LAPORAN
PENDAHULUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN JIWA DENGAN PASIEN KECEMASAN
A. MASALAH
UTAMA
Kecemasan
B. PROSES
TERJADINYA MASALAH
1. Definisi
Kecemasan
adalahperasaan takut yang tidak jelas dan tidak di dukung oleh situasi.
Gangguan kecemasan adalah sekelompokkondisi yang member gambaran penting
tentangansietas yang berlebihanyang disertai respon perilaku, emosional dan
fisiologis individu yang mengalami gangguan ansietas.(Videback, 2008: 307).
Kecemasan
adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau
rasa takut yang disertai respon (penyebab tidak spesifik atau tidak diketahui
oleh individu). Perasaan takut dan tidak menentu sebagai sinyal yang
menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya akan datang memperkuat individu
mengambil tindakan menghadapi ancaman.
Kejadian
dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta bencana dapat
membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Salah satu contoh
dampak psikologis adalah timbulnya kecemasan atau ansietas. (AH. Yusuf,2015:89)
2. Penyebab
Menurut
(Savitri Ramaiah, 2003: 11) ada beberapa faktor ynag menunjukkan reaksi
kecemasan, diantaranya yaitu:
a. Lingkungan
atau sekitar tempat tinngal mempengaruhi cara berpikir individu tentang diri
sendiri maupun orang lain. Hal ini di sebabkan karena adanya pengalaman yang
tidak menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun rekan kerja.
Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.
b. Emosi
yang ditekan, kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan
keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika
dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lam.
c. Pikiran
dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya
kecemasan.
Memnurut (Zakiah Daradjat dan Kholi
Lur Romchman, 2010: 167) mengemukakan beberapa penyebab dari kecemasan yaitu:
a. Rasa
cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya.
Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas
didaam pikiran.
b.
Cemas karena merasa berdosa atau
bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati
nurani.
c. Kecemasan
yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini
disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang
terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi kesehatan kepribadian
penderitanya.
Menurut (Stuart dan Sundeen, 1998:
177)Beberapa teori penyebab kecemasan pada individu antara lain:
a. Teori
psikoanalatik terjadi karna adanya konflik yang terjadi antara emosinal elemen
kepribadian , yaitu id dan super ego. Id mewakili insting, super ego mewakili
hati nurani, sedangkan ego berperan menengahi konflik yang terjadi antara dua
elemen yang bertentangan. Timbulnya kecemasn merupakan upaya peningkatan ego
dan bahaya.
b. Teori
interpersonal
Kecemasan timbul dari perasaan
takut terhadap adanaya penolakan dan tidaka adanya penerimaan interpersonal.
c. Teori
perilaku (Bevarior)
Kecemasan merupakan prodk frustasi
yaiti segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan.
d. Teori
prespektif keluarga
Kajian keluaraga menunjukkan pola
interaksi yang terjadi dalam keluarga. Kecemasan enunjukkan adanya pola
interaksi yang maladaptive dalam system keluarga.
e. Teori
perspektif biologis
Kajian biologis menunjukkan bahwa
otak mengandung reseptor khususnya yang mengatur kecamasan (Stuart dan Sundeen,
1998: 177).
3.
Jenis-jenis kecemasan
Kecemasan merupakan suatu perubahan
suasana hati, perubahan didalam dirinya sendiri yang timbul dari dalam tanpa
adanya rangsanagan dari luar. Membagi kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan
yaitu:
a. Kecemasan
rasional merupakan suatu ketakuatan akiabat adanya objek yang memang mengancam,
misalnya ketika menunggu hasil ujian. Ketakuatan ini dianggap sebagai suatu
unsure poko normal dari mekanisme pertahanan dasar kiat.
b. Kecemasan
irrasional yang bebrati bahawa mereka mengalami emeosi ini dibawah kedalam
keadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
c. Kecemasan
fundamentalmmerupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa
hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini di sebut
sebagi kecemasan eksistensial yang mempunyai peran funda mental bagi kehidupan
manusia (Mustamir Pedak, 2009:30).
4.
Rentang respon
Rentang
respon individu terhadap cemas berflutuasi antara respon adaptif dan
maladaptif. Rentang respon yang paling adaptif adalah antisispasi dimana
individu siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang mungkin muncul.
