TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

makalah konsep dasar medis pasien jiwa ketidakberdayaan dan keputusasaan


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL………………………………………………………………...i
KATA PENGANTAR………………………………………………………………...ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………..1
A.    Latar Belakang………………………………………………………………...1
B.     Rumusan Masalah……………………………………………………………..2
C.     Tujuan Penulisan……………………………………………………………...2
D.    Manfaat Penulisan………………………………………………………….....3
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………...4
A.    Konsep Dasar Medis Pasien Jiwa Ketidakberdaayaan dan Keputusasaan........4
B.     Konsep Keperawatan Pasien Jiwa Ketidakberdaayaan dan Keputusasaan ………………………………………………………………………………...9
BAB III PENUTUP……………………………………………………………...…..25
A.    Kesimpulan…………………………………………………………………..25
B.     Saran…………………………………………………………………………25
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keadaan krisis Ekonomi, telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa. Masalah gangguan jiwa terjadi hampir diseluruh negara di dunia. Hasil survey World Healt Organization (WHO), menyatakan tingkat gangguan jiwa di Indonesia cukup tinggi dan diatas rata-rata gangguan kesehatan jiwa di Dunia. Dari data yang di keluarkan Departement Kesehatan Republik Indonesia, rata-rata 40 dari 100.000 orang di Indonesia, melakukan bunuh diri, sementara rata-rata Dunia menunjukkan 15,1 dari 100.000 orang dan satu dari empat orang di Indonesia mengalami gangguan jiwa, namun hanya 0,5% saja yang di rawat di Rumah sakit jiwa (Azwar, 2005).
Menurut Sekretaris Jenderal Departement Kesehatan, Safi’i Ahmad. Kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan cukup serius disetiap negara, termasuk di Indonesia. Proses Globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi, menyebabkan dampak pergeseran terhadap nilai sosial dan budaya di masyarakat (DepKes, 2007). Terjadinya gangguan jiwa merupakan proses interaksi yang kompleks antara faktor genetik, faktor organo-biologis, faktor psikologis serta faktor sosio-kultural. Ada korelasi erat antara timbulnya gangguan jiwa dengan kondisi sosial dan lingkungan dimasyarakat sebagai suatu “sressor psikososial”. Kini masalah kesehatan tidak lagi hanya menyangkut soal angka 2 kematian atau kesakitan, melainkan juga berbagai kondisi psikososial yang berdampak juga pada kualitas kesehatan jiwa di masyarakat (Herman, 2011).
Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku, sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan fungsi komunikan sel-sel saraf di otak dan dapat juga berupa kekurangan maupun kelebihan neutrotransmiter atau substansi tertentu. Gangguan jiwa meskipun tidak menyebabkan kematian secara langsung tetapi menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu serta beban berat bagi keluarga (Fitria, 2009). Perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari marah atau ketakutan (panik). Pelilaku agresif dan perilaku kekerasan itu sendiri sering dipandang sebagai suatu rentang, dimana agresive verbal disuatu sisi dan perilaku kekerasan (violence) disisi yang lain (Yosep, 2007).
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana konsep dasar medis pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan ?
2.      Bagaimana konsep keperawatan pada pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan ?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui konsep dasar medis pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan
2.      Untuk mengetahui konsep keperawatan pada pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan


D.    Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Pembaca bisa mengetahui konsep dasar medis pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan
2.      Pembaca bisa mengetahui konsep keperawatan pada pasien dengan ketidakberdayaan dan keputusasaan














BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Medis
1.      Definisi
a.       Ketidakberdayaan
Ketidakberdayaan adalah persepsi atau tanggapan klien bahwa perilaku atau tindakanyang sudah dilakukannya tidak akan membawa hasil yang diharapkan atau tidak akanmembawa perubahan hasil seperti yang diharapkan, sehingga klien sulit mengendalikansituasi yang terjadi atau mengendalikan situasi yang akan terjadi (NANDA, 2011).
Menurut Nanda (2012) Ketidakberdayaan memiliki definisi persepsi bahwa tindakanseseorang secara signifikan tidak akan mempengaruhi hasil; persepsi kurang kendali terhadapsituasi saat ini atau situasi yang akan terjadi.Menurut Wilkinson (2007) ketidakberdayaan merupakan persepsi seseorang bahwatindakannya tidak akan mempengaruhi hasil secara bermakna, kurang penggendalian yangdirasakan terhadap situasi terakhir atau yang baru saja terjadi.
Menurut Carpenito-Moyet (2007) ketidakberdayaan merupakan keadaan ketika seseorangindividu atau kelompok merasa kurang kontrol terhadap kejadian atau situasi tertentu.
b.      Keputusasaan
Menurut NANDA (2015-2017), keputusasaan adalah keadaan subyektif ketika seorangindividu memandang keterbatasan atau tidak adanya pilihan alternative serta tidak mampumemobilisasi energy untuk kepentingannya sendiri. Keputusasaan menurut NANDA ini memiliki beberapa batasan karakteristik, diantaranya: gangguan pola tidur, kurang inisiatif, pasif, meninggalkan orang yang diajak bicara, penurunan selera makan, kurang kontak mata,dan sebagainya. Factor-faktor yang berhubungan yakni: isolasi soasial, penurunan kondisifisiologis, stress jangka panjang, serta kehilangan nilai kepercayaan.
Keputusasaan merupakan suatu keadaan emosional yang dialami ketika individu merasakehidupannya sangat berat untuk dijalani dan dirasa mustahil. Seseorang tersebut tidak akanmemiliki harapan untuk memperbaiki kehidupannya, tidak memiliki solusi untuk masalah yang dialaminya dan ia merasa tidak aka nada orang yang dapat membantuya menyelesaikan masalahnya (Carpenito, 563).
Keputusasaan ini berbeda dengan ketidakberdayaan. Orang yang merasa utus asa tidak mampu melihat adanya solusi untuk masalah yang dihadapinya dan tidak menemukan cara untuk mencapai sesuatu hal yang diinginkan. Sedangkan ketidakberdayaan adalah seseorang menemukan solusi masalahnya namun memiliki keterbatasan untuk melakukannya akibat kurangnya kontrol terhadap kejadian atau situasi tertentu.
2.      Etiologi / Penyebab
a.       Ketidakberdayaan
1)      Kurangnya pengetahuan
2)      Ketidak adekuatan koping sebelumnya (seperti : depresi)
3)      Serta kurangnya kesempatan untuk membuat keputusan (Carpenito, 2009). Doenges, Townsend, M, (2008)
4)      Kesehatan lingkungan: hilangnya privasi, milik pribadi dan kontrol terhadap terapi.
5)      Hubungan interpersonal: penyalahgunaan kekuasaan,hubungan yang kasar.
6)      Penyakit yang berhubungan dengan rejimen : penyakit kronis atau yang melemahkan kondisi.
7)      Gaya hidup ketidakberdayaan : mengulangi kegagalan dan ketergantungan.
b.      Keputusasaan
1)      Faktor kehilangan  
2)      Kegagalan yang terus menerus
3)      Faktor Lingkungan
4)      Orang terdekat ( keluarga )
5)      Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
6)      Adanya tekanan hidup
7)      Kurangnya iman
8)      Adanya tekanan hidup
9)      Kurangnya iman

3.      Manifestasi klinis
a.       keputusasaan Mayor ( harus ada)
Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam , berlebihan, dan  berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan sebagai hal yang mustahil isyarat verbal tentang kesedihan.
Contoh ungkapan :
1)      “Lebih baik saya menyerah karena saya tidak mampu memperbaiki keadaan.”
2)      “Masa depan saya seolah suram.”
3)      “Saya tidak dapat membayangkan masa depan saya  tahun kedepan.”
4)      “Saya sadar, saya tipe rnah mendapatkan apa yang saya inginkan sebelumnya.
5)      “Rasanya saya tidak mungkin menggapai kepuasan dimasa yang akan datang.”

