TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN DALAM PEMBERIAN OBAT



DAFTAR ISI
COVER.........................................................................................................................i
KATA PENGANTAR................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
A.    Latar Belakang...................................................................................................1
B.     Rumusan Masalah..............................................................................................1
C.     Tujuan Makalah.................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................2
A.    Definisi Obat.....................................................................................................2
B.     Macam-Macam Bentuk Sediaan Obat Dan Penggunaannya.......................... ..2
C.     Penggolongan Obat...........................................................................................3
D.    Asuhan Keperawatan Dalam Pemberian Obat..................................................5
BAB III PENUTUP.....................................................................................................9
A.    Kesimpulan........................................................................................................9
B.     Saran..................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................10








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu tugas penting perawat adalah memberi obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya.
Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar berdasarkan pengetahuan.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1.      Bagaimana definisi obat ?
2.      Bagaimana macam-macam bentuk sediaan obat dan penggunannya ?
3.      Bagaimana penggolongan obat ?
4.      Bagaimana asuhan keperawatan dalam pemberian obat ?

C.     Tujuan Makalah
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui definisi obat
2.      Mengetahui macam-macam bentuk sediaan obat dan penggunannya
3.      Mengetahui penggolongan obat
4.      Mengetahui asuhan keperawatan dalam pemberian obat



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Obat
Menurut pengertian umum, obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap, obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan ; atau (2) dalam pemulihan perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya : hormon dan vitamin D) atau merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.

B.     Macam-Macam Bentuk Sediaan Obat dan Pengguannya
Adapun macam-macam bentuk sediaan obat dan penggunannya sebagai berikut.
1.      Tablet salut dan ampul tertutup rapat digunakan untuk melindungi zat obat dari pengaruh yang merusak seperti oksigen dan kelembaban.
2.      Tablet salut enterik digunakan untuk melindungi zat obat terhadap pengaruh yang merusak seperti asam lambung sesudah pemberian oral.
3.      Kapsul, tablet, bersalut, dan sirup-sirup yang diberikan pengenak rasa digunakan untuk menutupi rasa pahit, asin, atau bau yang tidak enak dari zat obat.
4.      Suspensi digunakan untuk menyediakan sediaan cair dan zat yang tidak larut atau tidak stabil dalam pembawa yang diinginkan.
5.      Larutan digunakan untuk menyediakan sediaan cair yang larut dalam pembawa yang diinginkan.
6.      Tablet dan kapsul dengan pelepasan obat diatur digunakan untuk menyediakan obat dengan kerja yang luas, dengan cara mengatur pelepasan obat.
7.      Salep, krim, plaster, obat mata, obat telinga dan obat hidung digunakan untuk mendapatkan kerja yang optimum pada tempat pemberian secara topikal.
8.      Suppositoria melalui anus dan ovula melalui vagina digunakan untuk memberikan penempatan obat kedalam salah satu lubang tubuh
9.      Injeksi digunakan untuk memberikan penempatan obat secara langsung ke aliran darah atau jaringan tubuh.
10.  Aerosol digunakan untuk memberikan kerja obat yang optimum melalui pengobatan inhalasi

C.     Penggolongan Obat
Berdasarkan Undang-Undang obat digolongkan dalam :
1.      Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter (disebut obat OTC = Over The Counter), terdiri atas obat bebas dan obat bebas terbatas.
a)      Obat Bebas
Obat bebas yaitu obat yang bisa dibeli bebas di apotek bahkan di warung tanpa resep doktek ditandai dengan lingkaran hijau bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk mengobati gejala penyakit yang ringan. Misalnya : vitamin/multivitamin (livron B plex)
b)      Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas (dulu disebut daftar W) yakni obat-obatan yang dalam jumlah tertentu masih bisa dibeli di apotek, tanpa resep dokter, memakai tanda lingkaran biru berbagis tepi hitam. Contohnya, obat anti mabuk (Antimo), anti flu (Noza). Pada kemasan obat seperti ini biasanya tertera peringatan yang bertanda kotak kecil berdasar warna gelap atau kotak putih bergaris tepi hitam dengan tulisan sebagai berikut.
P.NO.1. Awas! Obat Keras. Bacalah aturan pemakaiannya
P.NO.2. Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dari badan
P.NO.3. Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan
P.NO.4. Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar
P.NO.5. Awas! Obat Keras. Obat wasir, jangan ditelan
2.      Obat Keras
Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu obat berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan reser doktek, memakai tanda lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah antibiotik (tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-obatan yang mengandung hormon (obat kencing manis, obat penenang, dan lain-lain).
Obat-obat ini berkhasiat keras apabila dipakai sembarangan bisa berbahaya bahkan meracuni tubuh, memperparah penyakit atau menyebabkan kematian.

3.      Psikotropika dan Narkotika
Obat-obat ini sama saja dengan narkoba yang kita kenal dapat menimbulkan ketagihan dengan segala konsekuensi yang sudah kita tahu. Karena itu, obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah.
a)      Psikotropika
Psikotropika adalah zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (menghayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.
Jenis-jenis yang termasuk psikotropika :
Ecstasy
Sabu-sabu
b)      Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukannya ke dalam tubuh manusia. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat, halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya.
Macam-macam narkotika :
-          Opiod (Opiat)
Bahan-bahan opioida yang sering disalah gunakan
Morfin
Heroin (putaw)
Codein
Demerol (pethidina)
Methadone
-          Kokain
-          Cannabis (ganja)
D.    Asuhan Keperawatan Dalam Pemberian Obat
1.      Pengkajian
Nama                              : Tn. Dina
Umur klien                      : 40 tahun
Alamat                            : Hajimena, Lampung Selatan
Pekerjaan                                    : wiraswata
Status perkawinan          : sudah kawin
a.       Data subyetif
Klien menagatakan tidak tahu tentang kerja obat.
Klien menagatakan tidak tahu tentang efek samping obat.
Klien menagatakan kepalanya pusing.
Klien menagatakan mudah lupa dengan apa yang akan dia kerjakan.
b.      Data obyektif
Klien tampak menanyakan tentang obat yang diberikan oleh perawat.
Klien tampak bingung dengan obat yang diberikan oleh perawat.
Klien tampak memegangi kepalanya.
Klien tampak sering menguap.
Klien tampak bingung dengan apa yang akan dia kerjakan.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Kurang pengetahuan tentang kerja obat, pemberian obat dan efek samping obat berhubungan dengan kesulitan bahasa/kurang informasi.
b.      Resiko cidera berhubungan dengan efek samping obat ditandai oleh pusing, rasa kantuk.
c.       Perubahan dalam proses berpikir berhubungan dengan ketidaksesuaian obat ditandai oleh pelupa.

