TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

LP ASKEP JIWA DENGAN PASIEN KECEMASAN


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN PASIEN KECEMASAN

A.    MASALAH UTAMA
       Kecemasan 
B.     PROSES TERJADINYA MASALAH
1.      Definisi
Kecemasan adalahperasaan takut yang tidak jelas dan tidak di dukung oleh situasi. Gangguan kecemasan adalah sekelompokkondisi yang member gambaran penting tentangansietas yang berlebihanyang disertai respon perilaku, emosional dan fisiologis individu yang mengalami gangguan ansietas.(Videback, 2008: 307).
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai respon (penyebab tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Perasaan takut dan tidak menentu sebagai sinyal yang menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya akan datang memperkuat individu mengambil tindakan menghadapi ancaman.
Kejadian dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta bencana dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Salah satu contoh dampak psikologis adalah timbulnya kecemasan atau ansietas. (AH. Yusuf,2015:89)
2.      Penyebab
Menurut (Savitri Ramaiah, 2003: 11) ada beberapa faktor ynag menunjukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu:
a.       Lingkungan atau sekitar tempat tinngal mempengaruhi cara berpikir individu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini di sebabkan karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun rekan kerja. Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.
b.      Emosi yang ditekan, kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lam.
c.       Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.
Memnurut (Zakiah Daradjat dan Kholi Lur Romchman, 2010: 167) mengemukakan beberapa penyebab dari kecemasan yaitu:
a.       Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya. Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas didaam pikiran.
b.      Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.
c.       Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi kesehatan kepribadian penderitanya.  
Menurut (Stuart dan Sundeen, 1998: 177)Beberapa teori penyebab kecemasan pada individu antara lain:
a.       Teori psikoanalatik terjadi karna adanya konflik yang terjadi antara emosinal elemen kepribadian , yaitu id dan super ego. Id mewakili insting, super ego mewakili hati nurani, sedangkan ego berperan menengahi konflik yang terjadi antara dua elemen yang bertentangan. Timbulnya kecemasn merupakan upaya peningkatan ego dan bahaya.
b.      Teori interpersonal
Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap adanaya penolakan dan tidaka adanya penerimaan interpersonal.
c.       Teori perilaku (Bevarior)
Kecemasan merupakan prodk frustasi yaiti segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan.
d.      Teori prespektif keluarga
Kajian keluaraga menunjukkan pola interaksi yang terjadi dalam keluarga. Kecemasan enunjukkan adanya pola interaksi yang maladaptive dalam system keluarga.
e.       Teori perspektif biologis
Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khususnya yang mengatur kecamasan (Stuart dan Sundeen, 1998: 177).
3.         Jenis-jenis kecemasan
Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan didalam dirinya sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsanagan dari luar. Membagi kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu:
a.       Kecemasan rasional merupakan suatu ketakuatan akiabat adanya objek yang memang mengancam, misalnya ketika menunggu hasil ujian. Ketakuatan ini dianggap sebagai suatu unsure poko normal dari mekanisme pertahanan dasar kiat.
b.      Kecemasan irrasional yang bebrati bahawa mereka mengalami emeosi ini dibawah kedalam keadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
c.       Kecemasan fundamentalmmerupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini di sebut sebagi kecemasan eksistensial yang mempunyai peran funda mental bagi kehidupan manusia (Mustamir Pedak, 2009:30).
4.         Rentang respon
Rentang respon individu terhadap cemas berflutuasi antara respon adaptif dan maladaptif. Rentang respon yang paling adaptif adalah antisispasi dimana individu siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang mungkin muncul. Sedangkan rentang yang paling maladaptive adalah panic dimana individu sudah tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami gangguan fisisk, perilaku maupun kognitif. Respons adaptif Antisipasi- Ringan- Sedang- Berat- Panik
5.         Proses terjadinya masalah
a.       Faktor predisposisi
Strepredisposisi adalahsemua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa:
1)   Peristiwa trumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang di alami individu baik krisis perkembangan atau situasiona.
2)   Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik, id dan super ego atau antar
3)   Konsep diri tergangggu akan menimbulkanketidakmampuanindividu berpikir secara realitas sehinga akan menimbulkan kecemasan.
4)   Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untukmengambil keputusan yang berdampak terhadap ego.
5)   Gangguan fisik akan menimbulkankecemasan karenamerupakan ancaman terhadap integritas fisik yang dapatmempengaruhi konsep diri individu.
6)   Pola mekanisme keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflikyang di alami karena polamekanisme koping individubbanyak di pelajaridalam keluarga.
7)   Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya (Eko prabowo, 2014: 123-124).

