TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN DEWASA


KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya Kami di berikan kesehatan dan kesempatan dalam menyelesaikan makalah komunikasi ini.
Tak lupa Kami ucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak  yang telah membantu dalam penulisan makalah ini yang tidak dapat Kami ucapkan satu persatu sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Di dalam makalah ini kami menyadari banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat Kami harapkan agar menjadikan makalah ini lebih baik lagi.

                                    Kendari, 23 April 2019


                                        Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi......................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN....................................................................... 1
A.    Latar Belakang................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................. 3
C.     Tujuan................................................................................................... 3
D.    Manfaat................................................................................................ 4
BAB  II :  PEMBAHASAN...................................................................   5
A.    Pengertian Komunikasi................................................................ 5
B.     Suasana Komunikasi Pada Klien Dewasa............................... 7
C.     Model-model Komunikasi Pada Klien Dewasa.................... 9
BAB  III :  PENUTUP  ........................................................................... 31
A.    Kesimpulan.................................................................................... 31
B.     Saran................................................................................................ 32
DAFTAR  PUSTAKA 







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai mahluk social, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan orang lain. Ia  ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia untuk berkomunikasi.
Komunikasi merupakan bagian kekal bagi manusia seperti halnya bernafas. Sepanjang manusia ingin hidup, maka ia perlu komunikasi. Komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat karena tanpa adanya komunikasi masyarakat tidak akan terbentuk. Adanya komunikasi disebabkan oleh  adanya bkebutuhan akan mempertahankan kelangsungan hidup dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkunngannya. Dalam berkomunikasi keberhasilan komunikator atau komunikan sangat ditentuka.n oleh beberapa factor yaitu : cakap, pengetahuan, sikap, system social, kondisi lahiriah.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus-menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melaksanakan, kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hunbungan antar manusia Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Bidang tenaga kesehatan serta perubahan konsep petugas kesehatan dari perawatan orang sakit secara individual kepada perawatan paripurna serta peralihan dari pendekatan yang berorientasi medis penyakit kemodel penyakit yang berfokus pada orang yang bersifat pribadi menyebabkan komunikasi menjadi lebih penting dalam memberikan asuhan. 
Petugas kesehatan dituntut untuk menerapkan model komunikasi yang tepat dan disesuaikan dengan tahap perkembangan pasien. Pada orang dewasa mereka mempunyai sikap,pengetahuan dan keterampilan yang lama menetap dalam dirinya sehingga untuk merubah perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif. Bertolak dari hal tersebut kami mencoba membuat makalah yang mencoba menerapkan model konsep komunikasi yang tepat pada dewasa.
     
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Komunikasi Dewasa ?
2.      Bagaimana suasana komunikasi pada klien dewasa?
3.      Bagaimana penerapan model-model komunikasi pada klien dewasa?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui bagaimana komunikasi dewasa.
2.        Untuk mengetahui bagaimana suasana komunikasi pada klien dewasa.
3.      Untuk mengetahui bagaimana penerapan model-model komunikasi pada klien dewasa.

       D. Manfaat
1.      ingga mempermudah mengetahui bagaimana komunikasi dewasa.
2.      Sehingga mempermudah mengetahui bagaimana suasana komunikasi pada klien dewasa.
3.       Sehingga mempermudah mengetahui bagaimana model-model komunikasi pada klien dewasa.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Komunikasi  Dewasa
 Pada orang dewasa, mereka mempunyai sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang lama menetap dalam dirinya sehingga untuk merubah perilakunya sangat sulit. oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi yang tepat aar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif. Bertolak dari hal tersebut kami mencoba membuat makalah yang mencoba untuk menerapkan model konsep kornunikasi yang tepat pada klien dewasa.
Menurut Ericsson 1985, pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi vs isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih, minat, masalah dengan orang lain.
Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap tertentu, pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama menetap dalam dirinya, sehingga tidak mudah untuk mengubahnya. Juga Pengetahuan yang selarna ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan dengan pengetahuan baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu unfuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri ingin belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suaru perilaku lain di masa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku baru itu.
Dari segi psikologis, orang dewasa dalarn situasi. Komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu yairu :
1.      Komunikasi adalah suatu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih mutakhir.
2.      Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia punya perasaan dan pikiran.
3.      Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
B.     Suasana Komunikasi Pada Klien Dewasa
Dengan adanya faktor tersebut yang mempengaruhi efektifitas komunikasi orang dewasa, maka perhatian dicurahkan pada penciptaan suasana komunikasi yang diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa adalah :
1.      Suasana hormat menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila pendapat pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir dan mengemukakan pikirannya.
2.       Suasana saling menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dan mengesampingkan harga kendala dalam jalannya dianut perlu dihargai. Meremehkan diri mereka akan dapat menjadi komunikasi.
3.      Suasana saling percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya akan dapat membawa hasil yang diharapkan.
4.      Suasana saling terbuka
Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternatif dapat tergali.