3.      Interverensi Keperawatan
No
Dx
Tujuan/Kriteria Hasil
Intervensi
1.
Klien tidak mengalami kurang informasi tentang kerja, pemberian, dan efek samping obat.
1. Berikan informasi tentang kerja obat yang diberikan
2.Berikan informasi tentang pemberian obat
3.Berikan informasi tentang efek samping obat yang diberikan
2.
Klien tidak mengalami cedera akibat efek samping obat
1.Anjurkan klien untuk istrahat selama masa pemberian obat
2.Anjurkan klien untuk tidak beraktivitas selama masa pemberian obat
3.Anjurkan klien untuk melakukankompres hangat.
3.
Klien tidak mengalami perubahan dalam proses berpikir
1.Anjurkan anggota keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien.
2.Bantu klien dalam aktivitasnya.

4.      Implementasi
No
Dx
Implementasi
Paraf
1.
1. memberikan informasi tentang kerja obat yang diberikan
2. memberikan informasi tentang pemberian obat
3. memberikan informasi tentang efek samping obat yang diberikan

2.
1. menganjurkan klien untuk istrahat selama masa pemberian obat
2. menganjurkan klien untuk tidak beraktivitas selama masa pemberian obat
3. mengnjurkan klien untuk melakukan kompres hangat

3.
1. menganjurkan anggota keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien
2. membantu klien dalam aktivitasnya



5.      Evaluasi
No
Dx
Evaluasi
Paraf
1.
S:-Klien mengatakan tahu tentang pemberian obat.
    -Klien mengatakan tahu tentang kerja obat.
O:-Klien tampak rileks.
    -Klien dapat menjelaskan keja, pemberian obat.
A:-Masalah teratasi sebagian.
    -Lanjutkan intervensi
     Berikan informasi tentang efek samping obat.


2.
S:-Klien mengatakan sudah tidak pusing.
O:-Klien tampak sudah tidak sering menguap
    -Klien tampak tidak memegangi kepalanya
A:Masalah teratasi seluruhnya
P:  -

3.
S:-Klien mengatakan tidak mudah lupa dengan apa yang akan dia kerjakan.
O:-Klien tampak tidak bingung
A:-Masalah teratasi seluruhnya
P:  -



Implikasi Keperawatan
Pengkajian :
1.      Kaji pasien adanya infeksi (TTV,luka, sputum, urine, feses)
2.      Riwayat pasien sebelum memulai terapi dan riwayat sensitif negatif terhadap penisilin
3.      Observasi adanya tanda-tanda dan gejala-gejala anafilaksi (ruam, pruritus, edema larynx)
4.      Ambil specimen untuk kultur dan sensitivitas sebelum terapi
Diagnosa Keperawatan :
1.      Resiko tinggi infeksi (indikasi dan efek samping)
2.      Kurang pengetahuan sampai dari program pengobatan
3.      Ketidak patuhan sampai dari program pengobatan
Implementasi :
1.      Beri dosis dalam dosis terbagi perhari
2.      Dapat diberikan bersama makan untuk mengurangi efek samping GI
Penyuluhan Pasien/Keluarga :
1.      Instruksikan pasien minum obat dalam dosis terbagi per hari, menghabiskan seluruh obat sesuai petunjuk
2.      Beritahu pasien untuk melaporkan tanda-tanda superinfeksi
3.      Instruksikan pasien untuk memberitahu dokter bila membaik atau mual, muntah walaupun obat diberikan bersama makanan
4.      Ajarkan pasien dengan riwayat penyakit jantung rematik atau penggantian katup
Evaluasi :
1.      Hilangnya tanda dan gejala infeksi
2.      Lamanya waktu yang diperlukan untuk hilangnya gejala secara sempurna














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan :
1.      Sebagai perawat kita harus mengetahui berbagai macam obat menurut penggolongannya demi memberikan efek terapeutik yang maksimal bagi klien dan menekan seminimal mungkin efek samping obat tersebut bagi klien.
2.      Obat yang aman dan baik yaitu yang manjur, tidak beracun, mudah dipakai, diperoleh dengan perkembangan teknologi pembuatan obat dan mempunyai efek samping yang minimal apabila diberiakn pada klien.
3.      Macam-macam bentuk sediaan obat memberikan pilihan untuk menentukan cara pengobatan yang akan memberikan hasil yang lebih efektif.

B.     Saran
Makalah dibuat berdasarkan kebutuhan mahasiswa  sebagai tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas sebuah mata kuliah. Diperlukan bimbingan dan arahan dari dosen mata kuliah sehingga kiranya makalah ini dapat menjadi sesuatu yang lebih berguna di  masa yang akan datang. Penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan olehnya itu penulis mengharapakan kritik dan saran yang membangun sebagai bahan ajar untuk penyusunan berikutnya.
















DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Universitas indonesia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)