A. KONSEP DASAR MEDIS
1.
Definisi
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible
dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli
tertentu. Asma dimanifestasikan dengan penyempitan jalan nafas, yang
mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi. Tingkat penyempitan jalan nafas dapat
erubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari penyakit paru
obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses revesibel. Eksaserbasi akut dapat
saja terjadi, yang berlangsung dari beberapa menit sampai jam, diselingi oleh
periode bebas-gejala. Jika asma dan bronchitis terjadi bersamaan, obstruksi
yang diakibatkan menjadi gabungan dan disebut bronchitis asmatik kronik.
Asma dapat terjadi pada sembarang golongan usia, sekitar aetengH Dri
kasus terjadi pada anak-anak dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40
tahun. Hampir 17% dari semua rakyat Amerika mengalami asma dalam suatu kurun
waktu tertentu dalam kehidupan mereka. Meski asma dapat berakibat fatal, lebih
sering lagi, asma sangat mengganggu, mempengaruhi kehadiran di sekolah, pilihan
pekerjaan, aktivitas fisik, dan banyak aspek kehidupan lainnya.
2.
Etiologi
Menurut berbagai penelitian patologi dan etiologi asma belum diketahui
dengan pasti penyebabnya, akan tetapi hanya menunjukkan dasar gejala asma yaitu
inflamasi dan respons saluran nafas yang berlebihan ditandai dengan adanya
kalor (panas karena vasolidatasi), tumor (esudasi plasma dan edema), dolor
(rasa sakit karena ransangan sensori), dan fungsi laesa (fungsi yang
terganggu). Dan raang harus disertai dengan infiltrasi sel-sel radang (Sudoyo
Aru dkk).
Sebagai pemicu timbulnya serangan dapat berupa infeksi (infeksi virus
RSV), iklim (perubahan mendadak suhu, tekanan udara), inhalan (debu, kapuk,
tungau, sisa-sisa serangga mati, bulu binatang, serbuk sari, bau asap, uap cat
), makanan (putih telur, susu sapi, kacang tanah, coklat, biji-bijian, tomat),
obat (aspirin), kegiatan fisik (olahraga berat, kecapaian, tertawa
terbahak-bahak), dan emosi.
3.
Manifestasi Klinis
Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengi.pada beberapa
keadaan, batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala. Serangan asma sering kali
terjadi pada malam hari. Penyebabnya tidak dimengerti dengan jelas, tetapi
mungkin berhubungan dengan variasi srikadian, yang mempengaruhi ambang reseptor
jalan nafas.
Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak
dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laborious. Ekspirasi
selalu lebih susah dan panjang disbanding inspirasi, yang mendorong pasien
untuk duduk tegak dan menggunakan setiap otot-otot aksesori pernapasan. Jalan
nafas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada walnya susah dan kering
tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputung, yang terdiri atas sedikit mucus
mengandung masa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukan dengan susah payah.
Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia, dan
gejala-gejala retensi karbon dioksida,
termasuk berkeringat, takikardia, dan pelebaran tekanan nadi.
Serangan asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan
dapat hilang secara spontan. Meski serangan asma jarang yang fatal, kadang
terjadi reaksi kontinu yang lebih berat, yang disebut “status asmatikus“.
Kondisi ini merupakan keadaan yang mengancam hidup.
Kemungkinan reaksi alergik lainnya yang dapat menyertai asma termasuk
ekzema, ruam, dan edema temporer. Serangan asmatik dapat terjadi secara
periodic setelah pemajanan terhadap alergen spesifik, obat-obat tertentu,
latihan fisik dan kegerahan emosional.
4.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang
diantaranya :
a.
Spirometer :
dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup (nebulizer/inhaler), positif
jika peningkatan VEP/ KVVT >20%.
b.
Sputum : eosinofil
meningkat
c.
Eosinofil darah
meningkat
d.
Uji kulit
e.
RO dada yaitu
patologis paru/komplikasi asma
f.
AGD : terjadi pada
asma berat pada fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PCO2 turun) kemudian fase lanjut norkopnamia dan
hiperkapnia (PCO2 naik)
g.
Foto dada AP dan
lateral. Hiperinflasi paru, diameter anteroposterior membesar pada foto
lateral, dapat terlihat bercak kosolidasi yang tersebar.
5.
