TELAAH
JURNAL
SISTEM
URINARIA
A.
Pencarian
Jurnal
P : Pasien Inkontinensia Urine
I : Bladder Training Sejak Dini
C : Bladder Training Sebelum Pelepasan
Kateter Urin
O : Kontrol Urine
B.
Formulir
Telaah Jurnal
|
Judul artikel
|
EFEKTIFITAS
BLADDER TRAINING SEJAK DINI DAN SEBELUM PELEPASAN KATETER URIN TERHADAP
TERJADINYA INKONTINENSIA URINE PADA PASIEN PASKA OPERASI DI SMC RS TELOGOREJO
|
|
Author
|
Lucky Angelia
Shabrini*), Ismonah**), Syamsul Arif***)
|
|
Nama jurnal,
Tahun publikasi
|
J. Ilmu
Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), 2015
|
|
Penelaah
|
Febrianty Kadrian
|
|
Tanggal telaah
|
10
Mei 2019
|
ISI
TELAAH JURNAL
A. Gambaran Umum (Abstrak)
1.
Introduction
: Pasien
yang dilakukan kateter urine pada paska operasi dapat mengalami kesulitan untuk
berkemih baik terjadi inkontinensia ataupun retensi urine. Tujuan bladder
training adalah untuk memperpanjang interval antara urinasi klien, menstabilkan
kandung kemih dan menghilangkan urgensi. Umumnya bladder training dilakukan
dengan cara kateter diklem selama dua jam dan dilepas setelah satu jam dan
bladder training tersebut dilakukan sebelum kateter urin dilepas. Penelitian
ini mengukur tingkat efektivitas bladder training sejak dini dan sebelum
pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine.
2.
Method
:
quasi eksperimen dengan rancangan post test only control group design.
3.
Result
: Hasil
penelitian didapatkan responden dengan jenis kelamin laki laki 18 responden
(60%) dan 12 responden (40%).
4.
Analysis
: analisis
univariat yaitu umur jenis kelamin, pekerjaan. Hasil analisis berupa data
numerik dimna berdistribusi tidak normal disajikan dalam bentuk median, nilai
minimum dan nilai maksimum. Selain itu data kategorik disajikan dalam bentuk
distribusi frekuensi berupa jumlah (frekuensi) dan persentase (%) yang terdiri
dari jenis kelamin dan tingkat inkontinensi.
Analisis bivariat yaitu analisis
yang dilakukan untuk melihat perbedaan antara bladder training terhadap
inkontinensia pada kelompok kontrol dan perlakuan. Sebelum dilakukan uji
statistik pada variabel bebas dan variabel terikat dilakukan uji kenormalan
data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilkkarena jumlah responden sebanya 30
orang, dan didapatkan p value = 0.000, karena p value< 0.05 maka menunjukkan
data berdistribusi tidak normal. Setelah dilakukan transformasi data didapatkan
p value = 0.000 karena p value < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal.
Oleh karena itu dilakukan uji Mann Whitney perbedaan antara bladder training
sejak dini dan bladder training sebelum pelepasan. Berdasarkan hasil uji beda
dengan Mann Whitney pada table diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena
nilai p ≤ 0.05, maka terdapat perbedaan yang antara bladder training sejak dini
dengan bladder training sebelum pelepasan, maka Ha diterima dan Ho ditolak.
5.
Discussion
: -
B. Pendahuluan
1. Besar masalah : Kateterisasi
urine adalah pemasangan kateter melalui uretra ke kandung kemih. Tindakan
pemasangan kateter dilakukan pada pasien dengan indikasi yaitu: untuk
menentukan jumlah urin sisa dalam kandung kemih setelah pasien buang air kecil,
untuk memintas suatu obstruksi yang menyumbat aliran urin, untuk menghasilkan
drainase pascaoperatif pada kandung kemih, daerah vagina atau prostat, atau
menyediakan cara-cara untuk memantau pengeluaran urin setiap jam pada pasien
yang sakit berat (Smelzter & Bare,2013, hlm. 1388).
Tindakan pemasangan kateter
dilakukan membantu pasien yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau pasien
yang mengalami obstruksi pada saluran kemih. Namun tindakan ini bisa
menimbulkan masalah lain seperti infeksi, trauma pada uretra, dan menurunnya
rangsangan berkemih. Menurunnya rangsangan berkemih terjadi akibat pemasangan
kateter dalam waktu yang lama sehingga dapat mengakibatkan kandung kemih tidak akan terisi dan berkontraksi
selain itu juga dapat mengakibatkan kandung kemih akan kehilangan tonusnya.
Otot detrusor tidak dapat berkontraksi
dan pasien tidak dapat mengontrol pengeluaran urinnya, atau inkontinensia urine
(Smelzter & Bare,2013, hlm.1390).
2.
Pertanyaan Penelitian :
Bagaimana efektifitas bladder training sejak dini
dan sebelum pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine pada
pasien paska operasi di SMC RS Telogorejo
3.
Hipotesis
: Terdapat
perbedaan antara bladder training sejak dini dan sebelum pelepasan kateter urin
terhadap terjadinya inkontinensia urine pada pasien paska operasi di SMC RS Telogorejo
C. Metodologi
1.
Populasi
: Populasi
penelitian ini adalah pasien yang terpasang kateter urin paska operasi di SMC
RS. Telogorejo sebanyak 36 orang.
2.
Subjek
: Pasien
yang terpasang kateter urin paska operasi di SMC RS. Telogorejo
3.
Besar
sampel : 30 responden
4.
Cara
pengambilan sampel : Penelitian ini menggunakan cara
observasi dan wawancara.
5.
Pengukuran
: Penelitian
ini mengukur tingkat efektivitas bladder training sejak dini dan sebelum
pelepasan kateter urin terhadap terjadinya inkontinensia urine
6.
Analisis
: analisis
univariat yaitu umur jenis kelamin, pekerjaan. Hasil analisis berupa data
numerik dimna berdistribusi tidak normal disajikan dalam bentuk median, nilai
minimum dan nilai maksimum. Selain itu data kategorik disajikan dalam bentuk
distribusi frekuensi berupa jumlah (frekuensi) dan persentase (%) yang terdiri
dari jenis kelamin dan tingkat inkontinensi.
Analisis bivariat yaitu analisis
yang dilakukan untuk melihat perbedaan antara bladder training terhadap
inkontinensia pada kelompok kontrol dan perlakuan. Sebelum dilakukan uji
statistik pada variabel bebas dan variabel terikat dilakukan uji kenormalan
data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilkkarena jumlah responden sebanya 30
orang, dan didapatkan p value = 0.000, karena p value< 0.05 maka menunjukkan
data berdistribusi tidak normal. Setelah dilakukan transformasi data didapatkan
p value = 0.000 karena p value < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal.
Oleh karena itu dilakukan uji Mann Whitney perbedaan antara bladder training
sejak dini dan bladder training sebelum pelepasan. Berdasarkan hasil uji beda
dengan Mann Whitney pada table diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena
nilai p ≤ 0.05, maka terdapat perbedaan yang antara bladder training sejak dini
dengan bladder training sebelum pelepasan, maka Ha diterima dan Ho ditolak.
D. Hasil
1.
Karaktersitik
Subjek :
a.
Jenis
Kelamin : Hasil penelitian didapatkan responden dengan jenis
kelamin laki laki 18 responden (60%) dan 12 responden (40%).
b.
Usia
: Hasil
penelitian berdasarkan usia responden didominasi oleh usia dewasa akhir
sebanyak 12 responden (40%).
c.
Respon
Berkemih : Hasil penelitian berdasarkan respon berkemih pada
kelompok perlakuan sebanyak 14 responden yang berkemih secara spontan,
sedangkan kelompok kontrol terdapat 5 responden yang mampu berkemih spontan.
2.
Hasil
utama : Berdasarkan hasil uji beda dengan Mann Whitney pada
table diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena nilai p≤ 0.05, maka terdapat
perbedaan yang antara bladder training sejak dini dengan bladder training
sebelum pelepasan. Dapat dilihat juga pada perbandingan nilai rerata, pada
nilai rerata bladder training sejak dini 10.93 dengan bladder training sebelum
pelepasan 20.07 terbukti bahwa latihan bladder training sejak dini lebih baik
daripada dengan bladder training sebelum pelepasan.
E. Diskusi
1.
Validitas
: Dalam
jurnal tidak terdapat kelemahan dan kekuatan dalam penelitian serta tidak
terdapat pula perbandingan penelitian dengan penelitian lain .
2.
Importancy
: Hasil penelitian ini
penting untuk diaplikasikan pada asuhan keperawatan pada pasien inkontinensia
urine dan pengaplikasian bladder training dalam kontrol urine
3. Applicability : Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki asuhan keperawatan pada pasien
inkontinensia urine, sebagai salah satu intervensi mandiri yang dapat dilakukan
perawat dan meningkatkan pengetahuan terkait bladder training dalam keperawatan
TELAAH
JURNAL
SISTEM
ENDOKRIN
A. Pencarian Jurnal
P :
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
I :
Terapi Relaksasi
C :
-
O :
Kontrol Gula Darah
B. Formulir Telaah Jurnal
|
Judul Jurnal
|
PENGARUH
RELAKSASI TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE
2 DI SEBUAH RUMAH SAKIT DI TASIKMALAYA
|
|
Author
|
Asep
Kuswandi*, Ratna Sitorus**, Dewi Gayatri***
|
|
Nama Jurnal, Tahun Publikasi
|
Jurnal
Keperawatan Indonesia, 2008
|
|
Penelaah
|
Febrianty Kadrian
|
|
Tanggal Telaah
|
Selasa, 14 Mei 2019
|
ISI
TELAAH JURNAL
A. Gambaran Umum (Abstrak)
1.
Introduction
: Teknik
relaksasi merupakan salah satu tindakan keperawatan yang dapat mengurangi
kecemasan dan secara otomatis dapat menurunkan kadar gula darah. Relaksasi
dapat mempengaruhi hipotalamus untuk mengatur dan menurunkan aktivitas sistem
saraf simpatis. Teknik relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah pasien
melalui penurunan stres. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar
gula darah pasien diabetes mellitus sebelum dan sesudah relaksasi di salah satu
rumah sakit di Tasikmalaya, Jawa Barat.
2.
Method
: Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen menggunakan
kontrol.
3.
Result
: Hasil
menunjukkan terjadi penurunan kadar gula darah Rerata sebesar 53,6 mg/dL
sesudah relaksasi, dengan nilai p = 0,000. Angka penurunan tertinggi terjadi
pada hari ketujuh relaksasi dan angka terendah terjadi pada hari ketiga.
Penelitian ini menyimpulkan relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah pasien
diabetes mellitus.
4.
Analysis
: Penelitian
menunjukkan terdapat perbedaan antara kelompok interaksi dan kelompok kontrol. Kelompok
laki-laki dan kelompok perempuan baik pada kontrol maupun intervensi tidak jauh
berbeda dalam pola perubahan KGD.
5.
Discussion
: -
B.
Pendahuluan
1.
Besar
masalah : Indonesia menempati urutan keempat kasus Diabetes
Mellitus (DM) dengan jumlah pasien terbesar di dunia menurut survei World
Health Organization/ WHO (2005). Angka prevalensi DM di Indonesia sekitar 8,6%
dari total penduduk dan diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pasien
DM yang akan terus meningkat menjadi 12,4 juta pasien pada tahun 2025. Menurut
data dari Depkes, jumlah pasien diabetes rawat inap dan rawat jalan di rumah
sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin (Supari, 2006).
Fenomena epidemiologi penyakit ini diantaranya merupakan tanggungjawab perawat
sebagai tenaga kesehatan.
2.
Pertanyaan Penelitian :
Bagaimana pengaruh relaksasi terhadap penurunan
kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di sebuah rumah sakit di
tasikmalaya.
3.
Hipotesis
: Terdapat
pengaruh relaksasi terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes
mellitus tipe 2 di sebuah rumah sakit di tasikmalaya.
C. Metodologi
1.
Populasi
: Peneliti
menggunakan responden dengan usia yang direkomendasikan oleh Center for Disease
Control and Prevention (CDCP) yaitu mulai tahun 2000 populasi pengidap penyakit
DM tipe 2 terdiri dari umur 20-39 tahun, umur 40-59 tahun, dan umur lebih dari
60 tahun (CDCP, 2005).
2.
Subjek
: Pasien
diabetes mellitus tipe 2 di sebuah rumah sakit di tasikmalaya.
3.
Besar
sampel : Sampel berjumlah 100 responden, terdiri dari
masing-masing 50 responden pada kelompok intervensi kontrol.
4.
Cara
pengambilan sampel : Teknik pengambilan sampel adalah dengan
cara purposed sampling.
5.
Pengukuran
: Pengukuran
kadar gula darah dilakukan dua jam setelah makan pagi. Pengukuran selanjutnya
dilakukan pada hari ketiga, kelima, dan ketujuh. Waktu yang diperlukan untuk
setiap pasien adalah selama tujuh hari.
6.
Analisis
: Penelitian
menunjukkan terdapat perbedaan antara kelompok interaksi dan kelompok kontrol. Kelompok
laki-laki dan kelompok perempuan baik pada kontrol maupun intervensi tidak jauh
berbeda dalam pola perubahan KGD.
D. Hasil
1.
Karaktersitik
Subjek :
a.
Umur
: Peneliti
menggunakan responden dengan usia yang direkomendasikan oleh Center for Disease
Control and Prevention (CDCP) yaitu mulai tahun 2000 populasi pengidap penyakit
DM tipe 2 terdiri dari umur 20-39 tahun, umur 40-59 tahun, dan umur lebih dari
60 tahun (CDCP, 2005).
b.
Gaya
Hidup : DM tipe 2 juga dapat terjadi karena pergeseran pola
hidup sebagaimana terjadi di berbagai negara. Kapur (2006) mengungkapkan ada
satu dari enam anak-anak mengalami kegemukan di New Delhi dimana warga memilih
untuk makan di restoran sedikitnya tiga kali dalam seminggu.
c.
Jenis
Kelamin : Risiko penyakit DM tipe 2 cenderung lebih banyak
dialami oleh kaum perempuan karena kemungkinan kaum perempuan lebih banyak
merasakan stress yang dapat mendukung terjadinya peningkatan kadar gula darah.
Stress terjadi lebih besar pada kaum perempuan, terutama jika mereka terpisah
dengan orang terdekatnya (Boyd & Nihart,1998).
d.
Komplikasi
: Ada
tiga hal yang dapat mendukung terjadinya komplikasi pada kaki. Hal tersebut
meliputi neuropati, penyakit pembuluh darah dan imunokompromi (Smeltzer, Bare,
Hinkle, & Cheever, 2008).
2.
Hasil
utama : Hasil menunjukkan terjadi penurunan kadar gula darah
Rerata sebesar 53,6 mg/dL sesudah relaksasi, dengan nilai p = 0,000. Angka
penurunan tertinggi terjadi pada hari ketujuh relaksasi dan angka terendah
terjadi pada hari ketiga.
E.
Diskusi
1.
Validitas
: Dalam
jurnal ini tidak terdapat kelemahan dan kekuatan serta terdapat perbandingan
penelitian dengan penelitian yang lain.
2.
Importancy
: Hasil penelitian ini
penting untuk diaplikasikan pada asuhan keperawatan pada pasien penderita
penyakit Diabetes Melitus, terapi relaksasi dalam kontol Diabetes Melitus.
3.
Applicability : Hasil
penelitian diharapkan dapat memperbaiki asuhan keperawatan pada pasien DM,
sebagai salah satu intervensi mandiri yang dapat meningkatkan pengetahuan
terkait terapi relaksasi dalam keperawatan dan mampu memberikan metode yang
tepat untuk mencegah kondisi kedaruratan pada pasien DM.
Komentar
Posting Komentar