DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………....………………………………….i
DAFTAR ISI…………….....……......………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN………..………………………………......1
A.
Latar Belakang…..……………………………….……………1
B.
Rumusan makalah……………………….....………………….2
C.
Tujuan makalah....……………........…………………………..2
BAB II PEMBAHASAN………..…….……………………………..3
A.
Pemberian obat secara parenteral...………………………….....3
B.
Pemberian obat via jaringan intra kutan….……………………4
C.
Pemberian obat via jaringan subkutan…………………………6
D.
Pemberian obat via intra vena…….....………………………...9
E.
Pemberian Obat Via Intra Muskular……….…………………13
BAB III PENUTUP………………………………...………………17
A.
Kesimpulan………………………………....….……………..17
B.
Saran..…………………......…………………….……………17
DAFTAR PUSTAKA…..……………………………….………….18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tugas
terpenting seorang perawat adalah memberi obat yang aman dan akurat kepada
klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki
masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun
obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek
samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita
memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya.
Salah satu bentuk
sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi
atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih
dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam
kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan
menggunakan alat suntik.
Suatu sediaan
parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau
disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang
paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki
efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral
harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus
memiliki kemurnian yang dapat diterima.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut.
1.
Bagaimana pemberian obat parenteral ?
2.
Bagaimana Pemberian obat via jaringan intra kutan ?
3.
Bagaimana Pemberian obat via jaringan subkutan ?
4.
Bagaimana Pemberian obat via intra vena ?
5.
Bagaimana Pemberian obat via intra muskular ?
C. Tujuan Masalah
Tujuan disusunnya
makalah mengenai cara pemberian obat secara Parenteral ini adalah :
1. Menjelaskan bagaimana pemberian
obat parenteral
2. Menjelaskan bagaimana Pemberian obat via jaringan intra
kutan
3. Menjelaskan bagaimana Pemberian
obat via jaringan subkutan
4. Menjelaskan bagaimana Pemberian
obat via intra vena
5. Menjelaskan bagaimana Pemberian
obat via intra muskular
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pemberian Obat Secara
Parenteral
Pemberian obat secara
parenteral merupakan pemberian obat melalui injeksi atau infuse. Sediaan
parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa
rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra Spinal (IS), Intra Muskular (IM),
Subcutaneus (SC), dan Intra Cutaneus (IC). Obat yang diberikan secara
parenteral akan di absorbs lebih banyak dan bereaksi lebih cepat dibandingkan
dengan obat yang diberikan secara topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa
pemberian obat parenteral dapat menyebabkan resiko infeksi.
Resiko infeksi dapat
terjadi bila perawat tidak memperhatikan dan melakukan tekhnik aseptic dan
antiseptic pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian obat parenteral,
obat diinjeksikan melalui kulit menembus system pertahanan kulit. Komplikasi
yang seringv terjadi adalah bila pH osmolalitas dan kepekatan cairan obat yang
diinjeksikan tidak sesuai dengan tempat penusukan sehingga dapat mengakibatkan
kerusakan jaringan sekitar tempat injeksi.
Pada umumnya pemberian
obat secara parenteral di bagi menjadi 4, yaitu :
1. Pemberian Obat Via
Jaringan Intra Kutan
2. Pemberian Obat Via
Jaringan Subkutan
3. Pemberian Obat Via
Intra Vena : Intra Vena Langsung dan tak langsung
4. Pemberian Obat Via
Intramuskular
B. Pemberian Obat Via
Jaringan Intra Kutan
1.
Pengertian Intra Kutan
Merupakan cara
memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit. Intra kutan biasanya
di gunakan untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat yang disuntikkan.
2.
Tujuan
Pemberian obat intra
kutan bertujuan untuk melakukan skintest atau tes terhadap reaksi alergi jenis
obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intra kutan ini
dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah
lengan tangan bagian ventral.
3.
