KATA PENGANTAR
Puji syukur
Kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
Kami di berikan kesehatan dan kesempatan dalam menyelesaikan makalah komunikasi
ini.
Tak lupa
Kami ucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah
ini yang tidak dapat Kami ucapkan satu persatu sehingga makalah ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Di dalam
makalah ini kami menyadari banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat Kami harapkan agar menjadikan makalah ini lebih
baik lagi.
Kendari,
23 April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................. 3
C. Tujuan................................................................................................... 3
D. Manfaat................................................................................................ 4
BAB II : PEMBAHASAN................................................................... 5
A.
Pengertian Komunikasi................................................................ 5
B.
Suasana Komunikasi Pada Klien
Dewasa............................... 7
C.
Model-model Komunikasi Pada
Klien Dewasa.................... 9
BAB III : PENUTUP
........................................................................... 31
A.
Kesimpulan.................................................................................... 31
B.
Saran................................................................................................ 32
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sebagai
mahluk social, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan orang lain. Ia
ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang
terjadi pada dirinya. Rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia untuk
berkomunikasi.
Komunikasi
merupakan bagian kekal bagi manusia seperti halnya bernafas. Sepanjang manusia
ingin hidup, maka ia perlu komunikasi. Komunikasi merupakan kebutuhan yang
sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat karena tanpa adanya
komunikasi masyarakat tidak akan terbentuk. Adanya komunikasi disebabkan
oleh adanya bkebutuhan akan
mempertahankan kelangsungan hidup dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkunngannya. Dalam berkomunikasi keberhasilan komunikator atau komunikan
sangat ditentuka.n oleh beberapa factor yaitu : cakap, pengetahuan, sikap,
system social, kondisi lahiriah.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus-menerus.
Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melaksanakan, kegiatan-kegiatan tertentu
dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan
maupun hunbungan antar manusia Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Bidang tenaga kesehatan serta perubahan konsep petugas kesehatan dari perawatan orang sakit
secara individual kepada perawatan paripurna serta peralihan dari pendekatan
yang berorientasi medis penyakit kemodel penyakit yang berfokus pada orang yang
bersifat pribadi menyebabkan komunikasi menjadi lebih penting dalam memberikan
asuhan.
Petugas kesehatan dituntut
untuk menerapkan model komunikasi yang tepat dan disesuaikan dengan tahap
perkembangan pasien. Pada orang dewasa mereka mempunyai sikap,pengetahuan dan
keterampilan yang lama menetap dalam dirinya sehingga untuk merubah perilakunya
sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi yang tepat
agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif. Bertolak dari hal
tersebut kami mencoba membuat makalah yang mencoba menerapkan model konsep
komunikasi yang tepat pada dewasa.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Komunikasi Dewasa ?
2. Bagaimana suasana komunikasi pada klien dewasa?
3. Bagaimana penerapan model-model komunikasi pada klien dewasa?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui bagaimana komunikasi dewasa.
2. Untuk mengetahui bagaimana suasana komunikasi pada klien dewasa.
3. Untuk mengetahui bagaimana penerapan model-model komunikasi pada klien
dewasa.
D. Manfaat
1. ingga
mempermudah mengetahui bagaimana komunikasi dewasa.
2. Sehingga mempermudah mengetahui bagaimana suasana komunikasi pada klien
dewasa.
3. Sehingga mempermudah mengetahui
bagaimana model-model komunikasi pada klien dewasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Komunikasi Dewasa
Pada orang
dewasa, mereka mempunyai sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang lama menetap
dalam dirinya sehingga untuk merubah perilakunya sangat sulit. oleh sebab itu
perlu kiranya suatu model komunikasi yang tepat aar tujuan komunikasi dapat
tercapai dengan efektif. Bertolak dari hal tersebut kami mencoba membuat
makalah yang mencoba untuk menerapkan model konsep kornunikasi yang tepat pada
klien dewasa.
Menurut Ericsson 1985, pada orang dewasa terjadi
tahap hidup intimasi vs isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu
belajar membagi perasaan cinta kasih, minat, masalah dengan orang lain.
Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap
tertentu, pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama
menetap dalam dirinya, sehingga tidak mudah untuk mengubahnya. Juga Pengetahuan
yang selarna ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan
dengan pengetahuan baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya
orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh
karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu
unfuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia
sendiri ingin belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang
sekarang, maka menginginkan suaru perilaku lain di masa mendatang, lalu
mengambil langkah untuk mencapai perilaku baru itu.
Dari segi psikologis, orang dewasa dalarn
situasi. Komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu yairu :
1. Komunikasi adalah suatu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu
sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari
pengetahuan yang lebih mutakhir.
2. Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia
punya perasaan dan pikiran.
3. Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan
menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling
mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
B.
Suasana Komunikasi Pada Klien Dewasa
Dengan adanya faktor tersebut
yang mempengaruhi efektifitas komunikasi orang dewasa, maka perhatian
dicurahkan pada penciptaan suasana komunikasi yang diharapkan dapat mencapai
tujuan yang diinginkan. Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa adalah :
1. Suasana hormat
menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila pendapat
pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir dan
mengemukakan pikirannya.
2. Suasana saling
menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dan
mengesampingkan harga kendala dalam jalannya dianut perlu dihargai. Meremehkan
diri mereka akan dapat menjadi komunikasi.
3. Suasana saling
percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang
disampaikan itu benar adanya akan dapat membawa hasil yang diharapkan.
4. Suasana saling terbuka
Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan orang lain.
Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternatif dapat tergali.
Komunikasi verbal dan non verbal
adalah saling mendukung satu sama lain. seperti pada anak-anak, perilaku non
verbal sanna pentingnya pada orang dewasa. Ekspresi wajah, gerakan tubuh dan
nada suara. memberi tanda tentang status emosional dari orang dewasa. Tetapi
harus ditekankan bahwa orang dewasa mempunyai kendala pada hal-hal ini.
Orang dewasa yang dirawat di
rumah sakit bisa merasa tidak berdaya, tidak aman dan tidak mampu ketika dikeiilingi oleh tokoh-tokoh
yang berwenang. Status kemandirian mereka telah berubah menjadi status dimana
orang lain yang memutuskan kapan mereka makan dan kapan mereka tidur. Ini
merupakan pegalaman yang mengancam dirinya, dirnana orang dewasa tidak berdaya
dan cemas, dan ini dapat terungkap dalam bentuk kemarahan dan agresi.
Dengan dilakukan komunikasi yang
sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh para profesional, pasien
dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari immobilitas biopsikososialnya untuk
mencapai penerimaan terhadap masalahnya.
C.
Model-model Komunikasi pada Klien Dewasa
1. Model Shanon & Weave
Suatu model
yang menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatan nya.
Model ini melukiskan suatu sumber yang berupa sandi atau menciptakan pesan dan
menyampaikan melalui suatu saluran kepada penerima. Dengan kata lain model
shannon & weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk
di komunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar
(Transmitter) mengubah pesan menjadi suatu signal yang sesuai dengan saluran
yang digunakan.
Suatu konsep penting dalam model
ini adalah adanya gangguan (Noise) yang dapat menganggu kecermatan pesan yang
disampaikan. Model Shannon-Weaver dapat diterapkan kepada konsep komunikasi
interpersonal. Model ini memberikan keuntungan bahwa sumber informasi jelas dan
berkompeten, pesan langsung kepada penerima tanpa perantara. Tetapi model ini
juga mempunyai keterbatasan yaitu tidak terlihat nya hubungan tansaksional
diantara sumber pesan dan penerima.
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa :
Bila komunikasi ini diterapkan
pada klien dewasa, klien akan lebih mudah untuk menerima penjelasan yang
disampaikan karena tanpa adanya perantara yang dapat mengurangi kejelasan
informasi. Tetapi tidak ada hubungan transaksional antara klien dan perawat,
juga tidak ada feedback untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.