b.      Faktor prespitasi
Faktor prespitasi adalah semua ketgangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan. Stressor prespitasi kecemasan di kelompokkan menjadi du abagian, yaitu:
1)   Ancaman terhadap integritas kulitketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi:
    Sumber internal meliputi kegagalan mekanisme fisisologis sistem imun, regulasi suhu tubuh, perubhan biologis normal 
    Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polusi lingkunag, kecelakaan, kekuranagan nutrisi, tidakadekuatnya tempat tinggal
2)   Anacaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal
    Sumber internal kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisisk juga dapat mengancam harga diri.
    Sumber eksternalorang yang dicinta berperan, perubahan status pekerjaan tekanan kelompok social (Eko prabowo, 2014: 124).


6.      Tanda dan gejala
    Tanda dan gejala kecemasan yang di tunjukkan atau di temukan oleh seseorang bervariasi tergantung dari beratnya atatu tingkatan yang dirasakan oleh individu tersebut (Hawari, 2004). Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami kecemasan secara umum (Hawari, 2004), antara lain adaalh sebagai berikut:
a.       Cemas, kawatir, firasat buruk, takut akan pikirannyasendiri, mudah tersinggung, 
b.      Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
c.       Takutsendiriaan, takut pada keramaian, dan banyak orang.
d.      Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
e.       Gangguan kosentrasi daya ingat
f.       Gejala somatikrasa sakit pada oto dan tulang, berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan perkemihan, tangan terasa dngin dan lembab, dan lain sebagainya (Eko prabowo, 2014: 124-125).
7.      Akibat
        Dapat berasal dari sumber internal dan eksternal dapat diklasifikasikan dalam dua jenis.
a.       Ancaman terhadap integitas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan terjadi atau menurunkan kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup seharihari. Pada ancaman ini stressor yang berasal dari sumber eksternal adalah faktorfaktor-faktor yang dapat menyebabakan gangguan fisik (misal: infeksi virus dan polusi udara). Sedangkan yang enjadi sumber internalanya adalah kegagalan mekanisme fisisologi tubuh (misalnya: sitem jantung , sistem imun pengaturan suhu dan perubahan fisologis selama kehamilan)
b.      Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan indetitas, harga diri dan fungsi social yang teringretisasi seseorang. Ancaman yang berasal dari sumber internal berupa gangguan hubungan interpersonal di rumah tempat kerja atau menerima pesan baru (Eko prabowo, 2014: 125).
8.      Mekanisme koping
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping yaitu sebagai berikut.
1.      Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemnuhan kebutuhan. Menarik diri untuk memindahkan darisumber stres. Kompromi untuk mengganti tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal.
2.      Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi berlangsung tidak sadar, melibatkan penipuan diri, distorsi, dan bersifat meladaptif. (AH.yusuf,2015:87-88)
9.      Penatalaksanaan
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahan dan terapi memrlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencakup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkapnya seperti pada uraian berikut.
a.  Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengancara:
1.      Makan makan yang bergizi dan seimbang
2.      Tidur yang cukup
3.      Cukup olahraga
4.      Tidak merokok
5.      Tidak meminum minuman keras
b.      Terapi psikolofarmaka 
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memaki obat obtan yang berhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghanatr saraf). Disusunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang serig di pakai adalah obat anticemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, klobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCL, meprobramate dan alprazolam.
c.       Terapi somatic.
Gejala atau keluhan fisik (somatic) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang berkepanjangan. Untuk menghilangkan keluhankeluhan somatic (fisik) itu dapat diberikan obat-oabatn yang ditujukan pada organ pada tubuh yang bersangkutan.
d.      Psikoterapi 
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antar lain:
1.    Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberika keyakinan serta percaya diri.
2.    Psikoterapi reedukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi diri bila diulang bahwa ketdak mampuan mengatasi kecemasan.
3.    Psikoterapi rekontruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (rekontruksi) kepribadian yang teah menglami goncangan akibat stresor.
4.    Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk berfikir secara rasonal, konsentrasi dan daya ingkat.
5.    Psikoterapi psikodinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stresor psikososial sehingga mengalami kecemasan.
6.    Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor krluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.
e.  Terapi psikoreligius                                         
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubunganya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stresor psikososial.


10.