Penatalaksanaan
Tujuan utama penataklasaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan
kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari. Program penataklasaan asma meliputi 7
komponen, yaitu : (perhimpunan Dokter Paru Indonesia)
a.
Edukasi
Edukasi yangbaik akan
menurunkan morbidity dan mortality. Edukasi tidak hanya ditunjukan untuk
penderita dan keluarga tetapi juga pihak lain yang membutuhkan seperti pemegang
keputusan, pembuat perencanaan bidang kesehatan/asma, profesi kesehatan.
b.
Menilai dan monitor
berat asma secara berkala
Penilaian klinis
berkala antara 1-6 bulan dan monitoring asma oleh penderita sendiri mutlak
dilakukan pada penataklasaan asma. Hal tersebut disebabkan berbagai factor
antara lain :
1)
Gejala dan berat asma
berubah, sehingga membutuhkan perubahan terapi
2)
Pajanan pencetus
menyebabkan penderita mengalami perubahan pada asmanya.
3)
Daya ingat (memori)
dan motivasi penderita yang perlu direview, sehingga membantu penanganan asma
terutama asma mandiri.
c.
Identifikasi dan
mengendalikan factor pencetus
d.
Merencanakan dan
memberikan pengobatan jangka panjang
Penataklasaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut sebagai
asma terkontrol. Terdapat 3 faktor yang perlu dipertimbangkan :
1)
Medikasi
(obat-obatan)
Medikasi asma
ditunjukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri
atas pengontrol dan pelega.
2)
Tahapan pengobatan
Tabel pengobatan
sesuai berat asma
Semua tahapan :
ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan, tidak
melebihi 3-4 kali sehari.
|
Berat asma
|
Medikasi pengontrol harian
|
Alternative/pilihan lain
|
Alternative lain
|
|
Asma intermiten
|
Tidak perlu
|
-------
|
-------
|
|
Asma persisten ringan
|
Glukokortikosteroid inhalasi (200-400 ug BD/hari
atau ekivalennya)
|
.teofilin lepas lambat
.kromolin
.leukotriene modifiers
|
-------
|
|
Asma persisten sedang
|
Kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (400-800 ug
BD/hari atau ekivalennya) dan agonis beta-2 kerja lama
|
-glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD atau
ekivalennya) ditambah teofilin lepas lambat, atau
-glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD atau
ekivalensinya) ditambah agonis beta-2 kerja lama oral atau
-glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (>800
ug BD atau ekivalennya) ditambah leukotriene modifiers
|
-ditambah agonis beta-2 kerja lama oral, atau
-ditambah teofilin lepas lambat
|
|
Asma persisten berat
|
Kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (>800 ug
BD atau ekivalennya) dan agonis beta-2 kerja laam, ditambah 1 di bawah ini :
-teofilin lepas lambat
-leukotriene modifiers
-glukokortikosteroid
oral
|
Prednisolon/metilprednisolon oral selang sehari 10
mg ditambahkan agonis beta-2 kerja lama oral, ditambah teofilinlepas lambat
|
|
Semua tahapan : bila
tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan,kemudian
turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma
tetap terkontrol
3)
Penanganan asma
mandiri (pelangi Asma)
Hubungan penderita-dokter yang baik adalah dasar yang kuat untuk terjadi
kepatuhan dan efektif penataklasaan asma. Rencanakan pengobatan asma jangka
panjang sesuai kondisi penderita, realistik/memungkinkan bagi penderita dengan
maksud mengontrol asma. Bila memungkinkan, ajaklah perawat, farmasi, tenaga
fisioterapi pernapasan dan lain-lainnya untuk membantu memberikan edukasi dan
menunjang keberhasilan pengobatan penderita.
Tabel Pelangi Asma
Pelangi Asma, monitoring keadaan asma secara mandiri
|
Hijau
·
Kondisi baik, asma
terkontrol
·
Tidak ada/minimal
gejala
·
APE : 80-100% nilai
dugaan/terbaik
Pengobatan
bergantung berat asma, prinsipnya pengobatan dilanjutkan. Bila tetap berada
pada warna hijau minimal 3 bulan, maka pertimbangan turunkan terapi
|
|
Kuning
·
Berarti hati-hati,
asma tidak terkontrol, dapat terjadi serangan akut/eksaserbasi
·
Dengan gejala asma
(asma malam, aktiviti terhambat, batuk, megi dada terasa berat baik saat
aktiviti maupun istrahat) dan/ atau APE 60-80% prediksi/nilai terbaik
Membutuhkan
peningkatan dosis medikasi atau perubahan medikaksi
|
|
Merah
·
Berbahaya
·
Gejala asma terus
menerus dan membatasi aktiviti sehari-hari.