2. Model Komunikasi Leary
Refleksi dari model komunikasi
interaksi dari Leary (1950) ini menggabungkan multidimensional yang ditekankan pada hubungan
interaksional antara 2 (dua) orang, dimana antara individu saling mempengaruhi
dan dipengaruhi .
Leary mengamati tingkah laku
klien, dimana didapatkan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh lingkungan
sekitar. Dari gambaran model leary ; pesan komunikasi dapat terjadi dalam 2
dimensi: 1) Dominan -Submission, dan 2) Hate – love.
Model Leary dapat diterapkan di
bidang kesehatan karena dalam bidang kesehatan ada keseimbangan kekuatan antara
professional dengan klien. Selama beberapa tahun pasien akut ditempatkan pada
peran submission dan profesi kesehatan selalu mondominasi peran dan klien
ditempatkan dalam keadaan yang selalu patuh. Seharusnya dalam berkomunikasi ada
keseimbangan asertif dalam menerima dan memberi antara pasien dan profesional.
Penerapan Pada Klien Dewasa :
Bila model konsep ini diterapkan pada klien dewasa, peran dominan oleh
perawat hanya mungkin dilakukan dalam keadaan darurat/akut untuk menyelamatkan
kehidupan klien, sehingga klien harus patuh terhadap segala yang dilakukan
perawat. Kita tidak dapat menerapkan posisi dominan ini pada klien dewasa yang
dalarn keadaan kronik karena klien dewasa mempunyai komitmen yang kuat terhadap
sikap dan pengetahuan yang kuat dan sukar untuk dirubah dalam waktu yang
singkat. Feran Love yang berlebihan juga tidak boleh diterapkan terhadap klien
dewasa, karena dapat mengubah konsep hubungan profesional yang dilakukan lebih
kearah hubungan pribadi. Model ini menekankan pentingnya "Relationship" dalam membantu
klien pada pelayanan kesehatan secara langsung. Komunikasi therapeutik adalah
ketrampilan untuk mengatasi stress yang menghambat psikologikal dan belajar
bagaimana berhubungan efektif dengan orang lain. Pada komunikasi ini perlu diterapkan kondisi empati, congruen (sesuai
dengan situasi dan kondisi), dan penghargaan yang positif (positive regard).
Sedangkan hasil yang diharapkan dari klien melalui model kornunikasi ini adalah
adanya saling pengertian dan koping yang lebih efektif. Bila diterapkan pada klien dewasa dikondisikan untuk lebih mengarah pada
kondisi dimana individu dewasa berada di dalam keadaan stress psikologis.
3. Model lnteraksi King
Model King memberikan penekanan
pada proses komunikasi antara perawat - klien. King menggunakan sistem
perspektif untuk menggambarkan bagaimana profesional kesehatan (perawat) untuk
memberi bantuan kepada klien. Pada dasarnya model ini meyakinkan bahwa
interaksi perawat - klien Secara simultan
membuat keputusan tentang keadaan mereka dan tentang orang lain dan berdasarkan
persepsi mereka terhadap situasi.
Keputusan berperan penting yang
merangsang terjadi reaksi. Interaksi merupakan proses dinamis yang meliputi
hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan dan tindakan perawat - klien.
Transaksi adalah hubungan relationship yang timbal balik antaraperawar-klien
seiama berpartisipasi. Feedback dalam model ini menunjukkan pentingnya arti
hubungan perawat-klien.
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa:
Model ini sesuai untuk klien
dewasa karena mempertimbangkan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik klien
dewasa yang pada akhirnya bertujuan untuk menjalin transaksi. Adanya feedback
menguntungkan untuk mengetahui sejauh mana informasi yang disampaikan dapat
diterima jelas oleh klien atau untuk mengetahui ada tidaknya persepsi yang
salah terhadap pesan yang disampaikan.
4. Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi ini difokuskan pada
transaksi antara professional kesehatan - klien. 3 (tiga) faktor utama dalam
proses komunikasi kesehatan yaitu : 1) Relationship, 2) Transaksi, dar 3)
Konteks.
