KATA PENGANTAR
Segala puji
bagi Tuhan Yang
Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita
bersama dan khususnya
kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini
dengan sebaik - baiknya.
Makalah ini berjudul “
Pemeriksaan Fisik pada Daerah Ektermitas”. Makalah ini ditulis untuk memenuhi
tugas kelompok mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan II.
Makalah ini belum
sempurna dan masih
terdapat berbagai kekurangan. Oleh karenanya
penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran
dari berbagai pihak
demi perbaikan makalah
ini.
Kendari,
5 April 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN..................................................................1
A.
Latar
Belakang
Masalah..........................................................1
B.
Rumusan
Masalah.....................................................................2
C.
Tujuan........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................3
A.
Daerah Extermitas
Atas dan Bawah........................................3
B.
Pemeriksaan
Fisik Derah Extermitas.....................................7
BAB III PENUTUP..........................................................................13
A.
Kesimpulan..............................................................................13
B.
Saran........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pemeriksaan fisik adalah
metode pengumpulan data
yang sistematik dengan
memakai indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, dan
rasa untuk mendeteksi masalah
kesehatan klien. Untuk pemeriksaan
fisik perawat menggunakan
teknik inspeksi, auskultasi,
palpasi, dan perkusi
(Craven & Hirnle, 2000; Potter & Perry, 1997; Kozier et al.,
1995).
Biasanya pemeriksaan fisik
dilakukan secara sistematis, mulai dari
bagian kepala dan
berakhir pada bagian
anggota gerak. Seorang
perawat sebelum melakukan
pemeriksaan fisik harus
mengetahui dan memahami
anatomi tubuh terlebih
dahulu, hal ini
berguna agar tidak terjadi
kesalahan pada saat
pemeriksaan.
Seorang perawat yang
melakukan pemeriksaan fisik
pada daerah ekstremitas ,harus terlebih
dahulu memahami bagian
dan fungsi dari
daerah tersebut,supaya perawat
dapat memberikan tindakan
pemeriksaan yang tepat.
B. Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah anatomi
dan fisiologi pada
daerah extremitas atas
dan bawah pada
manusia ?
2.
Bagaimana
cara melakukan pemeriksaan
fisik pada daerah
extremitas atas dan
bawah pada manusia
?
C. Tujuan Makalah
Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.
Mengetahui
anatomi dan fisiologi
pada daerah extremitas
atas dan bawah
pada manusia.
2.
Mengetahui
cara melakukan pemeriksaan
fisik pada daerah
extremitas atas dan
bawah pada manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Daerah Ekstremitas Atas dan
Bawah
1. Ekstremitas
Atas
Bagian gelang bahu
mengikat lengan ke
rangka aksial. Masing- masing terdiri atas scapula(bidang
bahu) dan klavikula ( collarbone). Skapula
merupakan tulang pipih, lebar yang berfungsi
untuk tempat melekatnya beberapa
otot yang menggerakkan
lengan atas.Skapula terdiri
dari beberapa bagian
yaitu :
a.
Fossa
glenoidalis : cekungan yang
membentuk sendi putar
dengan humerus
b.
Spina : tonjolan
panjang posterior untuk
melekatnya otot
c.
Prosesus Akromialis : berartikulasio dengan
klavikula.
Pada
saat klavikula membentuk
artikulasio pada bagian
lateralnya dengan scapula
dan pada bagian medial
dengan manubrium sterni.Dalam
posisi ini klavikula
berperan sebagai pengikat
bagi scapula dan
mencegah bahu bergerak
lebih jauh ke
depan. Klavikula terdiri atas
beberapa bagian yaitu
:
a.
Ekstremitas
Akromialis :
berartikulasio dengan scapula.
b.
Sternal :
berartikulasio dengan manubrium
sterni.
Humerus adalah
tulang panjang lengan
atas. Bagian humerus dengan
scapula membentuk sendi
peluru. Pada bagian distal
humerus dengan ulna
membentuk sendi engsel,sendi
ini hanya memungkinkan
gerakan pada satu
bidang,yaitu gerakan ke
depan dan ke
belakang tanpa gerakan
ke samping. Humerus terjadi
atas beberapa bagian
yaitu :
a. Kaput : tonjolan bundar
yang berartikulasio dengan
scapula
b. Fossa
olekrani : cekungan oval
posterior untuk prosesus
olekrani ulna
c. Kapitulum : tonjolan bundar
superior bersendi dengan
radius
d. Troklea : permukaan
konkaf yang berartikulasio dengan
ulna
Tulang lengan
bawah terdiri dari
ulna dan radius. Radius
dan ulna pada
bagian proksimal membentuk sendi
putar yang memungkinkan gerakan
membalik telapak tangan
ke atas dan
ke bawah. Radius menyilang
ulna sehingga memungkinkan
melakukan gerakan yang bervariasi. Pada bagian
radius terdapat kaput,kaput ini
berartikulasi dengan ulna. Sedangkan,pada
bagian ulna terdiri
atas dua bagian
yaitu prosesus olekrani dan
insisura semilunaris.