a)      Fisiologis :
-          respon terhadap stimulus melambat
-          tidak ada energi
-          tidur bertambah
b)      emosional :
-          individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan perasaannya tapi dapat merasakan
-          tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan pertolongan tuhan
-          tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
-          hampa dan letih
-          perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
-          tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
c)      Individu memperlihatkan : Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan, Penurunan verbalisasi, Penurunan afek, Kurangnya ambisi,inisiatif,serta minat.Ketidakmampuan mencapai sesuatu Hubungan interpersonal yang terganggu, Proses pikir yang lambat, Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya sendiri.
d)     Kognitif : Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan, Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang dihadapi saat ini, Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir, Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali ), Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap, Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang ditetapkan, Tidak dapat membuat  perencanaan, mengatur serta membuat keputusan,Tidak dapat mengenali sumber harapan Minor ( mungkin ada )
a)      Fisiologis: Anoreksia, BB menurun
b)      Emosional: Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain, Merasa  berada diujung tanduk, Tegang, Muak ( merasa ia tidak bisa), Kehilangan kepuasan terhadap  peran dan hubungan yang ia jalani, Rapuh
c)      Individu memperlihatkan: Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari  pembicara, Penurunan motivasi, Keluh kesah, Kemunduran, Sikap pasrah, Depresi
d)     Kognitif : Penurunan kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima, Hilangnya  persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa datang, Bingung, Ketidakmampuan  berkomunikasi secara efektif, Distorsi proses pikir dan asosiasi, Penilaian yang tidak logis

4.      Jenis-jenis Ketidakberdayaan
Stephenson (1979) dalam Carpenito (2009) menggambarkan dua jenis ketidak-berdayaan, yaitu :
a.       Ketidakberdayaan situasional Ketidakberdayaan yang muncul pada sebuah peristiwa spesifik dan mungkin berlangsung singkat.
b.      Ketidakberdayaan dasar (trait powerlessness) Ketidakberdayaan yang bersifat menyebar, mempengaruhi pandangan, tujuan, gaya hidup, dan hubungan.

5.      Fakfor-faktor ketidakberdayaan
a.       Ketidakberdayan Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat mendukung terjadinya masalah ketidakberda-yaan menurut Stuart (2009) pada Seseorang antara lain:
1)      Biologis - Status nutrisi: berat badan pasien sangat menurun karena pasien tidak berolahraga sejak terkena penyakit stroke. Massa otot berkurang  
2)      Psikologis yakni Psikologis pasien sedikit terguncang sejak terkena penyakit stroke tersebut, sehari-hari yang dilakukannya hanya diam tanpa melakukan latihan apa-apa, terkadang istrinya juga merasa sedih melihat keadaaan suaminya seperti itu.
3)      Sosiokultural Hubungan pasien selama mengalami penyakit stroke mengalami hambatan selain tidak mampu untuk berinteraksi dengan orang luar. Juga komunikasi yang kurang jelas karena  pelo
4)      Spiritual Spiritual Pasien terganggu karena pasien tidak mampu melakukan ibadah sholat.
 Faktor presipitasi ( waktu<6 bulan/ saat mulai tmbulnya gejala s/d saat dikaji)
a.       Nature, Status nutrisi pasien berkurang
b.      Origin
-          Internal: Persepsi individu yang tidak baik tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya.
-          Eksternal: Kurangnya dukungan keluarga, kurang dukungan masyarakat, kurang dukungan kelompok/teman sebaya
c.       Timing, Stres terjadi dalam waktu dekat, stress terjadi secara berulang-ulang/ terus menerus.
d.      Number, Sumber stres lebih dari satu, stres dirasakan sebagai masalah yang san gat berat. Respon terhadap stress/ tanda gejala/ penilaian terhadap respon.
1)      Kognitif: kurang konsentrasi, ambivalensi, kebingungan, berkurangnya kreatifitas, pandangan suram, pesimis, sulit untuk membuat keputusan, mimpi buruk, produktivitas menurun, pelupa, ketidakpastian.
2)      Afektif: sedih, rasa bersalah, bingung, gelisah, apatis/pasif, kesepian, rasa tidak berharga, penyangkalan perasaan, kesal, khawatir, perasaan gagal.
3)      Fisiologis: pasien biasnya mengeluh pusing. Suhu tubuh biasanya panas, penuruanan berat badan
4)      Perilaku: agitasi, perubahan tingkat aktivitas, mudah tersinggung, kurang spontanitas, sangat tergantung, kebersihan diri yang kurang, mudah menangis
5)      Respon sosial: patisipasi sosial berkurang. Kemampuan mengatasi masalah/ sumber koping
a)      Personal ability; kurang komunikatif, hubungan interpersonal yang kurang baik, kurang memiliki kecerdasan dan bakat tertentu, mengalami gangguan fisik, perawatan diri yang kurang baik, tidak kreatif.
b)      Sosial support ; hubungan yang kurang baik dengan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, kurang terlibat dalam organisasi sosial/kelompok sebaya, ada konflik nilai budaya.
c)      Material asset ; penghasilan kurang
d)     Positive belief ; tidak memiliki keyakinan dan nilai positif, kurang memiliki motivasi, kurang berorientasi pada pencegahan (lebih senang melakukan pengobatan)
Mekanisme koping yang dapat terjadi pada ketidakberdayaan antara lain:
·         Destruktif; tidak kreatif : kurang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, tidak mempunyai hubungan akrab, ketidakmampuan untuk mencari informasi tentang perawatan, tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan.
b.      Keputusasaan
1)      Faktor predisposisi
a)      Faktor resiko biologis
Status nutrisi menurun, berat badan menurun akibat pasien kehilangan nafsu makannya.
b)      Faktor resiko psikologis
Psikologis pasien menjadi tidak stabil setelah pasien didiagnosis HIV oleh dokter, pasien sering mengurung diri di kamar dan sering uring-uringan saat ada anggota keluarga yang ingin membujuknya. Ppasien tidak memiliki semangat untuk sembuh, ia merasa sudah tidak memiliki harapan.