Komunikasi verbal dan non verbal adalah saling mendukung satu sama lain. seperti pada anak-anak, perilaku non verbal sanna pentingnya pada orang dewasa. Ekspresi wajah, gerakan tubuh dan nada suara. memberi tanda tentang status emosional dari orang dewasa. Tetapi harus ditekankan bahwa orang dewasa mempunyai kendala pada hal-hal ini.

Orang dewasa yang dirawat di rumah sakit bisa merasa tidak berdaya, tidak aman dan tidak mampu ketika dikeiilingi oleh tokoh-tokoh yang berwenang. Status kemandirian mereka telah berubah menjadi status dimana orang lain yang memutuskan kapan mereka makan dan kapan mereka tidur. Ini merupakan pegalaman yang mengancam dirinya, dirnana orang dewasa tidak berdaya dan cemas, dan ini dapat terungkap dalam bentuk kemarahan dan agresi.
Dengan dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh para profesional, pasien dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari immobilitas biopsikososialnya untuk mencapai penerimaan terhadap masalahnya.


C.    Model-model Komunikasi pada Klien Dewasa

1.      Model Shanon & Weave
          Suatu model yang menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatan nya. Model ini melukiskan suatu sumber yang berupa sandi atau menciptakan pesan dan menyampaikan melalui suatu saluran kepada penerima. Dengan kata lain model shannon & weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk di komunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (Transmitter) mengubah pesan menjadi suatu signal yang sesuai dengan saluran yang digunakan.

Suatu konsep penting dalam model ini adalah adanya gangguan (Noise) yang dapat menganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Model Shannon-Weaver dapat diterapkan kepada konsep komunikasi interpersonal. Model ini memberikan keuntungan bahwa sumber informasi jelas dan berkompeten, pesan langsung kepada penerima tanpa perantara. Tetapi model ini juga mempunyai keterbatasan yaitu tidak terlihat nya hubungan tansaksional diantara sumber pesan dan penerima.

Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa :

Bila komunikasi ini diterapkan pada klien dewasa, klien akan lebih mudah untuk menerima penjelasan yang disampaikan karena tanpa adanya perantara yang dapat mengurangi kejelasan informasi. Tetapi tidak ada hubungan transaksional antara klien dan perawat, juga tidak ada feedback untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.

2.      Model Komunikasi Leary
Refleksi dari model komunikasi interaksi dari Leary  (1950) ini menggabungkan multidimensional yang ditekankan pada hubungan interaksional antara 2 (dua) orang, dimana antara individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi .
Leary mengamati tingkah laku klien, dimana didapatkan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dari gambaran model leary ; pesan komunikasi dapat terjadi dalam 2 dimensi: 1) Dominan -Submission, dan 2) Hate – love.

Model Leary dapat diterapkan di bidang kesehatan karena dalam bidang kesehatan ada keseimbangan kekuatan antara professional dengan klien. Selama beberapa tahun pasien akut ditempatkan pada peran submission dan profesi kesehatan selalu mondominasi peran dan klien ditempatkan dalam keadaan yang selalu patuh. Seharusnya dalam berkomunikasi ada keseimbangan asertif dalam menerima dan memberi antara pasien dan profesional.

     Penerapan Pada Klien Dewasa :