Hubungan Relationship dikondisikan
untuk hubungan interpersonal, bagaimana seorang profesional dapat meyakinkan
orang tersebut. Profesional kesehatan adalah seorang yang memiliki latar
belakang pendidikan kesehatan, training dan pengalaman dibidang kesehatan.
Klien adalah individu yang diberikan pelayanan. orang lain (significant order)
penting untuk mendukung terjadinya interaksi khususnya mendukung klien untuk
mempertahankan kesehatan.
Transaksi merupakan kesepakatan
interaksi antar partisipan di dalarn proses komunikasi tersebut. Konteks yaitu kornunikasi kesehatan yang memiliki topik utama tentang
kesehatan klien dan biasanya disesuaikan dengan tempat dan situasi
Penerapannya terhadap komunikasi
klien dewasa : Model
komunikasi ini juga dapat diterapkan pada klien dewasa ,karena profesional
kesehatan ( perawat ) memperhatikan karakteristik dari klien yang akan mempengaruhi interaksinya
dengan orang lain. Transaksi yang dilakukan terjadi secara berkesinambungan, tidak statis dan
umpan balik. Komunikasi ini juga melibatkan orang lain yang berpengaruh
terhadap kesehatan klien. Konteks komunikasi disesuaikan dengan tujuan, jenis
pelayanan yang diberikan.
Dalam berkomunikasi dengan orang
dewasa memerlukan suatu aturan tertentu seperti; sopan santun, bahasa tertentu,
melihat tingkat pendidikan, usia, faktor budaya, nilai yang dianut, faktor
psikologi, sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut agar ttdak
terjadi kesalahpahaman. Pada komunikasi orang dewasa diupayakan agar perawat
menerima pasien sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat menerima
setiap orang berbeda satu dengan yang lain.
Berdasarkan pada hal tersebut
diatas, model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada klien
dewasa adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi kesehatan.
Karena pada kedua model komunikasi ini menunjukkan hubungan relationship yang
rnemperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerirna,
serta adanya umpan balik untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.
Komunikasi merupakan alat yang
efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik
sehingga perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunitasi yang
tepat untuk setiap karakteristik klien.
Orang dewasa memiliki
pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang menetap dalam dirinya yang sukar untuk
dirubah dalam waktu singkat sehingga perlu model komunikasi yang tepat agar
tujuan dapat tercapai.
Model Konsep Komunikasi yang
sesuai untuk klien dewasa adalah model interaksi King dan model komunikasi
kesehatan yang menekankan hubungan relationship yang saling memberi dan
menerima serta adanya feedback untuk mengevaluasi apakah informasi yang
disampaikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
D. contoh komunikasi modil king
PERAWAT : Permisi, Selamat Siang Bu
PASIEN : Selamat
Siang Sus
PERAWAT : Bagaimana
bu, sebaiknya ibu harus banyak istirahat
dan menjaga kesehatan ibu dan jangan terlalu kelelahan.
PASIEN :Baik sus, akhir-akhir ini saya memang sibuk dengan pekerjaan saya,sehingga
kurang istirahat.
Baiklah sus saya akan menjaga kesehatan saya.
PERAWAT :Baiklah bu,jika anda sudah mengerti kalau begitu saya permisi dulu bu.jika
ada yang bisa saya bantu ibu dapat menghubungi saya di ruang jaga perawat.
Permisi bu.
PASIEN :Iya sus. Terima kasih sus.
PERAWAT :Sama-sama
bu. Permisi
E. Contoh Komunikasi Model Shanon Dan Weaver
PERAWAT : Permisi, selamat siang bu.
PASIEN : Selamat siang sus.
PERAWAT : Bagaimana keadaannya bu?
PASIEN : Baik sus, saya
rasa keadaan saya sekarang sudah lebih baik, tidak seperti dulu.
PERAWAT : Baguslah bu ,baiklah saya akan menjelaskan kepada ibu, cara mencegah agar penyakit maag ibu tidak
kambuh lagi.Ibu,sebaiknya ibu menjaga pola makan ibu,agar teratur serta hindari
makanan yang pedas dan asam karena
makanan tersebut dapat mengakibatkan iritasi lambung dan meningkatkan kadar
asam lambung bu.
