KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Segala
puji bagi Allah SWT telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya
kami tidak sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta
salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi
Muhammad SAW yang kita nani-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis
mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Komunikasi
Dalam Keperawatan II dengan judul “Analisa Diri Perawat untuk Menumbuhkan Self
Awarnes dalam Hubungan Interpersonal”.
Penulis
tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, agar makalah
ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Dan apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf.
Demikian,
semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima Kasih.
Kendari,
14 Maret 2019
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG ......................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ..................................................................................... 2
C. TUJUAN MAKALAH ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 3
A. PENGERTIAN KESADARAN DIRI ............................................................... 3
B. MANFAAT KESADARAN DIRI ...................................................................... 3
C. ANALISIS DIRI PERAWAT ............................................................................. 3
D. ASPEK-ASPEK ANALISA KESADARAN DIRI
PERAWAT .................... 4
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 9
A. KESIMPULAN .................................................................................................... 9
B. SARAN .................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Keperawatan merupakan
bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan
secara keseluruhan. Keperawatan adalah ilmu yang berkenaan dengan
masalah-masalah fisik, psikologis, sosiologis, budaya dan spiritual dari
individu. Selain itu pelayanan keperawatan merupakan salah satu faktor penentu
baik buruknya mutu dan citra rumah sakit. Oleh karena itu kualitas pelayanan
keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin. (Depkes,RI)
Untuk menilai kualitas pelayanan keperawatan
diperlukan adanya standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi
perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang diwujudkan dalam bentuk
proses keperawatan baik dari pengkajian sampai evaluasi serta pendokumentasian
asuhan keperawatan. Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan
pelaporan yang dimiliki perawat dalam melakukan catatan keperawatan yang
berguna untuk kepentingan klien, perawat dan tim kesehatan dalam memberikan
pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan lengkap secara
tertulis dengan tanggung jawab perawat. (Nursalam)
Motivasi merupakan energi yang
mendorong seseorang untuk bangkit menjalankan tugas pekerjaan mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Agar motivasi dapat terus ada, diperlukan cara untuk
menciptakan iklim kerja diantaranya mengidentifikasi sumber stress, yang berupa
jumlah pasien berlebihan, kondisi pasien yang berat dan serius, staf perawat
kurang, konflik diantara perawat dan dokter. Melakukan tindakan pencegahan atau
mengurangi stress, yang berupa rotasi dinas yang luwes, tidak terlalu sering
melakukan perubahan dan mengadakan program latihan. Menciptakan suasana kerja
yang akrab dan terbuka, komunikasi yang efektif, mengurangi kontrol yang
berlebihan, memberikan reinforcement pada hasil kerja, peningkatan
kesejahteraan (Swansburg)
Motivasi merupakan suatu proses
emosi dan proses psikologis dan bukan logis. Motivasi pada dasarnya merupakan
proses yang tidak disadari. Jadi dalam tiap individu kebutuhan untuk memotivasi
berbeda dari waktu ke waktu. Kuncinya kebutuhan mana yang saat itu paling
dominan. Untuk pendokumentasian asuhan keperawatan dibutuhkan motivasi perawat
yang timbul sepenuhnya dari hati. Sehingga untuk menimbulkan motivasi yang baik
maka perawat sendiri perlu menyadari kebutuhan dan kepentingan pendokumentasian
asuhan keperawatan (Swansburg)
Untuk memotivasi seorang perawat,
selain kesadaran dari orang itu sendiri, perlu orang lain yang memberi motivasi
karena dengan kehadiran orang lain akan semakin meningkatkan motivasi dalam
diri perawat. Dalam hal ini sosok manajer perawat diharapkan dapat
mengaplikasikan teknik, keterampilan dan pengetahuan termasuk teori motivasi
untuk membantu perawat memperoleh apa yang mereka inginkan dari pekerjaan
perawatan (Swansburg)
Semua orang mempunyai motivasi
namun pilihan untuk bertindak tergantung dari individu. Untuk itu motivasi
harus memberikan stimulus yang baik bagi seseorang dalam melakukan sesuatu.
