BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Diera globalisasi sekarang ini bidang kesehatan banyak mengalami
pemuktahiran dan pekembangan-perkembangan ilmu yang mencuri perhatian
masyarakat. Seiring dengan itu banyak pula masalah-masalah yang tentunya mampu
membuat derajat kesehatan manusia menurun. Dengan adanya masalah-masalah
tersebut maka status kesehatan masyarakat juga mengalami degradasi.Pada masa
sekarang status kesehatan telah menjadi suatu keharusan untuk dipertahankan
bagi setiap anggota masyarakat yang bermukim dalam suatu wilayah tertentu.
Status kesehatan sekarang telah dianggap sesuatu yang berharga dan menjadi
suatu hal yang harus ditingkatkan oleh setiap manusia.
Keberhasilan program pendidikan kesehatan
yang meliputi perilaku kesehatan dan domain kesehatan sangat besar peranannya
guna mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan kesehatan yang
meliputi perilaku kesehatan dan domain kesehatan ini harus didukung oleh semua
pihak terutama masyarakatnya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat dan tentunya menyadarkan mereka tentang pentingnya
kesehatan itu sendiri.Kesehatan sendiri adalah ilmu dan seni mencegah penyakit,
memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendidikan
kesehatan. Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat, maka perlu dilakukan
pendidikan, khususnya pendidikan yang ditujukan kepada masyarakat.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian
pendidikan kesehatan ?
2. Apa saja Tujuan
pendidikan kesehatan ?
3. Apa saja Ruang lingkup
pendidikan kesehatan ?
4. Apa Pentingnya
pendidikan kesehatan ?
5. Apa saja Konsep
pembelajaran pendidikan kesehatan ?
6. Apa Ilmu-ilmu bantu
pendidikan kesehatan ?
7. Apasaja
Prinsip-prinsip pendidikan kesehatan ?
8. Apa Peranan pendidikan
kesehatan ?
9. Proses pendidikan
kesehatan ?
10. Dimana saja Tempat
pelaksanaan pendidikan kesehatan ?
11. Apa Aspek sosbud
pendidikan kesehatan ?
1.3TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
untuk melengkapi tugas dari mata kuliah “DDK IV” dan juga sebagai
referensi bagi pembaca dalam mendapatkan informasi tentang pendidikan
dkesehatan sehingga pembaca dapat memahami tentang kesehatan masyarakat yang
sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol
dam memperbaiki kesehatan individu. Kesempatan yang direncanakan untuk
individu, kelompok atau masyarakat agar belajar tentang kesehatan dan melakukan
perubahan-perubahan secara suka rela dalam tingkah laku individu (Entjang,
1991)
Pengertian pendidikan kesehatan merupakan sejumlah pengalaman yang
berpengaruh menguntungkan secara kebiasaan, sikap dan pengetahuan ada
hubungannya dengan kesehatan perseorangan, masyarakat, dan bangsa. Kesemuanya
ini, dipersiapkan dalam rangka mempermudah diterimanya secara suka rela
perilaku yang akan meninhkatkan dna memelihara kesehatan.Menurut Wood
dikutip dari Effendi (1997)
Unsur program ksehatan dan kedoktern yang didalamnya terkandung rencana
untuk merubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan tujuan untuk membantu
tercapainya program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan. Menurut Stewart dikutip dari Effendi (1997)
Pendidikan kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Sedang dalam keperawatan,
pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri
untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi
masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat
berperan sebagai perawat pendidik. Menurut (Notoatmodjo. S, 2003: 20)
2.2 TUJUAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah
agar orang mampu menerapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu
memahami apa yg dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya yg
ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar, dan mampu memutuskan
kegiatan yg tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan
masyarakat (Mubarak, 2009).
Menurut Undang-undang Kesehatan No. 23
Tahun 1992 dan WHO, tujuan pendidikan kesehatan adalah meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan; baik secara
fisik, mental dan sosialnya, sehingga produktif secara ekonomi maupun social,
pendidikan kesehatan disemua program kesehatan; baik pemberantasan penyakit
menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun
program kesehatan lainnya (Mubarak, 2009).
Menurut Benyamin Bloom (1908) tujuan
pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan 3 domain perilaku yaitu
kognitif (cognitive domain), afektif (affective domain),
dan psikomotor (psychomotor domain). (Notoatmodjo, 2003: 127)
Menurut Notoatmodjo (2007: 139) dalam
perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan
kesehatan, yakni:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang
tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan:
·
Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar.
3) Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
ke dalam komponen – komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi dan masih
ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
1. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau obyek.
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan (obyek).
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas
yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah
adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
1. Praktik atau tindakan
(practice)
Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:
1) Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan
diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
2) Respon terpimpin (guided response)
Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan
contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat dua.
3) Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai
praktik tingkat tiga.
4) Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran
tindakan tersebut.
2.3 RUANG LINGKUNG PENDIDIKAN KESEHATAN
Menurut ( Notoatmodjo. S, 2003: 27 )
ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara
lain: dimensi aspek kesehatan, dimensi tatanan atau tempat pelaksanaan
pendidikan kesehatan,dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan.
1. Aspek Kesehatan
Telah menjadi kesepakatan umum bahwa
kesehatan masyarakat itu mencakup empat aspek pokok yaitu:
1. Promosi ( promotif )
2. Pencegahan ( preventif
)
3. Penyembuhan ( kuratif
)
4. Pemulihan ( rehabilitatif
)
1. Tempat Pelaksanaan
Pendidikan Kesehatan
Menurut dimensi pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan
menjadi lima yaitu:
1. Pendidikan kesehatan
pada tatanan keluarga (rumah tangga)
2. Pendidikan kesehatan
pada tatanan sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
3. Pendidikan kesehatan
di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang bersangkutan.
4. Pendidikan kesehatan
di tempat-tempat umum, yang mencakup terminal bus, stasiun, bandar udara,
tempat-tempat olahraga, dan sebagainya.
5. Pendidikan kesehatan
pada fasilitas pelayanan kesehatan, seperti: rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik
rumah bersalin, dan sebagainya.
1. Tingkat Pelayanan
Kesehatan
Dimensi tingkat pelayanan kesehatan pendidikan kesehatan dapat dilakukan
berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari leavel and clark, sebagai berikut;
1. Promosi kesehatan
seperti peningkatan gizi, kebiasaan hidup dan perbaikan sanitasi lingkungan.
2. Perlindungan khusus
seperti adanya program imunisasi.
3. Diagnosis Dini dan
Pengobatan Segera.
4. Pembatasan Cacat yaitu
seperti kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan
penyakit seringkali mengakibatkan masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya
sampai tuntas, sedang pengobatan yang tidak sempurna dapat mengakibatkan orang
yang ber sangkutan menjadi cacat.
5. Rehabilitasi
(pemulihan).
2.4 PENTINGNYA PENDIDIKAN KESEHATAN
Banyak dari kita yang sudah diajarkan
pentingnya kesehatan sejak menginjak pendidikan sekolah dasar hingga bangku
sekolah menengah atas. Sehingga ketika kita dewasa, kita bisa mengetahui mana
yang berguna bagi kesehatan dan mana yang bisa menurunkan kesehatan.Jika kita
maknai lebih lanjut, sebenarnya ada beberapa alasan mengapa pendidikan
kesehatan itu Penting dan perlu diberikan. Antara lain:
1. Tercapainya perubahan
perilaku individu, keluarga dan masyarakat, dalam membina dan memelihara
perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta peran aktif dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan yg optimal.
2. Terbentuknya perilaku
sehat pada individu, keluarga dan masyarakat yg sesuai dengan konsep hidup
sehat baik fisik, mental dan social sehingga dapat menurunkan angka kesakitan
dan kematian.
3. Agar orang mampu
menerapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu memahami apa yg dapat
mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya yg ada pada mereka
ditambah dengan dukungan dari luar, dan mampu memutuskan kegiatan yg tepat guna
untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat
2.5 KONSEP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Pendidikan kesehatan adalah suatu
penerapan konsep pendidikan didalam bidang kesehatan. Pendidikan kesehatan
adalah suatu pedagogik praktis atau praktek pendidikan. Konsep dasar pendidikan
adalah proses belajar yang berarti didalam pendidikan itu terjadi proses
pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan yang lebih dewasa, lebih baik, dan
lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Berangkat dari suatu
asumsi bahwa manusia sebagai makhluk social dalam kehidupannya untuk mencapai
nilai-nilai hidup didalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang
mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu dan
sebagainya). Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang individu, kelompok atau
masyarakat tidak terlepas dari kegiatan belajar.
