TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

contoh TELAAH JURNAL

TELAAH JURNAL
SISTEM URINARIA
A.    Pencarian Jurnal
P          : Pasien Inkontinensia Urine
I           : Bladder Training Sejak Dini
C         : Bladder Training Sebelum Pelepasan Kateter Urin
O         : Kontrol Urine

B.     Formulir Telaah Jurnal
Judul artikel
EFEKTIFITAS BLADDER TRAINING SEJAK DINI DAN SEBELUM PELEPASAN KATETER URIN TERHADAP TERJADINYA INKONTINENSIA URINE PADA PASIEN PASKA OPERASI DI SMC RS TELOGOREJO
Author
Lucky Angelia Shabrini*), Ismonah**), Syamsul Arif***)
Nama jurnal, Tahun publikasi
J. Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), 2015
Penelaah
Febrianty Kadrian
Tanggal telaah
10 Mei 2019






ISI TELAAH JURNAL
A.    Gambaran Umum (Abstrak)
1.      Introduction : Pasien yang dilakukan kateter urine pada paska operasi dapat mengalami kesulitan untuk berkemih baik terjadi inkontinensia ataupun retensi urine. Tujuan bladder training adalah untuk memperpanjang interval antara urinasi klien, menstabilkan kandung kemih dan menghilangkan urgensi. Umumnya bladder training dilakukan dengan cara kateter diklem selama dua jam dan dilepas setelah satu jam dan bladder training tersebut dilakukan sebelum kateter urin dilepas. Penelitian ini mengukur tingkat efektivitas bladder training sejak dini dan sebelum pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine.

2.      Method : quasi eksperimen dengan rancangan post test only control group design.


3.      Result : Hasil penelitian didapatkan responden dengan jenis kelamin laki laki 18 responden (60%) dan 12 responden (40%).

4.      Analysis : analisis univariat yaitu umur jenis kelamin, pekerjaan. Hasil analisis berupa data numerik dimna berdistribusi tidak normal disajikan dalam bentuk median, nilai minimum dan nilai maksimum. Selain itu data kategorik disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi berupa jumlah (frekuensi) dan persentase (%) yang terdiri dari jenis kelamin dan tingkat inkontinensi.
Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan untuk melihat perbedaan antara bladder training terhadap inkontinensia pada kelompok kontrol dan perlakuan. Sebelum dilakukan uji statistik pada variabel bebas dan variabel terikat dilakukan uji kenormalan data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilkkarena jumlah responden sebanya 30 orang, dan didapatkan p value = 0.000, karena p value< 0.05 maka menunjukkan data berdistribusi tidak normal. Setelah dilakukan transformasi data didapatkan p value = 0.000 karena p value < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu dilakukan uji Mann Whitney perbedaan antara bladder training sejak dini dan bladder training sebelum pelepasan. Berdasarkan hasil uji beda dengan Mann Whitney pada table diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena nilai p ≤ 0.05, maka terdapat perbedaan yang antara bladder training sejak dini dengan bladder training sebelum pelepasan, maka Ha diterima dan Ho ditolak.
5.      Discussion : -


B.     Pendahuluan
1.      Besar masalah : Kateterisasi urine adalah pemasangan kateter melalui uretra ke kandung kemih. Tindakan pemasangan kateter dilakukan pada pasien dengan indikasi yaitu: untuk menentukan jumlah urin sisa dalam kandung kemih setelah pasien buang air kecil, untuk memintas suatu obstruksi yang menyumbat aliran urin, untuk menghasilkan drainase pascaoperatif pada kandung kemih, daerah vagina atau prostat, atau menyediakan cara-cara untuk memantau pengeluaran urin setiap jam pada pasien yang sakit berat (Smelzter & Bare,2013, hlm. 1388).
Tindakan pemasangan kateter dilakukan membantu pasien yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau pasien yang mengalami obstruksi pada saluran kemih. Namun tindakan ini bisa menimbulkan masalah lain seperti infeksi, trauma pada uretra, dan menurunnya rangsangan berkemih. Menurunnya rangsangan berkemih terjadi akibat pemasangan kateter dalam waktu yang lama sehingga dapat mengakibatkan  kandung kemih tidak akan terisi dan berkontraksi selain itu juga dapat mengakibatkan kandung kemih akan kehilangan tonusnya. Otot detrusor  tidak dapat berkontraksi dan pasien tidak dapat mengontrol pengeluaran urinnya, atau inkontinensia urine (Smelzter & Bare,2013, hlm.1390).

2.      Pertanyaan  Penelitian :  Bagaimana efektifitas bladder training sejak dini dan sebelum pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine pada pasien paska operasi di SMC RS Telogorejo

3.      Hipotesis : Terdapat perbedaan antara bladder training sejak dini dan sebelum pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine pada pasien paska operasi di SMC RS Telogorejo

C.    Metodologi
1.      Populasi : Populasi penelitian ini adalah pasien yang terpasang kateter urin paska operasi di SMC RS. Telogorejo sebanyak 36 orang.

