|
Kecemasan pada
orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur persiapan
operasi,ditandai dengan :
Data
Subyektif:
Orang tua klien
mengatakan belum tahu prosedur perawatan sebagai persiapan operasi.
Orang tua klien
mengstsksn khawatir dengan keadaan anaknya kalau banyak tindakan perawatan
yang harus dilakukan.
Data
Obyektif:
Orang tua klien
tampak cemas ketika masuk ruang perawatan.
Orang tua klien
Tampak mondar-mandir antara ruang perawatan klien dan nurse station ketika
belum ada penjelasan dari perawat yang berjaga.
|
Setelah dilakukan
intervensi selama 1x24 jam kecemasan
orang tua berkurang/hilang, ditandai dengan :
Ekspresi wajah
orang tua klien tampak lebih santai dan rileks.
Orang tua klien mau
bekerja sama dengan perawat dalam melakukan prosedur persiapan operasi.
|
Kaji tingkat
pemahaman orang tua tentang prosedur persiapan operasi yang harus dilakukan
pada klien.
Gunakan
sumber-sumber bahan pengajaran, audiovisual.
Jelaskan prosedur
persiapan yang akan dilakukan pada klie,misalnya :
Pemasangan
infus,washing out/WO, pengambilan darah, pemeriksaan radiologi, konsultasi
anak, dan konsultasi anestesi, serta perubahan diet klien.
Jelaskan kembali
kepada orang tua setiap prosedur yang akan dilakukan.
|
Mengkaji tingkat
pemahaman akan membuat pengajaran sesuai dengan kebutuhan orang tua klien.
Bahan yang dibuat
secara khusus akan dapat memenuhi kebutuhan orang tua klien untuk belajar.
Meningkatkan
pemahaman orang tua klien tentang prosedur yang akan di lsakukan sehingga di
harapkan kecemasan orang tua dapat berkurang.
Meningkatnya
pengetahuan orang tua klien membuat kecemasan orang tua klien berkursng dan
dapat mendukung prosedur yang akan di lakukan pada klien .
|
2.
|
Resiko kekurangan
volume cairan berhubungan dengan output berlebihan,ditandai dengan :
Data
Subyektif:
Orang tua klien
mengatakan anaknya harus diet minum teh manis saja sampai hari operasi.
Orang tua klien
mengatakan anaknya tidak suka minum teh manis.
Data
Obyektif:
Klien dilakukan
washing out 2x/hari.
Bab klien sesudah
dilakukan washing out cair kurang lebih 4kali/24jam @100cc.
Klien belum
terpasang infus.
Turgor kulit baik,
membrane mukosa lembab,ubun-ubun tidak cekung, dan mata tidak cekung.
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan dalam 2x24 jam kekurangan volume cairan tidak terjadi,di
tandai dengan :
Tidak ada
tanda-tanda dehidrasi:turgor kulit baik,mata tidak cekung, membrane mukosa
lembab, tanda-tanda vital stabil,dan pengeluaran urine sesuai.
|
Mandiri:
Ukur dan catat
pemasukan dan pengeluaran urine.
Pantau tanda-tanda
vital.
Motivasi orang tua
klien untuk memberikan minum yang maksimal sesuai kebutuhan klien.
Kolaborasi
Berikan cairan
parenteral(bila perlu).
Pantau hasil
laboratorium.
|
Dokumentasi ysng
akurat akan membantu dalam mengidentifikasi kan pengeluaran cairan.
Kulit yang
dingin/lembab, denyut nadi yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer
dan dibutuhkan untuk penggantian cairan tambahan.
Intake oral yang
cukup dapat mengganti output berlebihan.
Gantikan kehilangan
cairan yang telah didokumentasikan .
Indikasi
hidrasi/volume sirkulasi.
|
3.
|
Nyeri akut
berhubungan dengan adanya luka operasi, ditandai dengan :
Data
Subyektif :
Orang tua klien
mengatakan klien rewal dan menangis.
Data
Obyektif :
Ekspresi wajah
klien tampak kesakitan.
Klien post operasi
tutup kolostomi hari ke 1.
Ada luka operasi di
abdomen kanan bawah, tidak tampak perdarahan .
Klien belum
diberikan analgetik.
Nadi 110x/menit,
pernapasan 24x/menit.
|
Setelah dilakukan
intervensi 3x24 jam intensitas nyeri klien berkurang,dengan kriteria
intensitas nyeri berkurang dari 5 menjadi 3.
Tanda-tanda vital
dalam batas normal.
|
Mandiri:
Kaji intensitas
nyeri klien.
Ukur tanda-tanda
vital.
Kaji penyebab
ketidaknyamanan lain selain prosedur operasi.
Lakukan perubahan
posisi tidur klien yang nyaman buat klien.
Gunakan terapi
musik untuk mengurangi nyeri klien.
Kolabaorasi
pemberian analgetik IV
|
Menentukan rencana intervensi sesuai skala
nyeri klien.
Dapat
mengindikasikan rasa sakit akut dan dan ketidaknyamanan.
Ketidaknyamanan
mungkin diperburuk dengan penekanan pada kateter, selang NGT,atau area
penusukan infuse.
Mungkin mengurangi
sakit dan meningkatkan sirkulasi.