Seseorang dapat dikatakan belajar
apabila didalam dirinya terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari
tidak dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan sesuatu.
Kegiatan belajar tiu mempunyai ciri-ciri
:
1) Belajar
adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan diri pada individu, kelompok atau
masyarakat yang sedang belajar, baik actual maupun potensial
2) Hasil
belajar adalah bahwa perubahan tersebut di dapatkan karena kemampuan baru yang
berlaku untuk waktu yang relative lama
3)
Perubahan itu terjadi karena usaha dan disadari bukan karena kebetulan
Bertolak dari konsep pendidikan, maka
konsep pendidikan kesehatan itu juga proses belajar pada individu, kelompok
atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu,
dari tidak mampu mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu
dan lain sebagainya.
Pendidikan didefinisikan sebagai usaha
atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam
meningkatkan kemampuan (Prilaku) nya/mereka untuk mencapai kesehatannya/mereka
secara optimal. Batasan-batasan konsep pendidikan kesehatan yang sering
dijadikan acuan antara lain dari : Nyswander, Stuart, Green, tim ahli WHO dan
lain sebagainya.
2.6 ILMU-ILMU BANTU PENDIDIKAN KESEHATAN
Dalam perkembangannya, suatu ilmu secara
sadar ataupun tidak sadar memerlukan ilmu-ilmu lain sebagai alat bantunya. Ilmu
pendidikan yang mempunyai tujuan akhir pada perubahan tingkah laku manusia
sudah barang tentu memerlukan banyak sekali ilmu bantu sesuai dengan aspek yang
mempengaruhi tingkah laku. Perilaku manusia cenderung bersifat holistik
(menyeluruh). Sebagai arah analisis, perilaku .manusia tersebut dapat dibagi
menjadi 3 aspek, yakni aspek fisiologi, psikologi dan sosial. Ketiga aspek
tersebut sulit dibedakan dalam pengaruh dan kontribusi pembentukan perilaku
manusia.
Ilmu-ilmu yang mempelajari faktor-faktor
tersebut di atas antara lain psikologi, antropologi, sosiologi, komunikasi dan
sebagainya. Oleh karena itu untuk menganalisis dan memecahkan masalah kesehatan
dari segi edukatif, sebenarnya adalah menganalisis dan memecahkan masalah
tingkah laku individu atau masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan
mereka. Umumnya tingkah laku itu dijabarkan di dalam 3 bentuk, yakni
knowledge, attitude, dan practice (KAP). Jadi apabila kita melihat problem
kesehatan dengan kacamata edukatif maka yang tampak adalah bagaimana sikap
pengetahuan dan kebiasaan hidup dari masyarakat serta faktor-faktor yang
mempengaruhi. Demikian pula dengan cara pemecahannya.
2.7 PRINSIP PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Pendidikan kesehatan
bukan hanya pelajaran di kelas, tetapi merupakan kumpulan pengalaman dimana
saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan
kebiasaan sasaran pendidikan.
2. Pendidikan kesehatan
tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada
akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan
tingkah lakunya sendiri.
3. Bahwa yang harus
dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
4. Pendidikan kesehatan
dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
2.8 PERANAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Ahli kesehatan masyarakat dalam membicarakan status kesehatan mengacu
kepada H.L.Blum. Blum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling
besar terhadap status kesehatan. Disusul oleh perilaku mempunyai andil nomor
dua. Pelayanan kesehatan, dan keturunan mempunyai andil kecil terhadap status
kesehatan.
Lawrence Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi atau
dipengaruhi 3 faktor pokok yakni :
1) Faktor-faktor prediposisi (predisposing
factors)
2) Faktor-faktor yang mendukung (enabling factors)
3) Faktor-faktor yang memperkuat atau
mendorong (reinforcing factors)
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan pendidikan
kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku
individu kelompok atau masyarakat sesuai dengan nila-nilai kesehatan. Dengan
kata lain pendidikan kesehatan adalah suatu usaha ntuk menyediakan kondisi
psikologis dari sasaran agar mereka berperilaku sesuai dengan tuntutan
nilai-nilai kesehatan.
2.9 PROSES PENDIDIKAN KESEHATAN
Pokok dari pendidikan kesehatan adalah proses belajar. Kegiatan belajar
terdapat tiga persalan pokok, yakni :
1. Persoalan masukan
(input)
Persoalan masukan dalam pendidikan kesehatan adalah menyangkut sasaran
belajar (sasaran didik) yaitu individu, kelompok atau masyarakat yang sedang
belajar itu sendiri dengan berbagai latar belakangnya.
