TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

makalah aplikasi komunikasi dalam keperawatan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam di dunia keperawatan di perlukan sebuah aplikasi-aplikasi sehingga klien bisa mengetahui dengan jelas dan maksud yang di sampaikan oleh perawat,keperawatan dikembangkan sebagai bagian aplikasi dari Sistem Kesehatan Nasional.Oleh karena itu sistem pemberian askep dikembangkan sebagai bagian aplikasi dari sistem pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdapat di setiap tatanan pelayanan kesehatan (Mundakir; 2006).
Pelayanan atau asuhan keperawatan yang dikembangkan bersifat menyeluruh didasarkan pada kebutuhan klien,berpedoman pada standar asuhan keperawatan dan etika keperawatan.Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal an konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal an konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja di rumah sakit, baik hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal. Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin termasuk keperawatan, unsur penunjang lainnya, unsur adminitrasi merupakan gambaran dari sisi konsumen internal. Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah pada sisi menerima jasa pelayanan, yaitu klien baik secara individual, kelompok, keluarga maupun masyarakat yang ada di rumah sakit.Seringkali hubungan buruk yang terjadi pada suatu rumah sakit, diprediksi penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu yang terlibat dalam sistem tersebut ( Arwani : 2002 ).

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      Bagaimana definisi aplikasi komunikasi dalam keperawatan ?
2.      Bagaimana jenis aplikasi komunikasi dalam pelayanan kesehatan ?
3.      Bagaimana aplikasi komunikasi antara perawat dan perawat ?
4.      Bagaimana aplikasi komunikasi antara perawat dan apoteker ?
5.      Bagaimana aplikasi komunikasi antara perawat dan ahli gizi ?
6.      Bagaimana strategi komunikasi dalam praktik keperawatan di rumah sakit ?
C.    TUJUAN
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui definisi aplikasi komunikasi dalam keperawatan.
2.      Untuk mengetahui jenis aplikasi komunikasi dalam pelayanan kesehatan.
3.      Untuk mengetahui aplikasi komunikasi antara perawat dan perawat.
4.      Untuk mengetahui aplikasi komunikasi antara perawat dan apoteker.
5.      Untuk mengetahui aplikasi komunikasi antara perawat dan ahli gizi.
6.      Untuk mengetahui strategi komunikasi dalam praktik keperawatan di rumah sakit.

D.    Manfaat
1.      Bagi perawat
Agar perawat dapat berkomunikasi dalam institusi rumah sakit dengan benar dan baik.
2.      Bagi mahasiswa
Agar mahasiswa memahami cara berkomunikasi dengan baik


