KATA
PENGANTAR
Puji
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunianya sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
Makalah
yang berjudul “Perkembangan Intelejensi Anak Menurut Elizabeth B.Hurlock”. ini
sengaja disusun untuk memenuhi tugas sekaligus sebagai bahan penilaian dari
dosen mata kuliah yang bersangkutan.
Dalam
penulisan amakalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini terutama pada dosen mata kuliah
yang memberikan tugas ini.
Dalam
penyusunan makalah ini penulis menyadari banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis menerima dengan senang hati segala kritik dan saran yang berguna bagi
penyempurnaan makalah ini dikemudian hari. Semoga makalah ini bermanfaat
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
Kendari, Februari 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTA.....................................................................................2
DAFTAR
ISI.................................................................................................3
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang..................................................................................4
B. Rumusan
Masalah.............................................................................4
C. Tujuan
dan Manfaat Penulisan..........................................................5
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Integensi.........................................................................6
B. Konsep
Perkembangan Emosi pada Anak Menurut Elizabeth B.Hurlock........................................................................................7
C. Ciri-Ciri
Penampilan Emosi pada Anak Menurut Hurlock..............8
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan.....................................................................................13
B. Saran...............................................................................................13
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................14
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Anak-anak
pada masa pertumbuhannya akan senang bermain bahkan akan menghabiskan hampir
seluruh waktunya untuk bermain. Tetapi setiap anak memiliki reaksi yang
berbeda-beda terhadap mainan yang mereka mainkan.
Menurut
Elizabeth B.Hurlock, kemampuan anak secara bereaksi secara emosional sudah ada
semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah
berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional
mereka kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak karena mereka
harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.
Intelegensi
merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang dan
intelegensi dapat di peroleh melalui pengalaman, selain itu faktor interinstik
dan eksterinstik sangat mempengaruhi intelek, tetapi integritas yang tinggi
tidak menjamin kesuksesan seseorang. Walaupun demikian perkembangan inteligensi
pada anak sangat penting.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut.
1. Pengertian
intelegensi.
2. Konsep
perkembangan emosi pada anak menurut Elizabeth B.Hurlock.
3. Ciri-ciri
penampilan emosi pada anak menurut Hurlock.
C.
Tujuan
dan Manfaat Penulisan
Makalah ini disusun
karena mencapai tujuan dan manfaat sebagai berikut.
1. Mengetahui
pengertian intelegensi
2. Mengetahui
konsep perkembangan emosi anak menurut Elizabeth B.Hurlock
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Intelegensi
Intelegensi
berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa
Latinyaitu “Intellectus da Intelligentia atau “Intellegere”. Teori tentang
intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman Wynn Jones Pol pada tahun
1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan
(power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati.
Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan
penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”. Intelegensi berasal dari kata Latin,
yang berarti memahami. Jadi intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang
merupakan pewujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu.
Menurut
kamus Webster New Dictionary Of America Language, intelegensi berarti :
1. Kecakapan
untuk berfikir mengamati atau mengartikecapakapan untuk mengamati
hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan lain-lain. Dengan demikian
kecakapan berbeda dari kemampuan dan perasaan.
2. Kecakapan
mental yang besar, sangat intelegensi
3. Fikiran
atau intelegensi.
Berikut ini merupakan beberapa
pengertian intelegensi menurut para ahli :
1. Menurut
super dan cites, intelegensi adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan
lingkungan atau belajar dari pengalaman.
2. Menurut
Garret (1946), intelegensi adalah kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan
masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.
3. Menurut
William stern intelegensi merupakan suatu kemampuan untuk menyesuaikan diri
pada tuntunan baru dibantu dengan pengunaan fungsi berfikir.
4. Menurut
Wachler (1958), intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk
berfikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai
lingkungan secara efektif.
5. Menurut
Singgih Gunarsa, intelegensi adalah suatu kumpulan kemampuan seseorang yang
memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam
hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.
B.
Konsep
perkembangan emosi pada anak menurut Elizabeth B.Hurlock.
Perkembangan
emosi pada anak konsep kecerdasan emosional sebagaimana yang dipopulerkan oleh
Daniel Goleman, dalam bukunya “Emotional Intellegence”(1995), adalah juga perlu
memperhatikan penjelasan teoritis tentang bagaimana perkembangan emosi yang
terjadi pada anak-anak. Hal ini penting karena akan menjadi kerangka rujukan
(Frame of Reference) dalam membicarakan cara-cara guru melatih kecerdasan emosional
pada anak didiknya yang merupakan pusat perhatian dalam penelitian ini.
