DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ……………………………………………………………………………..i
KATA
PENGANTAR …………………………………………………………………………..ii
DAFTAR
ISI ……………………………………………………………………………………iii
BAB I
PENDAHULUAN ………………………………………………………………….........1
A. LATAR
BELAKANG ………………………………………………………………..…1
B. RUMUSAN
MASALAH ………………………………………………………………..1
C. TUJUAN
……………………………………………………………………………........2
BAB II
PEMBAHASAN ………………………………………………………………………..3
A. PENGERTIAN
ELIMINASI …………………………………………………………...4
B. SISTEM
PERKEMIHAN ……………………………………………………………....5
C. MEKANISME
ELIMINASI URINE …………………………………………………..8
D. GANGGUAN
KEBUTUHAN ELIMINASI URINE ………………………………….9
E. TANDA
DAN GEJALA KEBUTUHAN ELIMINASI URINE ………………………9
F. ASUHAN
KEPERAWATAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN URINE ..11
G. MELAKUKAN
KATETERISASI ………………………………………………….....18
BAB III
PENUTUP ………………………………………………………………………….....26
A. KESIMPULAN
………………………………………………………………………...26
B. SARAN
………………………………………………………………………………….26
DAFTAR
PUSTAKA ………………………………………………………………………......27
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia merupakan salah satu makhluk
hidup. Dikatakan sebagai makhluk hidup karena manusia memiliki cirri-ciri
diantaranya: dapat bernafas, berkembangbiak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan
makan, dan megeluarkan sisa metabolisme tubuh (eliminasi). Setiap kegiatan yang
dilakukan tubuh dikarenakan peranan masing-masing organ. Membuang urine dan
alvi (eliminasi) merupakan salah satu aktivitas pokok yang harus dilakukan oleh
setiap manusia. Karena apabila eliminasi tidak dilakukan setiap manusia akan
menimbulkan berbagai macam gangguan seperti retensi urine, inkontinensia urine,
enuresis, perubahan pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung.
Selain berbagai macam yang telah disebutkan diatas akan menimbulkan dampak pada
system organ lainnya seperti: system pencernaan, ekskresi, dll. Berdasar latar
belakang di atas, maka penulis membuat makalah dengan judul “Prinsip Pemenuhan Kebutuhan
Eliminasi dan Pengkajian Eliminasi”.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pengertian eliminasi ?
2. Bagaimana
mekanisme sistem perkemihan ?
3. Bagaimana
mekanisme eliminasi urine?
4. Bagaimana
gangguan kebutuhan eliminasi pada urine ?
5. Bagaimana tanda
dan gejala kebutuhan eliminasi urine ?
6. Bagaimana
asuhan keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan urine ?
7. Bagaimana cara
melakukan kateterisasi ?
C.
Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mempelajari eliminasi urin
b. Tujuan Khusus
a) Untuk menjelaskan pengertian
eliminasi.
b) Untuk menjelaskan mekanisme
sistem perkemihan.
c) Untuk menjelaskan mekanisme
eliminasi urine.
d) Untuk menjelaskan gangguan
kebutuhan eliminasi urine.
e) Untuk menjelaskan tanda dan
gejala kebutuhan eliminasi urine.
f) Untuk menjelaskan asuhan
keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan urine.
g) Untuk menjelaskan cara melakukan kateterisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Eliminasi
Menurut kamus bahasa Indonesia,
eliminasi adalah pengeluaran, penghilangan, penyingkiran, penyisihan.
Dalam bidang kesehatan, Eliminasi
adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh berupa urin dan feces
.Eliminasi pada manusia digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:
1.
Miksi/Eliminasi urine/Kebutuhan BAK
Miksi adalah proses pengosongan
kandung kemih bila kandung kemih terisi. Miksi ini
sering disebut buang air kecil.
2.
Defekasi/Eliminasi Alvi/Kebutuhan BAB
Buang air besar atau defekasi adalah
suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang
padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan.
·
Eliminasi Urinari
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
1. Jumlah ekskresi dalam 24 jam ± 1.500
cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
2. Warna, bening kuning muda dan bila
dibiarkan akan menjadi keruh.
