TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)

  TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860) A.   ISI TEORI Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teo...

makalah PERKEMBANGAN INTELEJENSI ANAK MENURUT ELIZABETH B.HURLOCK


KATA PENGANTAR

            Puji kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunianya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
            Makalah yang berjudul “Perkembangan Intelejensi Anak Menurut Elizabeth B.Hurlock”. ini sengaja disusun untuk memenuhi tugas sekaligus sebagai bahan penilaian dari dosen mata kuliah yang bersangkutan.
            Dalam penulisan amakalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini terutama pada dosen mata kuliah yang memberikan tugas ini.
            Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari banyak kekurangan, oleh karena itu penulis menerima dengan senang hati segala kritik dan saran yang berguna bagi penyempurnaan makalah ini dikemudian hari. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.


Kendari,  Februari 2018


Penulis






DAFTAR ISI
KATA PENGANTA.....................................................................................2
DAFTAR ISI.................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..................................................................................4
B.     Rumusan Masalah.............................................................................4
C.     Tujuan dan Manfaat Penulisan..........................................................5
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Integensi.........................................................................6
B.     Konsep Perkembangan Emosi pada Anak Menurut Elizabeth B.Hurlock........................................................................................7
C.     Ciri-Ciri Penampilan Emosi pada Anak Menurut Hurlock..............8
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.....................................................................................13
B.     Saran...............................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA................................................................................14







BAB I
 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Anak-anak pada masa pertumbuhannya akan senang bermain bahkan akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bermain. Tetapi setiap anak memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap mainan yang mereka mainkan.
Menurut Elizabeth B.Hurlock, kemampuan anak secara bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.
Intelegensi merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang dan intelegensi dapat di peroleh melalui pengalaman, selain itu faktor interinstik dan eksterinstik sangat mempengaruhi intelek, tetapi integritas yang tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang. Walaupun demikian perkembangan inteligensi pada anak sangat penting.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut.
1.      Pengertian intelegensi.
2.      Konsep perkembangan emosi pada anak menurut Elizabeth B.Hurlock.
3.      Ciri-ciri penampilan emosi pada anak menurut Hurlock.
C.    Tujuan dan Manfaat Penulisan
Makalah ini disusun karena mencapai tujuan dan manfaat sebagai berikut.
1.      Mengetahui pengertian intelegensi
2.      Mengetahui konsep perkembangan emosi anak menurut Elizabeth B.Hurlock



















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Intelegensi
Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latinyaitu “Intellectus da Intelligentia atau “Intellegere”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”. Intelegensi berasal dari kata Latin, yang berarti memahami. Jadi intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan pewujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu.
Menurut kamus Webster New Dictionary Of America Language, intelegensi berarti :
1.      Kecakapan untuk berfikir mengamati atau mengartikecapakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan lain-lain. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemampuan dan perasaan.
2.      Kecakapan mental yang besar, sangat intelegensi
3.      Fikiran atau intelegensi.
Berikut ini merupakan beberapa pengertian intelegensi menurut para ahli :
1.      Menurut super dan cites, intelegensi adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman.
2.      Menurut Garret (1946), intelegensi adalah kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.
3.      Menurut William stern intelegensi merupakan suatu kemampuan untuk menyesuaikan diri pada tuntunan baru dibantu dengan pengunaan fungsi berfikir.
4.      Menurut Wachler (1958), intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
5.      Menurut Singgih Gunarsa, intelegensi adalah suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.

B.     Konsep perkembangan emosi pada anak menurut Elizabeth B.Hurlock.
Perkembangan emosi pada anak konsep kecerdasan emosional sebagaimana yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman, dalam bukunya “Emotional Intellegence”(1995), adalah juga perlu memperhatikan penjelasan teoritis tentang bagaimana perkembangan emosi yang terjadi pada anak-anak. Hal ini penting karena akan menjadi kerangka rujukan (Frame of Reference) dalam membicarakan cara-cara guru melatih kecerdasan emosional pada anak didiknya yang merupakan pusat perhatian dalam penelitian ini.
Menurut Elizabeth B.Hurlock, kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.

C.    Ciri-ciri penampilan emosi pada anak menurut Hurlock.
Adapun ciri-ciri penampilan emosi pada anak menurut Hurlock ditandai oleh intensitas yang tinggi, sering kali ditampilkan, bersifat sementara, cenderung mencerminkan ; individualitas, bervariasi seiring meningkatnya usia, dan dapat diketahui melalui gejala perilaku.
Berikut ini ada beberapa pola emosi yang dijelaskan Hurlock, yang secara umum terdapat pada diri anak, yaitu :
1.      Rasa Takut
Dikalangan anak yang lebih besar atau usia sekolah, rasa takut berpusat pada bahaya yang bersifat fantastik, adikodrati, dan samar-samar. Mereka takut pada gelap dan makhluk imajinatif yang disosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada kilat guntur, serta pada karakter yang menyeramkan yang terdapat pada dongeng, film, televisi, atau komik. Terlepas dari usia anak, ciri khas yang penting pada semua rangsangan takut ialah hal tersebut terjadi secara mendadak dan tidak diduga, dan anak-anak hanya mempunyai kesempatan yang sedikit untuk menyesuaikan diri dengan siatuasi tersebut. Namun seiring dengan perkembangan intelektual dan meningkatnya usia anak, mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.selanjutnya reaksi rasa seperti : intelegensia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kondisi fisik, hubungan sosial, urutan kelahiran, dan faktor kepribadian.
2.      Rasa Marah
Pada umunya, kemarahan disebabkan oleh berbagai rintangan, misalnya rintangan terhadap gerak yang diinginkan anak baik rintangan itu berasal dari orang lain atau berasal dari ketidakmampuannya sendiri, rintangan terhadap aktivitas yang sudah berjalan dan sejumlah kejengkelan yang menumpuk. Pada anak-anak usia sekolah, rintangan berpusat pada gangguan terhadap keinginan, gangguan terhadap aktivitas yang dilaksanakan, selalu dipersalahkan, digoda dan dibandingkan secara tidak menyenangkan dengan orang lain atau anak lain.
Reaksi kemarahan anak-anak secara garis besar dikategorisasikan menjadi dua jenis yaitu reaksi impulsif dan reaksi yang ditekan. Reaki impulsif sebagian besar bersifat menghukum keluar (extra punitive), dalam arti reaksi tersebut diarahkan kepada orang lain, misalnya dengan memukul, menggit, mludahi, meninjau, dan sebagainya. Sebagian kecil lainnya bersifat kedalam (intra punitive), dalam arti anak-anak mengarahkan reaksi pada dirinya sendiri.
3.      Rasa Cemburu
Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. Cemburu disebabkan kemarahan yang menimbulkan sikap jengkel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali berasal dari takut yang berkombinasi dengan rasa marah. Orang yang cemburu sering kali merasa tidak tentram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut kehilangan status dalam hubungannya itu.
Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu
-          Pertama merasa diabaikan atau diduakan. Rasa cemburu pada anak-anak umumnya tumbuh dirumah. Sebagai contoh seorang bayi yang baru lahir yang pasti meminta banyak waktu dan perhatian orang tuanya. Sementara itu kakaknya yang lebih tua merasa diabaikan. Ia merasa sakit hati terhadap adiknya itu.
-          Kedua situasi sekolah, sumber ini biasanya menimpa anak-anak usia sekolah. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering di bawa ke sekolah yang mengakibatkan anak-anak memandang setiap orang, baik guru atau teman-teman kelasnya sebagai ancaman mereka. Untuk melindungi keamanan mereka, anak-anak kemudian mengembangkan kepemilikan pada salah satu guru atau teman sekelasnya. Kecemburuan juga bisa disulut oleh guru yang suka membandingkan anak satu dengan anak lain.
-          Ketiga kepemilikan terhadap barang-barang yang dimiliki orang lain membuat mereka merasa cemburu. Jenis kecemburuan ini berasal dari rasa iri yaitu keadaan marah dan kekesalan hati yang ditunjukan kepada orang yang memiliki barang yang diinginkannya itu.
4.      Duka Cita atau Kesedihan
Bagi anak-anak, duka cita bukan merupakan keadaan yang umum. Hal ini dikarekan tiga alasan:
-          Pertama para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut dari berbagai duka cita yang menyakitkan. Karena hal itu dapat merusak kebahagian masa kanak-kanak dan dapat menjadi dasar bagi masa dewasa yang tidak bahagia.
-          Kedua anak-anak terutama apabilamereka masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat dibantu melupakan duka cita tersebut, bila ia dialihkan kepada sesuatu yang menyenangkan.
-          Ketiga tersedianya pengganti untuk sesuatu yang telah hilang, mungkin berupa mainan yang disukai, ayah atau ibu yang dicintai, sehingga dapat memalingkan mereka dari kesedihan kepada kebahagian. Namun, seiring dengan menungkatnya usia anak, kesediaan anak semakin bertambah dan untuk mengalihkan kesedihan dari anak-anak tidak efektif lagi.
5.      Keingintahuan
Anak-anak menunjukan keinginan melalui berbagai perilaku, misalnya dengan bereaksi secara positif terhadap unsur-unsur yang baru, aneh, tidak layak atau misterius dalam lingkungannya dengan bergerak kearah benda tersebut, memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri atau lingkungannya untuk mencari pengalaman baru dan memeriksa rangsangan dengan maksud untuk lebih banyak mengetahui seluk-seluk unsur-unsur tersebut.
6.      Kegembiraan
Gembira adalah emosi yang menyenangkan yang dikenal juga dengan kesenangan atau kebahagian. Seperti bentuk emosi-emosi sebelumnya. Kegembiraan pada masing anak berbeda-beda, baik mencakup intensitas dan cara mengekspresikannya. Pada anak-anak usia sekolah awal, sebagian kegembiraan disebabkan oleh keadaan fisik yang sehat, situasi yang ganjil, permainan kata-kata, malapetaka ringan, atau suara yang tiba-tiba sehingga membuat mereka tersenyum. Sebagian lainnya, disebabkan karena mereka berhasil mencapai tujuan yang mereka inginkan.
7.      Kasih Sayang
Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang atau binatang atau benda. Hal ini menunjukan perhatian yang hangat, dan memungkinkan terwujud dalam bentuk fisik atau kata-kata verbal.
Anak-anak cenderung paling suka kepada orang yang menyukai mereka dan bersikap ramah terhadap orang itu. Kasih sayang mereka terutama ditunjukan  kepada manusia atau objek lain yang merupakan pengganti manusia, yaitu berupa ; bintang atau benda-benda. Agar menjadi emosi yang menyenangkan dan dapat menunjang yang baik, kasih sayang dari anak-anak harus berbalas. Artinya harus ada tali penyambung yang menyambungkan dengan orang yang disayanginya.
Uraian-uraian mengenai penampilan-penampilan emosi yang sering tampak menurut teorinya Hurlock, yang patut dan bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua dan para pendidik. Dalam hal ini yang paling berkompoten adalah guru. Sebab dengan mengetahui dan memahami pola-pola emosi pada anak, guru akan lebih untuk memberikan latihan-latihan emosi secara baik.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam penyusunan makalah mengenai “Perkembangan Intelegensi pada Anak Menurut Elizabeth Hurlock” penulis dapat menarik kesimpulan bahwa konsep perkembangan pada anak-anak memiliki ciri-ciri penampilan emosi yang berbeda-beda. Seseorang harus mengetahui karakter anak-anak, baik itu orang tua yang ada dirumah, guru yang mengajarkan disekolah dan lainnya.
B.     Saran
Sebaiknya, untuk mengetahui tingkat perkembangan intelegensi seseorang harus dilakukan berdasarkan tahap-tahapnya, sesuai dengan perkembangan umur mereka. Walaupun intelegensi tersebut merupakan bawaan sejak lahir atau yang dikenal dengan faktor hereditas, namun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh dalam perkembangan intelek seseorang. Untuk itu, agar perkembangan intelegensi berkembang dengan baik maka harus diperhatikan faktor-faktor tersebut.











DAFTAR PUSTAKA
Janwar Tambunan. (1987).Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Pemtngsiantar : FKIP UHN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN KESEHATAN KLIEN (PRINSIP,METODE,TEKNIK,DAN STRATEGI PENDIDIKAN SERTA MEDIA PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI)

TEORI KONSEPTUAL KEPERAWATAN NIGHTINGALE (1860)