PASIEN : Baik sus.
PERAWAT : Apakah ibu sudah
mengerti atau perlu saya jelaskan lagi?
PASIEN : Saya rasa saya
sudah mengerti sus, terima kasih sus.
PERAWAT : Kalau begitu saya permisi dulu bu.
PASIEN : Iya sus.
F. Contoh Komunikasi Model
Komunikasi Leary
PERAWAT : Selamat
Siang!
KELUARGA PASIEN : Selamat Siang Sus!
PERAWAT : Maaf sebelumnya,saya
dewi yang ditugaskan untuk menangani pasien ini
KELUARGA PASIEN : Iya sus,tolong cepat ditangani sus
PERAWAT : Baiklah, ibu tarik
nafasnya bu, lalu hembuskan
PASIEN :(pasien menarik
nafas dan menghembuskan)
PERAWAT : Bu minum airnya dulu ya, supaya ibu agak tenang (sambil memberikan minum)
PASIEN :(Meminum
air yang d berikan)
PEARWAT :Ibu
sekarang silahkan ibu baring ditempat tidur ya, lukanya akan segera saya
bersihkan!
PASIE : Iya sus
PERAWAT :Tahan
posisinya ya bu,jangan goyang
PASIEN :
Iya sus
PERAWAT :
(Perawat membersihkan lukanya, 15 menit kemudian luka selesai dibersihkan) Ibu lukanya sudah selesai di
bersihkan, luka ibu ini dalam dan lebar bu,ini harus dijahit.
PASIEN :
Iya sus,tapi saya tidak berani di jahit!
PERAWAT : Tapi
ini harus di jahit,karena jika tidak dijahit lukanya ini,akan susah sembuh dan
biasa-bisa terkena infeksi
PASIEN :
Iya sus.
PERAWAT :Perawat menyuntikan bius, disekitar kaki
yang luka, dan mulai menjahit, 20
menit kemudian luka selesai dijahit). Ibu lukanya sudah selesai dijahit,
luka ibu ini dijahit yaitu 4 jahitan.
PASIEN :
Iya sus.
PERAWAT :
Baiklah ibu, sekarang tugas saya sudah selesai. Ibu dan keluarga biasa menunggu menunggu diruangan ini dulu, perawat
linda akan segera dating memberikan resep obat yang akan ditebus, dan
pembayarannya keluarga bias langsung ke ruang administrasi.
KELUARGA PASIEN : Iya
sus,terimakasih.
PERAWAT :sama-sama .
saya permisi dulu, selamat siang
PASIEN&KELUARGA : Iya sus,
selamat siang.
G.
Contoh Komunikasi Kesehatan
|
ANALIS KESEHATAN
|
Selamat siang dok
|
|
|
|
DOKTER
|
Selamat siang
|
|
|
|
ANALIS KESEHATAN
|
|
Dok, dari hasil pemeriksaan
laboratorium pasien yang berada di kamar
1 menderita penyakit kecacingan, karena saya menemukan ada telur cacing
|
acraris lumricoides pada
feses pasien tersebut.
|
|
Dokter
|
Baiklah, berikan obat
mibendazol dan pastikan agar pasien tersebut rutin Meminum obat tersebut
selama 7 hari.
|
|
|
|
Analis Kesehatan
|
Baik dok, permisi
|
|
|
CONTOH
KASUS
TAHAP PRE-INTERAKSI
Pada hari selasa 12
februari 2019 pasien bernama Riska erumur 21 tahun sebagai Mahasiswa tingkat
akhir masuk rumah sakit Husada Utama di diagnosa medis gangguan cairan atau
dehidrasi stadium sedang. Perawat telah membuat janji pada hari selasa 12
februari 2019 pukul 09:00 pagi.
Perawat IGD : pagi
bu, benar anda ibu klien ?
Ibu
pasien : ya sus,
kenapa?bagaimana keadaan anak saya, nanti dia masuk di ruangan mana?