2.      Subjek : Pasien yang terpasang kateter urin paska operasi di SMC RS. Telogorejo


3.      Besar sampel : 30 responden

4.      Cara pengambilan sampel : Penelitian ini menggunakan cara observasi dan wawancara.


5.      Pengukuran : Penelitian ini mengukur tingkat efektivitas bladder training sejak dini dan sebelum pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine

6.      Analisis : analisis univariat yaitu umur jenis kelamin, pekerjaan. Hasil analisis berupa data numerik dimna berdistribusi tidak normal disajikan dalam bentuk median, nilai minimum dan nilai maksimum. Selain itu data kategorik disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi berupa jumlah (frekuensi) dan persentase (%) yang terdiri dari jenis kelamin dan tingkat inkontinensi.
Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan untuk melihat perbedaan antara bladder training terhadap inkontinensia pada kelompok kontrol dan perlakuan. Sebelum dilakukan uji statistik pada variabel bebas dan variabel terikat dilakukan uji kenormalan data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilkkarena jumlah responden sebanya 30 orang, dan didapatkan p value = 0.000, karena p value< 0.05 maka menunjukkan data berdistribusi tidak normal. Setelah dilakukan transformasi data didapatkan p value = 0.000 karena p value < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu dilakukan uji Mann Whitney perbedaan antara bladder training sejak dini dan bladder training sebelum pelepasan. Berdasarkan hasil uji beda dengan Mann Whitney pada table diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena nilai p ≤ 0.05, maka terdapat perbedaan yang antara bladder training sejak dini dengan bladder training sebelum pelepasan, maka Ha diterima dan Ho ditolak.

D.    Hasil
1.      Karaktersitik Subjek :
a.      Jenis Kelamin : Hasil penelitian didapatkan responden dengan jenis kelamin laki laki 18 responden (60%) dan 12 responden (40%).
b.      Usia : Hasil penelitian berdasarkan usia responden didominasi oleh usia dewasa akhir sebanyak 12 responden (40%).
c.       Respon Berkemih : Hasil penelitian berdasarkan respon berkemih pada kelompok perlakuan sebanyak 14 responden yang berkemih secara spontan, sedangkan kelompok kontrol terdapat 5 responden yang mampu berkemih spontan.

2.      Hasil utama : Berdasarkan hasil uji beda dengan Mann Whitney pada table diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena nilai p≤ 0.05, maka terdapat perbedaan yang antara bladder training sejak dini dengan bladder training sebelum pelepasan. Dapat dilihat juga pada perbandingan nilai rerata, pada nilai rerata bladder training sejak dini 10.93 dengan bladder training sebelum pelepasan 20.07 terbukti bahwa latihan bladder training sejak dini lebih baik daripada dengan bladder training sebelum pelepasan.

E.     Diskusi
1.      Validitas : Dalam jurnal tidak terdapat kelemahan dan kekuatan dalam penelitian serta tidak terdapat pula perbandingan penelitian dengan penelitian lain .
2.      Importancy : Hasil penelitian ini penting untuk diaplikasikan pada asuhan keperawatan pada pasien inkontinensia urine dan pengaplikasian bladder training dalam kontrol urine
3.      Applicability : Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki asuhan keperawatan pada pasien inkontinensia urine, sebagai salah satu intervensi mandiri yang dapat dilakukan perawat dan meningkatkan pengetahuan terkait bladder training dalam keperawatan





TELAAH JURNAL
SISTEM ENDOKRIN
A.    Pencarian Jurnal
P          : Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
I           : Terapi Relaksasi
C         : -
O         : Kontrol Gula Darah

B.     Formulir Telaah Jurnal
Judul Jurnal
PENGARUH RELAKSASI TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI SEBUAH RUMAH SAKIT DI TASIKMALAYA
Author
Asep Kuswandi*, Ratna Sitorus**, Dewi Gayatri***
Nama Jurnal, Tahun Publikasi
Jurnal Keperawatan Indonesia, 2008
Penelaah
Febrianty Kadrian
Tanggal Telaah
Selasa, 14 Mei 2019







ISI TELAAH JURNAL
A.    Gambaran Umum (Abstrak)
1.      Introduction : Teknik relaksasi merupakan salah satu tindakan keperawatan yang dapat mengurangi kecemasan dan secara otomatis dapat menurunkan kadar gula darah. Relaksasi dapat mempengaruhi hipotalamus untuk mengatur dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. Teknik relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah pasien melalui penurunan stres. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar gula darah pasien diabetes mellitus sebelum dan sesudah relaksasi di salah satu rumah sakit di Tasikmalaya, Jawa Barat.