Pohon masalah


Kerusakan interaksi sosial

Gangguan suasana
perasaan cemas

Koping
individu in efektif

Causa

Cor oroblem

Effect


11.   Diagnose keperawatan
a.      Keruskan interaksi sosial berhubungan dengan cemas
b.      Gangguan alam perasaan: cemas berhubungan dengan koping individu inefektif
12.  Rencana asuhan keperawatan
Tujuan 
Tujuan umum : cemas berkurang atau hilang  Tujuan khusus :  a. TUK 1
Pasien dapat menjalin hubungan saling percaya Intervensi:
1)      Jadilah pendengar yang hangat dan responsi
2)      Beri waktu yang cukup pada pasien untuk berespon
3)      Beri dukungan pada pasien untuk berekspresikan perasaanya
4)      Identifikasi pola perilaku pasien atau pendekatan yang dapat menimbulkan perasaan negatif
5)      Bersama pasien mengenali perilaku dan respon sehingga cepat belajar dan berkembang.
b. TUK 2
Pasien dapat mengenali ansietasnya
Intervensi :
1)      Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaanya
2)      Hubungkan perilaku dan perasaanya
3)      Validasi kesimpulan dan asumsi terhadap pasien
4)      Gunakan pertanyaan terbuka untuk mengalihkan dari topik yang mengancam ke hal yang berkaitan dengan konflik
5)      Gunakan konsultasi untuk membantu pasien mengungkapkan perasaanya.
c.       TUK 3
Pasien dapat memperluas kesadaranya terhadap perkembangan ansietas
Intervensi :
1)      Bantu pasien menjelaskan situasi dan interaksi yang dapat segera menimbulkan ansietas
2)      Bersama pasien meninjau kembali penilaian pasien terhadap stressor yang dirasakan mengancam dan menimbulkan konflik
3)      Kaitkan pengalaman yang baru terjadi dengan pengalaman masa lalu yang relevan 
d.      TUK 4 
Pasien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif
Intervensi :
1)      Gali cara pasien mengurangi ansietas dimasa lalu
2)      Tunjukan akibat maladaptif dan destruktif dari respon koping yang digunakan
3)      Dorong pasien untuk menggunakan respon koping adaptif yang dimilikinya 
4)      Bantu pasien untuk menyusun kembali tujuan hidup, memodifikasi tujuan, menggunakan sumber dan menggunakan ansietas sedang
5)      Latih pasien dengan menggunakan ansietas sedang
6)      Beri aktifitas fisik untuk menyalurkan energinya
7)      Libatkan pihak yang berkepentingan sebagai sumber dan dukungan sosial dalam membantu pasien menggunakan koping adaptif yang baru
e.       TUK 5
Pasien dapat menggunakan tekhnik relaksasi 
Intervensi :
1)      Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri
2)      Dorong pasien untuk menggunakan relaksasi dalam menurunkan tingkat ansietas. 





LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
DENGAN PASIEN KEHILANGAN ATAU BERDUKA