c)      Faktor resiko sosiokultural
Sejak pasien didiagnosis oleh dokter mengidap HIV, hubungan pasien dengan lingkungan sekitarnya menjadi sangat tidak baik. Tetangga sering menggunjingkannya sehingga pasien merasa malu dengan keadaannya. Keluarga pasien merasa sangat sedih karena dukungan dan semnagatnya tidak dapat membuatnya semangat untuk sembuh. Selain itu, pasien menjadi tidak yakin dengan spiritualnya akibat dari keputusasaan yang dialami. Pasien merasa hidupnya tidak akan lama lagi.

2)      Faktor presipitasi
a)      Nature, Status nutrisi pasien semakin menurun akibat pasien kehilangan nafsu makannya.
b)      Origin
·         Internal : persepsi negatif individu pada dirinya dan lingkungan di sekitarnya
·         Eksternal : pasien mendapat dukungan keluarga, tetapi tidak dengan lingkungan dan teman-temannya
c)      Timing, Stress yang dialami pasien terjadi dalam waktu dekat. Pasien mengalami stress secara terus-menerus dan berkepanjangan.
d)     Number, Kondisi pasien menjadi stressor yang paling berat dirasakan pasien. Pasien merasa tidak ada harapan sembuh serta merasa hidupnya tidak akan lama lagi.
3)      Respon terhadap stress/tanda gejala/penilaian terhadap respon
a)       Kognitif
Pasien merasa kebingungan, tidak mampu berkonsentrasi, pesimis, menyalahkan dirinya sendiri, kehilangan minat motivasi, tidak dapt menyambil keputusan.

b)      Afektif
Pasien sering marah, uring-uringan, merasa kesal, kesepian, keputusasaan, rasa bersalah, sedih, rasa tidak berharga, harga diri pasien rendah, dan ansietas.
c)      Fisiologis
Pasien mengalami anoreksia, keletihan, nyeri dada, sakit punggung, sakit kepala, dan diare.
d)     Perilaku
Pasien menjadi mudah tersinggung, mudah menangis, kebersihan diri pasien kurang, perubahan tingkat aktifitas dan sangat tergantung.
e)      Sosial
Pasien menarik diri dari masyarakat, terjadi isolasi social, dan pasien tidak mampu mengatasi masalahnya.
4)      Reaksi berduka yang dialami pasien menunjukkan penggunaan mekanisme penyangkalan dan supresi berlebih dalam upaya menghindari distress.
5)      Mekanisme koping Destruktif; tidak kreatif : kurang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, tidak mempunyai hubungan baik dengan lingkungannya, ketidakmampuan untuk mencari informasi tentan perawatan untuk kesembuhannya, tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan dukungan oleh keluarganya.