Sedangkan rentang yang paling maladaptive adalah panic dimana individu sudah
tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami
gangguan fisisk, perilaku maupun kognitif. Respons adaptif Antisipasi- Ringan-
Sedang- Berat- Panik
5.
Proses terjadinya masalah
a. Faktor
predisposisi
Strepredisposisi adalahsemua
ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.
Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa:
1) Peristiwa
trumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang di
alami individu baik krisis perkembangan atau situasiona.
2) Konflik
emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik, id dan
super ego atau antar
3) Konsep
diri tergangggu akan menimbulkanketidakmampuanindividu berpikir secara realitas
sehinga akan menimbulkan kecemasan.
4) Frustasi
akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untukmengambil keputusan yang berdampak
terhadap ego.
5) Gangguan
fisik akan menimbulkankecemasan karenamerupakan ancaman terhadap integritas
fisik yang dapatmempengaruhi konsep diri individu.
6) Pola
mekanisme keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi
individu dalam berespon terhadap konflikyang di alami karena polamekanisme
koping individubbanyak di pelajaridalam keluarga.
7) Riwayat
gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu dalam
berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya (Eko prabowo, 2014:
123-124).
b. Faktor
prespitasi
Faktor prespitasi adalah semua
ketgangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan. Stressor
prespitasi kecemasan di kelompokkan menjadi du abagian, yaitu:
1) Ancaman
terhadap integritas kulitketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi:
•
Sumber internal meliputi kegagalan
mekanisme fisisologis sistem imun, regulasi suhu tubuh, perubhan biologis
normal
•
Sumber eksternal, meliputi paparan
terhadap infeksi virus dan bakteri, polusi lingkunag, kecelakaan, kekuranagan
nutrisi, tidakadekuatnya tempat tinggal
2) Anacaman
terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal
•
Sumber internal kesulitan dalam
berhubungan interpersonal dirumah tempat kerja, penyesuaian terhadap peran
baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisisk juga dapat mengancam harga
diri.
• Sumber
eksternalorang yang dicinta berperan, perubahan status pekerjaan tekanan
kelompok social (Eko prabowo, 2014: 124).
6. Tanda
dan gejala
Tanda dan gejala kecemasan yang di
tunjukkan atau di temukan oleh seseorang bervariasi tergantung dari beratnya
atatu tingkatan yang dirasakan oleh individu tersebut (Hawari, 2004). Keluhan
yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami kecemasan secara umum
(Hawari, 2004), antara lain adaalh sebagai berikut:
a. Cemas,
kawatir, firasat buruk, takut akan pikirannyasendiri, mudah tersinggung,
b. Merasa
tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
c. Takutsendiriaan,
takut pada keramaian, dan banyak orang.
d. Gangguan
pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
e. Gangguan
kosentrasi daya ingat
f. Gejala
somatikrasa sakit pada oto dan tulang, berdebar-debar, sesak nafas, gangguan
pencernaan, sakit kepala, gangguan perkemihan, tangan terasa dngin dan lembab,
dan lain sebagainya (Eko prabowo, 2014: 124-125).
7. Akibat
Dapat berasal dari sumber internal dan
eksternal dapat diklasifikasikan dalam dua jenis.
a. Ancaman
terhadap integitas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan
terjadi atau menurunkan kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup seharihari.
Pada ancaman ini stressor yang berasal dari sumber eksternal adalah
faktorfaktor-faktor yang dapat menyebabakan gangguan fisik (misal: infeksi
virus dan polusi udara). Sedangkan yang enjadi sumber internalanya adalah
kegagalan mekanisme fisisologi tubuh (misalnya: sitem jantung , sistem imun
pengaturan suhu dan perubahan fisologis selama kehamilan)
b. Ancaman
terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan indetitas, harga diri dan
fungsi social yang teringretisasi seseorang. Ancaman yang berasal dari sumber
internal berupa gangguan hubungan interpersonal di rumah tempat kerja atau
menerima pesan baru (Eko prabowo, 2014: 125).
8. Mekanisme
koping
Tingkat ansietas sedang dan berat
menimbulkan dua jenis mekanisme koping yaitu sebagai berikut.
1. Reaksi
yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada
tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres, misalnya
perilaku menyerang untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemnuhan kebutuhan.