2. Persoalan proses
Persoalan proses adalah mekanisme dan
interaksi terjadinya perubahan kemampuan (prilaku) pada diri subjek belajar
tersebut. Di dalam proses ini terjadi pengaruh timbale balik antara berbagai
faktor, antara lain : subjek belajar, pengajar (pendidik atau fasilitator)
metode dan teknik belajar, alat bantu belajar, dan materi atau bahan yang
dipelajari.
3. Keluaran (output)
Keluaran adalah merupakan hasil belajar
itu sendiri yaitu berupa kemampuan atau perubahan perilaku dari subjek belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
belajar ini ke dalam 4 kelompok besar, yakni : Faktor materi (bahan mengajar),
lingkungan, instrumental, dan subjek belajar. Faktor instrumental ini terdiri
dari perangkat keras (hardware) seperti perlengkapan belajar dan alat-alat
peraga, dan perangkat lunak (software) seperti fasilitator belajar, metode
belajar, organisasi dan sebagainya
2.10 TEMPAT PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Pendidikan kesehatan dapat berlangsung
diberbagai tempat sehingga dengan sendirinya sasarannya juga berbeda. Misalnya:
1) Pendidikan Kesehatan di
Keluarga
2) Pendidikan kesehatan di sekolah,
dilakukan di sekolah dengan sasaran guru dan murid, yang pelaksanaannya diintegrasikan
dalam upaya kesehatan sekolah (UKS)
3) Pendidikan kesehatan di
pelayanan kesehatan, dilakukan di pusat kesehatan masyarakat, balai kesehatan,
rumah sakit umum maupun khusus dengan sasaran pasien dan keluarga pasien
4) Pendidikan kesehatan di tempat
– tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan
5) Pendidikan Kesehatan di tempat umum ,misalnya pasar,terminal,bandar
udara,tempat-tempat pembelanjaan,tempat tempat olah raga,taman kota ,WC dsb
2.11 ASPEK SOSBUD DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN
Aspek Budaya yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan
1. Persepsi masyarakat
terhadap sehat dan sakit
Masyarakat mempunyai batasan sehat atau sakit yang berbeda dengan konsep
sehat dan sakit versi sistem medis modern (penyakit disebabkan oleh makhluk
halus, guna-guna, dan dosa
2. Kepercayaan
Kepercayaan dalam masyarakat sangat
dipengaruhi tingkah laku kesehatan, beberapa pandangan yang berasal dari
agama tertentu kadang-kadang memberi pengaruh negatif terhadap program
kesehatan. Sifat fatalistik atau Fatalisme adalah ajaran atau paham bahwa
manusia dikuasai oleh nasib. Seperti contoh, orang-orang Islam di pedesaan
menganggap bahwa penyakit adalah cobaan dari Tuhan, dan kematian adalah
kehendak Allah. Jadi, sulit menyadarkan masyarakat untuk melakukan pengobatan
saat sakit.
3. PendidikanMasih
banyaknya penduduk yang berpendidikan rendah, petunjuk-petunjuk kesehatan
sering sulit ditangkap apabila cara menyampaikannya tidak disesuaikan dengan
tingkat pendidikan khayalaknya.
4. Nilai Kebudayaan
Masyarakat Indonesia terdiri dari macam-macam
suku bangsa yang mempunyai perbedaan dalam memberikan nilai pada satu obyek
tertentu. Nilai kebudayaan ini memberikan arti dan arah pada cara hidup,
persepsi masyarakat terhadap kebutuhan dan pilihan mereka untuk
bertindak.
Contoh : –
Wanita sehabis melahirkan tidak boleh
memakan ikan karena ASI akan menjadi amis -Di New Guinea, pernah terjadi wabah
penyakit kuru. Penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan penyebabnya adalah
virus. Penderita hanya terbatas pada anak-anak dan wanita. Setelah dilakukan
penelitaian ternyata penyakit ini menyebar karena adanya tradisi kanibalisme
Sifat
Etnosentris
merupakan sikap yang memandang
kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan
pihak lain.