Bila model konsep ini diterapkan pada klien dewasa, peran dominan oleh perawat hanya mungkin dilakukan dalam keadaan darurat/akut untuk menyelamatkan kehidupan klien, sehingga klien harus patuh terhadap segala yang dilakukan perawat. Kita tidak dapat menerapkan posisi dominan ini pada klien dewasa yang dalarn keadaan kronik karena klien dewasa mempunyai komitmen yang kuat terhadap sikap dan pengetahuan yang kuat dan sukar untuk dirubah dalam waktu yang singkat. Feran Love yang berlebihan juga tidak boleh diterapkan terhadap klien dewasa, karena dapat mengubah konsep hubungan profesional yang dilakukan lebih kearah hubungan pribadi. Model ini menekankan pentingnya "Relationship" dalam membantu klien pada pelayanan kesehatan secara langsung. Komunikasi therapeutik adalah ketrampilan untuk mengatasi stress yang menghambat psikologikal dan belajar bagaimana berhubungan efektif dengan orang lain. Pada komunikasi ini perlu diterapkan kondisi empati, congruen (sesuai dengan situasi dan kondisi), dan penghargaan yang positif (positive regard). Sedangkan hasil yang diharapkan dari klien melalui model kornunikasi ini adalah adanya saling pengertian dan koping yang lebih efektif. Bila diterapkan pada klien dewasa dikondisikan untuk lebih mengarah pada kondisi dimana individu dewasa berada di dalam keadaan stress psikologis.
3. Model lnteraksi King
Model King memberikan penekanan pada proses komunikasi antara perawat - klien. King menggunakan sistem perspektif untuk menggambarkan bagaimana profesional kesehatan (perawat) untuk memberi bantuan kepada klien. Pada dasarnya model ini meyakinkan bahwa interaksi perawat - klien Secara simultan membuat keputusan tentang keadaan mereka dan tentang orang lain dan berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Keputusan berperan penting yang merangsang terjadi reaksi. Interaksi merupakan proses dinamis yang meliputi hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan dan tindakan perawat - klien. Transaksi adalah hubungan relationship yang timbal balik antaraperawar-klien seiama berpartisipasi. Feedback dalam model ini menunjukkan pentingnya arti hubungan perawat-klien.

   Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa:

Model ini sesuai untuk klien dewasa karena mempertimbangkan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik klien dewasa yang pada akhirnya bertujuan untuk menjalin transaksi. Adanya feedback menguntungkan untuk mengetahui sejauh mana informasi yang disampaikan dapat diterima jelas oleh klien atau untuk mengetahui ada tidaknya persepsi yang salah terhadap pesan yang disampaikan.

4. Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi ini difokuskan pada transaksi antara professional kesehatan - klien. 3 (tiga) faktor utama dalam proses komunikasi kesehatan yaitu : 1) Relationship, 2) Transaksi, dar 3) Konteks.

Hubungan Relationship dikondisikan untuk hubungan interpersonal, bagaimana seorang profesional dapat meyakinkan orang tersebut. Profesional kesehatan adalah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, training dan pengalaman dibidang kesehatan. Klien adalah individu yang diberikan pelayanan. orang lain (significant order) penting untuk mendukung terjadinya interaksi khususnya mendukung klien untuk mempertahankan kesehatan.
Transaksi merupakan kesepakatan interaksi antar partisipan di dalarn proses komunikasi tersebut. Konteks yaitu kornunikasi kesehatan yang memiliki topik utama tentang kesehatan klien dan biasanya disesuaikan dengan tempat dan situasi
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa : Model komunikasi ini juga dapat diterapkan pada klien dewasa ,karena profesional kesehatan ( perawat )               memperhatikan karakteristik dari klien yang akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain.     Transaksi yang dilakukan terjadi secara berkesinambungan, tidak statis dan umpan balik. Komunikasi ini juga melibatkan orang lain yang berpengaruh terhadap kesehatan klien. Konteks komunikasi disesuaikan dengan tujuan, jenis pelayanan yang diberikan.
Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa memerlukan suatu aturan tertentu seperti; sopan santun, bahasa tertentu, melihat tingkat pendidikan, usia, faktor budaya, nilai yang dianut, faktor psikologi, sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut agar ttdak terjadi kesalahpahaman. Pada komunikasi orang dewasa diupayakan agar perawat menerima pasien sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat menerima setiap orang berbeda satu dengan yang lain.
Berdasarkan pada hal tersebut diatas, model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada klien dewasa adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi kesehatan. Karena pada kedua model komunikasi ini menunjukkan hubungan relationship yang rnemperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerirna, serta adanya umpan balik untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik sehingga perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunitasi yang tepat untuk setiap karakteristik klien.
Orang dewasa memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang menetap dalam dirinya yang sukar untuk dirubah dalam waktu singkat sehingga perlu model komunikasi yang tepat agar tujuan dapat tercapai.
Model Konsep Komunikasi yang sesuai untuk klien dewasa adalah model interaksi King dan model komunikasi kesehatan yang menekankan hubungan relationship yang saling memberi dan menerima serta adanya feedback untuk mengevaluasi apakah informasi yang disampaikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