Menarik diri untuk memindahkan darisumber stres. Kompromi untuk mengganti
tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal.
2. Mekanisme
pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi
berlangsung tidak sadar, melibatkan penipuan diri, distorsi, dan bersifat
meladaptif. (AH.yusuf,2015:87-88)
9. Penatalaksanaan
Menurut Hawari
(2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahan dan terapi memrlukan suatu
metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencakup fisik (somatik),
psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkapnya seperti
pada uraian berikut.
a. Upaya
meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengancara:
1. Makan
makan yang bergizi dan seimbang
2. Tidur
yang cukup
3. Cukup
olahraga
4. Tidak
merokok
5. Tidak
meminum minuman keras
b. Terapi
psikolofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas
dengan memaki obat obtan yang berhasiat memulihkan fungsi gangguan
neuro-transmitter (sinyal penghanatr saraf). Disusunan saraf pusat otak (limbic
system). Terapi psikofarmaka yang serig di pakai adalah obat anticemas
(anxiolytic), yaitu seperti diazepam, klobazam, bromazepam, lorazepam,
buspirone HCL, meprobramate dan alprazolam.
c.
Terapi somatic.
Gejala atau keluhan fisik (somatic) sering dijumpai
sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang berkepanjangan. Untuk
menghilangkan keluhankeluhan somatic (fisik) itu dapat diberikan obat-oabatn
yang ditujukan pada organ pada tubuh yang bersangkutan.
d. Psikoterapi
Psikoterapi
diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antar lain:
1. Psikoterapi
suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang
bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberika keyakinan serta percaya diri.
2. Psikoterapi
reedukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi diri bila diulang bahwa ketdak
mampuan mengatasi kecemasan.
3. Psikoterapi
rekontruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (rekontruksi) kepribadian
yang teah menglami goncangan akibat stresor.
4. Psikoterapi
kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk
berfikir secara rasonal, konsentrasi dan daya ingkat.
5. Psikoterapi
psikodinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang
dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stresor psikososial
sehingga mengalami kecemasan.
6. Psikoterapi
keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak
lagi menjadi faktor penyebab dan faktor krluarga dapat dijadikan sebagai faktor
pendukung.
e. Terapi
psikoreligius
Untuk
meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubunganya dengan kekebalan dan daya
tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stresor
psikososial.
Kerusakan
interaksi sosial
|
11. Diagnose keperawatan
a.
Keruskan interaksi sosial berhubungan
dengan cemas
b.
Gangguan alam perasaan: cemas
berhubungan dengan koping individu inefektif
12. Rencana
asuhan keperawatan
Tujuan
Tujuan
umum : cemas berkurang atau hilang
Tujuan khusus : a. TUK 1
Pasien
dapat menjalin hubungan saling percaya Intervensi:
1) Jadilah
pendengar yang hangat dan responsi
2) Beri
waktu yang cukup pada pasien untuk berespon
3) Beri
dukungan pada pasien untuk berekspresikan perasaanya
4) Identifikasi
pola perilaku pasien atau pendekatan yang dapat menimbulkan perasaan negatif
5) Bersama
pasien mengenali perilaku dan respon sehingga cepat belajar dan berkembang.
b. TUK 2
Pasien dapat
mengenali ansietasnya
Intervensi
:
1) Bantu
pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaanya
2)
Hubungkan perilaku dan perasaanya
3)
Validasi kesimpulan dan asumsi terhadap
pasien
4)
Gunakan pertanyaan terbuka untuk
mengalihkan dari topik yang mengancam ke hal yang berkaitan dengan konflik
5)
Gunakan konsultasi untuk membantu pasien
mengungkapkan perasaanya.
c.
TUK 3
Pasien dapat memperluas kesadaranya
terhadap perkembangan ansietas
Intervensi :
1)
Bantu pasien menjelaskan situasi dan
interaksi yang dapat segera menimbulkan ansietas
2)
Bersama pasien meninjau kembali
penilaian pasien terhadap stressor yang dirasakan mengancam dan menimbulkan konflik
3) Kaitkan
pengalaman yang baru terjadi dengan pengalaman masa lalu yang relevan
d.