Etnosentrisme
merupakan sikap atau pandangan yg
berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan
sikap dan pandangan yg meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Seperti
contoh, Seorang perawat/dokter menganggap dirinya yang paling tahu tentang
kesehatan, sehingga merasa dirinya berperilaku bersih dan sehat sedangkan
masyarakat tidak. Selain itu, budaya yang diajarkan sejak awal seperti budaya
hidup bersih sebaiknya mulai diajarkan sejak awal atau anak-anak karena
nantinya akan menjadi nilai dan norma dalam masyarakat. 5.
5. Norma
, merupakan aturan atau ketentuan yg
mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan
pengendali tingkah laku yg sesuai dan diterima oleh masyarakat. Terjadi
perbedaan norma (sebagai standar untuk menilai perilaku) antara satu kebudayaan
dengan kebudayaan yang lain. Masyarakat menetapkan perilaku yang normaL
(normatif) serta perilaku yang tidak
normatif. Contohnya,
Bila wanita sedang sakit, harus
diperiksa oleh dokter wanita dan masyarakat memandang lebih bergengsi beras
putih daipada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1
lebih tinggi diberas merah daripada diberas putih.
6. Inovasi Kesehatan
Tidak ada kehidupan sosial masyarakat
tanpa perubahan, dan sesuatu perubahan selalu dinamis. artinya setiap
perubahan akan diikuti perubahan kedua, ketiga dan seterusnya. Seorang petugas
kesehatan jika akan melakukan perubahan perilaku kesehatan harus mampu menjadi
contoh dalam perilakukanya sehari-hari. Ada anggapan bahwa petugas kesehatan
merupakan contoh rujukan perilaku hidup bersih sehat, bahkan diyakini bahwa
perilaku kesehatan yang baik adalah kepunyaan/ hanya petugas kesehatan
yang benar.
Aspek Sosial yang Mempengaruhi Perilaku
Kesehatan
1. Penghasilan (income).
Masyarakat yang berpenghasilan rendah menunjukkan angka kesakitan yang lebih
tinggi, angka kematian bayi dan kekurangan gizi.
2. Jenis kelamin (sex).
Wanita cenderung lebih sering memeriksakan kesehatan ke dokter dari pada
laki-laki.
3. Jenis pekerjaan yang
berpengaruh besar terhadap jenis penyakit yang diderita pekerja.
4. Self Concept, menurut
Merriam- Webster adalah : “the mental image one has of oneself yaitu
gambaran mental yang dipunyai seseorang tentang dirinya. Self
concept ditentukan oleh tingkat kepuasan atau ketidakpuasan yang kita
rasakan terhadap diri kita sendiri. Self concept adalah faktor yang
penting dalam kesehatan, karena mempengaruhi perilaku masyarakat dan perilaku
petugas kesehatan.
5. Image Kelompok.
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Perilaku
anak cenderung merefleksikan dari kondisi keluarganya.
6. Identitas Individu
pada Kelompok. Identifikasi individu kepada kelompok kecilnya sangat penting
untuk memberikan keamanan psikologis dan kepuasan dalam pekerjaan mereka.
Inovasi akan berhasil bila kebutuhan sosial masyarakat diperhatikan
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah diatas adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan kesehatan
merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien
baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya
melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat
pendidik.
2. Peranan pendidikan
kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku
individu kelompok atau masyarakat sesuai dengan nila-nilai kesehatan
3. Konsep pendidikan
kesehatan adalah proses belajar pada individu, kelompok atau masyarakat dari
tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu
mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu dan lain
sebagainya.
3.2 SARAN
Saran yang dapat
penulis sampaikan adalah bahwa pendidikan kesehatan itu perlu untuk diteapkan
dalam masyarakat Indonesia. Dengan adanya pendidikan kesehatan masyarakat
Indonesia dapat bertindak sesuai dengan ketentuan dalam kesehatan sehingga
dapat mencegah terjadinya penyakit-penyakit yang membahayakan diri sendiri.
Meskipun hasilnya akan
terlihat dalam beberapa tahun kedepan, namun pendidikan ini baik adanya untuk
membantu masyarakat Indonesia terlepas dari serangan penyakit serta terhindar
dari tindakan pencegahan yang membahayakan.
DAFTAR PUSTAKA
Notoatmojo,soekidjo.2003.Pendidikan
dan perilaku kesehatan.jakarta ;RINEKA CIPTA
Setiawati,Dermawan.2008.Proses
Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan.Jakarta;TRANS INFO MEDIA
Komentar
Posting Komentar