·
APE <60% nilai
dugaan/terbaik
Penderita
mebutuhkan pengobatan segera sebagai rencana pengobatan yang disepakati
dokter-penderita secara tertulis. Bila tetap tidak ada respons, segera hubungi
dokter atau ke rumah sakit.
|
e.
Menetapkan pengobatan
pada serangan akut
Tabel Rencana
pengobatan serangan asma berdasarkan berat serangan dan tempat pengobatan
|
SERANGAN
|
PENGOBATAN
|
TEMPAT PENGOBATAN
|
|
RINGAN
Aktiviti relatif normal
Berbicara satu kalimat dalam satu napas
Nadi<100
APE>80%
|
Terbaik:
Inhalasi agonis beta-2
Alternatif :
Kombinasi oral agonis beta-2 dan teofilin
|
Di rumah
Dipraktek dokter/klinik/puskesmas
|
|
SEDANG
Jalan jarak jauh timbulkan gejala
Berbicara beberapa kata dalam satu napas
Nadi 100-120
APE 60-80%
|
Terbaik
Nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam
Alternatif :
-Agonis beta-2 ubkutan
-Aminofilin IV
-Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK
Oksigen bila mungkin
Kortikosteroid sistemik
|
Darurat Gawat/RS
Klinik
Praktek dokter
Puskesmas
|
|
BERAT
Sesak saat istirahat
Berbicara kata perkata dalam satu napas
Nadi>120
APE<60% atau
100 l/dtk
|
Terbaik
Nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam
Alternatif :
-Agonis beta-2 SK/IV
-Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK
Aminofilin bolus dilanjutkan drip
Oksigen
Kortikosteroid IV
|
Darurat Gawat/RS
klinik
|
|
MENGANCAM JIWA
Kesadaran berubah/menurun
Gelisah
Sianosis
Gagal napas
|
Seperti serangan akut berat
Pertimbangan intubasi dan ventilasi mekanis
|
Darurat Gawat/RS
ICU
|
f.
Control secara
teratur
Pada penataklasaan jangka panjang terdapat 2 hal yang penting
diperhatikan oleh dokter yaitu :
1)
Tindak lanjut
(follow-up) teratur
2)
Rujuk ke ahli paru
untuk konsultasi atau penanganan lanjut bila diperlukan
g.
Pola hidup sehat
1)
Meningkatkan
kebugaran fisis
Olahraga menghasilkan kebugaran fisis secara umum. Walaupun terdapat
salah satu bentuk asma yang timbul serangan sesudah execise (exercise-induced asthma/EIA), akan tetapi tidak berarti
penderita EIA dilarang melakukan olahraga. Senam Asma Indonesia (SAI) adalah
salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan menguatkan
otot-otot pernapasan khususnya, selain
manfaat lain pada olahraga umumnya.
2)
Berhenti atau tidak
pernah merokok
3)
Lingkungan kerja
Kenali lingkungan
kerja yang berpotensi dapat menimbulkan asthma.
6.
Patofisiologi
Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversible. Obstruksi disebabkan
oleh satu atau lebih dari yang berikut ini : (1) kontraksi otot-otot yang
mengelilingi bronki, yang meyempitkan jalan napas; (2) pembengkakan membrane
yang melapisi bronki ; dan (3) pengisian bronki dengan dengan mucus yang
kental. Selain itu, otot-otot bronchial dan kelenjar mukosa membesar; sputum
yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara
terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini
tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan system
imunologis dan system saraf otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk terhadap
lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel
mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen
dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator)
seperti histamine, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaks dari substansi
yang beraksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru
mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme,
pembengkakan membrane mukosa, dan pembentukan mucus yang sangat banyak.
System saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronchial diatur oleh
impuls saraf vagal melalui system parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergi, ketika ujung saraf
pada jalan napas dirangsang oleh factor seperti infeksi, latihan, dingin,
merokok, emosi, dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat.
Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokontruksi juga
merangsang pembentukan mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu dengan
asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis.
Selain itu reseptor α- dan β-adrenergik dari system sarafsimpatis
terletak dalam bronki. Ketika reseptor α- adrenergik dirangsang, terjadi
bronkokontruksi ; bronkodilatasi terjadi
ketika reseptor β-adrenergik yang dirangsang. Keseimbangan antara reseptor α-
dan β-adrenergik dikendalikan terutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP).
Stimulasi reseptor-alfa mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada
peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast
bronkokontruksi. Stimulasi reseptor-beta
mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat pelepasan mediator
kimiawi dan konstruksi otot polos.
B. KONSEP DASAR
KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a.
Riwayat kesehatan masa lalu
1)
Kaji riwayat pribadi atau keluarga
tentang penyakit paru sebelumnya
2)
Kaji riwayat reksi alergi atau
sensitivitas terhadap zat/faktor lingkungan
b.
Aktivitas
1)
Ketidakmampuan melakukan aktivitas
karena sulit bernafas
2)
Adanya penurunan
kemampuan/peningkatan kebutuhan bentuan melakukan aktivitas
sehari-hari
3)
Tidur dalam posisi duduk tinggi
c.
Pernapasan
1)
Dispnea pada saat istirahat atau
respon terhadap aktivitas atau latihan
2)
Napas memburuk ketika klien
berbaring telentang di tempat tidur
3)
Menggunakan alat bantu pernapasan,
misal meninggikan bahu, melebarkan hidung.
4)
Adanya bunyi napas mengi
5)
Adanya batuk berulang
d.
Sirkulasi
1)
Adanya peningkatan tekanan darah
2)
Adanya peningkatan frekuensi jantung
3)
Warna kulit atau membran mukosa
normal/abu-abu/sianosis
e.
Integritas ego
1)
Ansietas
2)
Ketakutan
3)
Peka rangsangan
4)
Gelisah
f.
Asupan nutrisi
1)
Ketidakmampuan untuk makan karena
distress pernapasan
2)
Penurunan berat badan karena
anoreksia
g.
Hubungan sosial
1)
Keterbatasan mobilitas fisik
2)
Susah bicara atau bicara
terbata-bata
3)
Adanya ketergantungan pada orang
lain.
ASKEP ASMA
|
No.
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Ketidakefektifan bersihan jalan
napas berhubungan dengan bronkhokonstriksi, bronkhospasme, edema
mukosa dan dinding bronkhus, serta sekresi mukus yang kental
|
Dalam waktu 3x24 jam setelah
diberikan tindakan bersihan jalan napas kembali efektif
.
|
Mandiri :
· Kaji warna dan kekentalan sputum
· Atur posisi semi fowler
· Ajarkan cara batuk efektif
· Bantu klien napas
dalam
· Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali
tidak diindikasikan
Kolaborasi :
· Kolaborasi dengan melakukan fisioterapi dada dengan tehnik
postural drainase, perkusi dan fibrasi dada.
· Kolaborasi pemberian obat :
-
Bronkodilator golongan B2
-
Nebuler (via inhalasi) dengan
golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol HBr 0.1% solution, orciprenaline
sulfur 0.75 mg.
-
Intravena dengan golongan
theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kgBB.
-
Agen mukolitik dan ekspektoran
-
kortikosteroid
|
· karateristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya
obstruksi.
· Meningkatkan ekspansi dada
· Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan
pengeluaran sekret yang melekat pada jalan napas.
· Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan
meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan.
· Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan sekret dan mengefektifkan
pembersihan jalan napas.
· Fisioterapi dada
merupakan strategi untuk mengeluarkan sekret.
· Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju
area bronkhus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi
· Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaaan
agar dilatasi jalan napas dapat optimal.
· Agen mukolitik menurunkan kekntalan dan perlengketan
sekret paru untuk memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan
sekret lepas dari perlengketan jalan napas.
· Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan
hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding
bronkhus.
|
|
2.
|
Gangguan pertukaran gas yang
berhubungan dengan serangan asma menetap
|
· Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi, pertukaran
gas membaik
|
mandiri :
· Kaji kefektifan jalan napas
Kolaborasi
:
· Kolaborasi untuk pemberian bronkodilator secara aerosol
· Lakukan fisioterapi dada
· Kolaborasi untuk pemantauan analisa gas arteri
· Kolaborasi pemberian oksigen via nasal
|
· Bronkhospasme di deteksi ketika terdengar mengi saat di
askultasi dengan stetoskop.