TUK 4
Pasien dapat menggunakan mekanisme
koping yang adaptif
Intervensi
:
1)
Gali cara pasien mengurangi ansietas
dimasa lalu
2) Tunjukan
akibat maladaptif dan destruktif dari respon koping yang digunakan
3) Dorong
pasien untuk menggunakan respon koping adaptif yang dimilikinya
4) Bantu
pasien untuk menyusun kembali tujuan hidup, memodifikasi tujuan, menggunakan
sumber dan menggunakan ansietas sedang
5) Latih
pasien dengan menggunakan ansietas sedang
6) Beri
aktifitas fisik untuk menyalurkan energinya
7) Libatkan
pihak yang berkepentingan sebagai sumber dan dukungan sosial dalam membantu
pasien menggunakan koping adaptif yang baru
e. TUK
5
Pasien
dapat menggunakan tekhnik relaksasi
Intervensi
:
1)
Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk
meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri
2)
Dorong pasien untuk menggunakan
relaksasi dalam menurunkan tingkat ansietas.
LAPORAN
PENDAHULUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN JIWA
DENGAN
PASIEN KEHILANGAN ATAU BERDUKA
A. MASALAH
UTAMA
Kehilangan dan berduka
B. PROSES
TERJADINYA MASALAH
1. Definisi
a) Kehilangan
Kehilangan (loss) adalah suatu
situasi aktual maupun potenssial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan
sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau terjadi
perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan
merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap indivisu selama rentang
kehidupannya. Sejak lahir, individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung
akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu
akan bereaksi terhadap kehilangan. Respons terakhir terhadap kehilangan sangat
dipengaruhi oleh respons individu terhadap terhadap kehilangan sebelumnya
(Hidayat, 2009:243)
b) Berduka
Berduka (grieving) merupakan reaksi
emosional terhadap kehilangan. Hal ini diwujudkan dalam berbagi cara yang unik
pada masing-masing orang dan didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektasi
budaya, dan keyakinan spiritual yang dianutnya (Hidayat, 2009 : 244)
2. Penyebab
a.
Faktor prediposisi
Faktor
prediposisi yang mempengaruhi rentang respon kehilangan adalah :
1) Faktor
genetik
Individu yang dilahirkan dan
dibesarkan didalam keluarga yang mempunyai riwayat depresi akan sulit
mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi perasaan kehilangan
(Hidayat,2009:246)
2) Kesehatan
jasmani
Individu dengan keadaan fisik
sehat, pola hidup yang teratur, cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stress
yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang mengalami gangguan fisik
(Prabowo,2014:16)
3) Kesehatan
mental
Individu yang mengalami gangguan
jiwa terutama yang mempunyai riwayat depresi yang ditandai dengan perasaan
tidak berdaya permisi, selalu dibayangi oleh masa depan yang suram, biasanya
sangat peka dalam menghadapi situasi kehilangan (Hidayat,2009:246)
4) Pengalaman
kehilangan dimasa lalu
Kehilangan atau perpisahan dengan
orang yang berarti pada masa kanak-kanak akan mempengaruhi individu dalam
mengatasi perasaan kehilangan pada masa dewasa (Hidayat,2009:246)
5) Struktur
presipitai
Ada beberapa stressor yang dapat
menimbulkan perasaan kehilangan. Kehilangan kasih sayang secara nyata ataupun
imajinasi individu seperti : kehilangan sifat bio-psiko-sosial antara lain
meliputi :
1. Kehilangan
kesehatan
2. Kehilangan
fungsi seksualitas
3. Kehilangan
peran dalam keluarga
4. Kehilangan
posisi dimasyarakat
5. Kehilangan
harta benda atau orang yang dicintai
6. Kehilangan
kewarganegaraan (Prabowo,2014:117)
3.
Jenis
a.
Kehilangan
1) Kehilangan objek eksternal (misalnya
kecurian atau kehancuran akibat bencana alam).
2) Kehilangan lingkungan yang dikenal
(misalnya berpindah rumah, dirawat dirumah sakit, atau berpindah pekerjaan).
3) Kehilangan sesuatu atau seseorang
yang berarti (misalnya pekerjaan, kepergian anggota keluarga dan teman dekat,
perawat yang dipercaya, atau binatang peliharaan).
4) Kehilangan suatu aspek diri (misalnya
anggota tubuh dan fungsi psikologis atau fisik).