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Aplikasi Komunikasi dalam Keperawatan
Istilah aplikasi berasal dari bahasa inggris "application" yang berarti penerapan, lamaran ataupun penggunaan. Sedangkan secara istilah, pengertian aplikasi adalah suatu program yang siap untuk digunakan yang dibuat untuk melaksanakan suatu funsi bagi pengguna jasa aplikasi serta penggunaan aplikasi lain yang dapat digunakan oleh suatu sasaran yang akan dituju. aplikasi mempunyai arti yaitu pemecahan masalah yang menggunakan salah satu tehnik pemrosesan data aplikasi yang biasanya berpacu pada sebuah komputansi yang diinginkan atau diharapkan maupun pemrosesan data yang diharapkan.          
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya selalu memerlukan orang lain dalam menjalankan dan mengembangkan kehidupannya. Hubungan dengan orang lain akan terjalin bila setiap individu melakukan komunikasi diantara sesamanya. Kepuasan dan kenyamanan serta rasa aman yang dicapai oleh individu dalam berhubungan sosial dengan orang lain merupakan hasil dari suatu komunikasi. Komunikasi dalam hal ini menjadi unsur terpenting dalam mewujudkan integritas diri setiap manusia sebagai bagian dari sistem sosial.
Komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak yang sangat penting dalam kehidupan, baik secara individual maupun kelompok. Komunikasi yang terputus akan memberikan dampak pada buruknya hubungan antar individu atau kelompok. Tatanan klinik seperti rumah sakit yang dinyatakan sebagai salah satu sistem dari kelompok sosial mempunyai kepentingan yang tinggi pada unsur komunikasi.
Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal an konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal an konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja di rumah sakit, baik hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal. Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin termasuk keperawatan, unsur penunjang lainnya, unsur adminitrasi sebagai provider merupakan gambaran dari sisi konsumen internal. Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah pada sisi menerima jasa pelayanan, yaitu klien baik secara individual, kelompok, keluarga maupun masyarakat yang ada di rumah sakit.Seringkali hubungan buruk yang terjadi pada suatu rumah sakit, diprediksi penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu yang terlibat dalam sistem tersebut.
Ellis (2000) menyatakan jika hubungan terputus atau menjadi sumber stres, pada umumnya yang ditunjuk sebagai penyebabnya adalah komunikasi yang buruk.Keperawatan yang menjadi unsur terpenting dalam memberikan pelayanan dalam hal ini perawat berperan sebagai provider. Perawat sebagai salah satu pemberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dalam berkomunikasi menggunakan komunikasi teraupetik. Komunikasi teraupetik merupakan proses dimana perawat berkomunikasi dengan menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien (Potter,2005). Perbedaaan dalam penggunaan bahasa dalam memberikan pelayanan kesehatan baik yang dilakukan oleh perawat maupun petugas kesehatan lainnya merupakan faktor yang terpenting yang harus dipahami karena perbedaan bahasa ini akan memberikan dampak terhadap semua proses selama pelayanan kesehatan diberikan.
Fokus perhatian terhadap buruknya komunikasi juga terjadi pada tim keperawatan. Hal ini terjadi karena beberapa sebab diantaranya adalah:
1.      Lemahnya pemahaman mengenai penggunaan diri secara terapeutik saat melakukan intraksi dengan klien.
2.     Kurangnya kesadaran diri para perawat dalam menjalankan komunikasi dua arah secara terapeutik.
3.      Lemahnya penerapan sistem evaluasi tindakan (kinerja) individual yang berdampak terhadap lemahnya pengembangan kemampuan diri sendiri.