Setiap orang pasti mempunyai motivasi yang berbeda-beda, walaupun berbeda
tetapi janganlah menghambat proses pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan
yang menjadi tolok ukur bagi perawat dalam bekerja. Sebaliknya dengan perbedaan
motivasi akan meningkatkan kesadaran diri bahwa perawat sebenarnya merupakan
pekerjaan yang membutuhkan pelayanan
yang prima bagi pasien-pasiennya
B.
RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan
masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa
itu kesadaran diri ?
2. Apa
saja manfaat dari kesadaran diri ?
3. Apa
itu analisis diri perawat ?
4. Apa
saja yang menjadi aspek-aspek analisa kesadaran diri perawat ?
C.
TUJUAN
MAKALAH
Adapun tujuan
dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui
apa itu kesadaran diri
2. Memahami
manfaat dari kesadaran diri
3. Mengetahui
apa itu analisa diri perawat
4. Memahami
aspek-aspek analisa kesadaran diri perawat
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KESADARAN DIRI
Kesadaran diri merupakan proses
mengenali motivasi, pilihan dan kepribadian kita lalu menyadari pengaruh
faktor-faktor tersebut atas penilaian, keputusan dan interaksi kita dengan
orang lain.
B.
MANFAAT
KESADARAN DIRI
Manfaat dari
kesadaran diri yaitu sebagai berikut :
1.
Memahami
diri dalam relasi dengan orang lain
2.
Menyusun
tujuan hidup dan karir
3.
Membangun
relasi dengan orang lain
4.
Memahami
nilai-nilai keberagaman
5.
Memimpin
orang lain secara efektif
6.
Meningkatkan
produktivitas
7.
Meningkatkan
kontribusi pada perusahaan, masyarakat dan keluarga
C.
ANALISA DIRI
PERAWAT
Analisa diri
perawat adalah kemampuan perawat dalam menilai aspek-aspek yang dimiliki di
dalam dirinya agar dapat melakukan kemampuan diri secara terapeutik kepada
klien.
Perawat
merupakan profesi yang menolong manusia untuk beradaptasi secara positif
terhadap stres yang dialami. Pertolongan yang diberikan harus bersifat
terapeutik. Instrumen utama yang dipakai adalah diri perawat sendiri. Jadi,
analisa diri sendiri merupakan dasar utama untuk dapat memberikan asuhan
keperawatan yang berkualitas.
Fokus
analisa diri yang penting adalah kesadaran diri, klarifikasi nilai, eksplorasi
perasaan, kemampuan menjadi model, altruisme dan rasa tanggung jawab. Khususnya
dalam berhubungan dengan klien anak, perawat perlu mengkaji pengalaman masa
kanak-kanaknya karena dapat mempengaruhi interaksi. Dengan mengetahui sifat
diri sendiri diharapkan perawat dapat memakai dirinya secara terapeutik untuk
menolong klien tanpa merusak integritas diri.
D.
ASPEK-ASPEK
ANALISA KESADARAN DIRI PERAWAT
1. Kesadaran
Diri
Helper yang efektif adalah
mampu menjawab pertanyaan, siapa saya? Perawat adalah orang yang care akan
kebutuhan pasien baik biologi, psikologi dan sosiokultural dengan melihat
rata-rata penampilan yang dimilikinya. Perawat belajar tentang kecemasan,
kemarahan, kesedihan dan kegembiraan dalam membantu pasien terhadap kontinyu
sehat dan sakit.
Banyak pendapat yang
mengatakan bahwa perawat perlu menjawab pertanyaan “siapa saya”. Perawat
harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan perilakunya secara pribadi maupun
sebagai pemberi perawatan. Kesadaran diri akan membuat perawat menerima perbedaan
dan keunikan klien.
Campbell (1980) mendefenisikan
kesadaran diri menurut model keperawatan secara holistik meliputi komponen
psikologik, fisik, lingkungan dan pilosopi :
a.
Komponen
psikologi
Termasuk pengetahuan, emosi,
motivasi, konsep diri dan personaliti.
b.
Komponen
fisik
Adalah pengetahuan tentang
fisiologi personal dan umum, juga termasuk sensasi tubuh, gambaran diri dan
potensial fisik.
c.
Komponen
lingkungan
Berisi tentang lingkungan
sosiokultural, hubungan dengan orang lain, dan pengetahuan tentang hubungan
antara manusia dan alam.
d.