D. contoh  komunikasi modil king                

 PERAWAT     : Permisi, Selamat Siang Bu
 PASIEN          : Selamat Siang Sus
PERAWAT      : Bagaimana bu, sebaiknya ibu harus  banyak istirahat dan menjaga kesehatan ibu dan jangan terlalu kelelahan.
PASIEN           :Baik sus, akhir-akhir ini saya memang sibuk dengan pekerjaan saya,sehingga kurang istirahat. Baiklah sus saya akan menjaga kesehatan saya.
PERAWAT       :Baiklah bu,jika anda sudah mengerti kalau begitu saya permisi dulu bu.jika ada yang bisa saya bantu ibu dapat menghubungi saya di ruang jaga perawat. Permisi bu.
PASIEN          :Iya sus. Terima kasih sus.
PERAWAT     :Sama-sama bu. Permisi


E.  Contoh Komunikasi Model Shanon Dan Weaver

PERAWAT       : Permisi, selamat siang bu.
PASIEN            : Selamat siang sus.
PERAWAT       : Bagaimana keadaannya bu?
PASIEN              : Baik sus, saya rasa keadaan saya sekarang sudah lebih baik, tidak seperti dulu.
PERAWAT         Baguslah bu ,baiklah saya akan menjelaskan kepada ibu, cara mencegah agar penyakit maag ibu tidak kambuh lagi.Ibu,sebaiknya ibu menjaga pola makan ibu,agar teratur serta hindari makanan yang  pedas dan asam karena makanan tersebut dapat mengakibatkan iritasi lambung dan meningkatkan kadar asam lambung bu.
PASIEN            : Baik sus.
PERAWAT         : Apakah ibu sudah mengerti atau perlu saya jelaskan lagi?
PASIEN              : Saya rasa saya sudah mengerti sus, terima kasih sus.
PERAWAT       : Kalau begitu saya permisi dulu bu.
PASIEN            : Iya sus.

F.  Contoh Komunikasi Model Komunikasi Leary

PERAWAT                    : Selamat Siang!
KELUARGA PASIEN    : Selamat Siang Sus!
PERAWAT                       : Maaf sebelumnya,saya dewi yang ditugaskan untuk menangani pasien ini
KELUARGA PASIEN     : Iya sus,tolong cepat ditangani sus
PERAWAT                       : Baiklah, ibu tarik nafasnya bu,   lalu hembuskan
PASIEN                            :(pasien menarik nafas dan menghembuskan)
PERAWAT                       : Bu minum airnya dulu ya, supaya ibu agak tenang (sambil memberikan minum)
PASIEN                         :(Meminum air yang d berikan)
PEARWAT                       :Ibu sekarang silahkan ibu baring ditempat tidur ya, lukanya akan segera saya bersihkan!
PASIE                            : Iya sus
PERAWAT                       :Tahan posisinya ya bu,jangan goyang
PASIEN                         : Iya sus
PERAWAT                       : (Perawat membersihkan lukanya, 15 menit kemudian luka selesai      dibersihkan) Ibu lukanya sudah selesai di bersihkan, luka ibu ini dalam dan lebar bu,ini harus dijahit.
PASIEN                            : Iya sus,tapi saya tidak berani di jahit!
PERAWAT                       : Tapi ini harus di jahit,karena jika tidak dijahit lukanya ini,akan susah sembuh dan biasa-bisa terkena infeksi
PASIEN                         : Iya sus.
PERAWAT                      :Perawat menyuntikan bius, disekitar kaki yang luka, dan mulai menjahit, 20    menit kemudian luka selesai dijahit). Ibu lukanya sudah selesai dijahit, luka  ibu ini dijahit yaitu 4 jahitan.
PASIEN                         : Iya sus.
PERAWAT                       : Baiklah ibu, sekarang tugas saya sudah selesai. Ibu dan keluarga biasa  menunggu menunggu diruangan ini dulu, perawat linda akan segera dating memberikan resep obat yang akan ditebus, dan pembayarannya keluarga bias langsung ke ruang administrasi.
KELUARGA PASIEN  : Iya sus,terimakasih.
PERAWAT                    :sama-sama . saya permisi dulu, selamat siang
PASIEN&KELUARGA : Iya sus, selamat siang.