B.     Jenis Aplikasi Komunikasi dalam Pelayanan Kesehatan
Jenis aplikasi komunikasi dalam pelayanan kesehatan yaitu :
1.      Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi Intrapersonal adalah komunikasi yang berada didalam diri yang biasa kita sebut sebagai kata hati atau perasaan batin. Didalam dunia medis keperawatan, seorang perawat harus memiliki jenis komunikasi ini. Tujuannya adalah untuk membuat perawat secara cepat dan sadar dapat merasakan, melihat, menangkap serta mengetahui kondisi pasien tanpa harus berbicara dengannya. Contohnya adalah ketika seorang perawat melihat seorang pasien sedang termenung, melamun, atau menengadah kelangit-langit, maka perawat akan merasakan dan mengetahui bahwa pasien tersebut sedang gundah, risau atau sedang memikirkan sesuatu.
2.      Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih didalam sebuah kelompok kecil. Misalnya perawat dengan pasien yang didampingi oleh anggota keluarga pasien. Komunikasi ini berlangsung secara tatap muka, atau dapat pula menggunakan Macam-macam Media Komunikasi. Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan mengenai penyakit yang diderita pasien, melakukan perawatan, memberikan obat, atau melakukan tindakan medis seperti pengambilan sample darah, rambut, memasang infus, melakukan suntik, dan sebagainya.
Namun untuk melakukan komunikasi yang satu ini, perawat harus mampu untuk menjadi pendengar yang baik, berbicara dengan lembut, dapat menunjukkan sikap peduli atau empati hingga mampu untuk memberikan motivasi, humor dan becandaan.
3.      Komunikasi Massa
Penggunaan Komunikasi Massa dalam keperawatan secara tidak langsung akan memberikan kemampuan kepada perawat agar perawat dapat  menentukan dimana posisinya, kapan harus berbicara, kapan harus mendekat atau menjauh, kapan harus berada ditengah, dibelakang atau didepan dan lain sebagainya. Selain itu, komunikasi ini secara tidak langsung akan mengajarkan perawat untuk menguasai dirinya, menjaga intonasi dan volume suara, mengajarkan perawat untuk menggunakan bahasa tubuh hingga mengajarkan perawat agar mampu untuk memberikan motivasi.
4.      Komunikasi Satu Arah
Seiring perkembangan jaman, komunikasi dalam keperawatan juga berkembang menjadi sebuah komunikasi yang satu arah. Komunikasi satu arah adalah komunikasi yang disampaikan melalui media komunikasi, yang prosesnya tidak perlu mendapatkan tanggapan atau umpan balik dari penerima informasi. Contoh dari penggunaan komunikasi ini dalam keperawatan dapat kita lihat pada berbagai media Komunikasi Online yang membahas kesehatan atau keperawatan. Namun karena penggunaan komunikasi ini cenderung tidak dapat ditanggapi, maka Etika dalam Penggunaan Media Komunikasi seperti informasi harus benar, valid, tidak mengandung kebohongan, tidak mengandung SARA dan informasi dapat dipertanggung jawabkan haruslah benar-benar diikuti.
5.      Komunikasi Dua Arah
Berbeda dengan komunikasi satu arah yang cenderung tidak mendapatkan tanggapan, komunikasi dua arah mengharuskan proses komunikasi mendapatkan tanggapan. Penggunaan komunikasi ini pada dasarnya berproses dari komunikator yang memberikan informasi dan komunikan sebagai penerima informasi akan menyimpulkan informasi tersebut dan memberikan tanggapannya kepada komunikator terkait dengan informasi yang diberikan oleh komunikator. Penggunaan komunikasi ini dalam keperawatan, biasanya akan kita lihat ketika perawat sedang menanyai pasien atau keluarga pasien, dan lain sebagainya.
6.      Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang paling sering digunakan dalam keperawatan. Proses penyampaian informasi melalui komunikasi ini adalah dengan menggunakan kata-kata yang diucapkan atau secara lisan. Komunikasi ini menjadi satu-satunya jenis komunikasi yang paling menguntungkan penggunaannya, karena proses penyampaian informasi menjadi lebih jelas, sederhana, dapat disampaikan secara langsung hingga informasi yang belum jelas dapat diulangi kembali. Penggunaan komunikasi ini sering kita temui ketika perawat berkata atau berbicara, contohnya ” silahkan duduk pak, saya akan periksa dulu. Akan saya cek dahulu tekanan darah bapak, dan lain sebagainya.
7.      Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah sebuah komunikasi yang dilakukan tanpa menggunakan kata-kata atau suara dalam penyampaian pesan. Komunikasi ini cenderung menggunakan simbol-simbol komunikasi seperti gerak tubuh, gerak tangan atau bahasa isyarat, ekspresi wajah, kontak mata dan sebagainya. Tujuan dari penggunaan komunikasi ini adalah untuk memberikan keyakinan kepada pasien misalnya dengan menggerakkan kepala, menunjukkan perasaan atau emosi misalnya dengan mengelus tangan pasien hingga mengusap air mata pasien, dan untuk melengkapi pesan yang disampaikan menggunakan verbal. Perawat yang mampu menggunakan komunikasi nonverbal akan mampu untuk memahami pasien, merasakan kondisi pasien hingga menentukan kebutuhan bagi pasien.
8.      Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif adalah proses komunikasi yang dilakukan dengan cara-cara yang lembut, penuh kekeluargaan dan tanpa paksaan. Seorang perawat yang mampu dan dapat menjalankan komunikasi dengan cara persuasif, akan mampu berkomunikasi dengan sopan, memiliki etika, dan memiliki rasa saling menghargai ketika berkomunikasi dengan setiap pasien yang dijumpainya.