· Peningkatan pembentukan mukus sejalan dengan penurunan
aksi mukosiliaris menunjang penurunan lebih lanjut diameter bronkhi dan
mengakibatkan penurunan aliran udra serta penurunan pertukaran gas, yang
diperburuk oleh kehilangan daya elastisitas paru.
· Terapi aerosol membantu mengencerkan sekresi sehingga
dapat dibuang. Bronkhodilator yang dihirup sering ditambahkan ke dalam
nebulizer untuk memberikan aksi bronkhodolator langsung pada jalan napas,
dengan demikiam memperbaiki pertukaran gas. Tindakan inhalasi atau aerosol
harus diberikan sebelum waktu makan untuk memperbaiki ventilasi paru dengan
demikian mengurangi keletihan yang menyertai kativitas makan.
· Setelah inhalasi bronkhodilator nebuliser, klien
disarankan untuk meminum air putih untuk lebih mengencerkan
sekresi. Kemudian membatukkan dengan ekpulsif atau postural drainase akan
membantu dalam pengeluaran sekresi. Klien dibantu untuk melakukan hal ini
dengan cara yang tidak membuatnya keletihan.
· Sebagai bahan evaluasi setelah melakukan intervensi.
· Oksigen diberikan ketika terjadi hipoksemia. Perawat harus
memantau kemanjuran terapi oksigen dan memastikan bahwa klien patuh dalam
menggunakan alat pemberi oksigen. Klien diinstruksikan tentang penggunaan
oksigen yang tepat dan tentang bahay peningkatan laju aliran oksigen tanpa
ada arahan yang eksplisit darp perawat.
|
|
3.
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh
|
Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan keperawatan
intake nutrisi klien terpenuhi
|
Mandiri :
· Kaji status nutrisi klien, turgor kulit, berat badan,
integritas mukosa oral, kemampuan menelan, riwayat mual/muntah dan diare.
· Pantau intake –output, timbang berat badan secara periodik
(sekali seminggu)
· Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah
intervensi/pemeriksaan peroral.
Kolaborasi :
· Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan
jenis yang tepat
· Fasilitasi pemberian diet berikan dalam porsi kecil
tapi sering.
· Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium khususnya BUN,
protein serum dan albumin.
· Kolaborasi untuk pemberian multivitamin.
|
· Memvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk
menetapkan piihan intervensi yang tepat.
· Berguna dalam mengukur kefektifan intake gizi dan dukungan
cairan.
· Menurunkan rasa tak enak karena sisa makanan, sisa sputum
atau obat pada pengobatan sistem pernapasan yang dapat merangsang pusat
muntah.
· Merencanakan diet dengan kandungan gizi yang cukup untuk
memenuhi peningkatan kebutuhan energi dan kalori sehubungan dengan status
hipermetabolik klien.
· Memaksimalkan intake nutrisi tanpa kelelahan dan energi
besar serta menurunkan iritasi saluran cerna.
· Menilai kemajuan terapi diet dan membantu perencanaan
intervensi selanjutnya.
· Multivitamin bertujuan untuk memenuhi kebutuhan vitamin
yang tinggi sekunder dari rosres pemkeberhasilan peningkatan laju metabolisme
umum.
|
|
4.
|
Ansietas berhubungan dengan adanya
ancaman kematian (kesulitan bernapas)
|
Dalam waktu 1x24 jam klien mampu
memahami dan menerima keadaanya sehingga tidak terjadi kecemasan.
|
Mandiri :
· Bantudalam mengidentifikasi sumber koping yang ada
· Ajarkan tehnik relaksasi
· Pertahankan hubungan saling percaya antara klien dengan
perawat
· Kaji faktor yang menimbulkan rasa cemas
· Bantu klien mengenali dan mengakui rasa cemasnya
|
· Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif
sangat bermanfaat dalam menagatasi stres.
· Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan
· Hubungan saling percaya membantu memperlancar proses
teraupetik
· Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah
yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan.
· Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah
teridentifikasi dengan baik, maka perasaan yang nenganggu dapat diketahui.
|
Komentar
Posting Komentar