G.    Contoh Komunikasi Kesehatan

ANALIS KESEHATAN
Selamat siang dok


DOKTER
Selamat siang


ANALIS KESEHATAN

Dok, dari hasil pemeriksaan laboratorium pasien yang berada di kamar  1 menderita penyakit kecacingan, karena saya  menemukan ada telur    cacing
acraris lumricoides pada feses pasien tersebut.
Dokter
Baiklah, berikan obat mibendazol dan pastikan agar pasien tersebut rutin Meminum obat tersebut selama 7 hari.


Analis Kesehatan
Baik dok, permisi






CONTOH KASUS
TAHAP PRE-INTERAKSI
Pada hari selasa 12 februari 2019 pasien bernama Riska erumur 21 tahun sebagai Mahasiswa tingkat akhir masuk rumah sakit Husada Utama di diagnosa medis gangguan cairan atau dehidrasi stadium sedang. Perawat telah membuat janji pada hari selasa 12 februari 2019 pukul 09:00 pagi.
Perawat IGD     :  pagi bu, benar anda ibu klien  ?
Ibu pasien         :  ya sus, kenapa?bagaimana keadaan anak saya, nanti dia masuk di ruangan mana?
Perawat IGD    :  keadaanya saat ini masih lemah bu, dia dehidrasi berat apa lagi dia diare, anak    ibu nanti akan masuk ruangan interna. Oh ia sejak kapan anak ibu keadaanya lemah  dan kira- kira sudah berapa kali dia buang air besar
Ibu pasien        :  baru kemarin sus dia seperti ini, saya kaget saat dia BAB terus, mungkin sekitar 7 kali dan hari  ini sekitar 4  kali, kadang dia juga muntah.
Perawat IGD    :  terakhir  sebelum masuk rumah sakit, makanan apa yang dia makan ?
Ibu pasien        :  setahu saya sejak dia pulang dari kampus dia sudah seperti ini.
Perawat IGD    :  terima kasih bu atas informasinya, silahkan tunggu ya bu, nanti kami antar keruangan  rawat inap.
Ibu pasien        :  iya sus.
•  Mengumpulkan data pasien
·   Kondisi Klien                          →        Diare
·   Diagnose Keperawatan           →        Gangguan rasa nyaman di bagian abdomen
·  Tujuan Khusus                        →        Mengurangi rasa nyeri
· Data Subyektif                        →        klien merasa sakit di bagian abdomen, demam, lemas
· Data Obyektif                                     →        Klien tampak lemas pucat, mulut dan bibir klien       terlihat kering, mata klien terlihat cekung.
·   TTV                                         →        38 C
·   TD                                           →        90/60 mmHg
N : 70x/menit
R : 40x/menit
S : 38,5˚C
·  Tindakan keperawatan            →        Pemeriksaan lab, pemeriksaan TTV, pemberian obat oral dan injeksi.
Perawat  IGD  mulai membicarakan kasus pasien baru dengan   CCM
CCM                 :  saya sudah berdiskusi dengan dokter dan kepala ruangan, dokter mendiagnosaklien diare dehidrasi,  oleh sebab itu,klien sudah tepat  di ruangan interna berdasarkan data klien dan diagnosa penyakitnya, sebaiknya segera hubungi, ruangan interna.
Perwat IGD          :  baiklah, saya akan hubungi  ruangan interna ( PP melapor ke ruangan interna tentang PBM dan diagnosanya untuk disediakan tempat).
CCM                   :  sediakan persiapan  klien,beritahu keluarga klien anaknya akan di bawah ke ruangan interna ( Instruksi kepada PA dan CI ).
Perawat IGD        :  baiklah (Perawat  mengantar klien dan keluarganya ke ruangan interna).
Perawat IGD kembali menemui Ibu pasien.
Perawat IGD         :  mari bu, ikut saya ke ruang  rawatinap,silahkan bawa barang2 ibu.
Ibu pasien              :  baik sus( klien  dan keluarganya segera  di antar ke ruangan interna sementara di ruangan interna menyiapkan ruangan untuk klien ).
FASE ORIENTASI
Perawat       : Assalamualaikum…
Pasien         : Waalaikumsalam…
Perawat           : hallo mbak, saya Dwi kartika puspita sari, mbak bisa memanngil saya suster dwi saya mahasiswi dari AKES RAJEKWESI BOJONEGORO, apakah benar ini dengan mbak Riska Damayanti?
Pasien              : iya sus benar
Perawat           : oh iya mbak, mbak lebih suka dengan panggilan apa ?
Pasien              : riska saja supaya lebih akrab
Perawat           : Baik mbak riska  hari ini saya akan merawat mbak dari pukul 07.00-14.00 siang nanti jadi kalua ada masalah atau keluhan mbak dapat menginformasikannya pada saya.
