TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

konsep dasar medis asma


A.     KONSEP DASAR MEDIS

1.      Definisi
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma dimanifestasikan dengan penyempitan jalan nafas, yang mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi. Tingkat penyempitan jalan nafas dapat erubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari penyakit paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses revesibel. Eksaserbasi akut dapat saja terjadi, yang berlangsung dari beberapa menit sampai jam, diselingi oleh periode bebas-gejala. Jika asma dan bronchitis terjadi bersamaan, obstruksi yang diakibatkan menjadi gabungan dan disebut bronchitis asmatik kronik.
Asma dapat terjadi pada sembarang golongan usia, sekitar aetengH Dri kasus terjadi pada anak-anak dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun. Hampir 17% dari semua rakyat Amerika mengalami asma dalam suatu kurun waktu tertentu dalam kehidupan mereka. Meski asma dapat berakibat fatal, lebih sering lagi, asma sangat mengganggu, mempengaruhi kehadiran di sekolah, pilihan pekerjaan, aktivitas fisik, dan banyak aspek kehidupan lainnya.

2.      Etiologi
Menurut berbagai penelitian patologi dan etiologi asma belum diketahui dengan pasti penyebabnya, akan tetapi hanya menunjukkan dasar gejala asma yaitu inflamasi dan respons saluran nafas yang berlebihan ditandai dengan adanya kalor (panas karena vasolidatasi), tumor (esudasi plasma dan edema), dolor (rasa sakit karena ransangan sensori), dan fungsi laesa (fungsi yang terganggu). Dan raang harus disertai dengan infiltrasi sel-sel radang (Sudoyo Aru dkk).
Sebagai pemicu timbulnya serangan dapat berupa infeksi (infeksi virus RSV), iklim (perubahan mendadak suhu, tekanan udara), inhalan (debu, kapuk, tungau, sisa-sisa serangga mati, bulu binatang, serbuk sari, bau asap, uap cat ), makanan (putih telur, susu sapi, kacang tanah, coklat, biji-bijian, tomat), obat (aspirin), kegiatan fisik (olahraga berat, kecapaian, tertawa terbahak-bahak), dan emosi.

3.      Manifestasi Klinis
Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengi.pada beberapa keadaan, batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala. Serangan asma sering kali terjadi pada malam hari. Penyebabnya tidak dimengerti dengan jelas, tetapi mungkin berhubungan dengan variasi srikadian, yang mempengaruhi ambang reseptor jalan nafas.
Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laborious. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang disbanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan menggunakan setiap otot-otot aksesori pernapasan. Jalan nafas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada walnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputung, yang terdiri atas sedikit mucus mengandung masa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukan dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia, dan gejala-gejala retensi karbon dioksida,  termasuk berkeringat, takikardia, dan pelebaran tekanan nadi.
Serangan asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Meski serangan asma jarang yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih berat, yang disebut “status asmatikus“. Kondisi ini merupakan keadaan yang mengancam hidup.
Kemungkinan reaksi alergik lainnya yang dapat menyertai asma termasuk ekzema, ruam, dan edema temporer. Serangan asmatik dapat terjadi secara periodic setelah pemajanan terhadap alergen spesifik, obat-obat tertentu, latihan fisik dan kegerahan emosional.

4.      Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang diantaranya :
a.    Spirometer : dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup (nebulizer/inhaler), positif jika peningkatan VEP/ KVVT >20%.
b.    Sputum : eosinofil meningkat
c.    Eosinofil darah meningkat
d.    Uji kulit
e.    RO dada yaitu patologis paru/komplikasi asma
f.     AGD : terjadi pada asma berat pada fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PCO2  turun) kemudian fase lanjut norkopnamia dan hiperkapnia (PCO2 naik)
g.    Foto dada AP dan lateral. Hiperinflasi paru, diameter anteroposterior membesar pada foto lateral, dapat terlihat bercak kosolidasi yang tersebar.

5.      Penatalaksanaan
Tujuan utama penataklasaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Program penataklasaan asma meliputi 7 komponen, yaitu : (perhimpunan Dokter Paru Indonesia)
a.       Edukasi
Edukasi yangbaik akan menurunkan morbidity dan mortality. Edukasi tidak hanya ditunjukan untuk penderita dan keluarga tetapi juga pihak lain yang membutuhkan seperti pemegang keputusan, pembuat perencanaan bidang kesehatan/asma, profesi kesehatan.
b.      Menilai dan monitor berat asma secara berkala
Penilaian klinis berkala antara 1-6 bulan dan monitoring asma oleh penderita sendiri mutlak dilakukan pada penataklasaan asma. Hal tersebut disebabkan berbagai factor antara lain :
1)   Gejala dan berat asma berubah, sehingga membutuhkan perubahan terapi
2)   Pajanan pencetus menyebabkan penderita mengalami perubahan pada asmanya.
3)   Daya ingat (memori) dan motivasi penderita yang perlu direview, sehingga membantu penanganan asma terutama asma mandiri.
c.       Identifikasi dan mengendalikan factor pencetus
d.      Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang
Penataklasaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut sebagai asma terkontrol. Terdapat 3 faktor yang perlu dipertimbangkan :
1)   Medikasi (obat-obatan)
Medikasi asma ditunjukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.
2)   Tahapan pengobatan
Tabel pengobatan sesuai berat asma
Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan, tidak melebihi 3-4 kali sehari.