Komponen
pilosopi
Adalah perasaan tentang makna kehidupan. Pilosopi diri berupa tentang
kehidupan dan kematian baik yang disadari maupun tidak disadaritermasuk
kemampuan superior, tetapi juga meliputi tanggung jawab terhadap perilaku baik
secara etik dan nyata.
Kesemua komponen merupakan model yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kesadaran diri dan perkembangan diri perawat dan pasien untuk mengerti akan
dirinya. Kesadaran diri dan perkembangan diri perawat perlu ditingkatkan agar
penggunaan diri secara terapeutik dapat lebih efektif.
Johari Window (Stuart dan Sunden. 1987, h.98) menggambarkan tentang
perilaku, pikiran, perasaan seseorang melalui gambar berikut:
1
Diketahui
oleh diri sendiri dan orang lain
|
2
Hanya
diketahui oleh orang lain
|
3
Hanya
diketahui oleh diri sendiri
|
4
Tidak
diketahui oleh siapapun
|
Kuadran 1 adalah kuadran yang terdiri dari perilaku, pikiran dan
perasaan yang diketahui oleh individu dan orang lain disekitarnya.
Kuadran 2 sering disebut kuadran buta karena hanya diketahui
oleh orang lain.
Kuadran 3 disebut rahasia karena hanya diketahui oleh individu.
Ada 3 prinsip yang dapat diambil dari Johari Window yaitu :
a)
Perubahan
satu kuadran akan mempengaruhi kuadran yang lain.
b)
Jika kuadran
1 yang paling kecil, berarti komunikasinya buruk atau kesadaran dirinya kurang.
c)
Kuadran 1
paling besar pada individu yang mempunyai kesadaran diri yang tinggi.
Kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui tiga cara (Stuart dan Sundeen,
1987,h.98 – 99) yaitu :
a)
Mempelajari
diri sendiri.
Proses eksplorasi diri sendiri, tentang pikiran, perasaan, perilaku,
termasuk pengalaman yang menyenangkan, hubungan hubungan interpersonal dan
kebutuhan pribadi. Caranya meningkatkan pengetahuan diri, diperlukan dengan
belajar tentang diri sendiri. Individu perlu menampilkan keikhlasan dalam
menampilkan emosinya, identifikasi kebutuhan dan kemampuan personal, dan
penampilan bentuk tubuh terhadap kebebasan, kegembiraan, dan spontan. Yang
termasuk penampilan personal meliputi pikiran, perasaan, memori dan rangsangan.
b)
Belajar dari
orang lain.
Belajar dan mendengar orang lain. Pengetahuan tentang diri tidak bisa
diketahui oleh diri sendiri. Juga berhubungan dengan orang lain, individu
mempelajari diri sendiri, juga belajar untuk mendengar secara aktif dan terbuka
menerima umpan balik dari orang lain. Kesediaan dan keterbukaan menerima umpan
balik orang lain akan meningkatkan pengetahuan tentang diri sendiri.
Aspek yang negatif memberi kesadaran bagi individu untuk memperbaikinya
sehingga individu akan selalu berkembang setiap menerima umpan balik.
c)
Membuka
diri.
Keterbukaan merupakan salah satu kriteria kepribadian yang sehat. Untuk ini
harus ada teman intim yang dapat dipercaya tempat menceritakan hal yang
merupakan rahasia.
Proses peningkatan kesadaran diri sering menyakitkan dan tidak mudah
khususnya jika ditemukan konflik dengan ideal diri. Tetapi merupakan tantangan
untuk berubah dan tumbuh.
2. Eksplorasi
Perasaan
Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya, dan mengontrolnya
agar ia dapat menggunakan dirinya secara terapeutik (Stuart dan Sundeen,
1987,h.102).
Jika perawat terbuka pada perasaannya maka ia mendapatkan dua informasi
penting yaitu bagaimana responnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien.
Sewaktu berbicara dengan klien, perawat harus menyadari responnya dan
mengontrol penampilannya.
3. Kemampuan
Menjadi Model (Role Model)
Perawat yang mempunyai masalah pribadi, seperti ketergantungan obat,
hubungan interpersonal yang terganggu, akan mempengaruhi hubungannya dengan
klien (Stuart dan Sundeen, 1987, h.102)
Perawat mungkin menolak dan mengatakan ia dapat memisahkan hubungan
profesional dengan kehidupan pribadi. Hal ini tidak mungkin pada asuhan
kesehatan jiwa karena perawat memakai dirinya secara terapeutik dalam menolong
klien.