3. Warna, kuning tergantung dari
kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
4. Bau, bau khas air kemih bila
dibiarkan lama akan berbau amoniak.
5. Berat jenis 1,015-1,020.
6. Reaksi asam, bila lama-lama menjadi
alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis
dan protein memberi reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
1. Air kemih terdiri dari kira-kira 95%
air.
2. Zat-zat sisa nitrogen dari hasil
metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
3. Elektrolit, natrium, kalsium, NH3,
bikarbonat, fospat dan sulfat.
4. Pagmen (bilirubin dan urobilin).
5. Toksin.
6. Hormon.
·
Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan
kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama,
yaitu:
1. Kandung
kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya meningkat
melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230 ml
urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2).
2. Adanya
refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian
besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari
“latih”. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak
spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna
konstriksi. Sistem saraf parasimpatis: impuls menyebabkan otot detrusor
berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi MIKTURISI (normal: tidak
nyeri).
·
Ciri-Ciri Urin Normal :
1. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter,
tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
2. Warnanya bening oranye tanpa ada
endapan.
3. Baunya tajam.
4. Reaksinya sedikit asam terhadap
lakmus dengan pH rata-rata 6.
B.
Sistem Perkemihan (ANATOMI FISIOLOGI)
Sistem perkemihan merupakan suatu
sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari
zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut
dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN
Sistem perkemihan terdiri dari:
Ü Dua ginjal (renal)
yang menghasilkan urin,
Ü Dua ureter yang
membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih),
Ü Satu vesika
urinaria (kandung kemih), tempat urin dikumpulkan, dan
Ü Satu uretra, urin
dikeluarkan dari vesika urinaria.
1)
Ginjal (Renal)
Manusia memiliki sepasang ginjal
yang terletak di belakang perut atau abdomen. Ginjal ini terletak di kanan dan
kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal
terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal). Ginjal
kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk
hati.Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan
duabelas. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal dan
lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan.
a.
Fungsi ginjal
·
Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis
atau racun,
·
Mempertahankan suasana keseimbangan cairan,
·
Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan
tubuh
·
Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum,
kreatinin dan amoniak.
b.
Struktur Ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh
selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex renalis di bagian
luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang
berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk
kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks
yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal
berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter
dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi
ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang
masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis
minores.Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit
fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron
terdiri dari : Glomerulus, tubulus proximal, angsa henle, tubulus distal dan
tubulus urinarius.
2)
Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing
bersambung dari ginjal ke vesika urinaria. Panjangnya ± 25-30 cm, dengan
penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian
lagi terletak pada rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
1) Dinding luar jaringan ikat (jaringan
fibrosa)
2) Lapisan tengah lapisan otot polos
3) Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan
gerakan-gerakan peristaltik yang mendorong urin masuk ke dalam kandung
kemih.
3)
Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
Vesika urinaria bekerja sebagai
penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi). Letaknya
di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat
mengembang dan mengempis seperti balon karet.
Dinding kandung kemih terdiri dari:
a. Lapisan sebelah luar (peritoneum).
b. Tunika muskularis (lapisan berotot).
c. Tunika submukosa.
d. Lapisan mukosa (lapisan bagian
dalam).
4)
Uretra
Merupakan saluran sempit yang
berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke
luar.Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm, terdiri dari :
a.
Urethra pars Prostatica
b.
Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter urethra
externa)
c.
Urethra pars spongiosa.
Urethra pada wanita panjangnya
kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis). Sphincter uretra terletak di
sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya
sebagai saluran ekskresi.Dinding uretra
terdiri dari 3 lapisan:
a. Lapisan otot polos, merupakan
kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis
dan otot polos. Sphincter uretra menjaga agar uretra tetap tertutup.
b. Lapisan submukosa, lapisan longgar
mengandung pembuluh darah dan saraf.
c. Lapisan mukosa.
C.
MEKANISME ELIMINASI URINE
1. Proses Filtrasi ,di glomerulus
Terjadi penyerapan darah, yang
tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring
ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida,
sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. Cairan yang disaring
disebut filtrate glomerulus.
2. Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan
kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fospat dan beberapa ion
bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus
proximal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium
dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif
(reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
3. Proses sekresi.
Sisa dari penyerapan kembali yang
terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis selanjutnya diteruskan
ke luar.
D. GANGGUAN-GANGGUAN KEBUTUHAN
ELIMINASI URINE
Beberapa
masalah eliminasi urine yang sering muncul, antara lain :
a. Retensi
Retensi
Urine ialah penumpukan urine acuan kandung kemih danketidaksanggupan kandung
kemih untuk mengosongkan sendiri.
b. Eniorisis
Ialah
keluarnya kencing yang sering terjadi pada anak-anak umumnya malam hari.
c. Inkontinensia
Inkontinesia
Urine ialah bak yang tidak terkontrol.
Jenis inkotinensia :
·
Inkontinensia Fungsional/urgensi
nkotinensia Fungsional
ialah keadaan dimana individu mengalami inkontine karena kesulitan dalam
mencapai atau ketidak mampuan untuk mencapai toilet sebelum berkemih.
·
Inkontinensia Stress
Inkotinensia
stress ialah keadaan dimana individu mengalami pengeluaran urine segera
pada peningkatan dalam tekanan intra abdomen.
·
Inkontinensia Total
Inkotinensia
total ialah keadaan dimana individu mengalami kehilangan urine terus
menerus yang tidak dapat diperkirakan.
E. TANDA DAN GEJALA KEBUTUHAN ELIMINASI
URINE
Beberapa
masalah eliminasi urine yang sering muncul, antara lain :
a. Retensi
Kemungkinan penyebabnya :
1. Operasi pada daerah abdomen bawah.
2. Kerusakan ateren
3. Penyumbatan spinkter.
Tanda-tanda retensi urine :
1. Ketidak nyamanan daerah pubis.
2. Distensi dan ketidaksanggupan untuk
berkemih.
3. Urine yang keluar dengan intake
tidak seimbang.
4. Meningkatnya keinginan berkemih.
5. Enuresis
b. Eniorisis
Kemungkinan peyebabnya :
1. Kapasitas kandung kemih lebih kecil
dari normal.
2. Kandung kemih yang irritable
3. Suasana emosiaonal yang tidak
menyenangkan
4. ISK atau perubahan fisik atau
revolusi.
c. Inkontinensia
Jenis inkotinensia
· Inkontinensia Fungsional/urgensi
Faktor Penyebab:
1. Kerusakan untuk mengenali isyarat
kandung kemih.
2. Penurunan tonur kandung kemih
3. Kerusakan moviliasi, depresi,
anietas
4. Lingkungan
5. Lanjut usia.
· Inkontinensia Stress
Faktor Penyebab:
1. Inkomplet outlet kandung kemih
2. Tingginya tekanan infra abdomen
3. Kelemahan atas peluis dan struktur
pengangga
4. Lanjut usia.
· Inkontinensia Total
Faktor Penyebab:
1. Penurunan Kapasitas kandung kemih.
2. Penurunan isyarat kandung kemih
3. Efek pembedahan spinkter kandung
kemih
4. Penurunan tonus kandung kemih
5. Kelemahan otot dasar panggul.
6. Penurunan perhatian pada isyarat
kandung kemih
7. Perubahan pola
8. Frekuensi
9. Meningkatnya frekuensi berkemih
karena meningkatnya cairan.
10. Urgency
11. Perasaan seseorang harus berkemih.
F.
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN URINE
a. Pengkajian
1. Frekuensi/kebiasaan
berkemih
Pengkajian ini meliputi bagaimana
kebiasaan berkemih serta hambatannya. Frekuensi berkemih bergantung ada
kebiasaan dan kesempatan. Banyak orang berkemih kira-kira 70% dari urine setiap
hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu berkemih pada malam
hari.
2.
Pola berkemih
·
Frekuensi berkemih, Frekuensi berkemih menentukan berapa
kali individu berkemih dalam waktu 24 jam.
·
Urgensi, Perasaan sesorang untuk berkemih seperti seseorang
sering ke toilet karena takut mengalami inkontinensia jika tidak berkemih.
·
Disruria, Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih.
Keadaan demikianlah dapat ditemukan pada striktur uretra, infeksi saluran
kemih, trauma pada vesika urinaria, dan uretra.
·
Poliuria, Keadaan produksi urin yang abnormal pada jumlah
yang besar tanpa adanya peningkatan asupan cairan.
·
Urinaria supresi, Keadaan produksi urin yang berhenti secara
mendadak.
3.
Volume Urine
Volume
urin menentukan berapa jumlah urin yang dikeluarkan dalam waktu 24
jam.Berdasarkan usia, volume urine normal dapat di tentukan sebagai berikut:
Table 1. Volume urine normal
No.
|
Usia
|
Jumlah/hari
|
1.
|
1-2 hari
|
15-60 ml
|
2.
|
3-10 hari
|
100-300 ml
|
3.
|
10-2 bulan
|
250-400 ml
|
4.
|
2 bulan-1 tahun
|
400-500 ml
|
5.
|
1-3 tahun
|
500-600 ml
|
6.
|
3-5 tahun
|
600-700 ml
|
7.
|
5-8 tahun
|
700-1000 ml
|
8.
|
8-14 tahun
|
800-1400 ml
|
9.
|
14 tahun- dewasa
|
1500 ml
|
10.
|
Dewasa tua
|
≤ 1500 ml
|
volume dibawah 500 ml atau diatas
300 ml dalam periode 24 jam pada orang dewasa, maka perlu
lapor.(Rendy;2010)
4.
Faktor yang mempengaruhi kebiasaaan buang air kecil
a.
Diet
b.
Gaya hidup
c.
Stres psikologis
d.
Tingkat aktivitas
5.
Karakteristik urin
a.
Warna
·
Normal: pucat, kekuningan, kuning coklat.
·
Obat-obatan dapat mengubah warna urine seperti orange gelap.
Warna urine merah, kuning, coklat merupakan indikasi adanya penyakit.
·
Merah gelap: perdarahan diginjal / ureter
·
Merah terang : perdarahan KK atau
uretra
·
Coklat gelap: peningkatan bilirubin
akibat disfungsi hati bila dikocok busa kuning.
b.
Kejernihan
·
Normal :
transparan
·
Peningkatan protein : keruh atau berbusa
·
Bakteri :
pekat dan akeruh.
·
Bau
: Amonia
·
Urin berbau
buah : DM dan
kelaparan akibat aseton dan asam asetoasetik.
c.
Bau Normal urine berbau aromatik yang memusingkan.
Bau yang merupakan indikasi adanya
masalah seperti infeksi atau mencerna obat-obatan tertentu.
d.
Berat jenis
Adalah berat atau derajat
konsentrasi bahan (zat) dibandingkan dengan suatu volume yang sama dari yang
lain seperti air yang disuling sebagai standar. Berat jenis air suling adalah
1, 009 ml dan normal berat jenis : 1,010 – 1,030
e.
pH :
1.Normal pH urine sedikit asam (4,5 –
7,5)
2.Urine yang telah melewati temperatur
ruangan untuk beberapa jam dapat menjadi alkali karena aktifitas bakteri.
3.Vegetarian urinennya sedikit alkali.
f. Protein :
1. Normal : molekul-molekul protein
yang besar seperti : albumin, fibrinogen, globulin, tidak tersaring melalui
ginjal – urine.
2. Pada keadaan kerusakan ginjal,
molekul-molekul tersebut dapat tersaring urine.
3. Adanya protein didalam urine disebut
proteinuria, adanya albumin dalam urine disebut albuminuria.
g. Darah :
1.Darah dalam urine dapat tampak jelas
atau dapat tidak tampak jelas.
2.Adanya darah dalam urine disebut
hematuria(trauma/penyakit pada saluran kemih bagian bawah)
j. Glukosa :
1.
Normal : adanya sejumlah glukosa dalam urine tidak berarti
bila hanya bersifat sementara, misalnya pada seseorang yang makan gula banyak
menetap pada pasien DM.
2.
Adanya gula dalam urine disebut glukosa. (Rendy;2010)
Pemeriksaan urin
Urinalisis
Berat jenis urin
Kultur urin
Pemeriksaan Urin (pengumpulan urin)
Acak
Bersih tapi tidak harus steril
Untuk urinalisis/ mengukur BJ, PH, kadar glukosa
Cara : klien berkemih dalam wadah urin
yg bersih
Klien
berkemih sebelum defekasi.
Spesimen
midstream
Memperoleh
spesimen yg relatif bebas mikroorganisme
Untuk
kultur dan sensitivitas urin
Bersihkan
genetalia dengan benar
Urin
pertama jgn ditampung baru pertengahan ditampung
Spesimen
steril
Diambil
mll kateter.
a.
Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan
·
Inflamasi uretra
·
Obstruksi pd uretra
·
Defisit perawatan diri: toileting yg
berhubungan dengan
·
Keterbatasan mobilitas
·
Kerusakan integritas kulit / resiko
kerusakan integritas kulit b.d
·
Inkontinensia urin
·
Perubahan eliminasi urin
·
Kerusakan sensorik motorik
·
Resiko infeksi berhubungan dengan
·
Higiene personal yg tidak baik
·
Insersi kateter uretra
2) Inkontinensia fungsional berhubungan
dengan
·
Terapi deuretik
·
Keterbatasan mobilitas
3) Inkontinensia refleks berhubungan
dengan
·
Penggunaan anestesi untuk pembedahan
·
Inkontinensia stress berhubungan dengan
·
Peningkatan tekanan intraabdominal
·
Kelemahan otot panggul
·
Inkontinensia urgensi
·
Iritasi mukosa kendung kemih
·
Penurunan kapasitas kandung kemih
·
Retensi urin
·
Obstruksi leher kandung kemih
b.
Intervensi
·
Tingkatkan kesehatan untuk memelihara serta melindungi
fungsi sistem kemih yang sehat
·
Penyuluhan klien
·
Tingkatkan perkemihan normal
·
Wanita jongkok / duduk : meningkatkan kontraksi otot panggul
dan intraabdomen.yang membantu mengontrol sfingter serta membantu kontraksi
kandung kemih.
·
berdiri.Ã Laki-laki
·
Stimulus sensori : suara air yang mengalir, menepuk paa
bagian dalam, meletakkan tangan dlm panci berair.
·
Mempertahankan kebiasaan eliminasi
·
Mempertahankan asupan cairan yg adekuat
mengekskresikan partikel yg dapat berkumpul dlm sistem perkemihan.2000
s.d 2500 ml / hari, but 1200 s.d 1500 biasanya adekuat.
·
Hindari minum 2 jam sebelum tidur à nokturia
·
Meningkatkan pengosongan kandung kemih
secara lengkap.
·
Pencegahan infeksi
·
Pemeliharaan pirenium yang baik
·
Asupan cairan yang adekuat : meningkatkan
pengeluaran urin & mikroorganisme dari uretra
·
Mengasamkan urin : menghambat
pertumbuhan bakteri
·
Mempertahankan kebiasaan eliminasi
·
Obat-obatan (merelaksasikan kandung
kemih, menstimulasi kontraksi kandung kemih, merelaksasi otot polos prostat
Perawatan Akut
·
Kateterisasi
·
Memasukkan selang plastik aau karet mll
uretra ke kandung kemih.
·
Tipe kateter.
·
kateter lurus sekali pakaià Indweling/intemiten
·
Kateter menetap/ foley kateter à menetap untuk
periode waktu tertentu
·
Kateter caude à ujungnya
melengkung, untuk pria yang mengalami pembesaran prostat
·
Indikasi pemasangan kateter intermiten
·
Meredakan rasa tidak nyaman akibat
distensi kandung kemih
·
Mengambil spesimen urin steril
·
Mengkaji residu urin setelah
pengosongan kandung kemih
·
Penatalaksanaan jangka panjang klien yang mengalami
cidera medula spinalis
·
Indikasi pemasangan kateter meneta sementara
·
Obstruksi pd aliran urin (pembesaran prostat)
·
Perbaikan kandung kemih, uretra dan
struktur disekeliling mll embedahan
·
Mencegah obstruksi uretra akibat adanya
bekuan darah
·
Mengukur haluran urin
·
Irigasi kandung kemih
·
Keteter menetap jangka panjang
·
Retensi urin berat
·
Ruam kulit, ulkus dan iritasiakibat
kontak dgn urin
·
Penderita penyakit terminal
·
Perawatan restorasi
·
Menguatkan otot panggul
·
Kegel exercise à meningkatkan
kontraksi otot dasar panggul.
·
Mempertahankan integritas kulit
·
Cuci kulit yg teriritasi urin dgn sabun dan air hangat
·
Pakai pelembabBila sudah teriritasi dokter dpt meresepkan
salep steroid.
·
Bladder training
·
Melatih kembali kandung kemih untuk mengembalikan pola
normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih.
G.
MELAKUKAN KATETERISASI
1)
Pengertian
Katerisasi merupakan tindakan
keperawatan dengan cara memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui
uretra yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan eliminasi dan sebagai
pengambilan bahan pemeriksaan. Pelaksanaan katerisasi dapat dilakukan melalui
dua cara : intermiten (straight kateter) dan indwelling (foley
kateter). Menurut kusmiyati (2009) definisi kateter adalah pipa untuk
memasukkan atau mengeluarkan cairan yang di masukksn melalui uretra ke dalam
kandung kencing untuk membuang urine.
Jenis-jenis kateter :
1. Kateter plastik :
digunakan sementara karena mudah rusak dan tidak fleksibel
2. Kateter latex atau
karet : digunakan untuk penggunaan atau pemakaian dalam jangka waktu sedang
(kurang dari 3 mingu).
3. Kateter silicon murni
atau teflon : untuk menggunakan jangka waktu lama 2-3 bulan karena bahan lebih
lentur pada meatur urethra.
4. Kateter PVC : sangat
mahal untuk penggunaan 4-5 minggu, bahannya lembut tidak panas dan nyaman bagi
urethra.
5. Kateter logam :
digunakan untuk pemakaian sementara, biasanya pada pengosongan kandung kemih
pada ibu yg melahirkan.
Ukuran kateter
1.
Anak : 8-10 french
(Fr)
2.
Wanita : 14-16 Fr
3.
Laki-laki : 16-18 Fr
(junda pangkringan/2010/07;26,11,2012)
Indikasi
Tipe Intermiten
·
Tidak mampu berkemih 8-12 jam setelah operasi
·
Retensi akut setelah trauma uretra
·
Tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgestik
·
Cedera pada tulang belakang
·
Degenerasi neuromuskular secara progresif
·
Pengeluaran urin residual
Tipe Indwelling
·
Obstruksi aliran urin
·
Pascaoperasi uretra dan struktur di sekitarnya
·
Obstruksi uretra
·
Inkontinensia dan disorientasi berat
a. Tujuan
o Untuk segera mengatasi distensi
kandung kemih
o Untuk pengumpulan spesimen
urine
o Untuk mengukur residu urine setelah
miksi di dalam kandung kemih
o Untuk mengosongkan kandung kemih
sebelum dan selama pembedahan
b. Alat
a. bak instrumen
b. spuit 10 cc
c. bengkok
d. Handscoen
e. Aquadest
f. gunting plaster
g. perlak
h. kateter
i.
Kapas air
j.
kasa
k. Urine bag
l.
jelly/vaselin
m. Selimut
Obat
f. Aquadest
g.
Bethadine
h.
Alkohol 70 %
Prosedur kerja
Untuk Pasien Pria
·
Member tahu dan menjelaskan pada klien
·
Mendekatkan alat-alat
·
Memasang sampiran
·
Mencuci tangan
·
Menanggalkan pakaian bagian bawah
·
Memasang selimut mandi, perlak dan pengalas bokong.
·
Menyiapkan posisi klien
·
Meletakkan dua bengkok diantara tungkai pasien
·
Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
·
Memegang penis dengan tangan kiri
·
Menarik preputium sedikit ke pangkalnya, kemudian
membersihkanya dengan kapas
·
Mengambil kateter, ujungnya di beri vaselin 20 cm
·
Memasukkan kateter perlahan-lahan jedalam uretra 20 cm
sambil penis diarahkan ke atas, jika kateter tertahan jangan di paksakan.
Usahakan penis lebih di keataskan, sedikit dan pasien di anjurkan menarik nafas
panjang dan memasukkan kateter perlahan-lahan sampai urine keluar, kemudian
menampung urine kedalam botol steril bila diperlukan untuk pemeriksaan.
·
Bila urine sudah keluar semua anjurkan klien untuk menarik
nafas panjang. Kateter di cabut pelan-pelan di masukkan ke dalam botol yang
berisi larutan klorin.
·
Melepas sarung tangan dan memasukkan ke dalam botol bersama
dengan kateter dan pinset.
·
Memasang pakaian bawah, menambil perlak dan pengalas.
·
Menarik selimut dan mengambil selimut mandi.
·
Membereskan alat.
·
Mencuci tangan.
Untuk Pasien Wanita
·
Memberitahu dan menjelaskan pada klien.
·
Mendekatkan alat-alat
·
Memasang sampiran
·
Mencuci tangan
·
Menanggalkan pakaian bagian bawah
·
Memasang selimut mandi,perlak dan pengalas bokong
·
Menyiapkan posisi klien
·
Meletakkan dua bengkok diantara tungkai pasien
·
Mencuci tangan dan memakai sarung tangan.
·
Lakukan vulva higyene
·
Mengambil kateter lalu ujungnya diberi faseline 3-7 cm
·
Membuka labiya mayora dengan menggunakan jari telunjuk dan
ibu jari tangan kiri sampai terlihat meatus uretra, sedangkan tangan kanan
memasukkan ujung kateter perlahan-lahan ke dalam uretra sampai urine
keluar,sambil pasien dianjurkan menarik nafas panjang.
·
Menampung urine kedalam bengkok bila diperlukan untuk
pemeriksaan. Bila urine sudah keluar semua ,anjurkan klien untuk menarik nafas
panjang, kateter cabut pelan pelan di masukkan ke dalam bengkok yang berisi
larutan klorin.
·
Melepas sarung tangan dan masukkan ke dalam bengkok bersama
dengan kateter dan pinset.
·
Memasang pakaian bawah, mengambil perlak dan pengalas.
·
Menarik selimut dan mengambil selimut mandi
·
Membereskan alat
·
Mencuci tangan
(Ambarwati dan Sunarsih;2009).
Melepas Kateter
Melepas
drainase urine pada klien yang dipasang kateter.
Tujuan:
Melatih
klien berkemih secara normal tanpa menggunakan kateter.
Peralatan :
·
Sarung tangan
·
Pinset
·
Spuit
·
Batadine
·
Bengkok 2 buah
·
Plester
·
Bensin
·
Lidi wetan
Prosedur:
·
Meberitahu pasien
·
Mendekatkan alat
·
Memasang sampiran
·
Mencuci tangan
·
Membuka plester dengan bensin
·
Memakai sarung tangan
·
Mengeluarkan isi balon kateter dengan spuit
·
Menarik kateter dan anjurkan pasien untuk tarik nafas
panjang, kemudian letakkan kateter pada bengkok.
·
Olesi area preputium(meatus,uretra) dengan betadin
·
Membereskan alat
·
Melepaskan sarung tangan
·
Mendokumentasikan.
(Ambarwati dan Sunarsih;2009).
7. Evaluasi
·
Klien mampu berkemih secara normal tanpa mengalami
gejala-gejala gangguan perkemihan
·
Karakteristik urin : kekuningan, jernih, tidak mengandung
unsur yg abnormal
·
Mampu mengidentifikasi faktor-faktor yg
mempengaruhi eliminasi
·
Tidak terjadi komplikasi akibat perubahan pola eliminasi
8. Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
1. Diet dan Asupan
(intake)
Jumlah dan tipe makanan merupakan
faktor utama yang memengaruhi output urine (jumlah urine). Protein dapat menentukan
jumlah urine yang dibentuk. Selain itu, juga dapat meningkatkan
pembentukan urine.
2.
Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal
untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria
sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.
3.
Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat
memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap
tersedianva fasilitas toilet.
4.
Stres Psikologis
Meningkatnya stres dapat
mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena
meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine
yangdiproduksi.
5.
Tingkat Aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus
otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter.Hilangnya tonus otot
vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemihmenurun dan
kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas.
6.
Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan
juga dapat memengaruhi pola berkemih. Haltersebut dapat ditemukan pada anak,
yang lebih memiliki mengalami kesulitan untukmengontrol buang air kecil. Namun
dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang airkecil.
7.
Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi
produksi urine, seperti diabetes melitus.
8.
Sosiokultural
Budaya dapat memengaruhi pemenuhan
kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kulturpada masyarakat tertentu yang
melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.
9.
Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan
berkemih di mengalamikesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot
urine bila dalam keadaan sakit.
10.
Tonus Otot
Tonus otot yang memiliki peran
penting dalam membantu proses berkemih adalah ototkandung kemih, otot abdomen
dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksipengontirolan pengeluaran
urine.
11.
Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat
berdampak pada terjadinya peningkatan ataupenurunan -proses perkemihan.
Misalnya pemberian diure;tik dapat meningkatkan jumlah urine, se;dangkan
pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi
urine.
12.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga
dap'at memengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur
yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti IVY
(intra uenus pyelogram), yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga
mengurangi produksi urine. Se;lain itu tindakan sistoskopi dapat
menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran
urine.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas adapun
simpulannya sebagai berikut:
Kebutuhan eliminasi terdiri dari
atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi
(kebutuhan buang air besar) demi menjaga homeostatis.
a. Eliminasi Urine (BAK)
Eliminasi urine merupakan
proses pembuangan atau pengeluaran metabolism berupa urine yang berasal dari
saluran kemih yaitu ginjal,ureter,kandung kemih, dan uretra.
a) Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi
urine terjadi proses berkemih. Berkemih merupakan proses pengosongan vesika
urinaria (kandung kemih).
b) Faktor-faktor yang mempengaruhi
eliminasi urine adalah diet, asupan, respon keinginan awal untuk berkemih
kebiasaan seseorang dan stress psikologi.
c) Gangguan kebutuhan eliminasi urine
adalah retensi urine,inkontinensia urine dan enuresis. Dan tindakan untuk
mengatasi masalah tersebut adalah pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan,
buang air kecil dengan urineal dan melakukan katerisasi.
b.
Eliminasi Alvi (BAB)
Eliminasi
alvi merupakan proses pembuangan atau pengeluaran metabolism berupa feses
yang berasal dari saluran pencernaan bawah meliputi usus halus dan usus
besar.
a) Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi
alvi terjadi proses defekasi. Defekasi adalah proses pengosongan usus yang
sering disebut buang air besar.
b) Faktor-faktor yang mempengaruhi
eliminasi alvi antara lain: usia, diet, asupan cairan, aktifitas, gaya hidup
dan penyakit.
c) Gangguan eliminasi alvi adalah
konstipasi, diare, kembung dan hemorrhoid. Tindakan untuk mengatasinya adalah
menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan, membantu pasien buang air besar
dengan pispot dan memberikan gliserin.
B.
SARAN
Penulisan makalah ini diharapkan
dapat memotivasi masyarakat atau pembaca, agar dapat menjaga kesehatan organ
eliminasi sehingga proses eliminasi di dalam tubuh manusia dapat berjalan
dengan baik dan seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Eny Retna dan
Sunarsih,Tri. 2009,KDPK KEBIDANAN Teori dan Aplikasi, Jogjakarta, Nuha Medika.
Kusmiyati,Yuni, 2007,
Ketrampilan Dasar Praktek Klinik, Penerbit fitramaya: Yogyakarta.
Septiawan, Catur E. 2008. Perubahan Pada Pola Urinarius. Terdapat pada: www.kiva.org
Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Medikal Bedah. Penerbit Kedokteran EGC:
Jakarta.
Supratman. 2000. askep Klien
Dengan Sistem Perkemihan
Siregar, c. Trisa , 2004, Kebutuhan Dasar Manusia Eliminasi BAB, Program Studi Ilmu Keprawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Uliyah,musrifatul dan Hidayat,
A.Aziz Alimul, 2008, KDPK untuk kebidanan. Penerbit Salemba
Medika:Jakarta.
Website :
Komentar
Posting Komentar