Pasien              : Oh iya baik sus
Perawat           : yasudah mbak, mbak istirahat dulu ya, saya permisi dulu
Pada siang harinya perawat kembali keruangan pasien
Perawat           :bagaimana perasaan mbak hari ini ?
Pasien              :Alhamdulillah sus sekarang sudah membaik
Perawat           : Iya syukurlah mbak, kalau begitu apa yang mbak keluhkan hari ini ?
Pasien                          : Iya sus yang saya keluhkan saat ini saya masih merasa lemas
Perawat           : Oh iya mbak, sesuai dengan perjanjian kita kemarin saya akan memberikan mbak pengetahuan    tentang diare, apakah mbak bersedia ?
Pasien              : Iya sus saya bersedia
Perawat           : Tempatnya mau dimana mbak ?
Pasien              : Disini saja sus
Perawat           : Iya baik mbak, posisinya mbak mau duduk apa tiduran saja ?
Pasien              : Duduk saja sus
Perawat           : (Posisikan) baik mbak, saya minta waktunya kurang lebih 10-15 menit untuk melakukan penyampaian materi tentang penyakit diare
Pasien              : Iya suster
FASE KERJA
Perawat           :  apa yang terjadi sehingga mbak masuk ke ruah sakit ?
Pasien                          : Sebelum saya masuk ke rumah sakit badan saya lemas saya buang air besar terus menerus suster
Perawat           : Memang yang menyebabkan mbak buang air besar terus menerus apa mbak ?
Pasien                          : Tidak tahu sus, tiba-tiba saja saya buang air besar terus menerus sus
Perawat           : Oh iya mbak, sebelum kita mulai apakah ada yang mbak ingin tanyakan ?
Pasien              : Tidak sus
Perawat           : Kalau begitu kita mulai saja yah mbak
(Pemberian Materi)
FASE TERMINASI
Perawat           : Nah mbak, setelah yang saya jelaskan tadi apakah mbak sudah mengerti ?
Pasien              : Iya sus saya sudah mengerti
Perawat           : Kalau mbak sudah mengerti, coba sebutkan gejala diare apa saja ?
Pasien              : (menyebutkan)
Perawat           : Iya bagus mbak, berarti mbak sudah memahaminya. Alhamdulillah mbak penjelasannya sudah selesai, bagaimana perasaan mbak  setelah mengetahui tentang gejala diare ?
Pasien              : Saya senang sus
Perawat           : mbak saya besok akan memberikan pengetahuan tentang pola makan yang sehat apakah mbak bersedia ?
Pasien              : Iya sus saya bersedia
Perawat           : Waktu dan tempatnya mau dimana mbak ?
Pasien                          : Disini sus dan waktunya seperti tadi saja jam 09.00
Perawat           : Baik mbak, sekarang mbak bias beristirahat kembali
Pasien              : Iya sus, terimakasih banyak yah
Perawat           : Sama-sama mbak, semoga mbak lekas sembuh
Saya pamit yah mbak, Assalamualaikum…
Pasien              : Waalaikumsallam…,













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan, melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar manusia.
Suasana komunikasi pada klien dewasa antara lain : suasana hormat menghormati, suasana saling menghargai, suasana saling percaya, dan suasana saling terbuka.
Model-model komunikasi pada klien dewasa yaitu : model komunikasi shanon dan weaver, model komunikasi leary, model komunikasi king, dan model komunikasi kesehatan.




B.     Saran
1.      Diharapkan kepada mahasiswa/mahasiswi agar dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan konikasi.
2.      Diharapkan kedapa mahasiswa/mahasiswi agar dapat mengetahui suasana dalam komunikasi pada klien dewasa.
3.      Diharapkan kepada  mahasiswa/mahasiswi adar dapat mengetahui model-model komunikasi pada klien dewasa.



DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ernawati. 2009. Komunikasi Keperawatan. Jakarta-Timur : TIM.

Ellis, R., Gates, R.,dan Kenworthy, N. 2000. Komunikasi Interpersonal dalam Keperawatan: Teori dan Praktik. Penerjemah: Susi Purwoko. Jakarta: EGC.

Mundakir. (2006). Komunikasi Keperawatan: aplikasi dalam pelayanan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Nasir, Abdul. 2009. Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)