Menurut
Elizabeth B.Hurlock, kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada
semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah
berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional
mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih
lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi
yang berlebihan.
C.
Ciri-ciri
penampilan emosi pada anak menurut Hurlock.
Adapun
ciri-ciri penampilan emosi pada anak menurut Hurlock ditandai oleh intensitas
yang tinggi, sering kali ditampilkan, bersifat sementara, cenderung
mencerminkan ; individualitas, bervariasi seiring meningkatnya usia, dan dapat
diketahui melalui gejala perilaku.
Berikut
ini ada beberapa pola emosi yang dijelaskan Hurlock, yang secara umum terdapat
pada diri anak, yaitu :
1. Rasa
Takut
Dikalangan anak yang lebih besar
atau usia sekolah, rasa takut berpusat pada bahaya yang bersifat fantastik,
adikodrati, dan samar-samar. Mereka takut pada gelap dan makhluk imajinatif
yang disosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada kilat guntur,
serta pada karakter yang menyeramkan yang terdapat pada dongeng, film,
televisi, atau komik. Terlepas dari usia anak, ciri khas yang penting pada
semua rangsangan takut ialah hal tersebut terjadi secara mendadak dan tidak
diduga, dan anak-anak hanya mempunyai kesempatan yang sedikit untuk
menyesuaikan diri dengan siatuasi tersebut. Namun seiring dengan perkembangan
intelektual dan meningkatnya usia anak, mereka dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.selanjutnya reaksi rasa seperti : intelegensia, jenis kelamin,
status sosial ekonomi, kondisi fisik, hubungan sosial, urutan kelahiran, dan
faktor kepribadian.
2. Rasa
Marah
Pada umunya, kemarahan disebabkan
oleh berbagai rintangan, misalnya rintangan terhadap gerak yang diinginkan anak
baik rintangan itu berasal dari orang lain atau berasal dari ketidakmampuannya
sendiri, rintangan terhadap aktivitas yang sudah berjalan dan sejumlah kejengkelan
yang menumpuk. Pada anak-anak usia sekolah, rintangan berpusat pada gangguan
terhadap keinginan, gangguan terhadap aktivitas yang dilaksanakan, selalu
dipersalahkan, digoda dan dibandingkan secara tidak menyenangkan dengan orang
lain atau anak lain.
Reaksi kemarahan anak-anak secara
garis besar dikategorisasikan menjadi dua jenis yaitu reaksi impulsif dan
reaksi yang ditekan. Reaki impulsif sebagian besar bersifat menghukum keluar
(extra punitive), dalam arti reaksi tersebut diarahkan kepada orang lain,
misalnya dengan memukul, menggit, mludahi, meninjau, dan sebagainya. Sebagian
kecil lainnya bersifat kedalam (intra punitive), dalam arti anak-anak
mengarahkan reaksi pada dirinya sendiri.
3. Rasa
Cemburu
Rasa cemburu adalah reaksi normal
terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman
kehilangan kasih sayang. Cemburu disebabkan kemarahan yang menimbulkan sikap
jengkel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali berasal
dari takut yang berkombinasi dengan rasa marah. Orang yang cemburu sering kali
merasa tidak tentram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut
kehilangan status dalam hubungannya itu.
Ada tiga sumber utama yang
menimbulkan rasa cemburu
-
Pertama merasa diabaikan atau diduakan.
Rasa cemburu pada anak-anak umumnya tumbuh dirumah. Sebagai contoh seorang bayi
yang baru lahir yang pasti meminta banyak waktu dan perhatian orang tuanya.
Sementara itu kakaknya yang lebih tua merasa diabaikan. Ia merasa sakit hati
terhadap adiknya itu.
-
Kedua situasi sekolah, sumber ini
biasanya menimpa anak-anak usia sekolah. Kecemburuan yang berasal dari rumah
sering di bawa ke sekolah yang mengakibatkan anak-anak memandang setiap orang,
baik guru atau teman-teman kelasnya sebagai ancaman mereka. Untuk melindungi
keamanan mereka, anak-anak kemudian mengembangkan kepemilikan pada salah satu
guru atau teman sekelasnya. Kecemburuan juga bisa disulut oleh guru yang suka
membandingkan anak satu dengan anak lain.
-
Ketiga kepemilikan terhadap
barang-barang yang dimiliki orang lain membuat mereka merasa cemburu. Jenis
kecemburuan ini berasal dari rasa iri yaitu keadaan marah dan kekesalan hati
yang ditunjukan kepada orang yang memiliki barang yang diinginkannya itu.