5) Kehilangan hidup (misalnya kematian
anggota keluarga, teman dekat, atau diri sendiri) (Hidayat,2009:243)
b. Berduka
Menurut
hidayat (2009:244) berduka dibagi menjadi beberapa antara lain :
1)
Berduka normal
Terdiri
atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan. Misalnya
kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk
sementara.
2)
Berduka antisipatif
Yaitu
proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan dan kematian yang
sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika menerima diagnosa terminal, seseorang
akan memulai proses perpisahan dan menyelesaikan berbagi urusan di dunia
sebelum jalnya tiba.
3)
Berduka yang rumit
Dialami
oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya, yaitu tahap kedukaan
normal. Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat mengancam
hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain.
4)
Berduka tertutup
Kedukaan
akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka. Contohnya kehilangan
pasangan karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang
kehilangan anaknya dikandungan atau ketika bersalin.
4.
Rentang respon
Respons
berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap berikut
(Menurut Kubler-Ross, dalam Potter dan Perry, 1997);
Tahap
pengingkaran → marah →tawar-menawar → depresi → penerimaan
5.
Tanda dan gejala
a.
Kehilangan
Menurut
Prabowo (2014:117) tanda gejala kehilangan diantaranya :
1. Perasaan
sedih, menangis
2. Perasaan
putus asa, kesepian
3. Mengingkari
kehilangan
4. Kesulitan
mengekspresikan perasaan
5. Kosentarasi
6. Kemarahan
yang berlebihan
7. Tidak
berminat dalam berinteraksi dengan orang lain
8. Merenungkan
perasaan bersalah secara berlebihan
9. Reaksi
emosional yang lambat
10. Adanya
perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur, tingkat aktivitas (Eko prabowo,
2014:117)
b.
Berduka
Menurut
Dalami (2009) tanda dan gejala berduka diantaranya :
1)
Efek fisik
Kelelahan,
kehilangan selera, masalah tidur, lemah, berat badan menurun, sakit kepala,
berat badan menurun, sakit kepala, pandangan kabur, susah bernapas, palpitasi
dan kenaikan berat, susah bernapas.
2)
Efek emosi
Mengingkari,
bersalah, marah, kebencian, depresi, kesedihan, perasaan gagal, sulit untuk
berkonsetrasi, gagal dalam menerima kenyataan, iritabilita, perhatian terhadap
orang yang meninggal.
3)
Efek sosial
1.
Menarik diri dari lingkungan
2.
Isolasi (emosi dan fisik) dari istri, keluarga dan teman.
6.
Akibat
Inti
dari kemampuan seseorang agar dapat bertahan terhadap kehilangan adalah
pemberian makna (personal meaning) yang baik terhadap kehilangan (Husnudzon)
dan kompensasi yang positif (konstruktur). Apa bila kondisi tersebut tidak
tercapai, maka akan berdampak pada terjadinya depresi. Pada saat individu
depresi sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang sebagai pasien sangat
penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga,
ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain :
menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido manurun( Prabowo, 2014 :
117).
7. Mekanisme koping
Koping yang sering dipakai individu dengan kehilangan respon antara lain
: Denial, Represi, Intelektualisasi, Regresi, Disosiasi, Supresi dan proyeksi
yang digunakan untuk menghindari intensitas stress yang dirasakan sangat
menyakitkan. Regresi dan disosiasi sering ditemukan pada pasien depresi yang
dalam. Dalam keadaan patologis mekanisme koping tersebut sering dipakai secara
berlebihan dan tidak tepat (Prabowo, 2014 : 117 – 118).
8. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan
sensori persepsi halusinasi
b. Isolasi sosial
menarik diri (Prabowo, 2014 : 119).
DAFTAR PUSTAKA
Dalami,
E. (2009). Asuhan Keperawatan Jika Dengan Masalah Psikososial. Jakarta:
Trans Info Media.
Hidayat,
A. A. (2009). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika.
Prabowo, E. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan
Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.
Prabowo Eko.
(2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta: Nuha Medika.
Mustamir Pedak. (2009). Metode Supernol
Menaklukan Stress. Jakarta: Himah Publishing House.
Kholil Lur
Rochman. (2010). Kesehatan Mental. Purworkerto: Fajar Medika.
AH.Yusuf
(2015). Buku Ajaran Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta Selatan:
Jagakarsa.
Komentar
Posting Komentar