Karpal merupakan
tulang kecil yang
terletak pada pergelangan
tangan,pada karpal terdapat sendi geser
diantara ke-8 tulang,kedelapan
tulang tersebut yaitu Os skafoideum,
Os triquetrum, Os
trapezium,Os kapitatum, Os
lunatum, Os pisiforme, Os
trapezoideum, Os homatum. Karpal membentuk
artikulasio dengan ujung
distal radius dan
ulna,dengan ujung proksimal
metacarpal.
Falang merupakan
tulang yang menyusun
jari-jari. Ada dua buah
falanges pada ibu
jari dan tiga buah
pada jari lainnya. Di antara falanges terdapat sendi
engsel, sedangkan pada ibu
jari terdapat sendi
karpometakarpal yang memungkinkan ibu jari
menyilang di depan
telapak tangan dan
menggenggam.
2. Extremitas
Bawah
Gelang panggul terdiri
atas dua tulang
koksa yang bersatu
dibagian anterior pada
simfisis pubis. Posterior
melekat pada sakrum
kolumna vertebralis yang
membentuk sakroiliaka. Setiap
koksa terdiri dari :
a.
Ilium :
bagian atas tulang
panggul yang melebar,
yang membentuk sendi sakroiliaka.
b.
Iskium :
bagian bawah posterior
c.
Pubis :
bagian anteromedial. Dua os
pubis membentuk artikulasio
pada simfisis pubis
dengan kartilago fibrosa.
Pada
orang dewasa koksa
melekat erat yang
dilekatkan oleh kartilago
fibrosa dibagian simfisis
pubis. Sudut pubis
dibentuk diantara kedua
tulang pubis. Sudut pubis
wanita lebih besar
dari pria karena
digunakan sebagai jalan
lahir.
Asetabulum adalah
soket yang membentuk
sendi peluru antara
femur dan tulang
pinggul. Soket yang terbentuk
dibagian pelvis lebih
dalam dan besar
karena persendian digunakan
untuk menahan berat
tubuh. Dengan hal ini
maka femur tidak
mudah untuk dislokasi
meskipun untuk aktivitas
berat.
Bagian distal
femur (kondilus) berhubungan
dengan tibia dan
fibula kemudian membentuk
lutut. Pada tibia
terdapat malleolus medialis
yang merupakan tonjolan
distal (tulang pergelangan
kaki) medial. Dibagian
depan lutut ditemukan
patela atau tulang
lutut. tibia yang
bisa dirasakan dipermukaan kulit,sedangkan bagian distal
tibia adalah maleolus medialis.Fibula ada
dibelakang tibia. Pada
fibula terdapat malleolus
medialis yang merupakan
tonjolan distal lateral.
Fibula tidak
membentuk sendi lutut
sehingga fibula tidak
berfungsi untuk menopang
seluruh berat badan,
namun fibula sangat
penting karena digunakan
sebagai tempat melekatnya
otot dan untuk
menstabilkan pergelangan kaki.
Tulang tarsal
adalah tujuh tulang
yang membentuk tumit
(kalkaneus). Tulang ini lebih
besar dan kuat
daripada tulang di
telapak tangan. Pada
tarsal terdapat talus
yang merupakan bagian
yang berartikulasio dengan
kalkaneus dan tibia.
Metatarsal adalah lima
tulang yang membentuk
telapak kaki. Falangs adalah
tulang yang membentuk
jari kaki.
B. Pemeriksaan
Fisik Daerah Ekstremitas
1. Inspeksi
dan Palpasi Ekstremitas
Atas
a. Lihat warna
kulit kedua tangan,
catat jika ada
persebaran warna kuliit
yang tidak merata.
b. Periksa kondisi
sendi, tanda –
tanda radang, dan
deformitas. Periksa apakah
ada atropi, hipertrofi,
atau hipotrofi otot.
c. Perhatikan kelengkapan
jari pada masing
- masing tangan.