4. Duka
Cita atau Kesedihan
Bagi anak-anak, duka cita bukan
merupakan keadaan yang umum. Hal ini dikarekan tiga alasan:
-
Pertama para orang tua, guru, dan orang
dewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut dari berbagai duka cita yang
menyakitkan. Karena hal itu dapat merusak kebahagian masa kanak-kanak dan dapat
menjadi dasar bagi masa dewasa yang tidak bahagia.
-
Kedua anak-anak terutama apabilamereka
masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga
mereka dapat dibantu melupakan duka cita tersebut, bila ia dialihkan kepada sesuatu
yang menyenangkan.
-
Ketiga tersedianya pengganti untuk
sesuatu yang telah hilang, mungkin berupa mainan yang disukai, ayah atau ibu
yang dicintai, sehingga dapat memalingkan mereka dari kesedihan kepada
kebahagian. Namun, seiring dengan menungkatnya usia anak, kesediaan anak
semakin bertambah dan untuk mengalihkan kesedihan dari anak-anak tidak efektif
lagi.
5. Keingintahuan
Anak-anak menunjukan keinginan
melalui berbagai perilaku, misalnya dengan bereaksi secara positif terhadap
unsur-unsur yang baru, aneh, tidak layak atau misterius dalam lingkungannya
dengan bergerak kearah benda tersebut, memperlihatkan kebutuhan atau keinginan
untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri atau lingkungannya untuk
mencari pengalaman baru dan memeriksa rangsangan dengan maksud untuk lebih
banyak mengetahui seluk-seluk unsur-unsur tersebut.
6. Kegembiraan
Gembira adalah emosi yang
menyenangkan yang dikenal juga dengan kesenangan atau kebahagian. Seperti
bentuk emosi-emosi sebelumnya. Kegembiraan pada masing anak berbeda-beda, baik
mencakup intensitas dan cara mengekspresikannya. Pada anak-anak usia sekolah
awal, sebagian kegembiraan disebabkan oleh keadaan fisik yang sehat, situasi
yang ganjil, permainan kata-kata, malapetaka ringan, atau suara yang tiba-tiba
sehingga membuat mereka tersenyum. Sebagian lainnya, disebabkan karena mereka
berhasil mencapai tujuan yang mereka inginkan.
7. Kasih
Sayang
Kasih sayang adalah reaksi
emosional terhadap seseorang atau binatang atau benda. Hal ini menunjukan
perhatian yang hangat, dan memungkinkan terwujud dalam bentuk fisik atau
kata-kata verbal.
Anak-anak cenderung paling suka
kepada orang yang menyukai mereka dan bersikap ramah terhadap orang itu. Kasih
sayang mereka terutama ditunjukan kepada
manusia atau objek lain yang merupakan pengganti manusia, yaitu berupa ;
bintang atau benda-benda. Agar menjadi emosi yang menyenangkan dan dapat
menunjang yang baik, kasih sayang dari anak-anak harus berbalas. Artinya harus
ada tali penyambung yang menyambungkan dengan orang yang disayanginya.
Uraian-uraian mengenai
penampilan-penampilan emosi yang sering tampak menurut teorinya Hurlock, yang
patut dan bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua dan para pendidik.
Dalam hal ini yang paling berkompoten adalah guru. Sebab dengan mengetahui dan
memahami pola-pola emosi pada anak, guru akan lebih untuk memberikan
latihan-latihan emosi secara baik.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam
penyusunan makalah mengenai “Perkembangan Intelegensi pada Anak Menurut
Elizabeth Hurlock” penulis dapat menarik kesimpulan bahwa konsep perkembangan
pada anak-anak memiliki ciri-ciri penampilan emosi yang berbeda-beda. Seseorang
harus mengetahui karakter anak-anak, baik itu orang tua yang ada dirumah, guru
yang mengajarkan disekolah dan lainnya.
B.
Saran
Sebaiknya,
untuk mengetahui tingkat perkembangan intelegensi seseorang harus dilakukan
berdasarkan tahap-tahapnya, sesuai dengan perkembangan umur mereka. Walaupun
intelegensi tersebut merupakan bawaan sejak lahir atau yang dikenal dengan
faktor hereditas, namun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh dalam
perkembangan intelek seseorang. Untuk itu, agar perkembangan intelegensi
berkembang dengan baik maka harus diperhatikan faktor-faktor tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Janwar
Tambunan. (1987).Pengantar Bimbingan dan
Penyuluhan. Pemtngsiantar : FKIP UHN
Komentar
Posting Komentar