Terapi musik dapat
mendistraksi dan menurunkan nyeri klien
Analgetik IV akan
dengan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan penghilangan yang lebih
efektif dengan obat dosis kecil.
|
4.
|
Resiko infeksi
|
Setelah dilakukan
intervensi keperawatan 3x24 jam tidak terjadi infeksi pada luka operasi
dengan kriteria :
Tanda-tanda vital
dalam batas normal .
Tidak tampak
tanda-tanda infeksi pada luka operasi.
|
Mandiri
Pantau tanda-tanda
vital, perhatikan peningkatan suhu.
Observasi keadaan
luka terhadap tanda-tanda infeksi
Pertahankan teknik
aseptik dalam perawatan luka.
Lakukan perawatan
luka sesuai indikasi.
Kolaborasi
pemberian antibiotik sesuai indikasi.
|
Suhu malam hari
memuncak yang kembali normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi.
Perkembangan
infeksi memperlambat pemulihan luka.
Melindungi klien
dari kontaminasi silang selama panggantian balutan luka.
Menjaga luka tetap
bersih dan tidak terkontaminasi infeksi dari luar.
Diberikan secara
profilaktis untuk mencegah infeksi.
|
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Atresia
ani merupakan kelainan congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar.
Atresia ani kemungkinan disebabkan oleh fakotr genetik dan faktor lingkungan
walaupun belum pasti. Prinsip penatalaksanaan atresia ani tergantung
klasifikasinya. Prinsip asuhan keperawatan baik pre maupun postoperasi tutup
kolostomi adalah mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan.
Masalah
keperawatan pada anak S dengan atresia ani adalah kecemasan, kekurangan volume
cairan untuk masa preoperasi, dan untuk postoperasi adalah nyeri akut, dan
resiko infeksi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah observasi
tanda-tanda vital, observasi tanda-tanda infeksi, observasi tanda-tanda
dehidrasi, menghitung intake dan output, penggunaan terapi musik, kolaborasi
pemberian antibiotik dan analgetik, kolaborasi pemberian cairan intravena, dan
perawatan luka.
Evaluasi
yang dilakukan dengan menerapkan asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri dan
ketidaknyamanan pada anak dengan menggunakan terapi musik, dapat memberikan
dukungan pada anak untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyaman yang dialami selama
menjalani perawatan di rumah sakit. Penggunaan terapi musik 3 hari pelaksanaan
intervensi pada anak membuat anak tampak
lebih tenang, dan kooperatif selama menjalani perawatan.
B. Saran
Dengan
dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan
pembaca. Selanjutanya kami pembuat makalah mengaharapkan kritik dan saran
pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ariestia,
D.B. (2010). Psikologi musik:terapi kesehatan. Jakarta: Golden Terayon press.
Cealy, B. L., & Sowden, L.A.(
2002). Buku saku keperawatan pediatrik. Edisi ke3. Jakarta : EGC.
Bobak, I.M., Lowdermik, D.L.,
& Jensen, M.D. (2005). Buku ajar keperawatan maternitas. Edisi 4. Jakarta:
EGC Doenges, M. E., Moorhouse, M.F., & Geissler, A.C.( 2000). Rencana
asuhan keperawatan. Jakarta: EGC
Dorland. (1998). Kamus saku kedokteran Dorlana. Alih bahasa: Dyah
Nuswantari Ed. 25. Jakarta: EGC.
Hoekenberry, M., Winkelstein,
M.L., Schwartz, P,,Wilson,D, Wong,D.L. (2003). Wong’s Nursing Care of Infants
and Children. Philadelphia: Mosby, Inc.
Hockenberry,M., Winkelstein,M.L.,
Wilson,D., Wong, D.L.(2009). Essentials
of pediatric nursing. 8th edition. Missouri: Mosby Elsevier.
(http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/anal+atresia,+atresia+ani)
diambil pada tanggal 24 Juni 2013.
Broadwell, J.D., & Saunders,
R.B. (1993). Child health nursing: a comprehensive approach to the care of
children and their families. Philadelphia: J. B. Lippincott.
Marks, M. E. (1998). Broadribb’s
introductory pediatric nursing. 5th Edition. Philadelphia: Lippincott-Raven
Publisher.
www. Cincinnatichildrens.org.
Diakses pada tanggal 24 Juni 2013 pkl.
19.00 WIB.
Mucci, K., & Mucci, R.
(2002). The healing sound of music: Manfaat music untuk kesehatan dan
kebahagian anda. Jakarta: Gramedia psutaka utama.
Potter, P.A., & Perry, A.G.
(2005). Fundamental of nursing: concept, process, and practice. (6th ed).
St.Louis: Mosby-year book, Inc.
Purwati,N.H.(2010) Pengaruh
terapi musik terhadap tingkat nyeri anak usia prasekolah yang dilakukan
pemasangan infuse di rumah sakit Islam Jakarta. Tesis open. Depok: FIK UI.
Speer,
M.K. ( 2008). Rencana asuhan keperawatan
pediatric dengan clinical pathways. Alih bahasa: Ake dan Komalasari. Edisi 3.
Jakarta:EGC.
Wong,
Donna L. (2003). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Sri Kurnianianingsih
(ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.
Komentar
Posting Komentar