Berat asma
Medikasi pengontrol harian
Alternative/pilihan lain
Alternative lain
Asma intermiten
Tidak perlu
-------
-------
Asma persisten ringan
Glukokortikosteroid inhalasi (200-400 ug BD/hari atau ekivalennya)
.teofilin lepas lambat
.kromolin
.leukotriene modifiers
-------
Asma persisten sedang
Kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (400-800 ug BD/hari atau ekivalennya) dan agonis beta-2 kerja lama
-glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD atau ekivalennya) ditambah teofilin lepas lambat, atau
-glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD atau ekivalensinya) ditambah agonis beta-2 kerja lama oral atau
-glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (>800 ug BD atau ekivalennya) ditambah leukotriene modifiers
-ditambah agonis beta-2 kerja lama oral, atau
-ditambah teofilin lepas lambat
Asma persisten berat
Kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (>800 ug BD atau ekivalennya) dan agonis beta-2 kerja laam, ditambah 1 di bawah ini :
-teofilin lepas lambat
-leukotriene modifiers
-glukokortikosteroid
oral
Prednisolon/metilprednisolon oral selang sehari 10 mg ditambahkan agonis beta-2 kerja lama oral, ditambah teofilinlepas lambat

Semua tahapan : bila tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan,kemudian turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap terkontrol
3)   Penanganan asma mandiri (pelangi Asma)
Hubungan penderita-dokter yang baik adalah dasar yang kuat untuk terjadi kepatuhan dan efektif penataklasaan asma. Rencanakan pengobatan asma jangka panjang sesuai kondisi penderita, realistik/memungkinkan bagi penderita dengan maksud mengontrol asma. Bila memungkinkan, ajaklah perawat, farmasi, tenaga fisioterapi pernapasan dan lain-lainnya untuk membantu memberikan edukasi dan menunjang keberhasilan pengobatan penderita.

Tabel Pelangi Asma
Pelangi Asma, monitoring keadaan asma secara mandiri
Hijau
·         Kondisi baik, asma terkontrol
·         Tidak ada/minimal gejala
·         APE : 80-100% nilai dugaan/terbaik
Pengobatan bergantung berat asma, prinsipnya pengobatan dilanjutkan. Bila tetap berada pada warna hijau minimal 3 bulan, maka pertimbangan turunkan terapi

Kuning
·         Berarti hati-hati, asma tidak terkontrol, dapat terjadi serangan akut/eksaserbasi
·         Dengan gejala asma (asma malam, aktiviti terhambat, batuk, megi dada terasa berat baik saat aktiviti maupun istrahat) dan/ atau APE 60-80% prediksi/nilai terbaik
Membutuhkan peningkatan dosis medikasi atau perubahan medikaksi

Merah
·         Berbahaya
·         Gejala asma terus menerus dan membatasi aktiviti sehari-hari.
·         APE <60% nilai dugaan/terbaik
Penderita mebutuhkan pengobatan segera sebagai rencana pengobatan yang disepakati dokter-penderita secara tertulis. Bila tetap tidak ada respons, segera hubungi dokter atau ke rumah sakit.

e.       Menetapkan pengobatan pada serangan akut
Tabel Rencana pengobatan serangan asma berdasarkan berat serangan dan tempat pengobatan
SERANGAN
PENGOBATAN
TEMPAT PENGOBATAN
RINGAN
Aktiviti relatif normal
Berbicara satu kalimat dalam satu napas
Nadi<100
APE>80%
Terbaik:
Inhalasi agonis beta-2
Alternatif :
Kombinasi oral agonis beta-2 dan teofilin
Di rumah

Dipraktek dokter/klinik/puskesmas
SEDANG
Jalan jarak jauh timbulkan gejala
Berbicara beberapa kata dalam satu napas
Nadi 100-120
APE 60-80%
Terbaik
Nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam
Alternatif :
-Agonis beta-2 ubkutan
-Aminofilin IV
-Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK
Oksigen bila mungkin
Kortikosteroid sistemik
Darurat Gawat/RS
Klinik
Praktek dokter
Puskesmas
BERAT
Sesak saat istirahat
Berbicara kata perkata dalam satu napas
Nadi>120
APE<60% atau
100 l/dtk
Terbaik
Nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam
Alternatif :
-Agonis beta-2 SK/IV
-Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK

Aminofilin bolus dilanjutkan drip
Oksigen
Kortikosteroid IV
Darurat Gawat/RS
klinik
MENGANCAM JIWA
Kesadaran berubah/menurun
Gelisah
Sianosis
Gagal napas
Seperti serangan akut berat
Pertimbangan intubasi dan ventilasi mekanis
Darurat Gawat/RS
ICU

f.       Control secara teratur
Pada penataklasaan jangka panjang terdapat 2 hal yang penting diperhatikan oleh dokter yaitu :
1)   Tindak lanjut (follow-up) teratur
2)   Rujuk ke ahli paru untuk konsultasi atau penanganan lanjut bila diperlukan
g.       Pola hidup sehat
1)   Meningkatkan kebugaran fisis
Olahraga menghasilkan kebugaran fisis secara umum. Walaupun terdapat salah satu bentuk asma yang timbul serangan sesudah execise (exercise-induced asthma/EIA), akan tetapi tidak berarti penderita EIA dilarang melakukan olahraga. Senam Asma Indonesia (SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan menguatkan otot-otot  pernapasan khususnya, selain manfaat lain pada olahraga umumnya.
2)   Berhenti atau tidak pernah merokok
3)   Lingkungan kerja
Kenali lingkungan kerja yang berpotensi dapat menimbulkan asthma.

6.      Patofisiologi
Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversible. Obstruksi disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini : (1) kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki, yang meyempitkan jalan napas; (2) pembengkakan membrane yang melapisi bronki ; dan (3) pengisian bronki dengan dengan mucus yang kental. Selain itu, otot-otot bronchial dan kelenjar mukosa membesar; sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan system imunologis dan system saraf otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamine, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaks dari substansi yang beraksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membrane mukosa, dan pembentukan mucus yang sangat banyak.
System saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronchial diatur oleh impuls saraf vagal melalui system parasimpatis. Pada asma  idiopatik atau nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh factor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokontruksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis.
Selain itu reseptor α- dan β-adrenergik dari system sarafsimpatis terletak dalam bronki. Ketika reseptor α- adrenergik dirangsang, terjadi bronkokontruksi  ; bronkodilatasi terjadi ketika reseptor β-adrenergik yang dirangsang. Keseimbangan antara reseptor α- dan β-adrenergik dikendalikan terutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor-alfa mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokontruksi.  Stimulasi reseptor-beta mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat pelepasan mediator kimiawi dan konstruksi otot polos.

B.     KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1.    Pengkajian
a.    Riwayat kesehatan masa lalu
1)   Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya
2)   Kaji riwayat reksi alergi atau sensitivitas terhadap zat/faktor lingkungan
b.    Aktivitas
1)   Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernafas
2)   Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bentuan melakukan aktivitas sehari-hari           
3)   Tidur dalam posisi duduk tinggi
c.    Pernapasan
1)   Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
2)   Napas memburuk ketika klien berbaring telentang di tempat tidur
3)   Menggunakan alat bantu pernapasan, misal meninggikan bahu, melebarkan hidung.
4)   Adanya bunyi napas mengi
5)   Adanya batuk berulang
d.    Sirkulasi
1)   Adanya peningkatan tekanan darah
2)   Adanya peningkatan frekuensi jantung
3)   Warna kulit atau membran mukosa normal/abu-abu/sianosis
e.    Integritas ego
1)   Ansietas
2)   Ketakutan
3)   Peka rangsangan
4)   Gelisah
f.     Asupan nutrisi
1)   Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan
2)   Penurunan berat badan karena anoreksia
g.    Hubungan sosial
1)   Keterbatasan mobilitas fisik
2)   Susah bicara atau bicara terbata-bata
3)   Adanya ketergantungan pada orang lain.

