Hal-hal Yang Perlu Di Perhatikan Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Tempat injeksi
b. Jenis spuit dan jarum yang
digunakan
c. Infeksi yang mungkin
terjadi selama infeksi
d. Kondisi atau penyakit
klien
e. Pasien yang benar
f. Obat yang benar
g. Dosis yang benar
h. Cara atau rute
pemberian obat yang benar
i. Waktu yang benar
Indikasi dan Kontra
Indikasi- Indikasi : bisa dilkakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau
bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, tidak
alergi. Lokasinya yang ideal adalah lengan bawah dalam dan pungguang bagian
atas. – Kontra Indikasi : luka, berbulu, alergi, infeksi kulit.
a.
Alat dan Bahan
·
Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.
·
Obat dalam tempatnya
·
Spuit 1 cc/spuit insulin
·
Cairan pelarut
·
Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit)
·
Bengkok
·
Perlak dan alasnya.
b.
Prosedur Kerja
·
Cuci tangan
·
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
·
Bebaskan daerha yang akan disuntik, bila menggunakan baju lengan panjang
terbuka dan keatasan
·
Pasang perlak/pengalas dibawah bagian yang akan disuntik
·
Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan aquades.
Kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc dan siapkan
pada bak injeksi atau steril.
·
Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan.
·
Tegangkan dengan tangan kiri daerah yang akan disuntik.
·
Lakukan penusukan dengan lubang jarum suntik menghadap ke atas dengan sudut
15-20 derajat di permukaan kulit.
·
Suntikkkan sampai terjadi gelembung.
·
Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.
·
Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/tes obat, waktu, tanggal dan
jenis obat.
c.
Daerah Penyuntikan :
·
Dilengan bawah : bagian depan lengan bawah 1/3 dari lekukan siku atau 2/3
dari pergelangan tangan pada kulit yang sehat, jauh dari PD.
·
Di lengan atas : 3 jari di bawah sendi bahu, di tengah daerah muskulus
deltoideus.
C. Pemberian Obat Via Jaringan
SubKutan.
1.
Pengertian
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang dapat
dilakukan pada daerah lengan bagian atas sebelah luar atau sepertiga bagian
dairi bahu, paha sebelah luar, daerah dada dan sekitar umbilicus (abdomen).
2.
Tujuan
Pemberian obat melalui jaringan sub kutan ini pada umumnya dilakukan dengan
program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah.
Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan yaitu jernih dan keruh karena adanya
penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe
lambat.
3.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
·
Tempat injeksi
·
Jenis spuit dan jarum suntik yang akan digunakan
·
Infeksi nyang mungkin terjadi selama injeksi
·
Kondisi atau penyakit klien
·
Apakah pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat
·
Obat yang akan diberikan harus benar
·
Dosisb yang akan diberikan harus benar
·
Cara atau rute pemberian yang benar
·
Waktu yang tepat dan benar
Indikasi dan kontra indikasi
– Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau
bekerja sama, karena tidak memungkinkan diberikan obat secara oral, bebas dari
infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di
bawahnya, obat dosis kecil yang larut dalam air.
– Kontra indikasi : obat yang merangsang, obat dalam dosis besar dan tidak
larut dalam air atau minyak.
Alat dan bahan
·
Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat
·
Obat dalam tempatnya
·
Spuit insulin
·
Kapas alcohol dalam tempatnya
·
Cairan pelarut
·
Bak injeksi
·
Bengkok perlak dan alasnya
Prosedur kerja
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang
akan dilakukan
3. Bebaskan daerah yang
akan disuntik atau bebaskan suntikan dari pakaian. Apabila menggunakan pakaian,
maka buka pakaian dan di keataskan.
4. Ambil obat dalam
tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan. Setelah itu tempatkan pada bak
injeksi.
5. Desinfeksi dengan
kapas alcohol.
6. Regangkan dengan
tangan kiri (daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan).
7. Lakukan penusukan
dengan lubang jarum menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat dari permukaan
kulit.
8. Lakukan aspirasi, bila
tidak ada darah, suntikkan secara perlahan-lahan hingga habis.
9. Tarik spuit dan tahan
dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan ke dalam bengkok.
10.
Catat hasil pemberian, tanggal, waktu pemberian, dan jenis serta dosis
obat.
11.
Cuci tangan.
Daerah Penyuntikan :
1.
Otot Bokong (musculus gluteus maximus) kanan & kiri ; yang tepat adalah
1/3 bagian dari Spina Iliaca Anterior Superior ke tulang ekor (os coxygeus)
2.
Otot paha bagian luar (muskulus quadriceps femoris)
3.