Perawat
IGD : keadaanya saat ini masih lemah bu, dia dehidrasi
berat apa lagi dia diare, anak ibu nanti akan masuk ruangan
interna. Oh ia sejak kapan anak ibu keadaanya lemah dan kira- kira sudah
berapa kali dia buang air besar
Ibu
pasien : baru kemarin sus dia
seperti ini, saya kaget saat dia BAB terus, mungkin sekitar 7 kali dan
hari ini sekitar 4 kali, kadang dia juga muntah.
Perawat
IGD : terakhir sebelum masuk rumah sakit, makanan
apa yang dia makan ?
Ibu
pasien : setahu saya sejak dia
pulang dari kampus dia sudah seperti ini.
Perawat
IGD : terima kasih bu atas informasinya, silahkan
tunggu ya bu, nanti kami antar keruangan rawat inap.
Ibu
pasien : iya sus.
• Mengumpulkan data pasien
· Kondisi
Klien
→ Diare
· Diagnose
Keperawatan
→ Gangguan rasa nyaman di bagian
abdomen
· Tujuan
Khusus
→ Mengurangi
rasa nyeri
· Data Subyektif
→ klien merasa sakit di bagian
abdomen, demam, lemas
· Data
Obyektif
→ Klien tampak lemas pucat, mulut dan
bibir klien terlihat kering, mata klien
terlihat cekung.
·
TTV
→ 38 C
· TD
→ 90/60 mmHg
N : 70x/menit
R : 40x/menit
S : 38,5˚C
· Tindakan
keperawatan
→ Pemeriksaan lab, pemeriksaan TTV,
pemberian obat oral dan injeksi.
Perawat IGD
mulai membicarakan kasus pasien baru dengan CCM
CCM
: saya sudah berdiskusi dengan dokter dan kepala ruangan, dokter
mendiagnosaklien diare dehidrasi, oleh sebab itu,klien sudah tepat
di ruangan interna berdasarkan data klien dan diagnosa penyakitnya, sebaiknya
segera hubungi, ruangan interna.
Perwat
IGD : baiklah, saya
akan hubungi ruangan interna ( PP melapor ke ruangan interna tentang PBM
dan diagnosanya untuk disediakan tempat).
CCM
: sediakan persiapan klien,beritahu keluarga klien anaknya akan di
bawah ke ruangan interna ( Instruksi kepada PA dan CI ).
Perawat
IGD : baiklah
(Perawat mengantar klien dan keluarganya ke ruangan interna).
Perawat IGD kembali menemui Ibu pasien.
Perawat
IGD : mari bu, ikut
saya ke ruang rawatinap,silahkan bawa barang2 ibu.
Ibu
pasien
: baik sus( klien dan keluarganya segera di antar ke ruangan
interna sementara di ruangan interna menyiapkan ruangan untuk klien ).
FASE ORIENTASI
Perawat :
Assalamualaikum…
Pasien
: Waalaikumsalam…
Perawat : hallo mbak, saya Dwi kartika
puspita sari, mbak bisa memanngil saya suster dwi saya mahasiswi dari AKES
RAJEKWESI BOJONEGORO, apakah benar ini dengan mbak Riska Damayanti?
Pasien :
iya sus benar
Perawat : oh iya mbak, mbak lebih suka dengan
panggilan apa ?
Pasien
: riska saja supaya lebih akrab
Perawat
: Baik mbak riska hari ini saya akan merawat mbak dari pukul 07.00-14.00
siang nanti jadi kalua ada masalah atau keluhan mbak dapat menginformasikannya
pada saya.
Pasien :
Oh iya baik sus
Perawat
: yasudah mbak, mbak
istirahat dulu ya, saya permisi dulu
Pada siang harinya perawat kembali keruangan
pasien
Perawat :bagaimana
perasaan mbak hari ini ?
Pasien :Alhamdulillah
sus sekarang sudah membaik
Perawat : Iya syukurlah mbak, kalau begitu
apa yang mbak keluhkan hari ini ?