C.    Aplikasi Komunikasi Antara Perawat Dan Perawat
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien komunikasi antar tenaga kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting. Kesinambungan informasi tentang klien dan rencana tindakan yang telah, sedang dan akan dilakukan perawat dapat tersampaikan apabila hubungan atau komunikasi antar perawat berjalan dengan baik. Hubungan perawat- perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural dan hubungan intrapersonal.Hubungan profesional antara perawat- perawat merupakan hubungan yang terjadi karena adanya hubungan kerja dan tanggung jawab yang sama dalam memberikan pelayanan keperawatan.
Hubungan sturktural merupakan hubungan yang terjadi berdasarkan jabatan atau struktur masing- masing perawat dalam menjalankan tugas berdasarkan wewenang dan tanggungjawabnya dalam memberikan pelayanan keperawatan. Laporan perawat pelaksana tentang kondisi klien kepada perawat primer, laporan perawat primer atau ketua tim kepada kepala ruang tentang perkembangan kondisi klien, dan supervisi yang dilakukan kepala ruang kepada perawat pelaksana merupakan contoh hubungan struktural.

D.    Aplikasi Komunikasi Antara Perawat Dan Apoteker
Peran perawat dalam pemberian obat dan pengobatan telah berkembang dengan cepat dan luas seiring dengan perkembangan pelayanan kesehatan. Perawat diharapkan terampil dan tepat saat melakukan pemberian obat. Tugas perawat tidak sekedar memberikan pil untuk diminum atau injeksi obat melalui pembuluh darah, namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting untuk dimiliki perawat.
Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan dengan mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan. Dengan demikian, perawat membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga kesehatan lainnya.
Keberhasilan promosi kesehatan sangat tergantung pada cara pandang klien sebagai bagian dari pelayanan kesehatan, yang juga bertanggung jawab terhadap menetapkan pilihan perawatan dan pengobatan, baik itu berbentuk obat alternative, diresepkan oleh dokter, atau obat bebas tanpa resep dokter. Sehingga, tenaga kesehatan terutama perawat harus dapat membagi pengetahuan tentang obat-obatan sesuai dengan kebutuhan klien.
Perawat bertanggung jawab untuk melakukan interpretasi yang tepat terhadap order obat yang diberikan. Isu komunikasi yang sering terjadi antara perawat dengan apoteker adalah pada saat order obat yang dituliskan tidak dapat terbaca, maka dapat terjadi misinterpretasi perawat dengan apoteker terhadap order obat yang harus diberikan kepada pasien.Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis yang diberikan. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat.

E.     Aplikasi Komunikasi Antara Perawat Dan Ahli Gizi
Prinsip-prinsip ilmu gizi menjadi kontroversial ketika konsep "obat gizi" dan "marjinal kekurangan gizi" yang diperkenalkan. Konsep nutrisi obat didasarkan pada asumsi bahwa makanan dan obat dapat memiliki efek terapeutik, terutama ketika gizi individu diberikan dalam dosis pharmacologic (Ghen dan Corso 2000). Konsep ini kontroversial karena advokat penggunaan lebih tinggi daripada tingkat gizi yang tersedia dalam makanan; gizi seperti itu harus diberikan dalam bentuk suplemen. Konsep marjinal kekurangan gizi didasarkan pada hipotesa yang halus kekurangan gizi terjadi sebelum mulai frank, klasik kekurangan. Marjinal seperti kekurangan Mei akhirnya memberikan kontribusi pada perkembangan penyakit bersifat merosot (Kesehatan Media of America Somer dan 1992).
Isu yang terkait dengan gizi yaitu apabila perawat tidak mengkonunikasikan kepada ahli gizi tentang obat- obatan yang digunakan pasien sehingga dapat terjadi pemilihan makanan oleh ahli gizi yang bisa saja menghambat absorbsi dari obat tersebut. Jadi diperlukanlah komunikasi dua arah yang baik antara perawat dan ahli gizi agar pemenuhan gizi pasien sesuai dengan apa yang diharapkan.