ASKEP ASMA

No.
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkhokonstriksi,  bronkhospasme,  edema mukosa dan dinding bronkhus, serta sekresi mukus yang kental
Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan bersihan jalan napas kembali efektif

.
Mandiri :
· Kaji warna dan kekentalan sputum
· Atur posisi semi fowler
· Ajarkan cara batuk efektif
·  Bantu klien napas dalam
· Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan
Kolaborasi :
· Kolaborasi dengan melakukan fisioterapi dada dengan tehnik postural drainase, perkusi dan fibrasi dada.
· Kolaborasi pemberian obat :
-   Bronkodilator golongan B2
-   Nebuler (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol HBr 0.1% solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg.
-   Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kgBB.
-   Agen mukolitik dan ekspektoran
-   kortikosteroid
·   karateristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi.
·   Meningkatkan ekspansi dada
·   Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran sekret yang melekat pada jalan napas.
·   Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan.
·   Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan sekret dan mengefektifkan pembersihan jalan napas.
·    Fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan sekret.
·   Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkhus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi
·   Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaaan agar dilatasi jalan napas dapat optimal.
·   Agen mukolitik menurunkan kekntalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengketan jalan napas.
·   Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkhus.
2.
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap
·      Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi, pertukaran gas membaik

mandiri :
· Kaji kefektifan jalan napas
Kolaborasi :
· Kolaborasi untuk pemberian bronkodilator secara aerosol
· Lakukan fisioterapi dada
· Kolaborasi untuk pemantauan analisa gas arteri
· Kolaborasi pemberian oksigen via nasal
·   Bronkhospasme di deteksi ketika terdengar mengi saat di askultasi dengan stetoskop.
·   Peningkatan pembentukan mukus sejalan dengan penurunan aksi mukosiliaris menunjang penurunan lebih lanjut diameter bronkhi dan mengakibatkan penurunan aliran udra serta penurunan pertukaran gas, yang diperburuk oleh kehilangan daya elastisitas paru.
·   Terapi aerosol membantu mengencerkan sekresi sehingga dapat dibuang. Bronkhodilator yang dihirup sering ditambahkan ke dalam nebulizer untuk memberikan aksi bronkhodolator langsung pada jalan napas, dengan demikiam memperbaiki pertukaran gas. Tindakan inhalasi atau aerosol harus diberikan sebelum waktu makan untuk memperbaiki ventilasi paru dengan demikian mengurangi keletihan yang menyertai kativitas makan.
·   Setelah inhalasi bronkhodilator nebuliser, klien disarankan untuk meminum   air putih untuk lebih mengencerkan sekresi. Kemudian membatukkan dengan ekpulsif atau postural drainase akan membantu dalam pengeluaran sekresi. Klien dibantu untuk melakukan hal ini dengan cara yang tidak membuatnya keletihan.
·   Sebagai bahan evaluasi setelah melakukan intervensi.
·   Oksigen diberikan ketika terjadi hipoksemia. Perawat harus memantau kemanjuran terapi oksigen dan memastikan bahwa klien patuh dalam menggunakan alat pemberi oksigen. Klien diinstruksikan tentang penggunaan oksigen yang tepat dan tentang bahay peningkatan laju aliran oksigen tanpa ada arahan yang eksplisit darp perawat.
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan keperawatan intake nutrisi klien terpenuhi

Mandiri :
· Kaji status nutrisi klien, turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan menelan, riwayat mual/muntah dan diare.
· Pantau intake –output, timbang berat badan secara periodik (sekali seminggu)
· Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah intervensi/pemeriksaan peroral.
Kolaborasi :
· Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan jenis yang tepat
· Fasilitasi pemberian diet berikan  dalam porsi kecil tapi sering.
· Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium khususnya BUN, protein serum dan albumin.
· Kolaborasi untuk pemberian multivitamin.
·   Memvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan piihan intervensi yang tepat.
·   Berguna dalam mengukur kefektifan intake gizi dan dukungan cairan.
·   Menurunkan rasa tak enak karena sisa makanan, sisa sputum atau obat pada pengobatan sistem pernapasan yang dapat merangsang pusat muntah.
·   Merencanakan diet dengan kandungan gizi yang cukup untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energi dan kalori sehubungan dengan status hipermetabolik klien.
·   Memaksimalkan intake nutrisi tanpa kelelahan dan energi besar serta menurunkan iritasi saluran cerna.
·   Menilai kemajuan terapi diet dan membantu perencanaan intervensi selanjutnya.
·   Multivitamin bertujuan untuk memenuhi kebutuhan vitamin yang tinggi sekunder dari rosres pemkeberhasilan peningkatan laju metabolisme umum.
4.
Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman kematian (kesulitan bernapas)
Dalam waktu 1x24 jam klien mampu memahami dan menerima keadaanya sehingga tidak terjadi kecemasan.
Mandiri :
·      Bantudalam mengidentifikasi sumber koping yang ada
·      Ajarkan tehnik relaksasi
·      Pertahankan hubungan saling percaya antara klien dengan perawat
·      Kaji faktor yang menimbulkan rasa cemas
·      Bantu klien mengenali dan mengakui rasa cemasnya
·   Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam menagatasi stres.
·   Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan
·   Hubungan saling percaya membantu memperlancar proses teraupetik
·   Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan.
·   Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik, maka perasaan yang nenganggu dapat diketahui.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)