Pasien : Iya sus yang saya
keluhkan saat ini saya masih merasa lemas
Perawat : Oh iya mbak, sesuai dengan perjanjian
kita kemarin saya akan memberikan mbak pengetahuan tentang
diare, apakah mbak bersedia ?
Pasien :
Iya sus saya bersedia
Perawat :
Tempatnya mau dimana mbak ?
Pasien :
Disini saja sus
Perawat : Iya baik mbak, posisinya mbak mau
duduk apa tiduran saja ?
Pasien :
Duduk saja sus
Perawat : (Posisikan) baik mbak, saya minta
waktunya kurang lebih 10-15 menit untuk melakukan penyampaian materi tentang
penyakit diare
Pasien :
Iya suster
FASE KERJA
Perawat : apa yang terjadi sehingga
mbak masuk ke ruah sakit ?
Pasien : Sebelum saya masuk
ke rumah sakit badan saya lemas saya buang air besar terus menerus suster
Perawat : Memang yang menyebabkan mbak buang
air besar terus menerus apa mbak ?
Pasien : Tidak tahu sus,
tiba-tiba saja saya buang air besar terus menerus sus
Perawat : Oh iya mbak, sebelum kita mulai
apakah ada yang mbak ingin tanyakan ?
Pasien :
Tidak sus
Perawat :
Kalau begitu kita mulai saja yah mbak
(Pemberian Materi)
FASE TERMINASI
Perawat : Nah mbak, setelah yang saya
jelaskan tadi apakah mbak sudah mengerti ?
Pasien :
Iya sus saya sudah mengerti
Perawat : Kalau mbak sudah mengerti, coba
sebutkan gejala diare apa saja ?
Pasien :
(menyebutkan)
Perawat : Iya bagus mbak, berarti mbak sudah
memahaminya. Alhamdulillah mbak penjelasannya sudah selesai, bagaimana perasaan
mbak setelah mengetahui tentang gejala diare ?
Pasien :
Saya senang sus
Perawat : mbak saya besok akan memberikan
pengetahuan tentang pola makan yang sehat apakah mbak bersedia ?
Pasien :
Iya sus saya bersedia
Perawat :
Waktu dan tempatnya mau dimana mbak ?
Pasien : Disini sus dan
waktunya seperti tadi saja jam 09.00
Perawat : Baik mbak, sekarang mbak bias
beristirahat kembali
Pasien :
Iya sus, terimakasih banyak yah
Perawat : Sama-sama mbak, semoga mbak lekas
sembuh
Saya pamit yah mbak,
Assalamualaikum…
Pasien :
Waalaikumsallam…,
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi merupakan alat yang
efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi
dikembangkan dan dipelihara secara terus menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan, melaksanakan
kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik
komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar manusia.
Suasana komunikasi pada klien
dewasa antara lain : suasana hormat menghormati, suasana saling menghargai,
suasana saling percaya, dan suasana saling terbuka.
Model-model komunikasi pada
klien dewasa yaitu : model komunikasi shanon dan weaver, model komunikasi
leary, model komunikasi king, dan model komunikasi kesehatan.
B. Saran
1.
Diharapkan
kepada mahasiswa/mahasiswi agar dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud
dengan konikasi.
2.
Diharapkan
kedapa mahasiswa/mahasiswi agar dapat mengetahui suasana dalam komunikasi pada
klien dewasa.
3.
Diharapkan
kepada mahasiswa/mahasiswi adar dapat
mengetahui model-model komunikasi pada klien dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Dalami, Ernawati. 2009. Komunikasi
Keperawatan. Jakarta-Timur : TIM.
Ellis, R., Gates, R.,dan Kenworthy, N. 2000. Komunikasi Interpersonal
dalam Keperawatan: Teori dan Praktik. Penerjemah: Susi Purwoko. Jakarta:
EGC.
Mundakir. (2006). Komunikasi Keperawatan: aplikasi dalam pelayanan.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Nasir, Abdul. 2009. Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Komentar
Posting Komentar