B.     Konsep Keperawatan
1.      Pengkajian
Data-data yang biasa ditampilkan pada pasien dengan ketidakberdayaan adalah:
a.       Mengatakan secara verbal ketidakmampuan mengendalikan atau mempengaruhi situasi.
b.      Mengatakan tidak dapat menghasilkan sesuatu
c.       Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri
d.      Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat kesempatan diberikan
e.       Segan mengekspresikan perasaan yang sebenarnya
f.       Apastis,pasif
g.      Ekspresi muka murung
h.      Bicara dan gerakan lambat
i.        Nafsu makan tidak ada atau berlebihan
j.        Tidur berlebihan
k.      Menghindari orang lain.

2.      Diagnosa Keperawatan
Ketidakberdayaan merupakan persepsi individu bahwa segala tindakannya tidak akan mendapatkan hasil atau suatu keadaan dimana individu kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu atau kegiatan yang baru dirasakan. Karena ketidakberdayaan dapat menyebabkan gangguan harga diri maka diagnosa keperawatan dapat dirumuskan :
·         Gangguan harga diri : Harga diri rendah berhubungan dengan Ketidakberdayaan.

3.      Rencana Tindakan Keperawatan
a)      Tujuan Umum:
Pasien dapat melakukan cara pengambilan keputusan yang efektif untuk mengendalikan situasi kehidupannya dengan demikian menurunkan perasaan rendah diri.
b)      Tujuan Khusus Tindakan
·         Pasien dapat membina hubungan terapeutik dengan perawat.

·         Pasien dapat mengenali dan mengekspresikan emosinya.

·         Pasien dapat memodifikasi pola kognitif yang negatif. Seperti :

-          Lakukan pendekatan yang hangat,menerima pasien apa adanya dan bersifat empati
-          Mawas diri dan cepat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya:rasa marah,frustasi dan simpati)
-          Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif
-          Beri waktu untuk pasien berespons.
-          Tunjukkan respons emosional dan menerima pasien
-          Gunakan teknik komunikasi terapeutik terbuka,eksplorasi, klarifikasi.
-          Bantu pasien untuk mengekspresikan perasaannya
-          Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupannya yang tidak berada dalam kemampuannya untuk mengontrol. Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan-perasaannya yang berhubungan dengan ketidakmampuan. Diskusikan tentang masalah yang dihadapi pasien tanpa memintanya untuk menyimpulkan.
-          Identifikasi pemikiran yang negatif dan bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau substitusi.
-          Bantu pasien untuk meningkatkan pemikiran yang positif.
-          Evaluasi ketepatan persepsi,logika dan kesimpulan yang dibuat pasien.
-          Identifikasi persepsi pasien yang tidak tepat,penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional.
-          Kurangi penilaian pasien yang negatif terhadap dirinya.
·         Pasien dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatannya sendiri.
·         Pasien dapat termotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistik.
-          Bantu pasien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi.
-          Libatkan pasien dalam menetapkan tujuan-tujuan perawatannya yang ingin dicapai.
-          Motivasi pasien untuk membuat jadwal aktifitas perawatan dirinya
-          Berikan pasien privasi sesuai kebutuhan yang ditentukan
-          Berikan ”reinforcement” positif untuk keputusan yang dibuat
-          Beri pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilan yang bagus.
-          Motivasi pasien untuk mempertahankan penampilan/kegiatan tersebut.
-          Bantu pasien untuk menetapkan tujuan-tujuan yang realistik.
-          Fokuskan kegiatan pada saat ini bukan pada kegiatan masa lalu
-          Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya.
-          Identifikasi cara-cara yang dapat dicapai oleh pasien.Dorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut dan berikan penguatan positif untuk berpartisipasi dan pencapaiannya.
-          Motivasi keluarga untuk berperan aktif dalam membantu
-          pasien menurunkan perasaan tidak berdaya.