Otot pangkal lengan (muskulus deltoideus)
D. Pemberian Obat Via
Intra Vena :
1. Pemberian Obat Via
Jaringan Intra Vena langsung
- Pengertian
Cara memberikan obat pada vena secara langsung. Diantaranya vena mediana
kubiti/vena cephalika (lengan), vena sephanous (tungkai), vena jugularis
(leher), vena frontalis/temporalis (kepala).
- Tujuan
pemberian obat intra vena secara langsung bertujuan agar obat dapat
bereaksi langsung dan masuk ke dalam pembuluh darah.
- Hal-hal yang
diperhatikan
·
setiap injeksi intra vena dilakukan amat perlahan antara 50 sampai 70 detik
lamanya.
·
Tempat injeksi harus tepat kena pada daerha vena.
·
Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
·
Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
·
Kondisi atau penyakit klien.
·
Obat yang baik dan benar.
·
Pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat dan benar.
·
Dosis yang diberikan harus tepat.
·
Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi harus benar.
- Indikasi dan kontra
indikasi
– indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau
bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan
steril.
– kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air,
atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.
a. Alat dan bahan
·
daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
·
Obat dalam tempatnya.
·
Spuit sesuai dengan jenis ukuran
·
Kapas alcohol dalam tempatnya.
·
Cairan pelarut (aquades).
·
Bak injeksi.
·
Bengkok.
·
Perlak dan alasnya.
·
Karen pembendung.
b. Prosedur kerja
·
cuci tangan.
·
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
·
Bebaskan daerah yang akan disuntik dengan cara membebaskan pakaian pada
daerah penyuntikan, apabila tertutup, buka dan ke ataskan.
·
Ambil obat pada tempatnya sesuai dosi yang telah ditentukan. Apabila obat
dalam bentuk sediaan bubuk, maka larutkan dengan aquades steril.
·
Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan injeksi.
·
Tempatkan obat yang telah di ambil ke dalam bak injeksi.
·
Desinfeksi dengan kapas alcohol.
·
Lakukan pengikatan dengan karet pembendung pada bagian atas daerah yang
akan dilakukakn pemberian obat atau minta bantuan untuk membendung daerah yang
akan dilakukan penyuntikan dan lakukan penekanan.
·
Ambil spuit yang berisi obat.
·
Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke
pembuluh darah.
·
Lakukan aspirasi, bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan
langsung semprotkan hingga habis.
·
Setelah selesai ambil spuit dengan menarik secara perlahan-lahan dan
lakukan masase pada daerah penusukan dengan kapas alcohol, spuit yang telah
digunakan di masukkan ke dalam bengkok.
·
Catat hasil pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
·
Cuci tangan.
·
Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena Secara tidak Langsung.
- Pengertian
Merupakan cara memberikan obat dengan
menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intra vena.
- Tujuan
pemberian obat intra vena secara tidak
langsung bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar
terapeutik dalam darah.
- Hal-hal yang perlu
diperhatikan
·
injeksi intra vena secara tidak langsung hanya dengan memasukkan cairan
obat ke dalam botol infuse yang telah di pasang sebelumnya dengan hati-hati.
·
Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
·
Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
·
Obat yang baik dan benar.
·
Pasien yang akan di berikan injeksi tidak langsung adalah pasien yang tepat
dan benar.
·
Dosis yang diberikan harus tepat.
·
Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi tidak langsung harus tepat
dan benar.
- Indikasi dan kontra
indikasi
– indikasi : bias dilakukan pada pasien
yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk
diberikan obat secara oral dan steril.
– kontra indikasi : tidak steril, obat
yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau
butiran darah.
- Alat dan bahan
·
Spuit dan jarum sesuai ukuran
·
Obat dalam tempatnya.
·
Wadah cairan (kantung/botol).
·
Kapas alcohol dalam tempatnya..
- Prosedur kerja
1. cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang
akan dilakukan.
3. Periksa identitas
pasien dan ambil obat dan masukkan ke dalam spuit.
4. Cari tempat
penyuntikan obat pada daerah kantung. Alangkah baiknya penyuntikan pada kantung
infuse ini dilakukan pada bagian atas kantung/botol infuse.
5. Lakukan desinfeksi
dengan kapas alcohol pada kantung/botol dan kunci aliran infuse.