Perawat yang efektif adalah perawat yang dapat memenuhi dan memuaskan
kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, distres atau
pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Perawat
diharapkan bertanggung jawab atas perilakunya, sadar akan kelemahan dan
kekurangannya.
Ciri perawat yang dapat menjadi role model
a.
Puas akan
hidupnya
b.
Tidak
didominasi oleh stress
c.
Mampu
kembangkan kemampuan
d.
Adaptif
4. Altruisme atau Panggilan Jiwa
Perawat harus dapat menjawab,
mengapa kamu ingin menolong orang lain? helper yang baik harus interes dengan
orang lain dan siap menolong dengan cara mencintai dari manusia tersebut.
Secara benar bahwa seseorang selama hidupnya membutuhkan kepuasan dan
penyelesaian dari kerja yang dilakukan. Tujuannya mempertahankan keseimbangan
antara kedua kebutuhan tersebut.
Altruisme adalah perhatian
terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri.
Efektif “helper”
a.
Interes pada orang lain
b.
Membantu dengan tulus dan cinta kasih
c.
Perhatian terhadap kesejahteraan orang lain
Altruisme lebih menitikkan pada kesejahteraan orang lain. Tidak diartikan
secara altruistik diri juga tidak menampilkan kompensasi yang adekuat dan
pengulangan atau pengingkaran secara praktis atau pengorbanan diri.
Akhirnya, altruisme juga dapat diasumsikan sebagai bentuk perubahan sosial
yang dibuat untuk manusia dalam bentuk kebutuhan akan kesejahteraan. Salah satu
tujuannya adalah semua profesional harus dapat membantu orang lain dalam pemberian
pelayanan dan mengembangkan kemampuan sosial. Secara legitimasi diperlukan
peran perawat dalam melakukan pekerjaannya untuk mengadakan perubahan struktur
yang besar dan proses perubahan sosial dalam meningkatkan kesehatan individu
dan kemampuan dirinya.
5. Etika dan Tanggung Jawab
Keyakinan diri pada seseorang
dan masyarakat dapat memberikan berupa kesadaran akan petunjuk untuk melakukan
tindakan. Kode untuk perawat umumnya menampilkan penguatan nilai hubungan
perawat-klien dan tanggung jawab dan pemberian pelayanan yang merupakan rujukan
untuk semua perawat dalam memberikan penguatan untuk kesejahteraan pasien dan
tanggung jawab sosial. Pilihan etik bertanggung jawab dalam menentukan
pertanggung jawaban, risiko, komitmen dan keadilan.
Hubungan perawat dengan etik
adalah kebutuhan akan tanggung jawab untuk merubah perilaku. Dimana harus
diketahui batasan dan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki. Juga dilakukan oleh
anggota tim kesehatan, perawat yang setiap waktu siap untuk menggali
pengetahuan dan kemampuan dalam menolong orang lain; sumber-sumber yang
digunakan guna dipertanggung jawabkan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kesadaran merupakan proses dimana seseorang memahami dan mengerti akan
suatu keadaan yang menjadikan individu itu sendiri sadar dan paham betul dengan
apa yang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Kesaadaran diri merupakan proses
mengenali motivasi, pilihan dan kepribadian kita lalu menyadari pengaruh
faktor-faktor tersebut atas penilaian, keputusan dan interaksi kita dengan
orang lain.
B. SARAN
Untuk menjadi pribadi yang baik dan dapat diterima dalam sebuah interaksi
sangatlah penting individu atau masing-masing pribadi untuk mengenal akan
kehidupan pribadinya dahulu serta menerima kelebihan dan kekurangannya, dan untuk
menjadi individu yang efektif disarankan setiap individu dapat memenuhi dan
memuaskan kehidupan pribadi.
DAFTAR
PUSTAKA
Depkes RI. Standar Asuhan
Keperawatan. Jakarta. 1997.
Nursalam. Proses dan
Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik. Edisi 2. Jakarta. Salemba
Medika. 2008.
Swansburg C.R. Pengembangan
Staf Keperawatan, Suatu Pengembangan SDM. Jakarta. EGC. 200
Komentar
Posting Komentar