F.     Strategi Komunikasi Dalam Praktik Keperawatan Dirumah sakit
Konsep Metode pembelajaran Klinik dengan Strategi Pelaksanaan dan Strategi Komunikasi.Strategi pelaksanaan tindakan dan strategi komunikasi(SP/SK) merupakan suatu metoda bimbingan dalam pelaksanaan tindakan yang berdasarkan kebutuhan pasien dan mengacu pada standar dengan mengimplementasikan komunikasi yang efektif (Modul Pelatihan CI Pusdiknakes.2008)
Strategi pelaksanaan tindakan dan strategi komunikasi(SP/SK)merupakan metode pembelajaran yang diajarkan kepada peserta didik keperawatan dalam rangka menumbuhkan perilaku “caring” baik pada saat memberikan asuhankeperawatan maupun padasaat melakukan tindakan keperawatan(Buku Pedoman Bimbingan Praktek Klinik Perawat/Bidan RSUP Sanglah.2010)
Strategi Pelaksanaan dan Strategi Komunikasi merupakan bagian dari metode bimbingan klinik yang masuk dalam buku pedoman bimbingan klinik keperawatan dan bidan sebagai bagian dari pembentukan (Buku Pedoman Bimbingan Praktek Klinik Perawat/Bidan RSUP Sanglah.2010)

Strategi pelaksanaan dan strategi komunikasi terdiri dari dua komponen :
1.     Strategi Pelaksanaan Tindakan keperawatan
Tujuan :
a.       Mempersiapkan mahasiswa untuk kontak dengan pasien dalam melaksanakan tindakan asuhan keperawatan.
b.    Mengidentifikasi kondisi klien
c.     Merumuskan diagnose keperawatan
d.    Merumuskan tujuan sesuai dengan kriteria SMART
e.     Merencanakan tindakan yang dilakukan
f.     Menyusun/ melampirkan SPO sebagai acuan untuk melaksanakan tindakan
g.    Bekerja sesuai dengan standar/ prosedur

2.     Strategi Komunikasi Tindakan keperawatan
Tujuan :
Membentuk ketrampilan berkomunikasi terapeutik meliputi pra interaksi, orientasi, kerja, dan terminasi.
Tahapan kegiatan :
a.       Fase Pra Interaksi
b.    Fase Orientasi ; meliputi salam terapeutik, memperkenalkan nama pada saat kontak pertama kali, menjelaskan kapasitas sebagai apa,menanyakan nama pasien pada awal interaksi, dan memanggil nama pasien jika sudah melakukan interaksi sebelumnya, mempertahankan kontak mata, senyum ikhlas dan melakukan sentuhan ringan touch di bahu .Melakukan evaluasi /validasi terhadap kondisi saat ini; menanyakan kondisi serta mengajukan pertanyaan untuk memvalidasi. Menyampaikan kontrak yang meliputi; topik yang akan dibahas atau dilakukan, waktu yang dibutuhkan berapa lama dan tempat pelaksanaannya.
c.     Fase Kerja ; melakukan komunikasi sesuai dengan langkah atau prosedur kerja yang dilakukan. Jangan menyampaikan hal-hal yang tidak perlu, segala sesuatu yang dikerjakan, hal tersebutlah yang harus disampaikan. Kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan yang benar dengan berkonsentrasi pada kegiatan yang dilakukan. Gunakan bahasa verbal dan non verbal yang menunjukkan sikap positif.
d.    Fase Terminasi; mengakhiri kegiatan untuk sementara jika pasien masih dirawat dengan mengevaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan. Kemudian disepakati kontrak selanjutnya jika masih diperlukan.(Modul Pelatihan C.I Pusdiknakes,2008








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak yang sangat penting dalam kehidupan, baik secara individual maupun kelompok. Komunikasi yang terputus akan memberikan dampak pada buruknya hubungan antar individu atau kelompok. Tatanan klinik seperti rumah sakit yang dinyatakan sebagai salah satu sistem dari kelompok sosial mempunyai kepentingan yang tinggi pada unsur komunikasi.
B.     Saran
Diharapakan setelah mahasiswa mempelajari materi ini dapat berkomunikasi dengan baik.kemudian jika salah dalam pengetikan mohon saran untuk menyempurnakan makalah ini dengan baik dan benar.
























DAFTAR PUSTAKA
Arwani. 2002. Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta :EGC
Mundakir. 2006 . komunikasi keperawatan aplikasi dalam pelayanan. Yogyakarta : graham ilmu.



















 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)