Jumlah jari normal
adalah lima. Jika
lebih dari lima
disebut polikdaktili, sedangkan
jika ada jari
yang menyatu disebut
sindiktali.
d. Perhatikan bentuk
ukuran lengan dan
tangan, bandingkan proporsisinya
dengan tubuh. Lengan
yang lebih pendek
akibat gangguan pertumbuhan
disebut dwarfism.
e. Periksa adanya
tumor, jaringan parut,
dan lesi pada
kedua tangan. Nodul
yang teraba keras,
tidak terasa nyeri
dan ditemukan pada
persendian bagian distal
interfalangeal di bagian
dorsolateral ( nodul
Heberden ) adalah tanda
utama adanya penyakit
sendi degeneratif atau
osteoarthritis.
f. Periksa adanya
edema pada tangan.
Edema akan ampak
pada jari - jari.
Tekan daerah di
antara telunjuk dan ibu jari.
Jika ada edema
pada daerah yang
ditekan akan tampak
cekungan yang akan
kembali pada waktu
lebih dari dua
detik ( pitting edema
).
g. Periksa Capillary
Refil Time ( CRT
). Warna normal
di bawah kuku
adalah merah muda
karena ada banyak
pembuluh darah kapiler.
Jika aliran darah
ke kapiler terganggu,
pengisian darah kapiler
akan terjadi dalam
waktu yang lama.
h. Lakukan palpasi
pada ujung jari.
Saat dipalpasi, warna
ujung jari akan
memucat. Saat dilepas, darah
akan masuk lagi
dan menyebabkan warna
kemerahan. Normalnya warna
kemerahan akan kembali
dalam waktu kurang
dari dua detik.
i. Raba kedua
ujung tangan. Normalnya
akan terasa hangat
dan tidak lembap.
Perhatikan adanya produksi
keringat yang berlebihan
pada kedua telapak
tangan yang menyebabkan
tangan ada dalam
keadaan selalu basah.
j. Periksa kemampuan
ekstensi dan fleksi
pada jari. Kontraktur
fleksi jari di
jari kelingking, jari manis, dan
jari tengah (
kontraktur Dupuytren )
dapat menghambat ekstensi
penuh jari -
jari tangan. Artritis
ditandai dengan adanya
keterbatasan gerak pada
semua jari.
k. Kaji kemampuan
tangan klien untuk
menggenggam.
l. Letakkan jari
telunjuk dan jari
tengah dominan Anda
pada tangan dominan
klien, lalu minta
klien untuk meremas
kedua jari tangan
Anda sekeras mungkin.
Ada dua
cara lain, cara
pertama minta klien
berjabat tangan dengan
Anda lalu minta
untuk menarik sambil
meremas tangan Anda.
Cara
kedua, minta klien
untuk memegang tangan
Anda lalu mendorong
tangan Anda sekuat
- kuatnya. Rasakan
kekuatan tangan klien
saat menggenggam jari
Anda, lalu minta
klien melepaskan remasan
tangannya.
Kelemahan posisi jari dan kelemahan jari ipsilateral terhadap tahanan
menandakan kelainan pada
nervus medialis.
Palpasi
sendi metakarpofalangeal bagian
medial dan lateral
jari - jari.
Rasakan adanya pembengkakan,
tulang yang menonjol
dan teraba keras,
serta deformitas. Jika
ditemukan pembesaran paa
bagian distal sendi
interfalangeal, kemungkinan besar
ada penyakit sendi
degeneratif. Pembesaran tulang
yang disertai dengan
pembengkakan sendi interfalangeal proksimal
diasosiasikan dengan rematoid
artritis akut.
m. Lakukan palpasi
pada sendi jari
di bagian distal,
rasakan apakah
ada pembesaran, deformitas,
nyeri, dan nyeri.
Jika ditemukan pembengkakan, deformitas,
pada daerah ulnar,
dan nyeri, kemungkinan
klien menderita rheumatoid
artritis kronis.
n. Lakukan dengan
pengkajian pada siku.
Topang lengan biarkan siku
menekuk dan sedikit
fleksi. Lakukan inspeksi
dan palpasi pada
masing - masing
siku, permukaan ekstensor,
tulang ulna dan
olecranon. Catat adanya
nyeri, pembengkakan, atau
nodul. Palpasi sisi
pada cekungan olecranon,
catat adanya nyeri
atau pembengkakan. Periksa
rentang gerak klien.
Normalnya, jika siku
diangkat ketinggiannya akan
sama dan tidak
ada tahanan saat
digerakkan.
Jika
ketinggian siku tidak
sama ketika diangkat,
kemungkinan terjadi dislokasi pada
tempat tersebut. Jika
ditemukan bengkak, kemerahan,
dan disertai nyeri, kemungkinan
besar klien menderita
osteoarthritis. Bengkak yang terlokalisasi
dan rasa nyeri
yang ditimbulkan saat
siku digerakkan mengindikasi epikondilitis, sebagai
akibat dari melakukan
gerakan yang sama secara
berulang - ulang.
o. Lakukan inspeksi
pada bagian depan
bahu. Catat dan
perhatikan kesimerisan kedua
bahu, adanya luka,
bengkak, atropi, distropi
jarngan, atau rasa
nyeri saat disentuh. Lakukan inspeksi
dan palpasi pada
daerah scapula dan
rasakan otot yang
ada di sekitarnya.
Normalnya sendi bahu
dapat dengan bebas
digerakkan dan tidak
timbul nyeri, tidak
tampak menonjol, dan
tidak bengkak saat
dipalpasi. Bahu yang
menonjol dan nyeri
saat dipalpasi mungkin
terjadi jika ada
dislokasi sendi glenohumerus
( sendi glenohermus
keluar dari mangkok
sendi ).
2. Inspeksi dan
Palpasi Ekstremitas Bawah
a.
Pengkajian
kaki dan tumit
dilakukan dengan posisi
berbaring. Inspeksi dengan adanya
pembengkakan, kalus, tulang
dikaki yang menonjol, nodul atau
deformitas. Catat jika
ada abnormalitas.
b.
Lakukan
palpasi pada bagian
anterior sendi pada
tumit dan palpasi
pada tendon
Achilles.
c.
Lakukan
palpasi pada sendi – sendi
jari kaki. Catat
jika menemukan abnormalitas. Lakukan inspeksi
pada telapak kaki. Dan
perhatikan daerah penonjolan
ditumit.
d.
Kaji kemampuan gerak
daerah tumit dan
kaki. Normalnya kaki dan
tumit saat bergerak
tidak terasa nyeri.
e.
Kaji
kekuatan otot kaki
dengan meminta klien
untuk mengangkat kakinya
dan tahan dengan
tangan kita dan
klien mendorong sekuat -
kuatnya.
f.
Kaji lutut klien
inspeksi dengan adanya
perubahan bentuk atau
abnormalitas pada patela. Lakukan palpasi
pada semua sisi
patela. Normalnya lutut dan
patela itu sejajar
dengan kaki bagian
atas dan bawah,
tidak menonjol dibagian
lateral atau medial.
g.
Lakukan
pengkajian pada punggung
dan pinggul dengan
posisi klien berdiri
sendiri. Normalnya adalah
bisa berjalan tegak
dan kedua kaki
berayun simetris.
h.
Minta
klien berbaring, lalu lakukan
palpasi pinggul. Tekan
pinggul ke arah
dalam, minta klien
untuk memberi tahu
jika terasa nyeri.
i.
Jangan
mengulangi prosedur ini
jika klien mengeluh
nyeri atau curiga terjadi
pelvis.
j.
Lakukan
palpasi pada daerah
pretibial untuk mencari
adanya edema. Jika ada
edema, daerah yang
ditekan tidak akan
kembali dalam waktu
yang cepat dan
terbentuk cekungan pada
daerah tersebut ( pitting
edema ).
\
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Extremitas
Atas dan Bawah
Daerah extremitas atas
terbagi menjadi dua
yaitu yang pertama
gelang bahu yang
terdiri dari clavicula
dan scapula, yang
kedua lengan yang
terdiri dari humerus,
radius, ulna, karpal,
metacarpal, falanges.
Sementara itu
daerah extremitas bawah
terdiri dari lingkar
pinggul, asetabulum, femur,
patella, tibia, fibula,
tulang tarsal, metatarsal,
falanges.
2.
Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan
fisik pada daerah
extremitas dan genitalia
dilakukan dengan dua
metode yaitu :
a.
Inspeksi,
yakni pemeriksaan fisik
dengan menggunakan indra
penglihatan, memerlukan bantuan
pencahayaan yang baik,
dan pengamatan yang
teliti.
b.
Palpasi,
yakni pemeriksaan fisik
dengan menggunakan serabut
saraf sensori di permukaan telapak
tangan untuk mengetahui
kelembapan, suhu, tekstur,
adanya massa dan
penonjolan, lokasi dan
ukuran organ, serta
pembengkakan. Palpasi dilakukan
secara tegas tetapi
lembut untuk mencegah
timbulnya rasa nyeri
pada klien.
B. Saran
Sebagai seorang
perawat,harus mengetahui anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Hal ini berguna
agar tidak terjadi kesalahan dalam penanganan dan tindakan terhadap klien.
DAFTAR PUSTAKA
Sanders, Tina
dan Valerie C. Scanlon. 2007. Buku
Ajar Anatomi dan
Fisiologi. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.
Debora, Oda.
2012. Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik.
Jakarta : Salemba.
Komentar
Posting Komentar