C.    Studi Kasus / Contoh Kasus
Ø  (Tinjauan Kasus)
Ny. D usia 30 tahun datang ke RSJ RESPATI pada tanggal 20 April 2018, dengan wajah klien tampak pucat, saat ditanya klien hanya diam acuh tak acuh dengan tatapan kosong, klien tampak menghindari kontak mata dengan perawat, dan klien tampak sering menghela napas dalam. Keluarga klien mengatakan bahwa klien telah didiagnosa menderita penyakit Diabetes Melitus 1 tahun yang lalu. Hal tersebut sempat membuat klien merasa sedih dan malu sehingga klien tidak dapat menerima penyakitnya membuat klien frustasi karena pengobatan yang rumit dan karena ketidakmampuan klien untuk melakukan aktivitas sebelumnya secara mandiri dan kini harus dibantu oleh keluarga. Namun klien tampak semakin menderita dan putus asa selama 1 bulan terakhir ini, klien juga sudah tidak bersemangat dan acuh tak acuh akan pengobatan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.

No
Analisa Data
Etiologi
Masalah Keperawatan
1









DS :
-          Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien telah di diagnosa Diabetes Melitus 1 tahun yang lalu
-          Keluarga pasien mengatakan pasien tidak mampu beraktivitas secara mandiri
-          Keluarga pasien mengatakan aktivitas pasien dibantu oleh keluarga
-          Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami frustasi karena pengobatan yang rumit

DO :
-          Pasien tampak tidak bersemangat dan acuh tak acuh akan pengobatan penyakitnya
-           Pasien tampak menderita karena penyakitnya yang tidak kunjung sembuh

1.      Regimen pengobatan yang rumit


1.      Ketidakberdayaan

























2
DS :
-          Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien telah di diagnosa Diabetes Melitus 1 tahun yang lalu
-          Keluarga pasien mengatakan pasien sangat sedih dan malu sehingga pasien tidak dapat menerima penyakitnya
DO :
-          Wajah pasien tampak pucat
-          Pasien tampak menghindari kontak mata dengan perawat
-          Pasien tampak sering menghela nafas dalam
2.      Penurunan kondisi fisiologis
2.      Keputusasaan

Ø  Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakberdayaan b.d Regimen pengobatan yang rumit
2. Keputusasaan b.d Penurunan fungsi fisiologis




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ketidakberdayaan adalah persepsi atau tanggapan klien bahwa perilaku atau tindakanyang sudah dilakukannya tidak akan membawa hasil yang diharapkan atau tidak akanmembawa perubahan hasil seperti yang diharapkan, sehingga klien sulit mengendalikansituasi yang terjadi atau mengendalikan situasi yang akan terjadi (NANDA, 2011). Menurut Nanda (2012) Ketidakberdayaan memiliki definisi persepsi bahwa tindakanseseorang secara signifikan tidak akan mempengaruhi hasil; persepsi kurang kendali terhadapsituasi saat ini atau situasi yang akan terjadi.Menurut Wilkinson (2007) ketidakberdayaan merupakan persepsi seseorang bahwatindakannya tidak akan mempengaruhi hasil secara bermakna, kurang penggendalian yangdirasakan terhadap situasi terakhir atau yang baru saja terjadi.
Keputusasaan merupakan suatu keadaan emosional yang dialami ketika individu merasakehidupannya sangat berat untuk dijalani dan dirasa mustahil. Seseorang tersebut tidak akanmemiliki harapan untuk memperbaiki kehidupannya, tidak memiliki solusi untuk masalah yang dialaminya dan ia merasa tidak aka nada orang yang dapat membantuya menyelesaikan masalahnya (Carpenito, 563).  Keputusasaan ini berbeda dengan ketidakberdayaan. Orang yang merasa utus asa tidak mampu melihat adanya solusi untuk masalah yang dihadapinya dan tidak menemukan cara untuk mencapai sesuatu hal yang diinginkan. Sedangkan ketidakberdayaan adalah seseorang menemukan solusi masalahnya namun memiliki keterbatasan untuk melakukannya akibat kurangnya kontrol terhadap kejadian atau situasi tertentu.

B.     Saran
Dalam melakukan asuhan pada pasien gangguan jiwa hendaknya seorang perawat mampu menempatkan diri pada keadaan yang memungkinkan karena untuk mengantisipasi adanya gangguan dari pasien tersebut, dan apabila seorang tenaga kesehatan harus mengetahui faktor apa saja yang menjadi kendala dalam mendekatkan diri pada pasien gangguan jiwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)