A.    MASALAH UTAMA
Kehilangan dan berduka
B.     PROSES TERJADINYA MASALAH
1.      Definisi
a)      Kehilangan
Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potenssial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap indivisu selama rentang kehidupannya. Sejak lahir, individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respons terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respons individu terhadap terhadap kehilangan sebelumnya (Hidayat, 2009:243)
b)      Berduka
Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal ini diwujudkan dalam berbagi cara yang unik pada masing-masing orang dan didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektasi budaya, dan keyakinan spiritual yang dianutnya (Hidayat, 2009 : 244)
2. Penyebab
a. Faktor prediposisi
Faktor prediposisi yang mempengaruhi rentang respon kehilangan adalah :
1)      Faktor genetik
Individu yang dilahirkan dan dibesarkan didalam keluarga yang mempunyai riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi perasaan kehilangan (Hidayat,2009:246)
2)      Kesehatan jasmani
Individu dengan keadaan fisik sehat, pola hidup yang teratur, cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stress yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang mengalami gangguan fisik (Prabowo,2014:16)
3)      Kesehatan mental
Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama yang mempunyai riwayat depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya permisi, selalu dibayangi oleh masa depan yang suram, biasanya sangat peka dalam menghadapi situasi kehilangan (Hidayat,2009:246)
4)      Pengalaman kehilangan dimasa lalu
Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang berarti pada masa kanak-kanak akan mempengaruhi individu dalam mengatasi perasaan kehilangan pada masa dewasa (Hidayat,2009:246)
5)      Struktur presipitai
Ada beberapa stressor yang dapat menimbulkan perasaan kehilangan. Kehilangan kasih sayang secara nyata ataupun imajinasi individu seperti : kehilangan sifat bio-psiko-sosial antara lain meliputi :
1.      Kehilangan kesehatan
2.      Kehilangan fungsi seksualitas
3.      Kehilangan peran dalam keluarga
4.      Kehilangan posisi dimasyarakat
5.      Kehilangan harta benda atau orang yang dicintai
6.      Kehilangan kewarganegaraan (Prabowo,2014:117)
3. Jenis
a. Kehilangan
1) Kehilangan objek eksternal (misalnya kecurian atau kehancuran akibat bencana alam).
2) Kehilangan lingkungan yang dikenal (misalnya berpindah rumah, dirawat dirumah sakit, atau berpindah pekerjaan).
3) Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti (misalnya pekerjaan, kepergian anggota keluarga dan teman dekat, perawat yang dipercaya, atau binatang peliharaan).
4) Kehilangan suatu aspek diri (misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis atau fisik).
5) Kehilangan hidup (misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat, atau diri sendiri) (Hidayat,2009:243)
b. Berduka
Menurut hidayat (2009:244) berduka dibagi menjadi beberapa antara lain :
1) Berduka normal
Terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan. Misalnya kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk sementara.
2) Berduka antisipatif
Yaitu proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan dan kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika menerima diagnosa terminal, seseorang akan memulai proses perpisahan dan menyelesaikan berbagi urusan di dunia sebelum jalnya tiba.
3) Berduka yang rumit
Dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya, yaitu tahap kedukaan normal. Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat mengancam hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain.
4) Berduka tertutup
Kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka. Contohnya kehilangan pasangan karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang kehilangan anaknya dikandungan atau ketika bersalin.
4. Rentang respon
Respons berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap berikut (Menurut Kubler-Ross, dalam Potter dan Perry, 1997);
Tahap pengingkaran → marah →tawar-menawar → depresi → penerimaan
5. Tanda dan gejala
a. Kehilangan
Menurut Prabowo (2014:117) tanda gejala kehilangan diantaranya :
1.      Perasaan sedih, menangis
2.      Perasaan putus asa, kesepian
3.      Mengingkari kehilangan
4.      Kesulitan mengekspresikan perasaan
5.      Kosentarasi
6.      Kemarahan yang berlebihan
7.      Tidak berminat dalam berinteraksi dengan orang lain
8.      Merenungkan perasaan bersalah secara berlebihan
9.      Reaksi emosional yang lambat
10.  Adanya perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur, tingkat aktivitas (Eko prabowo, 2014:117)
b. Berduka
Menurut Dalami (2009) tanda dan gejala berduka diantaranya :
1) Efek fisik
Kelelahan, kehilangan selera, masalah tidur, lemah, berat badan menurun, sakit kepala, berat badan menurun, sakit kepala, pandangan kabur, susah bernapas, palpitasi dan kenaikan berat, susah bernapas.
2) Efek emosi
Mengingkari, bersalah, marah, kebencian, depresi, kesedihan, perasaan gagal, sulit untuk berkonsetrasi, gagal dalam menerima kenyataan, iritabilita, perhatian terhadap orang yang meninggal.
3) Efek sosial
1. Menarik diri dari lingkungan
2. Isolasi (emosi dan fisik) dari istri, keluarga dan teman.
6. Akibat
Inti dari kemampuan seseorang agar dapat bertahan terhadap kehilangan adalah pemberian makna (personal meaning) yang baik terhadap kehilangan (Husnudzon) dan kompensasi yang positif (konstruktur). Apa bila kondisi tersebut tidak tercapai, maka akan berdampak pada terjadinya depresi. Pada saat individu depresi sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang sebagai pasien sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga, ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain : menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido manurun( Prabowo, 2014 : 117).
7.  Mekanisme koping
Koping yang sering dipakai individu dengan kehilangan respon antara lain : Denial, Represi, Intelektualisasi, Regresi, Disosiasi, Supresi dan proyeksi yang digunakan untuk menghindari intensitas stress yang dirasakan sangat menyakitkan. Regresi dan disosiasi sering ditemukan pada pasien depresi yang dalam. Dalam keadaan patologis mekanisme koping tersebut sering dipakai secara berlebihan dan tidak tepat (Prabowo, 2014 : 117 – 118).
8.  Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan sensori persepsi halusinasi
b. Isolasi sosial menarik diri (Prabowo, 2014 : 119).
DAFTAR PUSTAKA


Dalami, E. (2009). Asuhan Keperawatan Jika Dengan Masalah Psikososial. Jakarta: Trans Info Media.

Hidayat, A. A. (2009). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.

Prabowo, E. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

Prabowo Eko. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta: Nuha Medika.

Mustamir Pedak. (2009). Metode Supernol Menaklukan Stress. Jakarta: Himah Publishing House.

Kholil Lur Rochman. (2010). Kesehatan Mental. Purworkerto: Fajar Medika.

AH.Yusuf (2015). Buku Ajaran Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta Selatan: Jagakarsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)