6. Lakukan penyuntikan
dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat
secara perlahan-lahan ke dalam kantong/botol infuse/cairan.
7. Setelah selesai, tarik
spuit dan campur larutan dengan membalikkan kantung cairan dengan
perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung yang lain.
8. Ganti wadah atau botol
infuse dengan cairan yang sudah di injeksikan obat di dalamnya. Kemudian
gantungkan pada tiang infuse.
9. Periksa kecepatan
infuse. Cuci tangan.Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu dan dosis pemberian.
E. Pemberian Obat Via
Intra Muskular
1. Pengertian
Merupakan cara
memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat dilakukan pada
daerah paha (vastus lateralis) dengan posisi ventrogluteal (posisi berbaring),
dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid).
2. Tujuan
Agar obat di absorbs tubuh dengan cepat.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan
·
Tempat injeksi.
·
Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
·
Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
·
Kondisi atau penyakit klien.
·
Obat yang tepat dan benar.
·
Dosis yang diberikan harus tepat.
·
Pasien yang tepat.
·
Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar.
4. Indikasi dan kontra
indikasi
– indikasi : bias
dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit,
jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya.
– kontra indikasi : Infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot
atau saraf besar di bawahnya.
5. Alat dan bahan
·
Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
·
Obat dalam tempatnya.
·
Spuit da jarum suntik sesuai dengan ukuran. Untuk dewasa panjangnya 2,5-3
cm, untuk anak-anak panjangnya 1,25-2,5 cm.
·
Kapas alcohol dalam tempatnya.
·
Cairan pelarut.
·
Bak injeksi.
·
Bengkok.
Prosedur kerja
1. cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang
akan dilakukan.
3. Ambil obat dan
masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu letakkan dalam bak
injeksi.
4. Periksa tempat yang
akan di lakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan).
5. Desinfeksi dengan
kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.
6.
Lakukan penyuntikan :
Pada daerah paha
(vastus lateralis) dengan cara, anjurkan pasien untuk berbaring telentang
dengan lutut sedikit fleksi.
Pada ventrogluteal
dengan cara, anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan
lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan
fleksi.
Pada daerah
dorsogluteal dengan cara, anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut di putar
kea rah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan diletakkan di depan
tungkai bawah.
Pada daerah deltoid
(lengan atas) dilakukan dengan cara, anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring
mendatar lengan atas fleksi.
7.
Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus. Setelah jarum masuk,
lakukan aspirasi spuit, bila tidak ada darah yang tertarik dalam spuit, maka
tekanlah spuit hingga obat masuk secara perlahan-lahan hingga habis. Setelah
selesai, tarik spuit dan tekan sambuil di masase daerah penyuntikan dengan
kapas alcohol, kemudian spuit yang telah di gunakan letakkan dalam bengkok.
8.
Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
9. Cuci tangan
Daerah Penyuntikan :
Bagian lateral bokong (vastus lateralis)
Butoks (bagian lateral gluteus maksimus)
Lengan atas (deltpid)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Obat dapat diberikan
dengan berbagai cara disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya : sub
kutan, intra kutan, intra muscular, dan intra vena. Dalam pemberian obat ada
hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan kontra indikasi pemberian
obat. Sebab ada jenis-jensi obat tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan
cara yang salah.
B. Saran
Setiap obat merupakan
racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah
menggunakannya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya
bias fatal. Oleh karena itu, kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan
tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat
merugikan diri kita sendiri maupun oranglain.
DAFTAR PUSTAKA
L, Kee Joyce & R, Hayes evelyn ; farmakologi Pendekatan proses
Keperawatan, 1996 ; EGC; Jakarta.
Priharjo, Robert; Tekhnik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, 1995; EGC;
Jakarta.
Aziz, Azimul;Kebutuhan dasar manusia II.Bouwhuizen, M; Ilmu Keperawatan
Bagian 1; 1986; EGC; Jakarta.
Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
WHO, (1998 ), Nursing care of the sick: A guide for nurses working in small
rural hospitals.
Departemen kesehatan RI, dirjenyanmed, 1991. Prosedur keperawatan Dasar,
Direktorat rumah sakit dan pendidikan.
http: // arsegofconfb.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar