DAFTAR ISI
HALAMAN
SAMPUL………………………………………………………………...i
KATA
PENGANTAR………………………………………………………………...ii
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………iii
BAB
I PENDAHULUAN……………………………………………………………..1
A. Latar
Belakang………………………………………………………………...1
B. Rumusan
Masalah……………………………………………………………..2
C. Tujuan
Penulisan……………………………………………………………...2
D. Manfaat
Penulisan………………………………………………………….....3
BAB
II PEMBAHASAN……………………………………………………………...4
A. Konsep
Dasar Medis Pasien Jiwa Ketidakberdaayaan dan Keputusasaan........4
B. Konsep
Keperawatan Pasien Jiwa Ketidakberdaayaan dan Keputusasaan
………………………………………………………………………………...9
BAB
III PENUTUP……………………………………………………………...…..25
A. Kesimpulan…………………………………………………………………..25
B. Saran…………………………………………………………………………25
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Keadaan krisis Ekonomi, telah
menyebabkan meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa. Masalah gangguan jiwa
terjadi hampir diseluruh negara di dunia. Hasil survey World Healt Organization
(WHO), menyatakan tingkat gangguan jiwa di Indonesia cukup tinggi dan diatas
rata-rata gangguan kesehatan jiwa di Dunia. Dari data yang di keluarkan
Departement Kesehatan Republik Indonesia, rata-rata 40 dari 100.000 orang di
Indonesia, melakukan bunuh diri, sementara rata-rata Dunia menunjukkan 15,1
dari 100.000 orang dan satu dari empat orang di Indonesia mengalami gangguan
jiwa, namun hanya 0,5% saja yang di rawat di Rumah sakit jiwa (Azwar, 2005).
Menurut Sekretaris Jenderal
Departement Kesehatan, Safi’i Ahmad. Kesehatan jiwa saat ini telah menjadi
masalah kesehatan cukup serius disetiap negara, termasuk di Indonesia. Proses
Globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi, menyebabkan dampak
pergeseran terhadap nilai sosial dan budaya di masyarakat (DepKes, 2007).
Terjadinya gangguan jiwa merupakan proses interaksi yang kompleks antara faktor
genetik, faktor organo-biologis, faktor psikologis serta faktor sosio-kultural.
Ada korelasi erat antara timbulnya gangguan jiwa dengan kondisi sosial dan
lingkungan dimasyarakat sebagai suatu “sressor psikososial”. Kini masalah
kesehatan tidak lagi hanya menyangkut soal angka 2 kematian atau kesakitan,
melainkan juga berbagai kondisi psikososial yang berdampak juga pada kualitas
kesehatan jiwa di masyarakat (Herman, 2011).
Gangguan jiwa merupakan gangguan
pikiran, perasaan atau tingkah laku, sehingga menimbulkan penderitaan dan
terganggunya fungsi sehari-hari. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan
fungsi komunikan sel-sel saraf di otak dan dapat juga berupa kekurangan maupun
kelebihan neutrotransmiter atau substansi tertentu. Gangguan jiwa meskipun
tidak menyebabkan kematian secara langsung tetapi menimbulkan penderitaan yang
mendalam bagi individu serta beban berat bagi keluarga (Fitria, 2009). Perilaku
kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari marah atau ketakutan
(panik). Pelilaku agresif dan perilaku kekerasan itu sendiri sering dipandang
sebagai suatu rentang, dimana agresive verbal disuatu sisi dan perilaku
kekerasan (violence) disisi yang lain (Yosep, 2007).
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana
konsep dasar medis pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan ?
2. Bagaimana
konsep keperawatan pada pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan ?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan
dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk
mengetahui konsep dasar medis pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan
2. Untuk
mengetahui konsep keperawatan pada pasien dengan ketidakberdayaan dan
keputusasaan
D.
Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut.
1. Pembaca
bisa mengetahui konsep dasar medis pasien dengan ketidakberdayaan dan
keputusasaan
2. Pembaca
bisa mengetahui konsep keperawatan pada pasien dengan ketidakberdayaan dan
keputusasaan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Dasar Medis
1.
Definisi
a. Ketidakberdayaan
Ketidakberdayaan
adalah persepsi atau tanggapan klien bahwa perilaku atau tindakanyang sudah
dilakukannya tidak akan membawa hasil yang diharapkan atau tidak akanmembawa
perubahan hasil seperti yang diharapkan, sehingga klien sulit
mengendalikansituasi yang terjadi atau mengendalikan situasi yang
akan terjadi (NANDA, 2011).
Menurut Nanda
(2012) Ketidakberdayaan memiliki definisi persepsi bahwa tindakanseseorang
secara signifikan tidak akan mempengaruhi hasil; persepsi kurang kendali
terhadapsituasi saat ini atau situasi yang akan terjadi.Menurut Wilkinson
(2007) ketidakberdayaan merupakan persepsi seseorang bahwatindakannya tidak
akan mempengaruhi hasil secara bermakna, kurang penggendalian yangdirasakan
terhadap situasi terakhir atau yang baru saja terjadi.
Menurut
Carpenito-Moyet (2007) ketidakberdayaan merupakan keadaan ketika
seseorangindividu atau kelompok merasa kurang kontrol terhadap kejadian atau
situasi tertentu.
b. Keputusasaan
Menurut NANDA
(2015-2017), keputusasaan adalah keadaan subyektif ketika seorangindividu
memandang keterbatasan atau tidak adanya pilihan alternative serta tidak
mampumemobilisasi energy untuk kepentingannya sendiri. Keputusasaan menurut
NANDA ini memiliki
beberapa batasan karakteristik, diantaranya: gangguan pola tidur, kurang
inisiatif, pasif, meninggalkan orang yang diajak bicara,
penurunan selera makan, kurang kontak mata,dan sebagainya.
Factor-faktor yang berhubungan yakni: isolasi soasial, penurunan
kondisifisiologis, stress jangka panjang, serta kehilangan nilai kepercayaan.
Keputusasaan
merupakan suatu keadaan emosional yang dialami ketika individu
merasakehidupannya sangat berat untuk dijalani dan dirasa mustahil. Seseorang
tersebut tidak akanmemiliki harapan untuk memperbaiki kehidupannya, tidak
memiliki solusi untuk masalah yang dialaminya
dan ia merasa tidak aka nada orang yang dapat membantuya menyelesaikan
masalahnya (Carpenito, 563).
Keputusasaan ini berbeda dengan
ketidakberdayaan. Orang yang merasa utus asa tidak mampu melihat adanya solusi
untuk masalah yang dihadapinya dan tidak menemukan cara untuk mencapai sesuatu
hal yang diinginkan. Sedangkan ketidakberdayaan adalah seseorang menemukan
solusi masalahnya namun memiliki keterbatasan untuk melakukannya akibat
kurangnya kontrol terhadap kejadian atau situasi tertentu.
2.
Etiologi
/ Penyebab
a. Ketidakberdayaan
1) Kurangnya
pengetahuan
2) Ketidak
adekuatan koping sebelumnya (seperti : depresi)
3) Serta
kurangnya kesempatan untuk membuat keputusan (Carpenito, 2009). Doenges,
Townsend, M, (2008)
4) Kesehatan
lingkungan: hilangnya privasi, milik pribadi dan kontrol terhadap terapi.
5) Hubungan
interpersonal: penyalahgunaan kekuasaan,hubungan yang kasar.
6) Penyakit
yang berhubungan dengan rejimen : penyakit kronis atau yang melemahkan kondisi.
7) Gaya
hidup ketidakberdayaan : mengulangi kegagalan dan ketergantungan.
b. Keputusasaan
1) Faktor
kehilangan
2) Kegagalan
yang terus menerus
3) Faktor
Lingkungan
4) Orang
terdekat ( keluarga )
5) Status
kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
6) Adanya
tekanan hidup
7) Kurangnya
iman
8) Adanya
tekanan hidup
9) Kurangnya
iman
3.
Manifestasi
klinis
a. keputusasaan
Mayor ( harus ada)
Mengungkapkan
atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam , berlebihan, dan
berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan sebagai hal yang
mustahil isyarat verbal tentang kesedihan.
Contoh
ungkapan :
1) “Lebih
baik saya menyerah karena saya tidak mampu memperbaiki keadaan.”
2) “Masa
depan saya seolah suram.”
3) “Saya
tidak dapat membayangkan masa depan saya
tahun kedepan.”
4) “Saya
sadar, saya tipe rnah mendapatkan apa yang saya inginkan sebelumnya.
5) “Rasanya
saya tidak mungkin menggapai kepuasan dimasa yang akan datang.”
a) Fisiologis
:
-
respon terhadap
stimulus melambat
-
tidak ada energi
-
tidur bertambah
b) emosional
:
-
individu yang putus asa
sering sekali kesulitan mengungkapkan perasaannya tapi dapat merasakan
-
tidak mampu memperoleh
nasib baik, keberuntungan dan pertolongan tuhan
-
tidak memiliki makna
atau tujuan dalam hidup
-
hampa dan letih
-
perasaan kehilangan dan
tidak memiliki apa-apa
-
tidak berdaya,tidak
mampu dan terperangkap.
c) Individu
memperlihatkan : Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan,
Penurunan verbalisasi, Penurunan afek, Kurangnya ambisi,inisiatif,serta
minat.Ketidakmampuan mencapai sesuatu Hubungan interpersonal yang terganggu,
Proses pikir yang lambat, Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan
kehidupannya sendiri.
d) Kognitif
: Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan,
Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang
dihadapi saat ini, Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir, Kaku (
memikirkan semuanya atau tidak sama sekali ), Tidak punya kemampuan
berimagenasi atau berharap, Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target
dan tujuan yang ditetapkan, Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur
serta membuat keputusan,Tidak dapat mengenali sumber harapan Minor ( mungkin
ada )
a) Fisiologis:
Anoreksia, BB menurun
b) Emosional:
Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain, Merasa
berada diujung tanduk, Tegang, Muak ( merasa ia tidak bisa), Kehilangan
kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani, Rapuh
c) Individu
memperlihatkan: Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari
pembicara, Penurunan motivasi, Keluh kesah, Kemunduran, Sikap pasrah,
Depresi
d) Kognitif :
Penurunan kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima, Hilangnya
persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa datang, Bingung,
Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif, Distorsi proses pikir dan
asosiasi, Penilaian yang tidak logis
4.
Jenis-jenis
Ketidakberdayaan
Stephenson (1979) dalam Carpenito
(2009) menggambarkan dua jenis ketidak-berdayaan, yaitu :
a. Ketidakberdayaan
situasional Ketidakberdayaan yang muncul pada sebuah peristiwa spesifik dan mungkin
berlangsung singkat.
b. Ketidakberdayaan
dasar (trait powerlessness) Ketidakberdayaan yang bersifat menyebar,
mempengaruhi pandangan, tujuan, gaya hidup, dan hubungan.
5.
Fakfor-faktor
ketidakberdayaan
a. Ketidakberdayan
Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat
mendukung terjadinya masalah ketidakberda-yaan menurut Stuart (2009) pada
Seseorang antara lain:
1) Biologis
- Status nutrisi: berat badan pasien sangat menurun karena pasien tidak
berolahraga sejak terkena penyakit stroke. Massa otot berkurang
2) Psikologis
yakni Psikologis pasien sedikit terguncang sejak terkena penyakit stroke
tersebut, sehari-hari yang dilakukannya hanya diam tanpa melakukan latihan
apa-apa, terkadang istrinya juga merasa sedih melihat keadaaan suaminya seperti
itu.
3) Sosiokultural
Hubungan pasien selama mengalami penyakit stroke mengalami hambatan selain
tidak mampu untuk berinteraksi dengan orang luar. Juga komunikasi yang kurang
jelas karena pelo
4) Spiritual
Spiritual Pasien terganggu karena pasien tidak mampu melakukan ibadah sholat.
Faktor presipitasi ( waktu<6 bulan/ saat
mulai tmbulnya gejala s/d saat dikaji)
a. Nature,
Status nutrisi pasien berkurang
b. Origin
-
Internal: Persepsi
individu yang tidak baik tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya.
-
Eksternal: Kurangnya
dukungan keluarga, kurang dukungan masyarakat, kurang dukungan kelompok/teman
sebaya
c. Timing,
Stres terjadi dalam waktu dekat, stress terjadi secara berulang-ulang/ terus
menerus.
d. Number,
Sumber stres lebih dari satu, stres dirasakan sebagai masalah yang san gat
berat. Respon terhadap stress/ tanda gejala/ penilaian terhadap respon.
1) Kognitif:
kurang konsentrasi, ambivalensi, kebingungan, berkurangnya kreatifitas, pandangan
suram, pesimis, sulit untuk membuat keputusan, mimpi buruk, produktivitas menurun,
pelupa, ketidakpastian.
2) Afektif:
sedih, rasa bersalah, bingung, gelisah, apatis/pasif, kesepian, rasa tidak
berharga, penyangkalan perasaan, kesal, khawatir, perasaan gagal.
3) Fisiologis:
pasien biasnya mengeluh pusing. Suhu tubuh biasanya panas, penuruanan berat
badan
4) Perilaku:
agitasi, perubahan tingkat aktivitas, mudah tersinggung, kurang spontanitas,
sangat tergantung, kebersihan diri yang kurang, mudah menangis
5) Respon
sosial: patisipasi sosial berkurang. Kemampuan mengatasi masalah/ sumber koping
a) Personal
ability; kurang komunikatif, hubungan interpersonal yang kurang baik, kurang
memiliki kecerdasan dan bakat tertentu, mengalami gangguan fisik, perawatan
diri yang kurang baik, tidak kreatif.
b) Sosial
support ; hubungan yang kurang baik dengan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat,
kurang terlibat dalam organisasi sosial/kelompok sebaya, ada konflik nilai budaya.
c) Material
asset ; penghasilan kurang
d) Positive
belief ; tidak memiliki keyakinan dan nilai positif, kurang memiliki motivasi, kurang
berorientasi pada pencegahan (lebih senang melakukan pengobatan)
Mekanisme
koping yang dapat terjadi pada ketidakberdayaan antara lain:
·
Destruktif; tidak
kreatif : kurang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat,
tidak mempunyai hubungan akrab, ketidakmampuan untuk mencari informasi tentang
perawatan, tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan.
b. Keputusasaan
1) Faktor
predisposisi
a) Faktor
resiko biologis
Status
nutrisi menurun, berat badan menurun akibat pasien kehilangan nafsu makannya.
b) Faktor
resiko psikologis
Psikologis
pasien menjadi tidak stabil setelah pasien didiagnosis HIV oleh dokter, pasien
sering mengurung diri di kamar dan sering uring-uringan saat ada anggota keluarga
yang ingin membujuknya. Ppasien tidak memiliki semangat untuk sembuh, ia merasa
sudah tidak memiliki harapan.
c) Faktor
resiko sosiokultural
Sejak
pasien didiagnosis oleh dokter mengidap HIV, hubungan pasien dengan lingkungan
sekitarnya menjadi sangat tidak baik. Tetangga sering menggunjingkannya
sehingga pasien merasa malu dengan keadaannya. Keluarga pasien merasa sangat
sedih karena dukungan dan semnagatnya tidak dapat membuatnya semangat untuk
sembuh. Selain itu, pasien menjadi tidak yakin dengan spiritualnya akibat dari
keputusasaan yang dialami. Pasien merasa hidupnya tidak akan lama lagi.
2) Faktor
presipitasi
a) Nature,
Status nutrisi pasien semakin menurun akibat pasien kehilangan nafsu makannya.
b) Origin
·
Internal : persepsi
negatif individu pada dirinya dan lingkungan di sekitarnya
·
Eksternal : pasien
mendapat dukungan keluarga, tetapi tidak dengan lingkungan dan teman-temannya
c) Timing,
Stress yang dialami pasien terjadi dalam waktu dekat. Pasien mengalami stress
secara terus-menerus dan berkepanjangan.
d) Number,
Kondisi pasien menjadi stressor yang paling berat dirasakan pasien. Pasien
merasa tidak ada harapan sembuh serta merasa hidupnya tidak akan lama lagi.
3) Respon
terhadap stress/tanda gejala/penilaian terhadap respon
a) Kognitif
Pasien
merasa kebingungan, tidak mampu berkonsentrasi, pesimis, menyalahkan dirinya
sendiri, kehilangan minat motivasi, tidak dapt menyambil keputusan.
b) Afektif
Pasien
sering marah, uring-uringan, merasa kesal, kesepian, keputusasaan, rasa bersalah,
sedih, rasa tidak berharga, harga diri pasien rendah, dan ansietas.
c) Fisiologis
Pasien
mengalami anoreksia, keletihan, nyeri dada, sakit punggung, sakit kepala, dan diare.
d) Perilaku
Pasien
menjadi mudah tersinggung, mudah menangis, kebersihan diri pasien kurang, perubahan
tingkat aktifitas dan sangat tergantung.
e) Sosial
Pasien
menarik diri dari masyarakat, terjadi isolasi social, dan pasien tidak mampu mengatasi
masalahnya.
4) Reaksi
berduka yang dialami pasien menunjukkan penggunaan mekanisme penyangkalan dan
supresi berlebih dalam upaya menghindari distress.
5) Mekanisme
koping Destruktif; tidak kreatif : kurang memiliki keinginan untuk melakukan
sesuatu, tidak mempunyai hubungan baik dengan lingkungannya, ketidakmampuan
untuk mencari informasi tentan perawatan untuk kesembuhannya, tidak berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan saat diberikan dukungan oleh keluarganya.
B.
Konsep
Keperawatan
1.
Pengkajian
Data-data
yang biasa ditampilkan pada pasien dengan ketidakberdayaan adalah:
a. Mengatakan
secara verbal ketidakmampuan mengendalikan atau mempengaruhi situasi.
b. Mengatakan
tidak dapat menghasilkan sesuatu
c. Mengatakan
ketidakmampuan perawatan diri
d. Tidak
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat kesempatan diberikan
e. Segan
mengekspresikan perasaan yang sebenarnya
f. Apastis,pasif
g. Ekspresi
muka murung
h. Bicara
dan gerakan lambat
i.
Nafsu makan tidak ada
atau berlebihan
j.
Tidur berlebihan
k. Menghindari
orang lain.
2.
Diagnosa
Keperawatan
Ketidakberdayaan
merupakan persepsi individu bahwa segala tindakannya tidak akan mendapatkan hasil
atau suatu keadaan dimana individu kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu
atau kegiatan yang baru dirasakan. Karena ketidakberdayaan dapat menyebabkan
gangguan harga diri maka diagnosa keperawatan dapat dirumuskan :
·
Gangguan harga diri : Harga
diri rendah berhubungan dengan Ketidakberdayaan.
3.
Rencana
Tindakan Keperawatan
a) Tujuan
Umum:
Pasien
dapat melakukan cara pengambilan keputusan yang efektif untuk mengendalikan situasi
kehidupannya dengan demikian menurunkan perasaan rendah diri.
b) Tujuan
Khusus Tindakan
·
Pasien dapat membina hubungan
terapeutik dengan perawat.
·
Pasien dapat mengenali dan
mengekspresikan emosinya.
·
Pasien dapat memodifikasi
pola kognitif yang negatif. Seperti :
-
Lakukan pendekatan yang
hangat,menerima pasien apa adanya dan bersifat empati
-
Mawas diri dan cepat
mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya:rasa
marah,frustasi dan simpati)
-
Sediakan waktu untuk
berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif
-
Beri waktu untuk pasien
berespons.
-
Tunjukkan respons
emosional dan menerima pasien
-
Gunakan teknik
komunikasi terapeutik terbuka,eksplorasi, klarifikasi.
-
Bantu pasien untuk
mengekspresikan perasaannya
-
Bantu pasien
mengidentifikasi area-area situasi kehidupannya yang tidak berada dalam kemampuannya
untuk mengontrol. Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan-perasaannya yang
berhubungan dengan ketidakmampuan. Diskusikan tentang masalah yang dihadapi
pasien tanpa memintanya untuk menyimpulkan.
-
Identifikasi pemikiran
yang negatif dan bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau substitusi.
-
Bantu pasien untuk
meningkatkan pemikiran yang positif.
-
Evaluasi ketepatan
persepsi,logika dan kesimpulan yang dibuat pasien.
-
Identifikasi persepsi
pasien yang tidak tepat,penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional.
-
Kurangi penilaian
pasien yang negatif terhadap dirinya.
·
Pasien dapat
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatannya
sendiri.
·
Pasien dapat termotivasi
untuk aktif mencapai tujuan yang realistik.
-
Bantu pasien untuk
menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi.
-
Libatkan pasien dalam
menetapkan tujuan-tujuan perawatannya yang ingin dicapai.
-
Motivasi pasien untuk
membuat jadwal aktifitas perawatan dirinya
-
Berikan pasien privasi sesuai
kebutuhan yang ditentukan
-
Berikan ”reinforcement”
positif untuk keputusan yang dibuat
-
Beri pujian jika klien
berhasil melakukan kegiatan atau penampilan yang bagus.
-
Motivasi pasien untuk
mempertahankan penampilan/kegiatan tersebut.
-
Bantu pasien untuk
menetapkan tujuan-tujuan yang realistik.
-
Fokuskan kegiatan pada
saat ini bukan pada kegiatan masa lalu
-
Bantu pasien
mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya.
-
Identifikasi cara-cara
yang dapat dicapai oleh pasien.Dorong untuk berpartisipasi dalam
aktivitas-aktivitas tersebut dan berikan penguatan positif untuk berpartisipasi
dan pencapaiannya.
-
Motivasi keluarga untuk
berperan aktif dalam membantu
-
pasien menurunkan
perasaan tidak berdaya.
C.
Studi
Kasus / Contoh Kasus
Ø (Tinjauan Kasus)
Ny. D usia 30 tahun datang ke RSJ
RESPATI pada tanggal 20 April 2018, dengan wajah klien tampak pucat, saat
ditanya klien hanya diam acuh tak acuh dengan tatapan kosong, klien tampak
menghindari kontak mata dengan perawat, dan klien tampak sering menghela napas
dalam. Keluarga klien mengatakan bahwa klien telah didiagnosa menderita
penyakit Diabetes Melitus 1 tahun yang lalu. Hal tersebut sempat membuat klien
merasa sedih dan malu sehingga klien tidak dapat menerima penyakitnya membuat
klien frustasi karena pengobatan yang rumit dan karena ketidakmampuan klien
untuk melakukan aktivitas sebelumnya secara mandiri dan kini harus dibantu oleh
keluarga. Namun klien tampak semakin menderita dan putus asa selama 1 bulan
terakhir ini, klien juga sudah tidak bersemangat dan acuh tak acuh akan
pengobatan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.
No
|
Analisa Data
|
Etiologi
|
Masalah Keperawatan
|
1
|
DS
:
-
Keluarga pasien
mengatakan bahwa pasien telah di diagnosa Diabetes Melitus 1 tahun yang lalu
-
Keluarga pasien
mengatakan pasien tidak mampu beraktivitas secara mandiri
-
Keluarga pasien
mengatakan aktivitas pasien dibantu oleh keluarga
-
Keluarga pasien
mengatakan pasien mengalami frustasi karena pengobatan yang rumit
DO
:
-
Pasien tampak tidak
bersemangat dan acuh tak acuh akan pengobatan penyakitnya
-
Pasien tampak menderita karena penyakitnya
yang tidak kunjung sembuh
|
1. Regimen
pengobatan yang rumit
|
1. Ketidakberdayaan
|
2
|
DS
:
-
Keluarga pasien
mengatakan bahwa pasien telah di diagnosa Diabetes Melitus 1 tahun yang lalu
-
Keluarga pasien
mengatakan pasien sangat sedih dan malu sehingga pasien tidak dapat menerima
penyakitnya
DO
:
-
Wajah pasien tampak
pucat
-
Pasien tampak
menghindari kontak mata dengan perawat
-
Pasien tampak sering
menghela nafas dalam
|
2. Penurunan
kondisi fisiologis
|
2. Keputusasaan
|
Ø Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakberdayaan b.d Regimen
pengobatan yang rumit
2. Keputusasaan b.d Penurunan
fungsi fisiologis
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ketidakberdayaan
adalah persepsi atau tanggapan klien bahwa perilaku atau tindakanyang sudah
dilakukannya tidak akan membawa hasil yang diharapkan atau tidak akanmembawa
perubahan hasil seperti yang diharapkan, sehingga klien sulit
mengendalikansituasi yang terjadi atau mengendalikan situasi yang
akan terjadi (NANDA, 2011). Menurut Nanda (2012) Ketidakberdayaan memiliki
definisi persepsi bahwa tindakanseseorang secara signifikan tidak akan
mempengaruhi hasil; persepsi kurang kendali terhadapsituasi saat ini atau
situasi yang akan terjadi.Menurut Wilkinson (2007) ketidakberdayaan merupakan
persepsi seseorang bahwatindakannya tidak akan mempengaruhi hasil secara
bermakna, kurang penggendalian yangdirasakan terhadap situasi terakhir atau
yang baru saja terjadi.
Keputusasaan
merupakan suatu keadaan emosional yang dialami ketika individu
merasakehidupannya sangat berat untuk dijalani dan dirasa mustahil. Seseorang
tersebut tidak akanmemiliki harapan untuk memperbaiki kehidupannya, tidak
memiliki solusi untuk masalah yang dialaminya
dan ia merasa tidak aka nada orang yang dapat membantuya menyelesaikan
masalahnya (Carpenito, 563). Keputusasaan ini berbeda dengan
ketidakberdayaan. Orang yang merasa utus asa tidak mampu melihat adanya solusi
untuk masalah yang dihadapinya dan tidak menemukan cara untuk mencapai sesuatu
hal yang diinginkan. Sedangkan ketidakberdayaan adalah seseorang menemukan
solusi masalahnya namun memiliki keterbatasan untuk melakukannya akibat
kurangnya kontrol terhadap kejadian atau situasi tertentu.
B.
Saran
Dalam
melakukan asuhan pada pasien gangguan jiwa hendaknya seorang perawat mampu
menempatkan diri pada keadaan yang memungkinkan karena untuk mengantisipasi
adanya gangguan dari pasien tersebut, dan apabila seorang tenaga kesehatan harus
mengetahui faktor apa saja yang menjadi kendala dalam mendekatkan diri pada
pasien gangguan jiwa.
Komentar
Posting Komentar