2.      Method : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen menggunakan kontrol.

3.      Result : Hasil menunjukkan terjadi penurunan kadar gula darah Rerata sebesar 53,6 mg/dL sesudah relaksasi, dengan nilai p = 0,000. Angka penurunan tertinggi terjadi pada hari ketujuh relaksasi dan angka terendah terjadi pada hari ketiga. Penelitian ini menyimpulkan relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

4.      Analysis : Penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara kelompok interaksi dan kelompok kontrol. Kelompok laki-laki dan kelompok perempuan baik pada kontrol maupun intervensi tidak jauh berbeda dalam pola perubahan KGD.

5.      Discussion : -


B.     Pendahuluan
1.      Besar masalah : Indonesia menempati urutan keempat kasus Diabetes Mellitus (DM) dengan jumlah pasien terbesar di dunia menurut survei World Health Organization/ WHO (2005). Angka prevalensi DM di Indonesia sekitar 8,6% dari total penduduk dan diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pasien DM yang akan terus meningkat menjadi 12,4 juta pasien pada tahun 2025. Menurut data dari Depkes, jumlah pasien diabetes rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin (Supari, 2006). Fenomena epidemiologi penyakit ini diantaranya merupakan tanggungjawab perawat sebagai tenaga kesehatan.
2.      Pertanyaan  Penelitian :  Bagaimana pengaruh relaksasi terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di sebuah rumah sakit di tasikmalaya.

3.      Hipotesis : Terdapat pengaruh relaksasi terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di sebuah rumah sakit di tasikmalaya.


C.    Metodologi
1.      Populasi : Peneliti menggunakan responden dengan usia yang direkomendasikan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDCP) yaitu mulai tahun 2000 populasi pengidap penyakit DM tipe 2 terdiri dari umur 20-39 tahun, umur 40-59 tahun, dan umur lebih dari 60 tahun (CDCP, 2005).

2.      Subjek : Pasien diabetes mellitus tipe 2 di sebuah rumah sakit di tasikmalaya.

3.      Besar sampel : Sampel berjumlah 100 responden, terdiri dari masing-masing 50 responden pada kelompok intervensi kontrol.

4.      Cara pengambilan sampel : Teknik pengambilan sampel adalah dengan cara purposed sampling.

5.      Pengukuran : Pengukuran kadar gula darah dilakukan dua jam setelah makan pagi. Pengukuran selanjutnya dilakukan pada hari ketiga, kelima, dan ketujuh. Waktu yang diperlukan untuk setiap pasien adalah selama tujuh hari.

6.      Analisis : Penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara kelompok interaksi dan kelompok kontrol. Kelompok laki-laki dan kelompok perempuan baik pada kontrol maupun intervensi tidak jauh berbeda dalam pola perubahan KGD.


D.    Hasil
1.      Karaktersitik Subjek :
a.      Umur : Peneliti menggunakan responden dengan usia yang direkomendasikan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDCP) yaitu mulai tahun 2000 populasi pengidap penyakit DM tipe 2 terdiri dari umur 20-39 tahun, umur 40-59 tahun, dan umur lebih dari 60 tahun (CDCP, 2005).
b.      Gaya Hidup : DM tipe 2 juga dapat terjadi karena pergeseran pola hidup sebagaimana terjadi di berbagai negara. Kapur (2006) mengungkapkan ada satu dari enam anak-anak mengalami kegemukan di New Delhi dimana warga memilih untuk makan di restoran sedikitnya tiga kali dalam seminggu.
c.       Jenis Kelamin : Risiko penyakit DM tipe 2 cenderung lebih banyak dialami oleh kaum perempuan karena kemungkinan kaum perempuan lebih banyak merasakan stress yang dapat mendukung terjadinya peningkatan kadar gula darah. Stress terjadi lebih besar pada kaum perempuan, terutama jika mereka terpisah dengan orang terdekatnya (Boyd & Nihart,1998).
d.      Komplikasi : Ada tiga hal yang dapat mendukung terjadinya komplikasi pada kaki. Hal tersebut meliputi neuropati, penyakit pembuluh darah dan imunokompromi (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2008).
2.      Hasil utama : Hasil menunjukkan terjadi penurunan kadar gula darah Rerata sebesar 53,6 mg/dL sesudah relaksasi, dengan nilai p = 0,000. Angka penurunan tertinggi terjadi pada hari ketujuh relaksasi dan angka terendah terjadi pada hari ketiga.

E.     Diskusi
1.      Validitas : Dalam jurnal ini tidak terdapat kelemahan dan kekuatan serta terdapat perbandingan penelitian dengan penelitian yang lain.
2.      Importancy : Hasil penelitian ini penting untuk diaplikasikan pada asuhan keperawatan pada pasien penderita penyakit Diabetes Melitus, terapi relaksasi dalam kontol Diabetes Melitus.
3.      Applicability : Hasil penelitian diharapkan dapat memperbaiki asuhan keperawatan pada pasien DM, sebagai salah satu intervensi mandiri yang dapat meningkatkan pengetahuan terkait terapi relaksasi dalam keperawatan dan mampu memberikan metode yang tepat untuk mencegah kondisi kedaruratan pada pasien DM.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)